The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Her Power


__ADS_3

Azka mengangguk pelan mendengar penjelasan para remaja berusia 17 dan 18 tahun itu. "Tapi... Apakah kalian pernah berpikir mengenai rencana cadangan? Atau... Mungkin sering di sebut rencana B?"


Mendengar pertanyaan dari Azka, Vinca tersentak pelan. Ingatannya kembali terputar saat Xennora mengobrol dengan Reydevan.


'Ya... Gue akui mereka gak punya rencana B. Agak konyol tapi, yaa... Lumayan untuk beberapa orang yang cuma punya waktu setengah hari buat bikin rencana.'


"Kita..... Gak punya..." Lirih Julian.


"Kalian gak kepikiran kalau bakalan ada yang diculik, iya kan? Itu yang bikin kalian gak punya rencana B. Hidup itu gak selalu sesuai dengan harapan dan Ekspektasi, maka dari itu, antisipasi tuh penting," Nasihat Azka. Kini ia menggunakan kosa kata yang lebih santai.


"Satu hal yang penting kalau ingin membuat suatu rencana. Pikirkan hal terburuk yang bisa aja terjadi."


Ucapan Azka membuat mereka semua terdiam, termasuk Kamila sendiri. Tak lama, Julian membuka suara dengan sedikit ragu.


"Boleh tinggalin Julian sendiri? Umm... Ada yang mau Julian bicarain sama Xennora."


Wajah Vinca berubah menjadi panik. Namun Azka dengan santai nya menganggukkan kepala seraya bangkit dari kursinya. "Ayo, kita lihat keadaan Rani, mungkin ada hal yang bisa kita tanyakan."


Mereka semua mengangguk lalu bangkit untuk mendekati Azka yang berada di depan pintu. Namun kemudian, teriakan histeris dari Vinca membuat mereka tersentak.


"Gak! Gak boleh! Please aku udah muak sama semua akting ini!"


Vinca mendekati Xennora dengan langkah terburu-buru membuat Xennora bingung dengan tingkahnya.


"Lo! Kita percaya sama lo tapi apa yang kita dapat?!"


"Om, tante.... Dia itu bohong! Dia kerjasama sama mereka dan manfaatin kita! Reydevan sama Deandra berhasil kabur dan sekarang mereka hilang..."


"Om gak percaya gitu aja sama cewek ini kan? Dia yang bikin kak Julian masuk Rumah Sakit! Dia yang nusuk kak Julian! Dan kalian masih percaya sama dia?!"


"Vinca jaga mulut lo!" Teriak Edwin tidak terima.


"Gue serius!" Balas Vinca tak kalah keras.


Terjadi keheningan setelah itu. Napas Edwin dan Vinca sama-sama tidak beraturan. Di tengah keheningan itu, Azka memastikan. "Kamu yakin Vinca?"


"Seratus persen yakin, Om. Dia--" Vinca menunjuk Xennora yang masih memperlihatkan wajah tenangnya itu. "Dia punya hubungan sama Reydevan. Nama aslinya Alfanisa bukan Xennora! Aku liat sendiri dia ngobrol akrab sama Reydevan kemarin malam!"


"Cih jadi lewat pencahayaan minim kemarin lo berani menyimpulkan kalau itu Xennora sama Devan?! Bisa aja itu cewek lain kan dan atau bahkan malahan lo sendiri?!" Tanya Edwin kembali membentak Vinca dan menghampiri gadis itu kalau saja Leo tidak mencegahnya.


"Whatever, lo mau percaya atau enggak, hati-hati aja sih."


"Vinca--" Ucapan Julian terhenti kala pintu ruangannya di buka oleh tiga orang Polisi dengan tidak santai.


Melihat kedatangan Polisi, mereka terutama Herina dan Vina tambah panik. Xennora terdiam, sedikit terkekeh. Gak percaya aja Vinca sampai manggil Polisi. Kenapa gak dibicarain baik-baik dulu gitu?

__ADS_1


"Kami dari kepolisian setempat menerima laporan dari saudari Vinca Ismene Haiqa. Saya juga sudah mendapatkan surat perintah penangkapan saudari Xennora Anesta Fachrunaldo." Ucap salah satu Polisi wanita seraya menunjuk Xennora yang sudah didampingi dua Polisi di belakangnya.


Mereka semua mematung, tidak percaya jika permasalahan nya akan seserius ini. Julian menatap wajah Xennora yang masih terlihat santai, seakan dia tidak berbuat apapun --ya, memang itu kenyataannya--. Julian percaya akan hal itu.


"Ca, serius lo?" Tanya Edwin tidak percaya. Ya iyalah, Xennora adik perempuan satu-satunya main dituduh gitu aja. "Sen, bilang aja lo gak salah, napa jadi ribet gini sih?!"


"Xennora akan dibawa ke Kantor Polisi untuk diminta keterangan. Saudara sebaiknya tidak membuat keributan lagi. Mengenai keputusan selanjutnya, kami yang akan menanganinya. Permisi." Ucap Polisi tadi. Namanya Sri Lestari.


Xennora dan ketiga Polisi itu berjalan untuk pergi. Saat melewati ranjang tempat Julian duduk, tangan Xennora di tahan membuat Xennora dan bahkan kedua Polisi di belakangnya berhenti lalu menatap Julian.


"Tapi Pak, Bu... Xennora gak akan ditahan kan?"


"Itu tergantung keputusan Pak Kepala." Jawab Opsir Sri singkat membuat Julian melepas tangan Xennora dengan ragu. Keempat orang itu pun melanjutkan langkahnya.


'Tenang aja.' Ucap Xennora tanpa suara ketika ia sudah mengambil tiga langkah dan menoleh, ia masih berjalan.


Dua kata itu, setidaknya mampu membuat Julian sedikit tenang.


"Sumpah Ca, gue kecewa sama lo." Ucap Leo setelah kepergian Xennora dan tiga Polisi tadi. Edwin tidak berkata apa-apa, ia langsung keluar tanpa pamit.


"Kenapa? Xennora yang salah kok kecewa nya sama gue?"


"Gue percaya Xennora. Se-introvert apapun dia, gue yakin dia gak bakalan khianatin kita."


"Haha... Jangan gara-gara hubungan keluarga, lo jadi melankolis gini deh kak."


Vinca yang awalnya tersenyum kini wajahnya datar. Dengan langkah terburu-buru, dia keluar dari ruangan itu juga.


Azka dan Kamila kembali duduk diikuti anggota penyelidikan yang masih tersisa. Sungguh, ini pengalaman pertama mereka melihat penangkapan secara langsung.


".... Pelaku teror di salah satu sekolah elit di Jakarta Selatan masih belum ditemukan setelah kecelakaan kemarin malam, saat mereka akan dibawa ke kantor Polisi. Bagi siapapun yang pernah melihat wajah mereka, dimohon untuk segera melapor pada pihak berwenang." Samar-samar terdengar suara reporter dari televisi.


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Mas, Mas, Mas.... Ini dari kepolisian. Katanya Xennora...." Narissa menggantungkan ucapannya. Memilih untuk membiarkan suaminya itu mengetahui semuanya sendiri. Rafael yang tengah membaca koran pun mengerutkan dahinya lalu menerima handphone yang Narissa sodorkan.


"Hallo?" Tanya Rafael pada penelepon di ujung sana.


"Xennora?"


"Ah... Mungkin Anda keliru--"


"Baiklah, kalau begitu saya akan ke sana."


Rafael mengembalikan handphone milik Narissa lalu beranjak untuk memakai jas nya kemudian pergi dengan terburu-buru. Narissa menatap kepergian Rafael dengan khawatir. Khawatir dengan apa yang tengah terjadi pada Xennora.

__ADS_1


...❄❄❄💙❄❄❄...


Rafael telah sampai di Kantor Polisi. Saat ia turun dari mobil dan masuk ke gedung kepolisian, Edwin dan Leo yang juga telah sampai kemudian menyusul Rafael. Salah satu Polisi yang mengetahui kedatangan Rafael langsung mengarahkan mereka menuju salah satu bilik di ujung ruangan.


Mereka khawatir, apakah Xennora terbukti bersalah dan kemudian ditahan sampai jadwal sidang? Apa hari hari yang akan mereka lewati selanjutnya adalah mengunjungi Xennora dengan rutin di penjara? Astaga, semoga itu tidak akan pernah terjadi.


Dan... memang sepertinya tidak akan pernah terjadi. Rafael yang sebelumnya siap meledakkan emosinya menjadi terpaku. Leo dan Edwin Speechless melihat pemandangan di depan mereka. Mereka kira Xennora akan menangis minta di keluarkan atau bahkan berteriak seperti orang kesetanan dan menyatakan jika dia tidak bersalah. Tapi ini...?


Edwin dan Leo sempat menyesal mengkhawatirkan Xennora secara berlebihan. Rafael juga menyesal menghambur-hamburkan bensin untuk mengendarai mobilnya ke sini. Nyatanya, gadis itu baik-baik saja.


Sangat sangat baik.


"Oh... Bapak Rafael, maaf sebelumnya tapi saya sudah menghubungi Anda lagi, beberapa menit yang lalu. Sepertinya Anda sedang fokus menyetir..." Ujar salah satu Polisi. Polisi itulah yang menghubungi Rafael tadi.


"Tentu saja saya sedang fokus menyetir..." Ujar Rafael dengan penuh penekanan membuat Polisi bernama Radi Hartigan itu menggaruk tengkuk nya canggung.


"Emm... Saya hanya akan memberitahu jika itu hanya salah paham, dan... Xennora baik-baik saja." Pak Radi melirik Xennora yang tengah memakan rujak dengan santai. Ya, itu yang membuat Leo dan Edwin menyesal telah mengkhawatirkan Xennora secara berlebihan.


"Ya... Jelas-jelas dia baik-baik saja..."


"Ya ampun, Pak Radi gak usah repot-repot ngasih tau Ayah padahal..." Xennora membuka suara, mulutnya kembali mengunyah.


"Sebaiknya kamu berhenti makan." Kesal Rafael karena kesantaian anak gadisnya itu.


"Aku lapar... Gak akan ada yang bisa memisahkan perempuan dengan makanan."


"Sebelumnya saya ingin meminta maaf sekali lagi atas nama anak buah saya... Haha, mereka membuat kekacauan kan di Rumah Sakit?" Tanya Pak Radi.


"Tidak masalah, ya... Walaupun saya sedikit terkejut tadi." Ujar Xennora.


Setelah mengobrol selama beberapa menit, mereka berempat pun keluar dari Kantor Polisi dengan langkah yang seakan tidak terjadi apa-apa.


"Kok kamu bisa bebas? Gimana ceritanya?" Tanya Rafael penasaran.


Leo dan Edwin pun menatap Xennora yang tidak mengubah arah pandangnya ke depan.


"Ya... Gimana lagi?" Jawab Xennora yang sebenarnya tidak menjawab pertanyaan Rafael. Namun mereka tentunya mengerti.


"Masih ikut investasi?"


Xennora hanya bergumam sebagai tanda jika jawabannya iya.


"Gak ada yang tau kan.. Kalau kamu pakai uang?"


"Heem. Yang tau cuma Pak Radi, Pak Ikang, Pak Ardian sama Bu Sri. Bu Sri sempet nolak sih, tapi karena Pak Radi atasannya, jadi... Mau gak mau Bu Sri harus tutup mulut."

__ADS_1


"Haish... Belajar dari siapa kamu?"


"Otodidak."


__ADS_2