
...❄❄❄Day 1❄❄❄...
Keesokan harinya mereka memutuskan untuk berkumpul di kantin saat jam istirahat. Tujuan utamanya tentu membahas siapa pelaku teror di sekolah. Xennora sedikit tidak terima karena dengan adanya kegiatan seperti ini, hanya akan memperbanyak waktu bertemu nya dengan sang enemy, Julian.
Waktu yang tersisa adalah enam hari lagi. Hari ini Kamis, mau tidak mau weekend pun harus mereka relakan demi menyelidiki kasus ini. Bahkan mereka yakin, kepindahan siswa-siswa yang lain juga disebabkan oleh pelaku yang sama. Mereka bahkan membuat grup chat yang sebagian besar berisi opini mereka mengenai terror itu. Sisanya paling pesan tidak penting yang akan dibalas sekenanya.
Dan hasil rapat online tersebut sedikit memberi mereka pencerahan. Pertama, pelakunya tidak sendiri alias bekerja sama dua sampai empat orang. Dan kedua, para pelaku sudah sangat hapal dengan sudut-sudut di sekolah ini. Lalu, Herina juga diikut sertakan dalam penyelidikan ini, lebih tepatnya Edwin yang memaksa. Alasannya selain karena kecerdasan Herina tentu karena Edwin ingin modus.
"Kita harus punya ruang kumpul resmi dong. Masa di kantin mulu, nanti kalau pelakunya dengar kita lagi ngebahas teror kan kacau." Ujar Sofia ada benarnya. Mereka mengangguk lalu memikirkan tempat yang pas untuk menjadi markas resmi mereka.
"Ruang musik? Disana lumayan sepi, AC nya lancar, Wifi apalagi." Usul Edwin. Diam-diam suka ngadem di ruang musik ternyata sambil pakai Wifi sekolah.
Julian menggeleng, "disana ada jendela besar. Sia-sia, masih kelihatan sama siswa."
Herina dan Vinca mengangguk menyetujui. Ruang musik masih terlalu terbuka jika dipakai untuk segala kegiatan yang sedikit berisiko seperti ini.
Sebenarnya faktor utama Sofia menawarkan ruang kumpul resmi yaitu karena sedikit tidak enak diperhatikan para siswa yang ada di kantin atau yang hanya sekedar lewat. Bagaimana tidak diperhatikan jika mereka bersepuluh kumpul di tengah kantin?
Kan kelihatannya kayak yang mau ngerencanain tawuran.
"Lab perdata di lantai dua aja deh. Udah gak dipakai karena guru-guru lebih sering pakai yang di lantai satu. Lagipula, gue waktu itu nyuruh Julian sama Xennora jadi asisten gue buat ngadain penyelidikan terror. Dan dokumennya belum gue sentuh sama sekali. Gimana? Setuju?" Tanya Leo.
"Bagus tuh, disana kan luas kayak ruangan kelas. Jarang dilewati siswa lagi." Ucap Eireen yang diangguki setuju oleh mereka.
"Ok. Lab perdata ya. Semangat guys, semoga dapat pencerahan!" Seru Leo sambil beranjak diikuti yang lain sambil membalas ucapan Leo.
"Semangat!" Teriak mereka kompak seraya berdiri lalu pergi dari kantin. Tentu hal tersebut tak luput dari puluhan pasang mata yang menatap mereka aneh.
Pulang sekolah, para anggota penyelidikan teror itu langsung bergegas menuju lab perdata. Saat Leo membuka kunci pintunya, ekspresi mereka yang awalnya bersemangat menjadi kecewa kecuali Xennora, Ervin dan Leo.
"Gila sih... Berantakan banget coy!" Kritik Edwin dengan mata yang masih menelusuri sudut-sudut ruangan. Mereka pun perlahan masuk, Leo mendekati saklar lalu menyalakan lampunya. Vina, Herina dan Sofia sedikit terbatuk karena debu yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
"Ya... Mau gimana lagi? Kita harus beresin ini dulu." Ucap Herina yang dibalas anggukan serempak dari teman-temannya.
Mereka pun menaruh tas mereka lalu membagi bagi tugas. Eireen dan Vina membersihkan jendela dan satu white board berukuran sedang, serta lemari berukuran sedang juga yang sepertinya kosong. Leo dan Ervin berusaha mengangkat satu sofa besar yang posisinya terbalik. Sofia dan Vinca menyapu. Herina mengelap meja yang sepertinya sepasang dengan sofa yang tengah dibersihkan Leo dan Ervin. Melody memegang pel sambil menunggu Sofia dan Vinca selesai menyapu. Edwin menaiki kursi untuk mengganti lampu karena lampu yang lama sudah redup. Dan Julian membantu memegang kursi agar Edwin tidak jatuh dan tetap seimbang.
Xennora melihat ke arah jendela. Cuaca hari ini mendung, terlebih lagi Edwin belum mengganti lampunya. Terlalu asik memperhatikan langit yang mendung, Xennora bahkan tidak menyadari jika Edwin tengah bersiap mengganti lampu disertai Julian disampingnya. Posisi Edwin dan Julian sekitar arah pukul Empat dari Xennora.
Tiba-tiba lampu mati, membuat Xennora panik sendiri. Namun ketakutannya tidak terlalu dapat di notice mereka karena Xennora diam mematung. Napasnya saja yang sedikit terengah disertai jantungnya yang berdetak kencang.
"Bentar ya Sen, lo tenang dulu. Ju, mana lampunya?" Ujar Edwin berusaha menenangkan Xennora. Edwin tahu jika Xennora phobia terhadap hal gelap. Dan kebiasaan gadis itu ketika ruangan gelap adalah mencoba menggenggam tangan orang yang berada di dekatnya.
Refleks, tangan kanan Xennora mencoba meraih tangan orang disekitarnya. Dan beruntung, di arah jam Empat ia berhasil menemukan lengan seseorang. Sepertinya lengan pria.
"Paling kak Edwin.' Pikirnya
Takut salah orang, Xennora hanya memegang pergelangan tangannya, tidak menggenggamnya. Sedangkan Julian, oknum yang ternyata tengah Melody pegang lengannya sedikit terkejut.
Lampu kembali menyala, kini lebih terang dari sebelumnya. Xennora segera melihat kebelakang dimana lengan kanannya memegang lengan kiri Julian. Otomatis, gadis itu melepaskan tangannya seraya merutuki kebodohan yang telah ia perbuat.
"Beres Sen, tinggal di pel." Ujar Vinca membuat Xennora tersadar lalu segera mengepel lantai. Yang lain masih sibuk membersihkan seperti Vina yang sibuk menghilangkan debu dari bunga-bunga plastik lalu disusun kembali di dalam vas. Saat menyapu pun Sofia menemukan mading berukuran sedang di belakang lemari. Lantas, ia menyuruh Julian mengeluarkannya agar bisa dibersihkan oleh Eireen.
"Selesai!" Teriak mereka kompak setelah ruangan itu benar-benar sudah rapi. Jendelanya bersih tanpa noda. Tak ada satupun debu yang terlihat, dokumen yang Melody dan Julian bawa tadi pagi juga sudah tersimpan rapi di lemari. Mading berukuran sedang yang berada di samping white board bisa membantu mereka membuat rencana. Sofa berwarna hitam juga terlihat seperti baru setelah dibersihkan oleh Leo dan Ervin. Ada juga satu komputer di sudut ruangan yang sudah diperbaiki oleh Herina. Dan kipas angin yang telah Edwin perbaiki. Bahkan besok mereka berniat untuk membawa karpet. Ruangan itu pun terlihat sangat nyaman apalagi jika mereka berkumpul bersama seperti ini.
"Ok, jadi gimana Plan nya?" Tanya Ervin. Mereka duduk di lantai dengan posisi melingkar. Julian mengeluarkan sesuatu dibelakangnya lalu ia taruh di tengah.
"Peta sekolah?" Tebak Vinca yang dibalas anggukan oleh Julian.
"Jadi, kita punya waktu sampai hari rabu. Dan gue mau kita bagi-bagi tugas. Herina, Vina sama Edwin karena kalian yang paling pintar dan berpikir secara kronologis, gue minta selidiki pelakunya dari dokumen-dokumen yang dibawa Xennora sama Julian. Sisanya gue kasih tugas nanti. Eireen sama gue juga nanti jagain Sofia siapa tahu pelakunya masih ngincar dia. Setuju?" Tanya Leo. Vina sedikit tidak setuju sebenarnya karena nanti ia hanya akan jadi nyamuk diantara Herina dan Edwin. Tapi Vina yakin, mereka akan bersikap profesional.
"Setuju!" Teriak mereka serempak.
"Emm... El, dokumennya boleh dibawa ke rumah dulu gak? Cuma sebagian kok." Izin Herina yang mendapat anggukan dari Leo.
__ADS_1
"Boleh, bawa aja."
"Ok, semuanya. Dengerin gue dulu." Interupsi Xennora setelah Edwin memberinya isyarat. Xennora pun membalikkan peta menjadi menghadap kearahnya.
"Ini gedung satu, alias gedung buat SMP dan disampingnya gedung 2, buat SMA. Dua-duanya punya empat lantai terus terhubung sama koridor yang ada di lantai tiga. Aula ada di tengah, terus--" penjelasan Xennora terpotong oleh ucapan Edwin.
"Udah tau woy!" Teriak Leo yang posisinya di samping kanan Xennora.
"Santai dong! Kan ada yang belum terlalu tahu." Ucap Xennora sambil melihat ke arah Vina dan Vinca.
"Oke lanjut. Di ujung gedung dua ada ruang musik yang tepatnya di koridor kelas 12 Pidana 1, 2, sama 3. Di samping ruang musik itu ada ruang kesenian." Jelas Xennora sambil melingkari ruang musik dan ruang kesenian tersebut dengan spidol merah.
"Sofia pingsan di depan kelas 12 Pidana 3 karena bola basket. Dan Eireen ngeliat ada siswi yang masuk ke ruang musik. Jadi yang harus kita selidiki dulu itu, siapa aja orang yang nyimpan kunci ruang olahraga, bola basket yang dipakai, siswi yang masuk ke ruang musik, sama satu lagi. CCTV yang ada di ujung koridor." Ucap Xennora sambil melingkari dua tempat di koridor tempat dipasang nya CCTV sekolah. Mereka mengangguk, cukup terkesan dengan pemikiran Xennora.
"Jadi besok, gue, Eireen, Sofia, Ervin sama Vinca nyari orang-orang yang megang kunci ruang olahraga. Xennora sama Julian masuk ke ruang CCTV nyari rekaman semalam, terus liat siapa cewek yang masuk ke ruang musik. Gue minta, kalian hati-hati. Jangan sampai ketahuan kalau kalian copy video itu ke USB. Terus Edwin, Herina sama Vina periksa dokumen aja." Ujar Leo. Xennora menatap kakak nya itu tak percaya.
Harus banget ya sama Julian?
"Tapi kak, besok aku disuruh remedial sama bu Raya. Jadi gak akan bisa ikut dulu." Ucap Sofia sedikit tidak enak.
"Ooh.. Kalau gitu ditemenin Eireen aja ya? Kasian Ervin sama Vinca kalau disuruh pergi ke ruang guru berdua doang. Yang ada diinterogasi sama Pak Hasan." Ujar Leo sambil sedikit terkekeh.
"Iya gak apa apa kok." Balas Sofia. Eireen pun mengangguk meng-iya-kan.
"Oh iya. Kalau bisa besok kalian ambil perbekalan lebih dari rumah. Kita nginap di sekolah sampai minggu, itu juga kalau dikasih izin. Gimana?" Tanya Edwin.
"Wahh boleh tuh. Eh tapi pihak sekolah gak akan curiga?" Ujar Vinca.
"Gue udah izin kok sama Pak kepala sekolah." Balas Leo membuat mereka mengangguk.
Setidaknya pihak sekolah memperbolehkan penyelidikan ini.
__ADS_1