
“Hello from the outside
At least I can say that I've tried
To tell you I'm sorry for breaking your heart
But it don't matter, it clearly doesn't tear you apart anymore..."
Tak lama, Silvana keluar dengan makanan di tangannya. “Wih penghayatannya bagus banget. Nyanyi nya bawa beban hidup kak?” Gurau Silvana lalu duduk di kursi yang ada di depan Xennora. “Ikutan dong…” Lanjut Silvana yang diangguki Xennora dan Nadila. Mereka pun melanjutkan lagu tadi sampai benar-benar selesai. Di lagu kedua, Xennora menyerahkan gitarnya kepada Silvana dengan prinsip ‘gantian’. Begitu pula di lagu berikutnya yang akan bergiliran.
Di sisi lain, Bu Ira tengah mengajak tetangga nya untuk ikut dalam acara makan bersama kali ini. Di rumah itu ada dua orang gadis seumuran Xennora, ibu mereka, dan juga pemilik rumah itu sendiri, nenek mereka, serta Bu Ira sendiri.
“Makan-makan bu?”
“Iya makan-makan teh, mau kan?” Tawar Bu Ira.
“Mau dong buu!” Jawab kedua gadis itu kompak membuat Bu Ira tersenyum.
“Ya udah, saya juga mau masak sesuatu kalau gitu.” Ujar Ibu mereka lalu berdiri dari duduknya.
“Eh, gak usah bu. Saya udah masak banyak, gak apa-apa.” Tolak Bu Ira.
“Bu Ira punya anak perempuan gak? Kita bosen gak ada temen, sepupu sama kakak cowok semua, mana pada mancing dari pagi sampai sekarang belum pulang-pulang…” Melas salah satu dari mereka.
“Ada loh Fi… Iya kan Bu?” Tanya nenek mereka.
“Iya, ada… Mau main? Tuh mereka lagi pada konser.” Kekeh Bu Ira membuat mereka sadar bahwa semua suara itu dinyanyikan secara langsung, bukan rekaman.
“Oh iya… Pantesan dari tadi denger suaranya familiar banget. Kayak suara Xennora…Eh? Xennora?” Kedua gadis itu saring bertatapan seperti telah menemukan sesuatu. Dengan terburu-buru, mereka berdua pergi ke pintu depan membuat nenek mereka menggeleng pelan. Begitupun dengan Kamila, Ibu dan bibi mereka.
“Loh, mereka kenal Xennora?” Tanya Bu Ira.
“Gak tau… Orang mereka gak pernah keluar rumah dari kemarin sore. Apalagi kan anak-anak ibu baru sampai tadi pagi. Kok bisa kenal Xenn— Loh? Xennora? Xennora Anesta??” Heboh Kamila lalu berjalan dengan langkah cepat menuju pintu depan tanpa menunggu jawaban Bu Ira yang masih kebingungan. Sang nenek hanya bisa menghela napas lalu terkekeh.
“Kok kalian gak keluar?” Greget Kamila ketika melihat Sofia dan Eireen yang hanya mengintip lewat jendela. Xennora… Tentu saja Kamila ingat dengan nama itu. Perempuan pertama yang membuat anaknya galau sampai bersikeras untuk tidak jadi melanjutkan studi di Jepang. Sejujurnya, Kamila juga penasaran akan ke mana perginya gadis itu sampai tidak terlihat selama empat tahun belakangan ini.
Dan apa ucapan Carissa benar bahwa Xennora adalah anak kandungnya? Julian benar ternyata, gadis itu sangat misterius. Kehidupannya cukup complicated, ingat kan saat di Rumah Sakit? Saat penyergapan itu, Kamila benar-benar takjub akan segala hal yang ada pada gadis itu. Untuk gadis seumurannya, Xennora sudah terbilang dewasa, hanya satu kekurangannya. Dia terlihat pendiam, padahal Kamila menyukai seseorang yang cerewet seperti anak-anaknya. Tentu saja itu karena Kamila juga cerewet, dan menurun pada anak-anaknya.
“Shtt, Bu… Itu ada kak Julian di teras…” Jawab Sofia menunjuk Julian yang terlihat memperhatikan tiga orang yang tengah beradu highnote lewat lagu I Will Show You itu.
__ADS_1
“Ya terus kenapa?” Tanya Kamila tak habis pikir.
“Emang Ibu gak aneh, kok kak Julian gak langsung nangis terus nyamperin Xennora? Kok cuma bengong diem aja merhatiin gitu? Aku ngerasa aneh buu…” Ucap Eireen.
“Udah cek kalau itu bener-bener Xennora?”
“Belum sih. Tapi suaranya Xennora banget Buu, aku yakin…”
“Ya udah, kenapa gak tanya langsung ke kakak kalian aja?”
“Y-yaudah…”
Mereka bertiga pun keluar dari rumah, lalu berdiri di belakang Julian yang senantiasa memperhatikan kedita gadis itu dengan tangan yang dilipat. Ralat, seorang gadis yang kini tengah memetik gitarnya seraya bernyanyi.
“I keep falling
I keep falling for you
Like the rainfall
Like a cannonball
Keep it in a cardboard box
So when it gets hard, you’ll never be far
And your love won’t be lost…”
“Heyy…” Panggil Kamila yang mampu membuat Julian berjengit kaget. Julian pun menoleh ke belakang. “Itu Xennora… Kenapa gak kamu samperin?”
Julian terlihat menghela napas pelan lalu menunduk sebentar. “Enggak Bu, cuma… Enggak aja hehe…” Jawaban Julian yang sangat tidak memuaskan ini membuat Kamila menatap putra sulungnya datar.
“Jawabnya yang jujur dong…”
Julian terdiam sebentar seraya menunduk, tak lama ia menatap Kamila, Eireen dan Sofia bergantian seraya tersenyum paksa. “Kalian samperin aja…” Balas Julian lirih lalu melenggang pergi ke dalam rumah.
“Ini ada apa sih sebenernya?” Tanya Kamila bingung, namun Sofia dan Eireen hanya bisa menggeleng tanda tidak tahu. Dengan rasa penasaran, mereka bertiga pun mendekati keberadaan Xennora yang hampir menyelesaikan lagunya, dengan prinsip kalau tidak menemukan clue akan pura-pura menjemput keponakan saja.
“Wahh… Suaranya pada bagus semua… Keren!” Puji Kamila sesampainya di sana.
__ADS_1
“Eh, tante Kamila ya?” Tanya Silvana seraya menyalimi Kamila diikuti Nadila dan Xennora dengan raut yang terlihat kebingungan.
Hal itu tentunya membuat Sofia, Eireen, dan bahkan Kamila menatap Xennora aneh. “Umm… Boleh kenalan gak? Aku Sofia, kuliah semester 6 jurusan Tata Busana dan ini Eireen, semester 6 jurusan Psikologi.” Ujar Sofia.
“Oh boleh dong, aku Silvana, sekarang kerja jadi komposer hehee…”
“Aku Nadila, kelas 10 Jurusan IPS.”
“Salam kenal, aku Xennora, kuliah semester 8 fakultas hukum…”
Kamila, Sofia dan Eireen semakin dibuat bingung. Bukan bingung karena memikirkan kenapa Xennora sudah semester 8, tapi bingung karena Xennora terlihat seperti baru mengenal mereka.
...***...
“Bhiyan sudah cari tahu ke mana-mana informasi tentang keluarganya, tapi semua dokumen kampus dijaga ketat… Jadi sampai sekarang, Xennora masih ada bersama kami…” Jelas Bu Ira dengan raut sedih.
Sudah sekitar lima belas menit Bu Ira menjelaskan tentang apa yang terjadi dengan Xennora dan mengapa gadis itu masih tetap berada di sini, bukannya pulang ke rumahnya. Julian juga ada di sini, mendengarkan setiap detail cerita yang diceritakan oleh Bu Ira. Jangan tanyakan mengapa Julian bisa ada diantara para wanita itu. Bu Ira pergi setelah adiknya berseru kalau nasi nya sudah matang.
“Ya ampun… Kok sedih sih kak? Gini amat kisah cintanya…” Gumam Sofia iba, entah hanya untuk menggoda Julian. Julian menatap adiknya datar lalu kemudian berdiri untuk keluar dari rumah dan menyiapkan alas untuk makan tadi daripada harus mendengar Sofia mengoceh.
Di depan pintu, Julian dikejutkan dengan seorang gadis yang tiba-tiba berada di depannya. “Hai kak Julian! Salam kenal!” Seru gadis itu sambil tersenyum lebar. Julian menatap gadis itu aneh, dan hanya bergumam singkat sebelum ia benar-benar pergi untuk menyusul sepupu-sepupu nya yang sedang mencari daun pisang di kebun.
Hal ini tentu membuat Xennora aneh, kemarin saja pria itu tiba-tiba memeluknya. Lalu hari ini…? Pria itu tiba-tiba bersikap acuh seakan tidak pernah mengenal Xennora… Apa-apaan ini? Xennora menatap punggung Julian kesal sebelum ia melangkahkan kakinya menuju dapur tempat para Ibu memasak. Ada Kamila juga di sana dengan kedua anaknya. Entahlah Xennora tidak yakin, sepertinya Sofia dan Eireen adalah adik kakak.
“A Bhiyan?! Sumpah? Masih ngemil?!” Pekik Xennora tertahan setelah melihat Bhiyan yang masih setia berada di meja makan. Xennora pun duduk di samping Bhiyan yang tidak peduli dengan pertanyaan gadis itu.
“Tau, bantu yang lain cari daun pisang kek, ini malah enak-enak makan.” Gumam Bu Ira seraya menggelengkan kepalanya.
“Kan yang nyari daun pisang udah banyakan, bu. Aa’ nanti malah jadi beban doang.” Celetuk Bhiyan mencari-cari alasan yang tidak masuk akal.
“Malu sama profesi.” Balas Xennora tanpa rasa bersalah membuat Bu Ira hampir saja meledakkan tawanya.
“Gak ngaca. Situ aja kerjaannya males-malesan, malu sama jurusan.” Serang Bhiyan membuat Xennora balik menatapnya sinis.
“Udahlah, Rakha doang yang paling bener di sini.” Potong Rakha yang langsung duduk di samping Xennora dan mengikuti aktivitas Bhiyan, ngemil.
“Idih bocah sok-sokan.” Ujar Bhiyan memberikan tatapan sinisnya.
“Udah udah, daripada ribut, mending kalian bawa ini ke depan. Kita makan-makan.” Ujar Bu Ira melerai
__ADS_1