The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Crazy Psycho


__ADS_3

Masih di tempat yang sama, ketiga saudara itu berkumpul di meja makan dan duduk melingkar.


"Rey? Sukses kan?" Tanya kakak tertua.


"Pasti dong." Jawab Rey bangga.


"Lo yakin?"


"Iya kak astaga. Gue juga udah DM anak-anak itu lewat handphone dia. Jadi, polisi nebak nya gak akan jauh-jauh dari bunuh diri."


"Bagus. Jangan lupa juga besok kita kunjungan ke kantor polisi. Akting yang bener!" Interupsi kakak tertua nya itu.


Kedua adiknya hanya dapat mengangguk. Rey dengan anggukan yakin, dan si bungsu dengan anggukan pasrah.


"Great!"


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Tahanan nomor 1083, mohon pergi ke ruang kunjungan."


Mendengar panggilan tersebut, seorang pria yang usianya 40-an segera beranjak lalu keluar dari sel dan mengikuti polisi tadi. Pria itu yakin jika yang mengunjunginya adalah ketiga anaknya, untuk itu senyumnya mengembang. Setidaknya ia bisa tetap melihat kondisi anak-anaknya walaupun hanya sebentar dalam kurun waktu seminggu sekali.


"Kalian memiliki waktu sepuluh menit." Ucap salah satu petugas ketika pria itu sudah duduk di bangku menghadap tiga orang di depannya, hanya terhalang sebuah kaca yang tebalnya sekitar satu centimeter.


Mereka berempat saling melempar senyum, menggambarkan kerinduan lewat tatapan dan senyuman mereka. Sungguh, rasanya sangat tidak rela jika seorang ayah kandung, keluarga mereka satu-satunya harus berpisah dan mendekam di penjara karena kesalahan yang belum sepenuhnya terbukti.


"Bapak gimana kabarnya?" Tanya anak perempuan yang paling muda.


"Alhamdulillah Bapak baik Ran, kalian semua bagaimana?"


Mereka bertiga mengangguk kompak, "baik kok, Pa." Jawab anak tengah, laki-laki.


"Alhamdulillah kalau begitu. Kamu jadi pindah kan Rey sekolahnya?"


"Iya, Pa. Biar lebih sering aja kesini nya." Jawab anak laki-laki tadi yang dipanggil 'Rey'.


Pria dengan sebutan 'Bapak' tadi tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada anak sulungnya. "Kamu juga kali ini harus naik kelas ya De. Sayang loh, harusnya kamu udah kuliah."


"Iya, Pa... Iya. Dea usahain. Lagian, kali ini kalau Dea gak lulus lewat prestasi, Dea bisa aja lulus lewat bakat. Kurang dari dua minggu lagi penampilan perdana Dea jadi second lead female, keren kan Pa?" Tanya nya antusias.


Bapak tersenyum, ada rasa bangga dihatinya. Namun juga sedikit aneh mengingat anak sulungnya itu bisa saja lulus lebih cepat. "Bagus deh kalau gitu."


"Andai aja Bapak liat penampilan Dea nanti, pasti Bapak bakalan bangga sama Dea." Kalimat yang diucapkan Dea membuat Bapa tersenyum sedih kemudian mencoba mengangguk meng-iya-kan.


"Kamu, Ran? Kamu juga harus lulus loh ya, kalau bisa lompat kelas jadi kelas 12 langsung hahaha..."


"Ih Bapak... Bapak kira lompat tiga kelas gampang?" Tanya anak sulungnya merajuk membuat yang lain terkekeh pelan.


"Jaga adik-adikmu ya De. Tiap hari bikinin sarapan jangan lupa. Rani juga harus bantu kakaknya beres-beres rumah ya?"


"Gimana mau bikinin sarapan Pa? Teh Dea aja berangkat pagi terus setiap hari buat--" Belum sempat Rani melanjutkan kalimatnya, Dea segera menutup mulut adik bungsunya itu.


"Kerja kelompok dulu... Hehehe..." Lanjut Dea cepat lalu melepaskan tangannya dari Rani.


"Rajin-rajin ya De. Biar cita-citamu tercapai." Ucap Bapak dengan tatapan teduh.


"Iya, Pa." Hanya jawaban itulah yang mampu Dea ucapkan. Ia tak ingin banyak berjanji pada ayahnya mengingat semua perbuatan yang telah dan tengah ia lakukan.


"Maaf, waktu sudah habis."


Mendengar kalimat itu, mereka berempat hanya dapat menghela napas pasrah. Kemudian Bapa berdiri sambil mengucapkan, "jaga diri kalian." Tanpa suara. Mereka mengangguk samar lalu perlahan beranjak keluar dari ruangan itu.


Setelahnya, Dea berjalan dengan cepat menuju tempat parkir, diikuti Rey dan rani. Di sana, Dea terlihat marah entah apa alasannya padahal saat di ruangan tadi ia terlihat biasa saja.


"Mau lo apa sih Ran?! Mau Bapak tahu terus negur gue dan akhirnya Bapa benci sama gue?!" Teriak Dea membuat Rani terkejut. Rey hanya harus menghela napas sabar saja jika kakaknya itu kembali meledakkan amarahnya.


"A-aku..."


"Jangan mentang-mentang disana ada bapak jadi lo bebas ceplas-ceplos seenaknya ya!"


"Tapi teteh emang salah dan bahkan anak kecil pun tau itu!" Balas Rani setelah berusaha mengumpulkan keberaniannya.


Namun hasilnya, hanya tamparan yang Rani dapat. Ia yakin, teteh nya tahu jika perbuatannya salah namun entah apa alasannya teteh nya itu lebih memilih melanjutkan perbuatan naif-nya. Bahkan Rani tak mengerti bagaimana pikiran teteh nya itu.

__ADS_1


"Jangan sekali-kali menggurui gue! Dan jangan panggil gue teteh kalau gak ada bapak! Jijik tahu gak?" Semprot Dea lalu pergi meninggalkan Rey dan Rani yang mulai mengeluarkan air mata.


Rey menatap adiknya datar, entahlah tapi ia lebih memilih untuk memihak kakaknya. Alasannya simpel, pertama, kakaknya lebih berkuasa daripada adiknya. Dan kedua, perbuatan Dea itu lebih keren daripada Rani yang posisinya hanya sebagai pahlawan kesiangan. Bagaimana tidak? Sudah delapan tahun kakaknya melakukan perbuatan itu namun baru sekarang Rani bertindak. Konyol sekali.


"Masuk." Perintah Rey yang sudah berada di dalam mobil. Rani menghapus air matanya lalu memasuki mobil dan duduk di belakang. Rey tak pernah mengizinkannya untuk duduk di sebelahnya. Ekspektasi Rani tentang kakak laki-laki idaman hancur begitu saja. Bahkan mungkin Rani tak pernah meng-ekspektasikan kakak laki-laki nya itu untuk berbuat sedikit lebih manis padanya. Tidak, membayangkannya saja sudah menakutkan. Tapi itulah, itu yang Rani inginkan dari kedua kakaknya especially her brother.


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Gak ada tugas kan Tha?" Tanya Xennora seraya duduk di bangkunya --di samping Antha--. Antha yang sedang membaca novel menggeleng lalu mengalihkan atensi nya ke samping.


"Haha, cieee tumben pakai dasi?" Goda Antha membuat Xennora memutar bola matanya malas.


"Disuruh Leo. Katanya hari ini razia OSIS."


"Kan udah gue bilangin, rabu di minggu pertama tuh suka ada razia. Eh baru sekarang diturutin, harus kak Leo juga yang nyuruh nya."


Xennora menghela napas lalu mengangguk meng-iya-kan saja daripada harus berlama-lama meladeni sahabatnya itu. Tatapan Xennora tiba-tiba jatuh pada novel di tangan Antha. Ia menatapnya bingung campur tak suka.


"Apa enaknya sih baca novel? Kayak ada hikmahnya aja buat kehidupan." Julid Xennora membuat Antha mendelik.


"Udah hobi Sen. Lagian hidup gue udah datar, di belok-belokin aja dengan cara jadi lead female di cerita hahaha..."


"Halu lo." Komentar Xennora lalu melihat jam tangannya. "Bel masih ada sepuluh menit lagi, gue mau ke lab aja deh ngambil earphone gue." Gumam Xennora.


Selain kucing, hal yang tidak terlalu Xennora sukai adalah buku novel. Dan Antha tahu itu. Bukan hanya novel, melainkan buku fiksi lainnya seperti buku dongeng dan cerita anak-anak. Xennora tuh orang yang memiliki prinsip 'mending nonton daripada baca'. Namun jika bukunya nonfiksi seperti buku pelajaran, Xennora mau-mau saja membacanya jika tak sedang malas.


Xennora beranjak untuk pergi ke lab, "gue ke lab dulu ya Tha. Jangan kebanyakan baca novel."


Antha yang mendengarnya pun hanya dapat mendengus tak percaya. "Awas aja Sen kalau nanti lo suka baca novel! Gue ketawain seumur hidup!"


Teriakan Antha membuat Xennora berbalik sebentar dengan ekspresi tidak terima lalu kembali berjalan menuju lab meninggalkan Antha yang cekikikan.


Xennora berjalan dengan santai menuju lab fisika, namun langkahnya semakin pelan seiring ia mendengar obrolan murid murid di sepanjang koridor. Bukan menguping, namun mereka mengobrol dengan volume yang lumayan keras dan sepertinya topik yang serius.


"Iya, gue tahu. Serem gak tuh?"


"Walaupun gue gak sekelas tapi emang merinding sih."


"Katanya sih dia suka dibully karena jelek dan... Emm... Miskin..."


"Hell, siapa yang berani ngebully di SAN selain pelaku teror itu?"


"Kasian sih, ibunya lagi sakit, terus ayahnya udah meninggal."


Xennora bingung, sepertinya ada yang belum ia ketahui tentang topik obrolan hampir seluruh murid di SAN hari ini. Dengan raut yang masih terlihat kebingungan, Xennora masuk ke lab. Terlihat hampir semua anggota ada di sana kecuali Vinca.


Mereka terlihat sedang berkumpul sambil memegang handphone nya masing-masing. Sepertinya mereka juga sedang berdiskusi tentang topik yang belum Xennora ketahui itu. Dan yang lebih membuat Xennora penasaran, Herina menangis.


Xennora pun duduk di samping Leo yang terlihat sedang berpikir. "Di luar pada ngobrolin apaan sih?"


"Delia... Meninggal." Jawab Eireen pelan.


Xennora mengernyit, napasnya mulai tak beraturan "kapan?" Tanya nya dengan suara bergetar.


"Polisi bilang, tadi malam." Julian menjawab.


Xennora menghela napas tak percaya. "Udah otopsi?"


Leo menggeleng, "gak ada otopsi. keluarganya yang ngelarang."


"Katanya itu aib kalau emang terbukti dia bunuh diri." Lanjut Leo.


"Stop! Udah berhenti!! Delia gak mungkin bunuh diri!!!" Teriak Herina yang masih menangis. Vina dan Edwin pun menenangkannya.


"Tenang Rin." Ucap Edwin lembut.


"Mana bisa gue tenang saat seseorang yang gue kenal meninggal?!" Sofia yang duduk di samping Herina langsung memeluk kakak kelasnya itu, berusaha menenangkan.


Julian menghubungkan USB dengan laptopnya lalu mencari file foto yang ia dapat pagi-pagi tadi. "Ini foto TKP sama... Ekhm, mayat Delia. Gue dapet dari om Irfan pagi tadi." Ucapnya sambil menaruh laptop di tengah-tengah mereka, menghadap ke arahnya, Eireen, Leo, Ervin dan Xennora karena yang lain masih berusaha untuk menenangkan Herina.


"Gantung diri...?" Gumam Ervin saat melihat foto sebuah ruangan yang sepertinya kamar lalu tergantung tambang berlumuran darah.


"Katanya dia mukul kepalanya sendiri dulu pakai botol kaca... Terus berdarah. Abis itu baru gantung diri." Jelas Julian sambil memindahkan ke file selanjutnya.

__ADS_1


"Stop." Ujar Xennora tiba-tiba saat Julian memperlihatkan foto-foto kasus bunuh diri itu.


"Lihat deh luka di lehernya itu. Kalian ngerasa aneh gak?" Tanya Xennora.


"Ah iya, kayak ada satu titik merah gitu di luka memarnya." Eireen menyetujui.


Xennora mengangguk, "itu... Kemungkinan bekas suntikan. Dan memar di sekitarnya bisa diakibatkan saat kalian disuntik terus berontak. Jadi... Itu bakalan kerasa sakit, sampai memar gitu."


"Jadi... Maksud lo Delia gak bunuh diri?" Tanya Leo.


Xennora mengangguk lalu Julian menambahkan, "gue juga gak yakin kalau Delia bunuh diri. Dia bilang sendiri kan, kalau dia harus ngerawat mama sama adiknya?"


"Ah, satu lagi. Coba lo pukul kepala lo pake botol plastik itu kak. Yang keras. Sesuai dengan kasus ini, Delia punya luka di belakang kepalanya yang memungkinkan bekas pukulan, jadi lo juga harus pukul bagian belakang kepala lo, kak." Ucap Xennora pada Leo. Leo menurut lalu mengambil satu botol bekas di dekatnya dan memukul botol kosong itu pada kepalanya.


"Yang keras, kak." Ucap Xennora lagi membuat Leo kembali memukul kepalanya.


"Susah, Sen. Itu udah yang paling keras." Jawab Leo menyerah.


"Merasa sakit?"


"Gak sama sekali, menurut gue faktor botol plastiknya sih."


"Nah itu. Kakak yang notabene nya cowok aja kesusahan mukul kepala sama tangan sendiri. Apalagi Delia yang cewek?" Jelas Xennora membuat Eireen mengerjap.


"Tapi... Mukul kepalanya pakai botol kan itu kemungkinan aja. Mungkin yang sebenarnya dia mukul pakai..." Julian berpikir untuk melanjutkan ucapannya.


"Pakai apa?" Tanya Xennora menantang. Julian terdiam lalu mengangguk.


"Iya sih, mukul belakang kepala sendiri pakai benda apapun bakalan kelihatan awkward." Ucap Julian membuat Xennora mengangguk bangga.


"Untuk seluruh guru School Of Attitude And Norm, ditunggu di aula. Dan untuk para siswa, masuk ke kelas. Jangan ada keributan sampai kalian mendapat pengumuman baru." Terdengar pengumuman dari speaker sekolah yang dengan segera membuat para siswa pergi ke kelasnya.


"Jam kosong. Oh iya Sen, emang lo baru tau?" Tanya Leo yang langsung diberi anggukan oleh Xennora.


"Perasaan kita semua dikasih pesan deh sama dia. Gue aja yang tadi malem kebangun terus nge-cek notif di hp langsung gak bisa tidur lagi." Curhat Leo.


"Pesan?"


"Iya pesan, dia nge-DM kita semua. Lo gak dapet Sen? Nih liat punya gue." Ucap Eireen lalu melihatkan roomchatnya dengan akun yang dipercaya milik Delia.


|Hai, sebenernya aku bahagia banget bisa kenal sama kalian. Tapi aku udah gak kuat ngejalanin hidup. Tolong ucapin maaf ya ke Xennora karena aku gak bisa bersabar nunggu roda buat berada di atas, seperti kata Xennora. Pokoknya aku mau berterima kasih aja sama kalian, kalian orang-orang terbaik yang pernah aku kenal.


Xennora terdiam sebentar membaca pesan itu. Lalu ia membuka handphone nya lalu mengecek DM Instagram miliknya. Eireen pun mengintip sedikit.


"Hmm pantes aja gak baca. Kelelep sama fans-fans lo ternyata." Ucap Eireen iri setelah melihat pesan dari Delia yang berada paling bawah.


Xennora menghiraukan ucapan Eireen lalu membuka pesan tersebut. Isinya hampir sama dengan pesan milik Eireen.


|Hai Xennoraaa... Aku Delia, ingat kan? Sebenernya aku bahagia banget bisa kenal sama kalian. Tapi aku udah gak kuat ngejalanin hidup. Maaf ya Xennora, aku gak bisa bersabar nunggu buat berada di atas, seperti apa yang udah kamu ucapkan. Pokoknya, aku mau berterima kasih aja sama kalian, kalian orang-orang terbaik yang pernah aku kenal.


Ps : kamu tahu gak Sen? Aku juga termasuk penggemar kamu >.< tapi aku gak berani DM kamu sekali pun. Waktu penerimaan murid baru, yang tanda tangan itu, aku pengen banget kenalan, tapi agak takut soalnya kamu kayak yang badmood T///T pokoknya sukses ya Xennora, aku bakalan selalu support kamu kok


Xennora mendengus, terkekeh geli. Astaga, daripada novel ia lebih benci hal-hal seperti ini. Kita tak tahu apa yang sudah kita dapat sampai itu menghilang...


Namun sayangnya, seorang Xennora Anesta Fachrunaldo tidak akan ditipu semudah ini.


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Cih, Apaan nih? Ampas banget pesannya."


"Biar mereka percaya lah kak hahaha..."


"Sejak kapan lo bisa typing gini? Bikin sakit mata tahu gak? Pengen muntah jadinya."


"Apa kolerasinya sakit mata sama muntah?" Gumamnya. "Belajar dulu itu. Butuh sebulan. Apresiasi dong, pasti mereka bakalan percaya." Jawab dia tidak bergumam lagi.


"Lo cowok bukan sih?" Tanya kakaknya pelan yang sepertinya tak terdengar oleh adiknya. "Gak ada dashboard camera kan?"


"Enggak kak astaga." Jawab adiknya itu mengambil alih komputer dan menyuruh kakaknya bangkit lalu duduk di sofa yang ada di depannya. "Oh iya. Gue udah tahu siapa anak dari pasangan Rafael Haidar sama Carissa Putri." Lanjut nya bangga.


"Siapa?" Tanya sang kakak dengan semangat membuat adiknya tersenyum misterius.


"Fachrunaldo.... Xennora Anesta."

__ADS_1


__ADS_2