
"Jadi bagaimana nak? Bisakah kamu bertahan?" Ucap seorang wanita paruh baya berseragam coklat khas pegawai negeri sipil.
Beberapa guru kelas sebelas dan guru kesiswaan sedang merundingkan kejadian mengerikan yang dialami oleh siswi nya di aula. Sedangkan Yohanna, sang korban sedang duduk melamun ditengah para guru yang sedang berdiskusi itu. Tatapannya benar benar kosong, entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Nak? Yohanna!" Panggil seorang guru di sampingnya. Perlahan, Yohanna menoleh ke arah sang guru wali kelasnya itu.
Yohanna menggeleng pelan, bibirnya pucat dan tangannya masih sedikit bergetar. Beberapa guru menatapnya kasihan,
"Orang tua kamu--"
Brakk
Ucapan bu Raya terpotong oleh suara pintu yang terbuka dengan sangat keras.
"Yohanna, kamu gak apa-apa?" Tanya ibunda Yohanna, Riska. Seraya berlari menuju dimana sang anak terduduk lalu tangannya menggapai pundak Yohanna khawatir.
Namun tatapan Yohanna masih kosong, tak terucap satu kata pun di bibirnya yang membuat ibunya semakin khawatir.
"Sebenarnya ada apa ini, bu?" Tanya Riska kepada bu Raya setelah menyerah dengan anaknya yang tak membuka suara.
"Begini. Yohanna terus mendapatkan hal-hal yang aneh. Menurut teman-temannya, ia mendapat hal aneh tersebut sejak satu minggu yang lalu. Apakah.... Yohanna tak memberitahu anda sama sekali?" Tanya bu Raya.
"Tidak. Yohanna tak pernah memberitahu saya sedikitpun mengenai hal ini." Ucap Riska.
Hening selama beberapa saat. Mereka memikirkan jalan keluar dari masalah ini. Sebenarnya kejadian yang dialami Yohanna sama sekali tak dapat dijelaskan oleh akal. Orang gabut mana yang iseng membuat terror untuk seorang siswi yang bahkan bisa disebut biasa-biasa saja?
"Kalau begitu... Lebih baik Yohanna pindah saja dari sini." Final Riska setelah menghela napas. Agak berat memang memutuskannya, namun tak ada jalan keluar lain. Riska khawatir jika anaknya malah mendapat trauma setelah bersekolah disini. Pindah sekolah, merupakan jalan satu-satunya yang dapat ia pilih sekarang.
Para guru pasrah. Yohanna adalah siswa ke-21 yang pindah dari sekolah ini, dalam kurun waktu sepuluh bulan terakhir. Harapan mereka tentu sama, tak ada siswa yang mengalami kejadian seperti ini lagi sehingga membuat reputasi sekolah hancur.
"Baiklah, Yohanna Stefanny, murid baru di kelas 11 Pidana 3 dengan nomor absen.... 27 akan pindah dari sekolah ini." Ucap staf tata usaha sambil membolak balikan beberapa lembar kertas HVS.
"Kami mohon maaf atas kejadian yang baru saja dialami Yohanna. Maaf karena tidak mencoba mencari tahu siapa pelakunya. Sekali Lagi maafkan kami." Ucap wakil kepala sekolah bagian kesiswaan. Riska hanya menundukan kepala nya seakan memberi hormat lalu mengajak Yohanna pergi.
Setelah kepergian Yohanna dan ibunya, beberapa guru menghela napas dan menyenderkan punggung mereka di kursi. Lelah, sudah pasti. Bagaimana pun, Yohanna merupakan siswa ke-21 yang pindah dari sekolah karena alasan yang sama. Terror. Menyadari fakta bahwa sepertinya akan ada siswa yang terpaksa pindah sekolah lagi membuat mereka semakin pasrah.
"Bagaimana ini pak?" Tanya bu Raya kepada wakil kepala sekolah. Sedangkan yang ditanya hanya diam, berpikir bagaimana cara menyembunyikan kejadian-kejadian ini, demi reputasi sekolah tentunya.
__ADS_1
"Tolong sebutkan siswa siswa yang pindah di tahun ajaran ini." Setelah cukup berpikir, akhirnya pak Hasan, wakil kepala sekolah membuka suaranya.
Staf tata usaha yang membawa beberapa lembar kertas HVS tadi mengangguk, lalu mulai membacakan isi dari salah satu kertasnya.
"Tanggal 17 Juli, Parsa Anugraha kelas 7E. Tanggal 29 Juli, Raaina Amalia Putri kelas 7G. Tanggal 1 Agustus, Shava Kania kelas 7H. Tanggal 10 Agustus, Kevin Zaidan kelas 7J. Tanggal 23 Agustus, Zenia Annisa murid baru kelas 8B. Tanggal 30 Agustus, Zahra Aulia Putri murid baru kelas 8D. Tanggal 5 September, Raditya Althea murid baru kelas 8I. Ta--"
"Panggil ketua OSIS." Pak Hasan memotong ucapan staf tata usaha tadi. Bu Raya, selaku guru yang posisinya paling dekat dengan mikrofon sekolah pun meraihnya lalu mengumumkan ketua OSIS agar segera pergi ke aula.
Tak perlu waktu lama, ketua OSIS itu pun datang dengan napas tersengal. Jelas, dia pasti berlari menuju aula. Spontan, Pak Hasan berdiri lalu menghampiri sang ketua OSIS yang masih mencoba mengatur napasnya.
"Leo, bapak ingin memberimu tugas. Anggap saja ini seperti pekerjaan part time. Bisakah... Kamu meneliti tentang teror-teror yang belakangan ini dibicarakan semua siswa?"
"Oh? Teror ya pak... Bis-" Ucapan Leo dipotong oleh Pak Hasan.
"Tapi sepertinya kamu membutuhkan asisten yang... Ya... setidaknya memiliki pemikiran kritis, pintar, dan cukup berpengaruh di lingkungan." Ucap Pak Hasan.
"Ohhh... Kalau asisten yang seperti kriteria bapak itu saya punya pak, kebetulan. Bapak tenang saja, insyaallah saya akan menemukan alasan dibalik semua teror itu." Ucap Leo tersenyum bangga. Namun Pak Hasan menatapnya tak yakin.
"Memangnya siapa yang akan menjadi asistenmu itu?" Tanya pak Hasan. Leo tersenyum penuh arti, membuat pak Hasan menatapnya harap harap cemas.
...❄❄❄💙❄❄❄...
"Emangnya gue mau ikut kayak ginian? Enggak kali. Benci banget gue main detektif-detektifan kayak gini." Balas Julian.
"Dih? Pantesan nilai Pidana Peminatan lo rendah... Gak pernah berpikir kritis sih." Ucap Xennora.
"Tau dari mana lo? Perasaan Gue gak pernah tuh ngasih tau nilai gue sama lo." Balas Julian membuat Xennora terdiam. Sialan. Jangan sampai pria di sampingnya tahu jika Xennora pernah nge-stalk dia. Termasuk seluruh nilai milik Julian juga. Dan, ya... Memang rata-rata nilai Hukum Pidana Julian lebih rendah dari pelajaran lain. Walaupun begitu, nilai nya masih diatas rata-rata.
"Ya... Kan nilai ulangan semester suka ditempel di mading. Gue sih, kebetulan liat aja. Gak ada niatan lain." Alibi Xennora yang memang masuk akal. Namun Julian malah diam, tidak merespon perkataannya membuat Xennora aneh sendiri. Biasanya Julian yang paling ngajak ribut, eh ini mendadak jadi pendiam.
"Sakit lo? Dari tadi diem mulu. Tumben." Celetuk Xennora membuat Julian menoleh sebentar kearahnya lalu menatap lurus ke depan lagi.
"Lo juga cerewet, banyak ngomong. Tumben." Balas Julian. Namun Xennora malah senyum senyum sendiri, gaya berjalannya pun sedikit berbeda membuat Julian menatapnya aneh.
"Hehe... Tadi abis ketemu kak Fadhil. Eh gak boleh ngomongin cowok didepan cowok ya..." Gumam Xennora namun Julian masih dapat mendengarnya.
"Emang gue atau Fadhil Fadhil itu cowok lo? Bukan kan? Ribet amat hidup lo, heran." Celetuk Julian membuat senyum Xennora perlahan luntur.
__ADS_1
"Dih. Sewot amat sih lo, yang penting gue bahagia lah..." Balas Xennora membuat Julian mengangguk kecil beberapa kali.
"Iya iya.... Lo bahagia , gue juga bahagia ya.." Ucap Julian sambil tersenyum membuat Xennora salah tingkah sendiri, lalu segera mengalihkan pandangannya dari pria disampingnya itu.
Tolong banget senyumnya kondisi kan...
Tiba-tiba suara langkah orang yang berlari terdengar. Sontak, Xennora dan Julian pun mengalihkan atensi nya ke ujung pertigaan koridor didepan mereka, dimana seorang siswa ---yang bisa disebut teman sekelas Julian--- berlari menghampiri mereka. Lebih tepatnya, hanya menghampiri Julian.
"Ju... Li... An, haaah... Itu... So.. Sofia!" Ucap Ervin sambil terengah, sehingga ucapannya tidak terdengar jelas.
"Apaan sih gak jelas." Komentar Julian, tangannya mulai pegal karena mengangkat beban yang nyaris mencapai sepuluh kilogram. Sedangkan Xennora hanya menautkan alisnya tidak mengerti.
"Bentar...." Ucap Ervin dengan satu tangan yang bertengger di bahu Julian, sedangkan tangan yang satu lagi berada di pinggangnya.
"Sofia... Jatuh, kena bola basket gitu. Terus, kepalanya sedikit kebentur tembok. Sekarang dia di UK--" ucapan Ervin terpotong karena Julian tiba-tiba menaruh jurnal sekolah dan puluhan lembar kertas HVS yang dibawanya tadi tepat di meja yang kebetulan ada di depan kelas 12 Asasi 1 dan kebetulan kelas yang tengah mereka lewati.
"... S..." Ervin menghela napasnya sabar sebelum kembali membuka suaranya.
Julian berlari dengan sangat cepat sampai-sampai membuat Xennora Speechless. Dapat ia lihat, Julian menuruni tangga dengan tempo yang sangat cepat yang membuat Xennora meringis khawatir.
"Ok... Gak papa, it's ok lah bukan teman gue juga. Sabar Ervin, orang sabar ganteng nya alami." Ucap Ervin sambil mengelus dadanya.
"Kalau cewek apa kak?" Tanya Xennora.
"Cewek...? Ya... Cantiklah! "Jawab Ervin disertai teriakan pada kata terakhirnya.
"Sabar kak. Kan orang sabar ganteng nya alami..."
"Eh iya ya..." Ucap Ervin lalu menghela napas beberapa kali.
"Kak, boleh bawa kertas-kertas itu ke lab Pidana di depan sana gak kak? Sekalian nambah pahala karena bantuin gue." Ucap Xennora membuat Ervin menatap gadis itu dan kertas yang dibawa Julian tadi secara bergantian.
Ervin memang niatnya menolak karena biar bagaimanapun, tenaga miliknya dan milik Julian tentu lebih besar tenaga milik Julian. Ervin yakin, setelah mengangkat ratusan lembar kertas tersebut, tangannya akan patah dan mati rasa.
Namun setelah melihat ekspresi mengintimidasi Xennora, Ervin jadi agak sungkan untuk menolak. Sehingga, mau tak mau ia harus membantu adik Leo dan Edwin tersebut.
"Hhh... Yaudah deh. Untungnya deket..." Ucapnya sambil membawa kertas kertas tadi. Sedikit kesulitan karena bebannya lumayan berat, Ervin pun mencoba mengerahkan seluruh tenaganya.
__ADS_1
Sadar atau tidak, beberapa peristiwa akan menimbulkan kecurigaan, bukan?