
Brakk
Pintu dibuka secara kasar oleh Julian membuat beberapa orang di ruangan itu mengumpat dan menghela napas sabar. Julian mendekati adiknya dan sedikit mendorong Vinca yang tengah memijat lengan kanan Sofia yang pegal karena terjatuh tadi. Vinca yang hampir saja terjatuh hanya menatap datar Julian lalu beranjak untuk duduk di samping Eireen.
"Gimana keadaan lo? Perlu ke rumah sakit?" Tanya Julian yang napasnya masih tak teratur.
"Gak usah kak, udah baikan ini. Tadi sih sedikit kebentur, terus aku pingsan sebentar karena pusing." Jelas Sofia jujur dengan tangan kanan yang memegang kepalanya.
Julian terdiam sebentar, berusaha menetralkan detak jantungnya yang masih berdegup karena terkejut mendengar ucapan Ervin mengenai adiknya tadi.
"Kok bisa jatuh sih Fi?" Tanya Julian setelah napasnya mulai teratur.
"Biar aku yang jawab kak!" Ucap Eireen lantang sesaat setelah melihat Sofia yang hendak membuka suara mulutnya untuk bercerita. Julian dan Sofia terdiam, lalu mengangguk meng-iya-kan.
"Jadi, aku sama Sofia tuh disuruh ambil buku tugas sekelas di lab Pidana lantai satu itu loh. Terus pas di dekat kelas 12 Pidana 3, tiba-tiba ada bola basket yang pas banget kena kepalanya Sofia." Jelas Eireen lalu menghela napas sebentar. Julian terdiam lalu menatap Sofia dan Eireen bergantian, sedikit aneh mendengar cerita dari sepupunya ini.
"Nah, aku sendiri bingung dong ya itu bola basket asalnya dari mana. Orang koridor 12 Pidana 3 jauh banget dari lapangan, aku ngeliatin sekeliling siapa tahu pelakunya masih ada di sana. But nothing, aku cuma ngeliat kakak kelas cewek yang masuk ke ruang musik yang gak jauh dari ruang kesenian. Sedikit curiga sih, tapi keburu panik karena Sofia jatuh terus pingsan." Lanjut Eireen.
"Lah, kata Ervin kebentur tembok?" Tanya Julian karena cerita versi Eireen ini sedikit berbeda.
"Iya kak, pas kena bola basket, saking kerasnya kepala aku juga ngebentur tembok. Sedikit sih, tapi ya... Lumayan lah sampai bikin aku pingsan gini walau gak lama." Jelas Sofia membuat Julian mengangguk mengerti.
Tak lama pintu terbuka membuat Julian, Eireen, Vinca dan Sofia mengalihkan atensi nya. Kemudian, Ervin masuk sambil sedikit memijat lengan kanannya, disusul Xennora dengan wajah flat nya.
"Habis dari mana kak?" Tanya Vinca pada Ervin.
"Habis dari lab nih, bantuin Xennora." Jawab Ervin membuat Julian menatap Xennora yang sedang menyapa Sofia dengan senyum nya.
Tiba-tiba, Julian menarik lengan kanan Xennora membuat gadis itu sedikit kesakitan karena di lengan kanannya terdapat sebuah gelang kayu.
"Eh, kejar kak!" Refleks, Eireen berteriak pada Ervin yang masih belum mengerti dengan keadaan saat ini. Dalam keadaan bingung itu, Ervin mengejar Xennora dan Julian secepat mungkin, disusul oleh Vinca di belakangnya.
__ADS_1
Julian menarik Xennora ke lantai B1 alias basement pertama yang letak tangga nya pun tak jauh dari letak UKS. Selain dijadikan tempat parkir, di lantai B1 juga terdapat lab teknik dan lab komputer. Jadi tidak se-sepi seperti di film-film horror thriller.
"Lo tadi ngapain di ruang musik?" Tanya Julian to the point. Sedangkan Xennora sibuk memegang lengan kanannya yang baru saja Julian lepaskan. Dua buah huruf tercetak jelas di kulitnya dengan warna sedikit memerah karena ukiran pada gelangnya itu. Sengaja diukir di bagian dalam karena hal itu termasuk rahasia besar Xennora.
"Main musik lah, ngapain lagi?" Xennora masih terlihat tenang dan santai, melupakan rasa sakit pada lengan kanannya. Dapat Xennora lihat, Julian menjambak rambutnya frustasi.
"Terus kenapa lo pergi ke lab dulu buat nyimpen dokumen?!" Julian mulai membentak Xennora membuat gadis itu menatapnya tak percaya.
"Salah? Kakak gue nyuruh nyimpen dokumen-dokumen tadi di lab dan lo bahkan tahu itu!" Xennora juga mulai berteriak.
"Alah bilang aja kali, kalau lo yang udah bikin Sofia masuk UKS!" Tuduh Julian membuat Xennora terdiam.
Holly shit and wow...
Dia dituduh membuat Sofia terluka? Sungguh tidak masuk akal, biar bagaimanapun Xennora tak pernah membuat orang lain merasa sangat sangat dirugikan. Yang lebih lucu lagi, kenapa pria di depannya tidak berteriak di UKS saja supaya orang-orang mendengarnya?!
"Hah...?" Xennora sedikit mendengus-tertawa, dan dalam keadaan yang masih tidak percaya jika Julian menuduhnya hanya dengan bukti sepele yang masih diragukan kebenarannya.
"Apa dengan lo yang keliatan santai enggak bikin gue curiga?! Sampai sempet-sempet nya naruh dulu kertas kertas tadi di lab?!" Julian mengungkit kejadian di lab tadi lagi, membuat Xennora sedikit muak dengan pria di depannya ini.
"Gue enggak sesantai kayak apa yang lo pikirin! Emang niat awal gue sama lo naruh kertas-kertas itu di lab kan?! Gue cuma menjalankan amanah aja gak lebih! Lagipula gue yakin Sofia udah aman sama temen-temennya. Yang ada lo yang terlalu berlebihan! Sampai nuduh nuduh gue segala!"
"Alasan yang gak masuk akal tahu gak? Kenapa lo bisa seyakin itu Sofia baik baik aja sedangkan yang lo denger dari Ervin, kepala Sofia kebentur tembok!!"
"Kak Ervin bilang agak kebentur tembok kan?! Buktinya sekarang Sofia baik-baik aja yang artinya lo itu terlalu berlebihan!!"
"Ngomong aja sih alasan sebenarnya kenapa lo bisa santai banget! Gue, berlebihan karena Sofia itu adik gue. Sekarang, apa ada alasan lain kenapa lo bersikap santai banget pas denger ucapan Ervin?!" Pertanyaan Julian mampu membuat Xennora sedikit ke-trigerred.
"Jawab gue!" Bentak Julian karena Xennora tak kunjung menjawab.
"Ada alasan lain! Tapi kak Julian gak perlu tahu."
__ADS_1
"Iya apa alasannya?! Dengan lo yang gak mau ngasih tahu gue gini malah bikin gue makin curiga sama lo!"
"Julian!!" Vinca yang baru datang bersama Ervin spontan berteriak saat masih berlari di tangga. Karena panik, Vinca bahkan lupa memberi embel-embel kak pada Julian. Sebelumnya Ervin dan Vinca sempat kebingungan mencari Xennora dan Julian dimana, suara teriakan mereka lah yang membuat Ervin dan Vinca mengecek lantai B1.
"Udah bego, dia cewek Ju..." Ucap Ervin saat sudah berada di samping Julian sambil menenangkan pria itu.
Vinca mengelus bahu Xennora yang terkesan seperti rangkulan. Xennora menyelipkan rambutnya di belakang telinganya, membuat gelangnya sedikit tersingkap. Julian sedikit terkejut, bukan karena ia sadar telah menarik lengan Melody terlalu kuat, namun ia melihat dua huruf tercetak jelas di lengan kanan Xennora.
J dan... K
Julian sedikit percaya diri jika itu adalah inisial namanya. Tapi kan... Nama lengkapnya itu Julian Matteo Kayden. Jika disingkat, itu akan menjadi JMK.
Setelah sadar, rasa percaya dirinya mendadak hilang. Ia tiba-tiba pergi ke atas tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Kejar lagi kak." Ujar Vinca pada Ervin membuat pria itu mendesah pelan.
"Aish.... Masa gue ngejar mulu sih? Kan gue maunya dikejar." Ucap Ervin membuat Xennora dan Vinca menatapnya aneh.
"Eh iya ya, gue emang harusnya ngejar... Cewek sih. Tapi bodo amat lah, temen dulu. Pacar nanti... Kalo udah ada." Gumam Ervin lalu pergi untuk menyusul Julian yang pergi entah kemana.
"Lo gak kenapa kenapa kan? Kak Julian gak nampar lo kan?" Tanya Vinca khawatir membuat Xennora tersenyum.
Xennora menggeleng, "I'm fine."Jawabnya.
"Sabar ya, kak Julian emang gitu orangnya. Suka gak mikir dua kali. Like an idiot."
"Yeah, no problem... Udah biasa."
"Yaudah yuk ke atas lagi." Ajak Vinca yang mendapat anggukan dari Xennora. Vinca pun berjalan mendahului Xennora karena gadis itu teringat sesuatu.
Xennora memegang lengan kanannya, lebih tepatnya dua huruf yang tercetak jelas di lengan kanannya.
__ADS_1
"Untung dia gak ngeliat. Eh, dia ngeliat gak ya? "