
“Lo yakin Ju? Tapi kenapa sampai sekarang Polisi belum nemuin dia? Padahal jelas-jelas dia masih pake nama yang sama…” Ujar Ervin di seberang telepon.
“Gue… Kurang yakin sih. Masalahnya, gue gak liat wajah dia. Siapa tau kan gue salah orang?” Balas Julian seraya melihat pemandangan jalanan dengan barisan pepohonan dari atap kampusnya.
“Nama Xennora terbilang unik Ju. Lo udah kasih tau Edwin sama Leo?”
“Belum, takutnya gue beneran salah orang dan malah ngerepotin mereka. Apalagi Leo yang lagi nyiapin sidang di Cambridge.”
“Bener sih, yang gue heran… Kenapa Polisi gak bisa nemuin dia? Kalau dia udah terdaftar jadi Mahasiswi Universitas Nusantara, pasti lebih gampang buat identifikasinya.”
“Mungkin… Ada kekeliruan di sini.”
Terjadi keheningan selama beberapa menit sebelum Julian kembali berbicara. “Ya udah, thanks ya atas waktunya. Gue tutup.”
“Kapanpun bro.”
Setelah itu Julian menutup teleponnya. Mengembalikan tampilan handphone nya menuju Home-Screen di mana terlihat foto seorang gadis yang terlihat tengah berpikir tanpa melihat ke arah kamera. Foto yang Julian ambil diam-diam, saat di karnaval. Julian semakin mendekati tembok pembatas yang kini dapat terlihat banyak mahasiswa yang berlalu lalang di bawah sana. Jalanan di siang hari yang ramai, disertai cuaca yang sedikit mendung membuat matahari tidak bersinar terik siang hari ini.
Julian hanya menginginkan satu hal sekarang. Satu hal yang membuatnya ingin bertemu dengan Xennora lagi. Ia ingin penjelasan mengenai topik terakhir yang mereka bicarakan, ia ingin bertanya kenapa Xennora tiba-tiba menghilang, ia ingin tahu alasan kenapa Xennora tiba-tiba mengatakan itu…
...The Poison...
“Selamat ya atas kelulusannya!”
“Hm… Lo juga.” Julian tentu bingung kenapa Xennora tiba-tiba bersikap dingin padanya. Padahal kemarin malam masih biasa-biasa saja. Bahkan bisa dikatakan kalau Xennora terlihat sudah menerima kehadiran Julian.
Setelah puas mengambil foto dan euphoria atas kelulusan tadi, Julian sengaja mengajak Xennora pergi ke taman tempat mereka sering berjalan-jalan di sana. Duduk berhadapan di salah satu bangku taman yang teduh tertutupi bayangan pohon rindang. Semuanya terlihat sama, hanya saja ada satu hal yang berbeda di sini. Xennora.
__ADS_1
Tatapannya kembali mendingin, sama sekali tidak ada senyuman yang menghiasi wajahnya. Julian tahu, Julian sudah terbiasa akan hal ini. Tapi kali ini…. Rasanya sedikit berbeda. Ekspresi yang Xennora tunjukkan benar-benar berbeda dari biasanya. Membuat firasat Julian mengatakan kalau hal yang tidak dia inginkan akan segera terjadi. Xennora tidak pernah berubah. Sepertinya dia tidak bisa berubah.
“Lo mau berangkat kapan? Mau gue temenin? Mumpung masih senggang.” Meskipun begitu, Julian akan tetap tersenyum. Tenang aja, gak akan ada hal buruk yang terjadi. Setidaknya itulah yang ia yakinkan pada dirinya.
“Gak usah, gak akan lama.”
“Gue… Gue bakalan berangkat nanti malam. Kayaknya waktu kita cuma sampai sini? Tapi jangan khawatir, gue masih bisa nunggu lo bertahan-tahun lagi. Gue bisa nunggu lo sampai—”
“Gak akan bisa.” Potong Xennora melihat langsung ke arah mata Julian yang tampak terkejut. “Lo gak akan bisa nunggu gue selama itu. Mustahil tau gak?” Tanya Xennora seraya tersenyum miring.
“Maksud—”
“Akui itu deh, kak. Kita gak akan pernah bersama. Kalau bukan lo yang pergi, gue yang bakalan pergi.” Final Xennora sambil berdiri dari kursinya, bersiap untuk pergi meninggalkan Julian. Sudah enam langkah Xennora tempuh, Julian turut berdiri dari kursinya.
“Kenapa? Apa yang beda dari keduanya? Mau lo yang pergi atau gue yang pergi, kita berdua masih sama sama ngerasa sakit.” Ujar Julian membuat langkah Xennora terhenti. Gadis itu berbalik menatap Julian yang masih berdiri di antara bangku dan meja taman.
“Cuma imajinasi, kan? Sugesti, fantasi, cinta gak pernah ada. Bagi gue, cinta itu cuma khayalan yang gak pantes diucapin. Karena semuanya gak nyata. Bikin malu. Nyatanya, kita gak bisa tuh ngeliat cinta, ngeliat isi hati orang. Berarti itu gak ada kan?” Lanjut Xennora membuat Julian terdiam.
“Cuma orang-orang naif yang percaya sama cinta. Percaya kalau hubungan itu bakalan bertahan selamanya. Percaya kalau gak akan ada yang bisa memisahkan cinta. Shh… Agak geli ya ngomongnya…. Ya gitulah, gue gak terbiasa sama kata itu. Dan gak akan pernah terbiasa.” Xennora mengakhiri percakapan itu lalu meninggalkan Julian dengan perasaan tidak percaya. Semua perjuangannya benar-benar tidak menghasilkan apapun?
Semuanya hanya tipuan? Tidak pernah nyata? Dan itu hanya imajinasi Julian saja?
...The Poison...
Xennora pulang ke rumah, berniat mengemasi barangnya untuk Menemani perjalanannya menjelajahi kota Bandung. Saat ia melewati sofa tempat Leo dan Edwin bersantai, langkahnya terhenti ketika mendengar celotehan salah satu kakak kembarnya.
“Lo beneran gak punya sanggahan kah? Kita masih bisa maafin lo kalau lo ngaku sekarang.” Celetuk Leo membuat Edwin menatap saudara kembarnya itu.
__ADS_1
Sebagai kakak tertua, tentu saja Edwin sangat ingin menyelesaikan perang dingin ini. Ah, ia menyesal membawa benda itu dengan sangat jelas. Niatnya hanya menghancurkan benda itu supaya tidak dilihat oleh Rafael, dan Edwin sendiri tidak mengira respon Leo akan berlebihan seperti ini ketika diberi tahu. Padahal bisa saja ini milik Rafael, rokok nya terjatuh di luar kamar Xennora, namun sangat dekat dengan pintu masuk kamar. Dan sepertinya kesalahpahaman pun terjadi.
Edwin sudah menjelaskan puluhan kali, namun Leo seperti menutup telinga. Ia sendiri tidak tahu apa yang membuat Leo tidak terkendali seperti ini.
Xennora menghela napas lelah. “Gimana gue mau nyanggah kalau gue aja gak tau maksud lo apaan?” Balas Xennora lalu melanjutkan langkahnya menuju tangga. Narissa yang melihat itu berniat menghampiri, namun sepertinya mood Xennora sedang tidak baik, sama saja dengan suaminya.
Membicarakan Rafael, di mana pria itu sekarang?
“… Bisa tidak, sekali saja kamu membuat Papa tidak menyesal karena telah merawat kamu dari kecil?!”
Oh tidak, Narissa dapat menebak di mana Rafael sekarang. Gawat.
“Kamu itu penyebab saudari kamu mati! Tapi apa yang kamu lakukan sekarang ini? Sekolah hukum? Hahaha untuk apa? Apa dengan kamu masuk jurusan hukum saudari kamu akan kembali hidup? Kalau kamu tidak mengajaknya ke taman, dan tidak berlagak sok akrab dengan kriminal itu, pasti Zenara masih ada di sini. Kamu kira dia mati karena kebetulan? Kecelakaan?! Gak ada yang namanya kebetulan Xennora! Dia pasti sangat membencimu di atas sana! Kamu—“
“Apa jika saya masuk jurusan ilmu politik semuanya bakalan berubah? Enggak kan? Gak akan ada yang berubah walau saya mati sekalipun….” Balas Xennora dengan napas tak beraturan.
“Aku tahu. Itu sebabnya aku depresi selama ini! Anda tidak mengerti! Setiap hari aku merasa hampir gila saat memasuki kamarku sendiri! Hatiku sakit…. Ketika melihat Sofia dan Eireen dan aku yakin anda tidak akan pernah mengerti!! Aku juga perempuan! Aku juga manusia! Aku menyesal, depresi, hampir gila, dan apa yang anda lakukan sekarang ini?! Menyalahkanku?” Lanjut Xennora. Emosi nya sangat tidak stabil. Gadis itu terlihat lemah sekarang. Narissa saja sudah menangis melihat Xennora yang mencoba menahan air matanya.
“Apa selama ini perjuanganku tidak ada artinya untukmu?! Seluruh prestasi ku, seluruh pencapaianku, kenapa Papa gak pernah lihat itu semua?!! Aku juga seorang anak, kenapa sekalipun Papa gak pernah menganggap ku sebagai anak perempuan?! Kalau Papa mau tahu, aku pernah berkali kali memakan banyak obat tidur supaya aku tidak pernah terbangun lagi. Tapi sepertinya anda benar mengenai hal ini. Tuhan tidak menyayangiku sehingga aku dibiarkan di dunia yang tidak berguna bersama orangtua yang naif ini…. Aku ingin hidup dengan tenang! Apakah permintaan itu terdengar sulit untuk dikabulkan?!”
Xennora merampas surat undangan dan surat rekomendasi yang ada di tangan Rafael. Gadis itu kemudian keluar dari kamar nya melewati Narissa, Leo, dan Edwin begitu saja. Meninggalkan rumah itu dan juga kelinci kesayangannya, Julio, yang tengah berusaha keluar dari kandangnya ketika melihat Xennora yang pergi tanpa berpamitan padanya.
Gadis itu pergi, dengan sesekali menghapus air matanya yang tidak berhenti mendesak keluar. Seragam SAN High School yang khas masih melekat pada tubuhnya yang terlihat sangat cocok dengan seragam itu. Kemeja putih, dasi pita berwarna abu hitam, rompi tanpa lengan berwarna hitam, rok rempel berwarna hitam dengan garis-garis abu, dan juga almamater hitam lengan panjang yang ia bawa di tangan kanannya. Seragam kebanggaan SAN Multi Law Academy. Sekolah Menengah Atas berbasis Hukum dan Tata Krama.
Percaya atau tidak, kepergian Xennora membuat Narissa menyalahkan dirinya. Setiap hari, dan setiap saat.
“Xennora…. Mama minta maaf, Mama terlalu takut, maafin Mama…”
__ADS_1