
Xennora melamun di bangku kelasnya yang paling belakang dan ada di sudut, tak ada siapapun di kelas itu membuat Xennora merasa sangat tenang. Ia masih tak percaya dengan apa yang Deandra lakukan pada ketiga siswi itu. Dan yang paling membuatnya kesal, perkataan Deandra tadi mengeluarkan aura yang berbeda dari Deandra yang biasanya. Dan hal itu membuat Xennora kembali mengingat temannya dulu, Deannisa.
'*Jadi, maksud kakak... Kak Deandra itu gak sebaik sikapnya sama kita?'
'Bukan. Sikapnya ke semua orang juga gitu. Tapi gua ngerasa, ada hal lain dibalik sikapnya. Ada yang... Aneh*.'
Jadi, ini maksud Julian? Ada yang aneh dari sikap Deandra. Dan setelah Xennora pikirkan, Deandra seperti menyembunyikan sifat aslinya. Kejadian tadi membuat Xennora yakin bahwa itulah sifat Deandra yang asli. Dingin dan kejam.
Tiba-tiba, ada yang membuka pintu kelasnya dengan kasar membuat Xennora bersembunyi di bawah meja setelah melihat warna rambut orang yang membuka pintu tadi. Deandra.
Xennora melihat dari celah bangku yang berjajar rapi. Deandra melangkahkan kakinya menuju meja Xennora yang jauh dari tempatnya bersembunyi saat ini. Entah apa yang Deandra lalukan yang jelas ia berdiri sedikit lama di samping meja Xennora.
Sialnya, handphone Xennora berbunyi beberapa kali membuatnya mengumpat di dalam hati lalu menghidupkan mode silent. Namun sayangnya, Deandra telah teralihkan. Gadis itu memandang bangku paling pojok dengan raut penasaran kemudian berjalan mendekati bangku itu pelan-pelan.
Xennora semakin merapatkan dirinya ke tembok berusaha meminimalisir pergerakannya. Xennora sedikit mengumpat pada dirinya, mengapa ia harus repot-repot bersembunyi padahal ia tak membuat kesalahan?
Xennora membekap mulutnya karena napasnya semakin memburu. Jarak Deandra hanya terpisah satu barisan saja dengannya.
Brakk
"Hahahahahaha... "
...❄❄❄💙❄❄❄...
Seorang siswi sedang berjalan sendirian di belakang sekolah. Gelagatnya seperti sedang mencari sesuatu, namun berhenti kala seseorang menutup mulutnya dari belakang. Dia tak dapat bertanya siapa orang itu karena untuk berteriak meminta tolong pun sulit sekali.
"Lo siswi paling pintar di kelas Asasi 'kan?" Tanya seorang pria yang membekap mulutnya. Refleks, dia hanya mengangguk meng-iya-kan saja karena tak bisa berpikir jernih.
"Ambil ini terus datang ke ruang kesiswaan, bilang lo adalah saksi pembullyan. Terus pastikan... Siswi bernama Deandra Callena Pyralis... Gak bersalah." Setelah memberikan sebuah kertas beserta sebuah amplop, pria itu pergi entah kemana.
Gadis ber-name tag Ayuna Ilmi tersebut masih mematung, napasnya memburu. Ia melihat sebuah kertas dan amplop di kedua tangannya. Yuna pun melihat kertas yang dilipat menjadi dua itu.
Undangan eksklusif di Indonesian Nusantara University. Dan isi amplop tadi adalah uang. Beberapa lembar uang seratus ribuan. Ada catatan di dalamnya.
Cepat gerak atau undangan INU milik lo gak akan berlaku lagi...
Yuna melotot lalu dengan segera ia lari ke ruang kesiswaan. Undangan tadi ia lipat lagi lalu dimasukkan ke dalam almamater nya. Dan uang senilai lima ratus ribu ia simpan di saku rok nya.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Brakk
"Hahahahahahaha..."
Terdengar suara tawa diluar sesaat sebelum pintu terbuka. Di sana ada Antha dan ketiga temannya yang seketika menghentikan tawa mereka saat melihat Deandra. "Loh kak? Ada apa?" Tanya Antha membuat Xennora benar-benar merasa lega. Ingatkan Xennora untuk mentraktir Antha kapan-kapan.
"Eh?" Deandra yang terkejut seketika mendekati keempat adik kelasnya itu yang berdiri di meja Xennora tadi. Meja ke dua, barisan ke tiga. "Tadi... Gue nyari ketua kelas Pidana 2. Tapi ternyata gak ada."
Antha sedikit tidak percaya dengan alasan Deandra. Jika memang Deandra melihat tak ada siapa-siapa di kelas ini, ia pasti akan langsung pergi kan? Sedangkan Deandra malah terlihat sedang berdiri di ujung kelas.
Xennora pun memanfaatkan situasi ini untuk keluar dari persembunyiannya. Ia berjongkok lalu berjalan sedikit merangkak ke depan kelas. Untungnya, Deandra berdiri membelakangi nya dan juga menghadap ke pintu keluar. Setelah menyusun strategi, Xennora mencoba menarik perhatian Antha yang tengah berhadapan dengan Deandra. Dan syukur nya, Antha menyadari kehadiran Xennora yang berjongkok.
__ADS_1
Xennora segera meletakkan telunjuk nya di depan bibir, tanda supaya Antha diam. Antha diam, di dalam hatinya meng-iya-kan perintah Xennora lalu Antha kembali melirik Deandra sebentar dan kemudian menatap Xennora kembali sambil menanggapi jawaban Deandra.
"Oh tadi kita ke kantin bareng-bareng hehe, dapet traktiran hahaha..." Tawa Antha sumbang karena sibuk memperhatikan kode dari Xennora.
'Jalan ke belakang...' Ucap Xennora tanpa suara dengan tangannya menunjuk ke belakang, namun Antha tak mengerti.
'Lo!' Masih tanpa suara, Xennora menunjuk Antha. 'Jalan,' jari telunjuk dan tengahnya mengikuti cara berjalan. 'Ke belakang.' Xennora menunjuk belakang kelas lagi. 'Gue, mau keluar...' Lanjut Xennora masih dengan gerakkan tangannya.
Antha mengerti lalu kembali menatap Deandra. "Haha enak tuh dapet traktiran." Balas Deandra sambil terus memperhatikan keberadaan Antha yang tengah berjalan mundur ke kursi paling belakang. Antha tersenyum, merasa puas saat Deandra menatapnya karena otomatis Deandra membelakangi bagian depan kelas dan pintu keluar. Saat itu juga, Antha melihat Xennora melewati Deandra dengan hati-hati dan masih berjongkok.
Antha meringis kecil, takut Deandra menyadari kehadiran Xennora di belakangnya. Untuk itu, ia berusaha natural. "Emang ada apa sama ketua kelas?"
"Enggak, tadinya mau tolong panggilin Xennora eh ternyata gak ada siapa-siapa disini."
"Oh? Itu Xennora." Ucap Antha saat Xennora berpura-pura baru memasuki kelas. Xennora memasang wajah biasa saja lalu melirik Deandra seakan pertanyaan ada apa.
"Gue cuma mau ngasih tahu aja. Pak Harto nyuruh lo ke ruang kesiswaan pulang sekolah nanti. Kalau gitu, gue permisi." Pamit Deandra lalu melenggang pergi.
Xennora yang masih memperhatikan kepergian Deandra pun mendekati mejanya dengan ekspresi yang berubah sangat drastis dari yang cool menjadi panik lalu berlagak seperti mencari sesuatu membuat Antha menatapnya aneh.
"Kan lo ada di kelas, kenapa kak Deandra kayak yang kebingungan nyari lo?" Tanya Antha. Xennora masih mengecek kursi dan mejanya, siapa tahu Deandra menaruh sesuatu untuk meneror nya juga. Hal ini karena Xennora mulai mempercayai ucapan Julian tentang Deandra waktu itu. "Sen? Ngapain sih? Kursi lo masih utuh ya. Gak--"
"Coba lo duduk di situ." Potong Xennora sambil menunjuk kursinya.
"Hah?"
"Duduk Tha, siapa tahu Deandra apa-apain kursi ini."
"Gila lo? Terus nanti gue yang kena gitu?" Antha tidak terima namun masih saja menuruti perintah Xennora. "Gak ada apa-apa tuh. Gak ada yang aneh." Ucapnya setelah duduk di kursi Xennora.
***Kau tahu dengan sangat baik siapa yang membuat Zenara mati.
Tentu saja kau sendiri.
Zenara, atau bahkan Leo dan Edwin. Mereka akan membencimu.
Tunggu saja apa yang akan aku lakukan untuk melihat apa yang akan kau lakukan.
Ibumu akan sangat kecewa padamu... Xennora***.
Napas Xennora tertahan. Dan dengan ini pun Xennora dapat menyimpulkan apa yang terus mengganggu pikirannya. Jika benar Deandra yang menulis semua ini,
Apa ada kemungkinan jika Deandra adalah....
Deannisa?
...❄❄❄💙❄❄❄...
"Jadi Xennora, ini jadwal kamu. Tolong dipelajari baik-baik ya, manage waktu dengan baik juga. "Ucap Pak Harto sambil memberikan selembar kertas HVS berisi jadwal-jadwal test yang harus Xennora lewati.
"Ah... Iya Pak, terima kasih. Tapi ngomong-ngomong, Nazril lulus test awal ya Pak? "
__ADS_1
"Iya, Nazril Arkatama dari IPA 1 bukan? "
"Iya Pak, padahal kan dia dari Science School. Mengisi test dari SAN pasti agak rumit untuk dia. Kebanyakan soal nya kan tentang peraturan, walaupun untuk kelas IPA. "
"Hmmm... Iya sih, bapak juga sedikit Impressed sama sepupu kamu itu. "
"Haha sudah saya duga sih Pak. "
Pak Harto tersenyum lalu menatap ke meja lain yang ada di samping mereka. Berisi empat orang siswi dan seorang guru. Xennora yang mengenal ketiga orang itu lantas bertanya pada Pak Harto. "Ada kasus apa Pak? "
"Oh? Itu... Mereka udah ngebully. Kalau gak salah sih... Deandra ya, anak kelas 12. "Mendengar jawaban Pak Harto, Xennora benar-benar terkejut. Ia sedikit menyesal saat menuduh Deandra yang tidak-tidak. Tapi memang benar kan? Yang paling terlihat terluka memang mereka sampai berdarah darah sedangkan Deandra hanya memar di pipi dan rambut yang acak-acakan.
"Udah ngeliat kamera pengawas Pak? "
"Sudah. Dan mereka memang kerja sama untuk merundung Deandra. "Jawab Pak Harto.
Kini, Xennora bimbang.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Keesokan harinya, seperti biasa. Pulang sekolah Xennora maupun para anggota yang lain pergi ke lab Perdata. Semua orang sudah berkumpul disini termasuk Nazril yang telah bebas dengan test nya. Dan kini, Julian tengah mengemukakan opininya tentang Deandra pada mereka.
"Terus kemarin. Dia baru berani nunjukin sifat aslinya." Julian mengakhiri ceritanya.
"Serius dia bilang gitu ke Xennora?" Tanya Ervin yang dibalas anggukan dari Xennora dan Julian.
"Wah parah sih. Orang kayak gitu yang harus kita jauhin." Leo bersuara.
"Tapi ini kan baru dugaan. Siapa tahu kak Deandra bukan pelakunya." Ujar Eireen membuat semua orang di ruangan itu menatapnya.
"Maksud lo?" Tanya Vinca.
"Ya... Kak Deandra juga senior aku di teater. Selama aku jadi anggota dia gak pernah tuh berperilaku aneh. "
"Dia pernah nanya tentang Sofia gak? "Tanya Herina.
Eireen terkesiap, "pernah kak..." Volume suaranya mengecil.
Julian menjentikkan jarinya puas, "nah... Ini kan aneh. Selama sekolah di SAN, Sofia bahkan gak pernah berurusan sama Deandra. Kok tiba-tiba cewek itu nanyain Sofia?" Tanya Julian yang diangguki Sofia.
Kini mereka terdiam. Xennora tidak menceritakan tentang teror pesan di kertas itu karena jika diceritakan, sama saja dengan ia membuka rahasia nya.
"Menurut lo gimana Sen?" Tanya Edwin.
"Gue percaya aja kalau Deandra pelakunya.* Jawab Xennora yakin.
"Masa iya sih?" Vina masih tak yakin. "Kak Deandra bahkan gak langsung ngelawan waktu dibully kemarin."
"Bukan gak langsung ngelawan. Dia cuma tau aja kalau di sana ada CCTV. Dan CCTV nya bakalan ngarah ke arah sebaliknya tepat jam 3 sore. Dan bakalan ngarah ke mereka lagi jam 3 lebih 15 menit. Karena selama 15 menit itu Cathleen sama temen-temen nya dan juga Xennora udah gak ada di lokasi, yang kelihatan sama CCTV ya cuma Cathleen yang ngebully Deandra." Jelas Julian setelah memikirkan ini semalaman.
"Jadi dia sengaja gak langsung ngelawan karena emang itu rencananya?" Herina mempersingkat.
__ADS_1
"Maybe yes, maybe no. Karena ini masih opini."
Hari demi hari, semua ini bertambah rumit.