
“Reen, kamu belum niat pacaran gitu? Kasian tau kak Leo digantung mulu.” Ujar Sofia di ruang tengah. Tak lama, Julian datang dengan laptopnya yang masih menyala. Ia duduk di samping Sofia lalu memakan snack yang ada di tangan gadis itu.
“Ya bagus lah, fokus kuliah. Emangnya kamu? Bucin sangat.” Cibir Julian membuat Sofia menatapnya nyalang. Sedangkan Eireen terkekeh sambil terus lanjut fokus dengan bukunya. Kini bukan novel, tapi makalah pembelajaran. Syukurlah, ada kemajuan.
“Bilang aja gak mampu.” Ujar Sofia lalu bangkit menjauh dari sofa untuk menghindari lemparan remot TV dari kakaknya itu. Sofia terkekeh pelan, rasanya selalu menyenangkan ketika mengganggu seseorang.
“Kapan mau ngenalin si Yohan-Yohan itu ke ayah ibu?” Tanya Julian setelah menyimpan kembali remot televisi di sampingnya.
“Sekarang.” Jawab Sofia dengan senyum penuh arti, membuat Eireen mendongak untuk sejenak.
“Pantesan aja udah rapi sore-sore gini.” Komentarnya. Gadis itu terdiam sejenak ketika otaknya mengingat sesuatu. “Aku juga mau pergi.” Ujar Eireen tiba-tiba lalu menutup bukunya dan beranjak menuju tangga untuk pergi ke kamarnya.
“Tiba-tiba banget?” Ucap Sofia terkejut melihat Eireen yang menaiki tangga dengan terburu-buru. Gadis itu tidak mendapat balasan dari Eireen yang tak lama gadis itu turun lagi ke ruangan tempat mereka berkumpul dengan menggunakan setelan yang sama. Hanya saja ia membawa coat dan handphone di tangannya lalu bergegas menuju pintu depan.
“Aku lupa ada janji! Kak Julian, bilang ya ke ibu aku keluar dulu, jam delapan juga udah pulang kok! Kalau enggak sih nginep!” Teriak Eireen yang sepertinya tengah memakai sepatu.
“Iya, hati-hati Reen!” Balas Julian dengan teriakan juga.
“—Aksi penembakan ini membuat tiga orang luka-luka termasuk seorang polisi yang diketahui sudah ada di tempat kejadian bahkan sebelum pelaku melancarkan aksinya. Sayangnya, polisi belum menemukan jejak sang pelaku sampai saat ini, ditambah, tidak ada ciri-ciri khusus yang dapat membantu polisi menemukan pelakunya. Beruntung, peristiwa ini tidak memakan korban jiwa. Saya—”
“Hah, aksi penembakan? Di gedung apartemen Grand Moonlight? Dekat sini dong?” Ujar Sofia setelah memperhatikan berita di televisi. Julian juga memperhatikannya, kenapa sepertinya akhir-akhir ini banyak kejadian aneh dan meresahkan terjadi di lingkungannya?
Handphone Julian berdering, nama Edwin terpampang jelas di sana. Ia pun langsung menjawab telepon itu tanpa memikirkan apapun.
“Lo udah liat berita di TV Ju? Tentang penembakan itu,”
“Udah.” Jawab Julian santai, tak lama ia terperangah saat menyadari sesuatu. “Jangan bilang polisi yang dimaksud itu lo?”
“Hahaha respon lo cepet juga.”
__ADS_1
Ternyata benar, kalau begitu, jika Julian ingin memikirkan satu kemungkinan lagi, apakah Edwin tengah bersama Xennora saat itu?
“Tenang aja, Xennora gak apa-apa kok.” Lanjut Edwin padahal Julian belum merespon apapun. “Oh iya, gue nelpon lo sebenernya buat nanyain tentang Juan Kayden sih. Keadaannya aneh bang—”
“Itu keinginan dia. Dia nyewa orang buat ngelukain dirinya sendiri. Jadi lo gak usah repot-repot mikirin tuh orang.” Potong Julian ketika menyadari apa yang akan Edwin tanyakan.
“Udah gue duga... Luka nya gak kayak luka keroyokan soalnya. Kan aneh...”
“Hm... Lo bisa tutup kasus ini dan fokus aja ke kasusnya Xennora. Pastiin Deandra didakwa. Empat tahun yang lalu itu pertama kalinya gue terluka secara fisik. Mereka harus tanggung jawab.”
...***...
“Woah... Astaga, saya merasa gugup masuk ke dalam kawasan elit...” Gumam Xennora melihat deretn rumah-rumah mewah disekitarnya.
‘Sebentar lagi juga kamu akan terbiasa hidup di sini.’ Gumam Edwin seraya terkekeh melihat ekspresi Xennora.
“Ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak menolak permintaan saya?” Inilah pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan kepada Xennora sejak gadis itu menerima ajakan untuk ikut bersamanya. Padahal Edwin pikir perlu pengorbanan lebih untuk membawa Xennora bersamanya, apalagi Edwin ini bisa dibilang orang baru dalam ingatan Xennora.
“Ya... Kamu baru mengenal saya, tapi kenapa kamu langsung setuju saat saya mengajak kamu ke suatu tempat yang bahkan belum kamu ketahui?”
“Pekerjaan tidak mengubah kemungkinan seseorang untuk berbuat jahat.” Lanjut Edwin ketika Xennora tengah berpikir.
Gadis itu menghela napas lalu menatap ke arah jalanan di depannya yang mulai gelap dan diterangi oleh lampu jalan. “Dan keputusan dari hati tidak selalu dimengerti oleh otak.” Jawab Xennora yang membuat Edwin mengerutkan dahinya tidak mengerti. “Gak peduli seseorang ingat atau tidak, jika dia merasa orang itu pernah membuatnya nyaman, maka hati akan memberikan respon yang bahkan tidak direncanakan oleh otak.”
“Maksud kamu?” Baiklah, Edwin tidak akan berspekulasi yang aneh-aneh untuk sekarang. Tolonglah berhenti memberikan kesimpulan yang akan mengecewakan nantinya.
“Aku ngerasa nyaman, aku gak peduli alasannya apa, tapi kayaknya kita pernah ketemu.” Ujar Xennora lalu menatap Edwin yang tengah fokus menyetir.
Edwin tidak merespon apa-apa selain menghela napas samar, menahan dirinya untuk tidak berteriak—“IYA! LO ITU ADIK PEREMPUAN GUE SATU-SATUNYA RAA! PLEASE BILANG KALAU HILANG INGATAN LO ITU CUMA PRANK DARI LO SAMA JULIAN!!”
__ADS_1
Masih beruntung pertahanan Edwin cukup kuat untuk tidak mengucapkan kalimat-kalimat itu. Mobilnya berbelok memasuki halaman rumah yang menurut Xennora paling terlihat modern daripada rumah-rumah sebelumnya yang terkesan seperti istana. Tapi yang ini sangat futuristic dengan air mancur yang disertai lampu neon berwarna biru tua dan ungu. Sangat indah, andai saja Xennora dapat membeli rumah seperti ini.
Mereka turun dari mobil, Xennora langsung mengikuti Edwin yang berjalan menuju pintu depan. Ya ampun, Pintu depannya terkesan sangat sederhana dan modern, Xennora menginginkan itu...
Melihat Edwin yang membuka pintunya dengan menggunakan kunci, sepertinya tidak ada siapa-siapa di rumah ini selain mereka. Melihat tatapan kagum Xennora saat memasuki rumah ini, apalagi saat Edwin menyalakan lampu, ia terkekeh pelan. “Kamu boleh berkeliling kalau kamu mau.” Ujar Edwin membuat tatapan Xennora berbinar.
“Benarkah?”
Edwin mengangguk sambil menyalakan pendingin ruangan. “Seorang Jaksa gak mungkin mencuri.”
Xennora yang tengah menaiki tangga pun mendelik. “Tadi siapa ya yang bilang ‘pekerjaan tidak mengubah kemungkinan seseorang untuk berbuat jahat’.” Cibir Xennora dengan suara yang dibuat-buat agar lebih rendah seperti suara milik Edwin. Kalau diingat-ingat, ada suara yang lebih berat dari ini... Oh iya, suara kak Julian. Suaranya lebih berat daripada milik Edwin, bahkan Xennora rasa ia tidak akan bisa meniru suara Julian dengan nada serendah apapun yang ia bisa.
Edwin tersenyum ketika menyadari Xennora tengah membicarakannya. Setelah melihat gadis itu sudah berada di lantai dua, Edwin segera pergi ke garasi dengan sesekali melihat ke belakang, siapa tahu Xennora juga mengikutinya.
Sementara itu, Xennora mengelilingi lantai dua ini dengan perasaan kagum. Interior ini benar-benar mirip dengan rumah-rumah di drama Korea yang pernah ia dan Yuna tonton. Warna Temboknya juga elegan, abu-abu tua, dengan lampu dinding yang membuatnya bertambah mewah. Ia juga sempat melihat bagian belakang rumah ini di balkon, ada kolam renang yang cukup luas disertai gazebo paling modern yang pernah Xennora lihat.
Sepertinya di lantai dua ini hanya ada kamar. Dengan pintu-pintu nya yang berwarna putih. Total ada empat kamar di sini dan sepertinya semuanya di kunci. Oh, ada satu ruangan lagi, sepertinya itu kamar juga. Ruangannya berada di ujung lorong, makanya Xennora belum menjamahnya.
Tanpa sengaja, Xennora menendang sebuah pena yang sepertinya memang tergeletak di lantai sampai pena itu masuk ke dalam ruangan tujuan Xennora yang pintunya setengah terbuka. Hal itu membuat Xennora sedikit terkejut dan juga takut untuk mengambil kembali pena itu, karena ruangan di depannya terlihat sangat gelap.
Xennora pun memberanikan diri untuk mengambil pena di dalam ruangan itu, untung saja letaknya tidak terlalu jauh dari pintu. Ia pun berdiri untuk bergegas pergi dari sana karena entah kenapa suasananya sedikit mencekam. Hawa nya lebih dingin dari biasanya. Ketika Xennora bangkit, ia melihat seorang perempuan yang berdiri di depan pintu balkon yang lampunya menyala sehingga Xennora hanya melihat siluetnya saja. Perempuan itu berbalik seakan menyadari kehadiran Xennora.
Astaga, jantungnya berdegup lebih kencang daripada tadi sore... Ada apa dengannya hari ini? Kenapa keadaan selalu membuat jantungnya berpacu dan membuatnya lelah tanpa melakukan olahraga? Ayolah, Xennora sudah tertangkap basah mengintip seseorang di depan sana. Apalagi ruangan ini terlihat sangat mengerikan dalam kegelapan total. Hanya ada cahaya dari balkon kamar yang masih remang-remang karena tertutup tirai tipis berwarna putih.
Apa yang akan terjadi setelah ini? Apa perempuan itu akan menjerit dan menuduh Xennora yang tidak-tidak? Atau gadis itu akan membunuh Xennora dengan tangan kosong? Atau hal buruk lain? Ayolah, kaki Xennora seakan kaku saat ini, kenapa tidak ada yang berjalan lancar?!
Berbanding terbalik dengan ekspektasi liar Xennora, gadis itu malah tersenyum padanya lalu jatuh pingsan. Ya, Xennora masih bisa melihat senyumannya karena cahaya yang datang di belakang Xennora, lampu lorong. Xennora terkejut melihat gadis itu yang pingsan begitu saja. Ia mundur beberapa langkah, pena yang ada dalam genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai. Bukan hanya karena terkejut, tapi kepalanya tiba-tiba terasa berat. Kejadian ini seperti déjà vu, ia seperti pernah mengalaminya, tapi entah kapan dan di mana...
Mendengar pintu yang ditutup dengan keras, Xennora segera tersadar lalu berlari secepatnya menuju lantai dasar tempat Edwin ada di sana tadi. Ia hanya berharap dirinya tidak terjatuh saat berlari menuruni tangga ini.
__ADS_1
Karena terlalu cepat menuruni tangga, Xennora bahkan tanpa sengaja menabrak seseorang yang juga terlihat sama terburu-burunya menaiki tangga.