
Julian terdiam, menatap Xennora tidak percaya. Tidak, dia tidak akan percaya semudah ini.
"Hahahaha canda kak, canda..." Lanjut Xennora. Ia juga tak tahu kenapa ia ingin bercanda sekarang. Tapi, mengingat Julian yang katanya pernah menyukainya, masih membuat Xennora tidak percaya.
Tuhkan.
Julian tersenyum, "kalau itu sih gue udah yakin seratus persen."
Kini Xennora yang terdiam. Detak jantungnya kembali bergemuruh membuat Xennora memalingkan wajahnya dan memukul dada nya pelan, berharap detak jantungnya kembali normal.
"Ekhm. Jadi, maksud lo... Kak Deandra itu gak sebaik sikapnya sama kita kak?" Tanya Xennora mengalihkan pembicaraan.
"Bukan. Sikapnya ke semua orang juga gitu. Tapi gue ngerasa, ada hal lain dibalik sikapnya, ada yang..... Aneh."
"Gak ngerti."
Julian menghela napas lalu mencoba menjelaskan kembali. "Contohnya nih ya, waktu kita ketemu dia di Rooftop. Dia bilang, gerbangnya gak dikunci. Padahal jelas-jelas gue sama Edwin yang udah ngunci gerbangnya. Dan kalaupun gak dikunci, si Devan-Devan itu gak akan masuk ke sekolah lewat tembok belakang kan?"
Xennora masih belum yakin dengan opini Julian. Bisa saja kan jika Devan itu langsung pergi ke tembok belakang tanpa mencari tahu jika gerbang utama dikunci atau tidak?
"Dan... Kenapa Deandra megang hoodie hitam ditangannya, yang juga dipakai sama si Devan itu?" Lanjut Julian, namun Xennora masih terdiam. Kini ia berada diambang percaya tak percaya.
"Terus yang kedua. Ini menurut gue sih. Deandra itu, udah tahu siapa Sofia. Inget gak? Waktu lagi ngobrol di kelas lo. Dia langsung tahu nama panjangnya Sofia."
Xennora menatap Green Tea nya, mencoba mengingat apa yang Deandra katakan.
"Sofia sama Eireen, barusan pas lewat."
"Sofia.... Raneysha?"
"Iya... Lo kenal?"
"Hm? Ya... Dia jadi lumayan terkenal di kalangan anak Theater, karena dia ternyata sepupunya Eireen."
"Ohhh iya..." Gumam Xennora setelah mengingat apa yang Deandra ucapkan saat itu. Tapi wajar 'kan orang-orang mengetahui nama Sofia? Dia 'kan ketua ekskul dance yang memiliki performa paling bagus tahun ini.
"Lo gak lupa 'kan kalau Sofia termasuk target si pelaku?" Tanya Julian membuat Xennora mengangguk kecil.
"Iya, gue inget. Tapi wajar kan siswa siswi di SAN kenal sama Sofia?"
"Apa dengan nama tengah wajar?"
Xennora memejamkan matanya lelah, ia mengangguk beberapa kali, menyetujui opini Julian kali ini, lalu kembali menatap Julian di sampingnya.
"Denger, oke gue percaya. Tapi buat mastiin, kayaknya gue jangan terlalu keliatan ngejauh dari dia. You know what I mean? Supaya ada bukti juga. Siapa tahu dia nyeritain sesuatu sama gue." Ucap Xennora membuat Julian menggeleng tegas.
"Gak. Gak boleh. Please Sen, stay away from her. Gue yakin dia lebih berbahaya dari apa yang kita diskusikan sekarang..."
"Kak, I'm sure. I'm sure I will take care of myself. Gua bakalan hati-hati..." Xennora meyakinkan Julian. Entah semenjak apa hubungan mereka sedikit lebih baik. Ya, setidaknya tak ada kalimat penyerangan dan teriakkan diantara mereka sekarang.
Julian menghela napas berat, "oke, dalam pengawasan gue tapi." Final Julian membuat Xennora tersenyum lalu mengangguk setuju.
"Lo... Tau sesuatu tentang kejadian 2007?" Tanya Xennora tiba-tiba setelah terjadi keheningan selama beberapa menit. Bukan apa-apa, Xennora hanya penasaran sejak kapan Julian mengetahui kejadian itu.
"Ah... Iya! Itu juga yang mau gue tanyain! Kok yang lain kayak... Gak tau tentang kejadian itu?"
"Ya lo sendiri tau dari mana?"
"Dari buku." Jawab Julian polos membuat Xennora tersedak saat minum.
"Buku?"
"Iya. Buku... Apa ya gue lupa judulnya. Pokoknya isinya tuh sembilan puluh persen konspirasi, sisanya fakta."
"Ada ya buku kayak gitu... Bahaya banget..." Gumam Xennora.
"Lo juga tau kan? Tau lebih banyak daripada gue? Ceritain dong!"
__ADS_1
"Apa yang harus di ceritain? Orang gue gak tau apa-apa." Jawab Xennora malas, dengan sedikit was-was.
"Ck, gak seru lo. Gapapa, gue bisa liat di internet." Tantang Julian sambil mengeluarkan handphone nya. Xennora menatap Julian remeh.
'Coba aja, cari.'
Julian mengetikkan sesuatu. Kematian massal di Jawa Barat.
"Kok malah kematian massal hewan yang keluar dari tadi?"
Julian menyerah, artikel-artikel yang keluar hanyalah artikel tentang kematian masal ikan-ikan di pesisir pantai Jawa Barat.
"Apa dengan bukti itu, lo ngerti kenapa gak semua orang tau tentang kejadian 2007? Apalagi anak muda sekarang kayak kita gini." Ujar Xennora. Julian meletakkan handphone nya lalu menatap Xennora serius.
"Lo bener. Selain anak-anak muda yang gak mau inisiatif nyari tau, orang-orang tua pun gak ada niatan buat ngebahas kejadian itu lagi? Ini... Aneh. Yang gue inget delapan tahun yang lalu itu... Cuma berita tenggelamnya kapal KM Levina I."
"Kapal KM Levina I jurusan Tanjung Priok - Pangkal Balam yang terbakar di Selat Sunda lalu tenggelam tanggal 22 Februari 2007. Lima hari sebelum kejadian itu. Bener?"
Julian mengangguk, sedikit terkesan dengan penjelasan lengkap yang Xennora berikan.
Xennora terkekeh seraya mengalihkan wajahnya menatap ke arah taman. "Kayaknya isu tenggelamnya kapal itu dijadiin isu peralihan. Selama gw nanya sama anak-anak lain tentang kejadian awal tahun 2007, jawaban mereka selalu sama. Kalau enggak isu pengecatan obat ilegal, ya isu tenggelamnya kapal Levina itu."
Julian terdiam. "Lo pasti kesepian selma ini. Gak ada temen cerita." Ujar Julian membuat Xennora menatap pria itu tidak terima.
"Kata siapa? Ada kok!"
Julian tersenyum mendengar jawaban spontan Xennora. "Berarti bener kan lo tau banyak tentang kematian masal itu? Hayoo..."
Xennora menghela napas setelah menyadari kebodohannya. Julian pintar juga. "Ck, yaudah iya iya, gue tau, tapi gak terlalu banyak."
"Good girl. Udah sih itu aja yang mau gue tanyain."
"Idih? Gitu aja? Pake maksa-maksa segala."
"Iya. Lo aja yang terlalu paranoid takut gue nanya macem-macem. Tenang aja Sen, gue tau kok apa itu privasi." Jelas Julian membuat Xennora menatapnya seakan mengatakan 'sok iya.'
"Foto siapa? Lo sama dua saudara lo?" Tanya Xennora seraya menerima foto yang Julian sodorkan.
Julian menggeleng pelan, "gue dapet foto itu dari sahabat ayah."
Xennora menatap Julian, tanda jika Xennora ingin tahu siapa sahabat ayahnya Julian tersebut.
"Iya, suaminya Bunda Carissa." Jawab Julian menatap Xennora teduh. Xennora mengangguk pelan lalu kembali memperhatikan foto yang kini ada di tangannya.
"Waktu itu, gue pernah main ke stasiun televisi punya om Irfan. Dia cerita-cerita, soal berita yang sangat menggemparkan dunia pertelevisian khususnya seluruh masyarakat Indonesia. Bahkan beritanya sampai ke luar negeri. Om Irfan gak nyeritain tentang berita apa itu. Tapi yang pasti, gue yakin berita yang dimaksud itu berita kematian masal."
"Dan foto ini... Ini juga pemberian dari om Irfan. Katanya, ayah mereka membuat dan mengedarkan obat obatan ilegal yang membahayakan, terus akhirnya dia dipenjara seumur hidup." Tatapan Julian yang awalnya menerawang, teralih untuk melihat Xennora yang juga tengah menatapnya penasaran.
"Gak lama ketiga anak-anak ini hilang, gak ditemukan sampai sekarang. Ada yang bilang mereka bunuh diri, bahkan diculik." Lanjut Julian masih menatap netra hitam berkilau milik Xennora.
"Terus, apa hubungannya sama kematian masal?" Tanya Xennora tak mengerti.
"Lo gak kepikiran gitu kalau manusia terlanjur marah sama sesuatu atau seseorang dan gak akan pernah maafin hal itu, dia bakalan melalukan sesuatu yang dinamakan balas dendam?"
"Ohhh.. Bener, bener..."
"Dan lo sadar akan sesuatu lagi?"
Xennora yang awalnya tersenyum mengerti kini mengubah raut wajahnya menjadi malas, have no clue. "Apaan sih? Fotonya fine fine aja perasaan."
"Ck. Lo gak sadar? Lihat tatapan anak perempuan yang paling tinggi itu. Kayak gini pengen jadi petugas hukum?" Julian menggumamkan kalimat terakhirnya.
"Iya...? Terus?" Pertanyaan Xennora membuat Julian menutup matanya sabar. Dasar gak peka, batinnya tersenyum sabar.
"Jadi gini loh sayang... Menurut aku, tatapan cewek ini mirip sama Deandra. Dan kemungkinan besar, Deandra kembali buat balas dendam, karena gak terima ayahnya dipenjara." Jawab Julian gereget sambil menatap Xennora tajam. Xennora pun hanya dapat tertawa canggung apalagi saat mendengar kalimat pertama yang Julian ucapkan.
"Aahh... Iya, gue ngerti. Jadi, ada kemungkinan kalau Deandra Callena itu anaknya seorang ilmuwan yang sekarang dipenjara gara-gara memproduksi obat-obatan ilegal?" Tanya Xennora menatap Julian. Julian menaikkan alisnya, sebagai kode bahwa clue yang disebutkan Xennora itu adalah inti dari permasalahan ini. Namun karena lagi-lagi Xennora tidak peka, ia memandang Julian aneh.
__ADS_1
"Ck... Lo gak inget clue pertama tadi waktu gue bilang kalau ada kemungkinan anaknya balas dendam?"
Xennora mengangguk.
"Dan sekarang lo tau kan siapa anaknya?" Julian mencoba untuk bersabar.
Xennora mengangguk lagi.
"Jadi kesimpulannya?"
Xennora terdiam, melihat sekeliling dengan tatapan canggung, enggan menatap Julian karena nyatanya ia tidak mengerti sama sekali. Beberapa detik kemudian, Xennora menoleh ke arah Julian, ia tersenyum, merasa bersalah karena otaknya sedang terganggu. "Enggak, gue gak ngerti apa-apa sebenernya kak."
Julian menghela napas lela. "Gak bisa, ini gak bisa... Dia terlalu gemesin gue gak bisa marah..." batin Julian
Melihat Julian yang sepertinya terlihat lelah, Xennora dengan cepat membuka suara sebelum pria itu mengucapkan sesuatu. "Iya iya iya gue ngerti, jadi maksud lo Deandra kembali ke SAN buat balas dendam dengan cara bikin teror teror itu?"
"Lebih dari itu. Menurut gue sih ya, Deandra ini...." Ucapan Julian menggantung seraya menatap Xennora yang juga kini tengah menatapnya penasaran.
"Pelaku kematian masal 2007." Lanjut Julian membuat Xennora terdiam.
"HAHAHAHAHAHA...." Tawa Xennora pecah saat itu juga membuat Julian menatapnya datar.
"Hahaha lo mikir deh kak, umur Deandra Callena masih berapa delapan tahun yang lalu? Sepuluh tahun? Masa iya anak sepuluh tahun bisa bikin 27 orang meninggal, apalagi mayoritas nya orang dewasa. Gak mungkin kak..." Komentar Xennora di sela tawanya.
"Yaudah terserah, itu kan cuma opini gue." Balas Julian acuh.
"Jangan tersinggung kak, gue cuma gak percaya aja haha..." Ucap Xennora dengan sisa tawanya.
"Kayaknya mau hujan. Pulang yuk. Fotonya lo ambil aja." Ajak Julian yang langsung diangguki Xennora.
Xennora pun berjalan menjauhi taman diikuti Julian. Tak lama Xennora berhenti membuat Julian mau tak mau harus berhenti.
"Kenapa? Ada yang ketinggalan?" Tanya Julian.
Xennora menggeleng, "kenapa lo ngikutin gue?"
Julian terdiam sebentar sebelum menyadari maksud dari pertanyaan Xennora. "Oh? Gak mau di anterin ya?" Tanya Julian.
"Gak usah, kak. Nanti kakak bolak balik, pulang aja." Jawab Xennora.
Julian mengangguk lalu tersenyum, "Yaudah, gue duluan ya. Lo hati-hati." Ucap Julian lalu berjalan pergi setelah melihat Xennora tersenyum tipis lalu mengangguk. Tak lama, Xennora pun pergi dari taman menuju rumahnya dengan arah yang bertolak belakang dengan Julian.
Saat Xennora tengah membuka gerbang rumahnya, netra gadis itu terfokus pada sebuah kertas tepat di samping kaki nya. Ia pun mengambil kertas yang ternyata foto itu. Gambarnya tidak terlalu jelas karena kotor. Tiba-tiba seseorang keluar dari rumahnya membuat Xennora refleks menyimpan foto tadi di saku almamater nya.
"Kok baru pulang Sen? Makan dulu di rumah Nazril?" Tanya Edwin sambil membukakan gerbang.
Xennora tersenyum canggung, "ya, gitu deh. Mama sama papa udah pulang?"
"Udah, hati-hati kalau ngelewatin kamar mereka, jangan sampai bersuara. Papa lagi sensitif."
Xennora mengangguk lalu memasuki rumah, sedangkan Edwin pergi ke supermarket. Xennora terlihat berjalan santai, namun sebenarnya ia merasa was was, apalagi saat melewati kamar orang tuanya.
"Dari mana saja kamu?" Terdengar suara berat di belakang Xennora membuat gadis itu membeku, lalu tak lama membalikkan tubuhnya untuk melihat sang ayah, setidaknya itulah sebutan yang tengah disandang oleh pria berusia 40 tahun tersebut dari anak-anaknya.
Baru saja Xennora berbalik, pipi kirinya sudah ditampar oleh ayahnya. Xennora terkejut, rambutnya menutupi wajahnya. Namun dia terlalu bosan untuk menangis dalam keadaan seperti ini.
Rafael mengangkat sebuah formulir di tangan kanannya berisi nilai dan potensi Xennora untuk jadi apa kedepannya.
"Kamu bisa aja jadi seorang hakim, tapi kenapa?! Kenapa kamu mau jadi jaksa?!"
Xennora mendengus-tertawa lalu tersenyum miring, "daripada jadi penyanyi 'kan?"
Rafael mengepalkan tangannya lalu bersiap untuk menampar gadis di depannya lagi sebelum Xennora memotong ucapannya, "Dasar gak tahu diri--"
"Kenapa? Ayah marah kalau aku jadi jaksa hanya karena ayah merindukan Zenara? Atau ayah lebih marah lagi kalau aku jadi penyanyi hanya karena Bunda? Ayah sadar gak? Kalau aku pergi ayah akan lebih kacau dari sekarang. Keluarga kandung ayah cuma Xennora. Bunda dan bahkan Zenara, udah gak ada di sisi ayah lagi. Keluarga kita gak lengkap Yah, pertama bunda dan kedua Zenara. Atau... Haha... Kayaknya Ayah lebih mengharapkan aku jadi yang ketiga?" Tatapan Xennora berubah menjadi sendu.
Rafael menurunkan tangannya perlahan, tatapannya tidak semarah tadi namun ekspresi nya masih datar, "ayah tidak butuh pertanyaan-pertanyaan konyol kamu, atau bahkan semua ucapan kamu. Jangan jadi jaksa, Xennora." Final Rafael sambil menekankan kalimat terakhirnya lalu pergi meninggalkan Xennora yang tengah menghela napas lelah, lalu berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1