The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Intermezzo


__ADS_3

“Kak Edwin...” Lirih Xennora dengan napas terengah.


“Kenapa? Kamu kenapa lari-lari gini? Untung gak jatuh loh...”


“Itu, tadi... Ada... Ada perempuan, di kamar ujung sana...” Jawab Xennora, keringat perlahan mengucur dari pelipis membuat pria di depannya semakin bingung dengan sikap Xennora yang terlihat ketakutan.


“Perempuan? Saya tinggal sendirian Ra... Bibi udah pulang biasanya tadi siang...”


“Kak jangan nakut-nakutin...” Rengek Xennora semakin panik. Pasalnya, dia jelas melihat seorang perempuan tersenyum padanya di kamar sana.


Karena bingung melihat ekspresi Xennora yang terlihat tidak berbohong, Edwin mengajak Xennora untuk turun dan menenangkan diri di sofa ruang tengah. “Nih minum dulu...” Ujar Edwin sambil memberikan segelas air mineral yang langsung diambil oleh gadis itu dan meneguknya sampai habis.


“Sepertinya kamu gak bercanda, air nya sampai langsung habis gitu. Sebentar, saya bawakan lagi.” Ujar Edwin sambil mengambil gelas yang sudah Xennora letakkan di meja. Sebelum Edwin pergi, Xennora menahan lengannya.


“Gak usah kak... Di sini aja, aku udah gak haus kok...”


“Tapi kamu masih kelihatan syok, sebentar, saya gak akan lama kok.”


Xennora pun melepaskan genggamannya lalu menghela napas gusar seraya melihat ke sekelilingnya. Di sini terang, tidak seperti keadaan di lantai dua tadi. Astaga, padahal ia tidak percaya pada hantu sebelumnya. Tapi apa ini...?


Tunggu sebentar, kalau Edwin tinggal sendiri, kenapa ada banyak kamar di rumah ini? Melihat kamar di ujung itu, ukurannya juga tidak main-main. Sangat luas. Ia yakin kamar yang lainnya pun sama luasnya. Atau bahkan ada kamar utama yang jauh lebih luas.


Di sisi lain, ‘Edwin’ bukan hanya mengisi gelas Xennora, tapi ia juga pergi ke garasi yang letaknya berdampingan dengan dapur.


“Ed, gak bisa... Gue mau nangis...” Ujarnya di depan seseorang.


“Udah sana, jangan sampai Bunda marah.” Ujar Edwin. Yep, yang barusan itu bukan Edwin, melainkan Leo. Ya Tuhan, bahkan Xennora saja tidak menyadari jika yang mengambilkannya minuman itu bukan Edwin yang sebenarnya. Melainkan saudara kembar Edwin, Leo. Si manusia hiperbola yang anehnya diterima di Cambridge.


Bukannya pergi dari sana, Leo malah mendongak seakan menahan air matanya yang akan keluar kapan saja. Itu memang benar, tapi masalahnya, pria itu terlalu berlebihan dan membuat Edwin kesal sendiri.


“Sana anjir.” Kan, ngegas jadinya Edwin. Leo dengan wajah tabahnya itu kemudian kembali lagi ke ruang tengah, tak lupa membawa segelas air minum yang sudah ia isi kembali.


“Maaf, lama ya?”


Xennora menggeleng, keadaannya terlihat lebih tenang daripada beberapa menit yang lalu. “Gak juga, ngomong-ngomong, ada apa ngajak aku ke sini?”


“It—” Ucapan Leo yang tengah menyamar jadi Edwin terpotong ketika mendengar suara telepon rumah. Leo pun pergi untuk menjawab telepon itu setelah izin kepada Xennora. Gadis itu menatap sekeliling untuk yang kesekian kalinya sambil menunggu Edwin. Untung saja, ia sudah memberitahu Bhiyan jika ia akan pulang sedikit terlambat. Xennora melirik tempat Edwin menerima telepon, tapi pria itu sudah tidak ada di sana. Gadis itu mengerutkan keningnya heran, padahal dia tamu loh, sopankah meninggalkan tamu sendirian seperti ini?


“Ra! Ke sini sebentar!” Teriak Edwin yang terdengar sedikit jauh dari tempatnya duduk. Xennora pun bangkit untuk mencari keberadaan Edwin. Gadis itu mengelilingi lantai satu sekarang. Ruangan pertama yang ia lihat adalah ruang musik. Xennora masuk ke sana karena pintu nya terbuat dari kaca, lagipula pintunya terbuka, sepertinya Edwin ada di sini.


“Kak! Di mana?!” Teriak Xennora, namun tidak ada jawaban. Gadis itu pun kemudian tertarik untuk mendekati sebuah piano berwarna hitam mengkilat di tengah ruangan. Piano itu disinari dengan cahaya lampu membuatnya seakan menjadi barang ikonik di ruangan ini.


Ada sebuah partitur di sana, lagu yang sepertinya familiar bagi Xennora. Tapi ia tidak yakin pernah memainkannya. Xennora bahkan belum pernah menyanyikan lagu itu, tapi kenapa rasanya ia sangat mengetahui lagu ini?


“Kak?!” Tidak ada jawaban lagi. Kini, bukan takut yang Xennora rasakan, melainkan penasaran. Gadis itu pun duduk lalu bersiap memainkan lagu itu dengan alunan piano.


Il est entré dans mon cœur

__ADS_1


(Dia telah mengisi ruang hatiku)


Une part de bonheur


(Suatu kebahagiaan)


Dont je connais la cause


(Yang aku tahu alasannya)


C'est lui pour moi, moi pour lui dans la vie


(Aku dan dia ditakdirkan hidup bersama)


Il me l'a dit, l'a juré, pour la vie


(Dia mengatakan itu padaku, bersumpah atasnya untuk seumur hidup)


Et dès que je l’aperçois


(Dan begitu aku menyadarinya)


Alors je sens en moi


(Aku merasakan di dalam diriku)


(Jantungku yang berdebar kencang)


Tiba-tiba, terdengar suara barang jatuh di sekitarnya. Xennora pun segera tersadar lalu keluar dari ruangan itu setelah dirasa tidak ada Edwin di sana.


“Kak?” Panggil Xennora. Lagi-lagi, tidak ada jawaban. Xennora pun terus melanjutkan langkahnya menyusuri setiap inci rumah itu. Dia berhenti di sebuah pintu, di dalamnya terdengar suara bising orang-orang mengobrol, tapi masih terdengar sayup-sayup. Xennora pun memasuki ruangan yang ternyata teater pribari itu. Memang tidak seluar ruangan yang ada di bioskop, tapi sepertinya jika digunakan untuk menonton sekelas masih cukup.


Suara bising itu memang ada di sini, itu dari film yang tengah diputar. Xennora tidak tahu film apa ini, yang jelas ia belum pernah menontonnya sebelumnya. Bahkan pemeran-pemerannya pun tidak Xennora kenali, termasuk tokoh utama nya.


“Sen, liat deh ini! Ganteng banget gak sih Jungkook??”


“Iya iya Antha... Terserah lo okay?”


Antha? Itu terdengar familiar bagi Xennora. Lagi... Ia merasa déjà vu. Ia merasa familiar dengan semua ini, Baiklah mungkin Xennora harus segera mencari Edwin daripada di cap tidak sopan karena berkeliaran di rumah orang lain malam-malam begini.


Saat Xennora berdiri, scene langsung beralih di mana kedua tokoh utama sedang berada di atap sekolah dengan setelan hitam. Tokoh utama perempuan terlihat sedang mencoba membuka pintu atap menggunakan sekumpulan kunci di tangannya. Xennora yakin, jika tokoh utama yang entah siapa namanya itu tidak beruntung, maka mereka harus menghabiskan semalaman di atap sekolah berdua. Karena kunci nya memang sangat banyak.


Tiba-tiba, si tokoh utama pria yang berada di belakang gadis itu menyadari kehadiran seseorang yang menodongkan pisaunya kepada tokoh utama perempuan. Pria itu mengorbankan dirinya, tapi gadis itu bahkan tidak sadar jika seseorang terluka di belakangnya dan terus fokus dengan ratusan kunci di tangannya.


Xennora menggeleng pelan ketika masih melihat tokoh utama pria yang malah berbalik setelah kepergian penjahat tadi. Bukannya meminta bantuan, dia malah mengajak gadis itu untuk mengobrol. Bodoh sekali, apa dia sudah tidak mau melanjutkan hidupnya?


“Sen... Lo lagi suka sama siapa?”

__ADS_1


“Gak ada tuh. Gue lagi gak suka sama siapa-siapa. Kalau konteks suka yang kakak maksud itu perasaan lebih.”


Kepala Xennora kembali terasa berat, lagi-lagi ini seperti déjà vu. Benar-benar déjà vu. Ia bahkan kembali terduduk saking beratnya beban yang ia rasa.


“By the way, lo cantik malam ini.” Ujar sang pemeran utama pria.


“Ck, sampah banget. Liat keadaan kamu dulu please...” Cibir Xennora yang masih memegang kepalanya seakan kepala itu bisa lepas kapan saja.


“Harus banget ya ngucapin sekarang. Nanti aja kak, please...”


“Jaga-jaga... Kalau gak ada kata nanti lagi di hidup gue...”


“Kak, apaan sih?!”


“Sen... I still love you.”


“Ah!” Pekik Xennora karena kepalanya menjadi sakit. Biasanya hanya terasa berat, tapi ini juga terasa sakit. Xennora meringis ketika merasakan rambutnya seperti dijambak sekuat tenaga. Ia juga merasa sekitarannya berputar, sehingga Xennora memegang sisi kursi erat, padahal tidak berpengaruh apa-apa karena sekitarannya normal-normal saja. Yang terdengar hanyalah suara tangisan si tokoh utama perempuan.


“Gue gak suka Xennora, gue gak suka dia.”


Tidak, Xennora yakin ini bukan dialog yang ia dengar dari speaker ruangan ini. Tapi suara nya seakan menggema langsung di telinga Xennora seakan ada yang mengajaknya mengobrol dari kejauhan.


“Gue capek ngeledek lo terus sebenernya...”


“Kalau diinget-inget, apa ya yang bikin lo gak suka sama gue?”


“Sombong.” Ujar seorang perempuan dengan intonasi nya yang datar.


“Padahal situ yang lebih sombong. Kalau pengen punya temen, ya bilang aja sih.”


“Ada Antha kok.”


“Kalau gue gak nyuruh Fadhil buat ngajak Antha kenalan sama lo, paling sampai sekarang yang deket sama lo cuma gue... Gue seorang.”


“Gila Julian, ngerti orang lagi nulis gak sih?! Gak usah ngehalangin deh! Emosi.”


“Gue nyesel sebenernya... Padahal gue gak usah suruh Fadhil buat deketin lo dulu.”


“Diem deh, ini gue lagi ngerjain proposalnya. Jadi ketua kalau bisa nya cuma nyuruh ya gak usah ngeganggu juga.”


“Kira-kira kalau waktu itu gue aja yang kenalan sama lo, apa yang bakalan terjadi ya?”


“Halu aja terus!”


“Lo ngerti gak sih Sen...? Ah udahlah, lo gak akan ngerti. Lo kan bego, hehe...”


“Sini lo kalau berani!!”

__ADS_1


__ADS_2