
Herina, dengan kecerdasannya itu, kini telah berhasil menyandang gelar sebagai dokter bedah yang baru saja dipindah tugaskan ke Bandung beberapa minggu yang lalu. Ia sering bertemu dengan Nazril yang sedang melaksanakan tugas praktek di Rumah Sakit ini, letaknya memang dekat dengan Universitas Nusantara. Ia bahkan sering bertemu dengan Julian ataupun Sofia dan Eireen yang baru pulang dari kampus.
Empat tahun… Banyak yang terjadi selama empat tahun belakangan ini. Hilangnya Xennora, Leo yang terpaksa pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi nya, Edwin yang masuk Akademi Kepolisian, Ayahnya Ervin yang telah sembuh karena mendapat donor ginjal, dan yang lainnya termasuk lamaran Edwin saat Herina lulus satu tahun yang lalu. Pernikahan mereka direncanakan akan terlaksana dua bulan lagi, tapi Herina rasa semuanya tidak akan lengkap tanpa hadirnya si bungsu Xennora. Edwin melepaskan Julio, kelinci itu entah berada di mana sekarang, walaupun Edwin khawatir, setidaknya Julio tidak sakit-sakitan lagi setelah di bawa ke dokter lalu dilepaskan di dekat daerah cagar alam.
Tapi Sayangnya, Polisi menyatakan bahwa Xennora sudah meninggal tiga tahun yang lalu, Herina tidak mempercayai ini. Gadis itu pasti masih hidup.
Masalah Herina dan Ibu nya… Tidak terlalu membaik. Herina sudah tidak peduli lagi. Herina masih punya hati, Herina juga perempuan. Hatinya sakit. Lantas, haruskah ia yang meminta maaf karena sakit hati? Itu konyol. Ibu nya masih sama-sama perempuan, tapi mengapa beliau tidak mengerti juga?
Dan kini, Herina sedang duduk berdampingan dengan Ibu nya itu, ayah dan adiknya tengah memesan makanan. Istilahnya, family trip di Bandung. Herina memang tidak sedang senggang sekarang ini, ia bahkan tengah menuliskan proposal tentang organ-organ dalam di buku catatan yang selalu dia bawa ke mana-mana.
“Rin, ini kan family trip, kenapa masih kerja?” Tanya Ibu nya yang sepertinya sudah bosan melihat Herina b0lak balik memandang handphone dan buku nya.
“Ya Ibu gak bisa berangkat besok? Ini hari Sabtu, Aku masih harus kerja.” Jawab Herina tidak mengalihkan pandangannya pada buku catatan.
“Emangnya lebih penting kerjaan daripada keluarga?”
“Lagi, lagi, lagi. Ibu mulai lagi… Wajar dong aku kerja hari ini, di tengah family trip. Ini kan kewajiban aku, bukannya Ibu yang dari dulu paling ngotot fokus sama kewajiban? Dulu juga Ibu gini. Selalu nyuruh aku buat hal sekecil apapun yang aku yakin Ibu masih bisa dan masih sempat melakukannya, di saat… Aku sendiri lagi sibuk nyiapin ulangan… Haha… Apalagi… Di bagian yang suka banding-bandingin aku sama Hanelle…” Herina terkekeh sarkas.
“Apa perbandingan signifikan aku sama Hanelle sih bu? Aku lebih pinter, jelas. Aku lebih rajin, gak usah dipertanyakan. Aku lebih pinter, gak usah diperdebatkan. Tapi kenapa? Kenapa Ibu suka banget nganggap aku gak ada?”
“Herina, jaga sopan santun kamu.” Potong Ibu nya geram.
“Udah…! Udah… Dari dulu aku nahan banget supaya gak maki maki di depan Ibu. Ibu tau gak sih? Aku capek… Pulang sekolah, abis ulangan, dan bahkan Ibu gak tahu keadaanku lagi apa tapi Ibu terus nyalahin aku atas hal yang bahkan aku gak tau seakan aku itu orang paling bersalah di dunia…”
“Herina…”
“Aku juga perempuan bu… Sama kayak Ibu. Tiap hari aku ngebayangin gimana ya rasanya bisa curhat sama Ibu sendiri? Gimana rasanya bisa nangis lepas dan ditenangin sama Ibu sendiri? Gimana rasanya kompak sama Ibu sendiri? Gimana rasanya bercanda sama Ibu sendiri? Ah… Kayaknya aku berekspektasi terlalu banyak deh…”
Hening, Herina dan ibunya sama-sama terdiam menatap pantai dengan pikiran yang berkecamuk. Fokus Herina terbelah, kini, pikirannya sudah tidak bisa diajak untuk menyusun proposal lagi. Rasa kesalnya kembali memuncak namun Herina terus menahannya agar tidak terlampiaskan di saat-saat seperti ini.
“Sayang banget kamu punya Ibu yang buruk hm?” Gumam Ibu nya di tengah deburan ombak.
“Aku gak bilang.”
“Ibu minta maaf…”
“Ibu gak salah, aku yang terlalu banyak berekspektasi ini lah yang salah. Ini kan realita.”
“Ibu bingung mau berinteraksi kayak gimana sama kamu. Pengetahuan Ibu jelas lebih sedikit dibanding kamu… Ibu ngerasa gak pantas mendidik kamu dengan pengetahuan Ibu yang pas-pas an ini.”
“Cukup perlakukan aku dan Hanelle dengan adil. Maka semuanya beres.”
“Ibu janji…” Herina tersenyum tipis dengan pandangan yang masih mengarah ke pantai dengan langit yang cerah. “Baikan?” Lanjut Ibu nya seraya mengacungkan jari kelingking ke arah Herina membuat gadis itu terkekeh.
“Baikan dong…” Balas Herina dengan senyum senang dan membalas uluran kelingking Ibu nya membentuk suatu janji yang selalu ia lakukan sejak kecil. Ibu nya langsung memeluk Herina haru dengan setetes air mata bahagia terlihat di sana. “Maafin Herina juga ya bu…"
Di kejauhan, dua orang pria dengan seorang anak berusia sepuluh tahun tengah menatap mereka dengan lega. “Herina baikan sama Ibunya… Samperin yuk?” Ajak ayah Herina kepada pria di sampingnya yang mengangguk. Mereka bertiga menginterupsi Herina dan Ibunya yang tengah asik berpelukan haru itu. Kehadiran seseorang di samping ayahnya membuat Herina menatap pria itu terkejut.
“Kapan kamu ke sini?!” Pekik Herina senang.
“Aku pindah tugas ke Bandung. Kebetulan, Ervin bilang kalau Julian ketemu sama Xennora di Bandung… Aku mau nyari dia.” Balas Edwin lalu duduk melingkar bersama ayah Herina dan Hanelle.
__ADS_1
“Xennora udah ketemu? Serius?!”
“Iya… Makanya aku langsung setuju waktu komandan nyuruh aku pindah tugas ke Bandung.”
“Bagus deh… Emang Julian ketemu sama Xennora di mana? Aku sering ketemu Julian tapi dia gak pernah cerita apa-apa tentang ini deh.”
“Ervin bilang kemarin sih, dan Xennora ternyata kuliah di Universitas Nusantara. Kok gak ada yang tau ya…”
“Jadi, adik kamu yang hilang itu udah ketemu Ed?” Tanya Ayah Herina.
“Iya, Yah. Untungnya temen aku ketemu sama dia…”
“Syukurlah… Sekarang, apa yang mau kamu lakukan?” Tanya Ibu Herina.
“Gak tau juga, Bu… Mempercepat tanggal pernikahan? Hehe…” Gurau Edwin yang mendapat pukulan dari Herina.
...***...
“Xennora mana Bu?”
“Tidur, udah jangan ganggu kamu.” Ujar Bu Ira mengusir Silvana dari depan pintu kamar. Setelah acara makan-makan dua keluarga tadi, Xennora membantu mencuci wajan dan peralatan lainnya sampai dia kelelahan dan tertidur di kamar Bhiyan yang memang sudah kosong sejak pria itu diterima di Universitas Nusantara lima tahun yang lalu.
Xennora memasuki area kantin sekolah dengan santai, namun ada yang memukul kepalanya dari belakang walau tidak terlalu keras. “Anjir, sakit bego.” Umpat Xennora refleks lalu menendang tulang kering pelaku yang kini telah berjalan di sampingnya.
“Buset, brutal banget lo jadi cewek…” Ringis pria itu sambil mengusap tulang keringnya. Xennora menatapnya tidak peduli lalu melanjutkan langkahnya menuju meja kantin. Tapi pria itu mengikutinya.
“Sen, kok diliat-liat lo jadi cantik sih? Pas SMP suram banget sumpah…” Ledeknya menatap Xennora kagum.
“Julian!!! Ayo! Katanya mau belajar bareng?!”
Kan…
Itu teriakan milik seorang perempuan dari kejauhan. Perempuan itu lalu mendekati mereka. Rambutnya hitam legam dan lurus, dia juga tinggi. Hampir sepantaran pria yang dipanggil Julian itu. Sedangkan Xennora hanya ada sebahu.
“Ezky cantik deh, mau aku traktir make up nanti? Biar cantiknya paripurna?” Rayu Julian membuat Xennora menatap mereka malas.
“A-apaan sih kamu? Diajak belajar malah balik ngajak belanja.” Balas Ezkiel malu.
“Aku capek Ky… Kemarin abis kunjungan perusahaan…”
“Oh… Ya udah, besok aja belajarnya. Hari ini kamu istirahat, oke?”
“Siap baginda Ratu! Mau aku traktir makan? Ini jam istirahat, jangan belajar terus…”
“Eh, g-gak usah, aku udah bekel makan kok…”
Males banget ya ampun ngeliatin orang pacaran. Pengen ngejorokin mereka ke panci pudding rasanya.
“Ekhm…"
Itu bukan Xennora, serius. Suara itu berasal dari sebelah kanan, gadis itu berdiri membawa nampan berisi dua porsi mie goring dan dua gelas lemon tea.
__ADS_1
“Eh, ya udah. Aku ke kelas dulu ya, bye Julian!” Pamit Ezky meninggalkan Julian, Xennora, dan gadis tadi yang kini sudah duduk di depan Xennora setelah mendorong Julian dari sana.
Julian sempat menatap gadis itu sabar, dan kemudian ia pamit. Namun suara gadis di depannya membuat langkahnya berhenti.
“Kak Julian Matteo Kayden… Ingat pesan gue tadi! Jangan berlebihan! Atau mending lo berhenti aja deh kak, kasian pacar lo.”
Mendengar nama itu di sebut, kepala Xennora terasa berat.
“Tenang aja, gue bakal urus semuanya. Dan Ezky yang terakhir. Gue janji. Jangan overprotektif gitu dong Antha… Hahahaha…”
Kepala Xennora semakin berat sekarang, rasa pusing membuatnya mual. Kepalanya seakan diputar-putar tak tentu arah. Sayup-sayup ia masih bisa mendengar seseorang memanggilnya.
“Xennora?! Sen…?!”
“Ra… Jangan bikin aku khawatir…"
“Kak Rara…”
Xennora terbangun dengan napas terengah. Kepalanya sudah tidak seberat tadi, namun rasanya keringat mengucur di seluruh tubuhnya. Xennora mulai melihat sekeliling, ternyata di sini ada lumayan banyak orang. Bhiyan, Dila, Bu Ira, Tante Kamila, Sofia, serta Eireen.
Namun bukan itu yang Xennora pedulikan saat ini, karena ia baru mengingat sesuatu. Dengan terburu-buru, Xennora mengeluarkan buku catatan kecil yang ada di saku rok nya. Notebook kecil yang selalu ia bawa. Ia menuliskan sesuatu di sana membuat orang-orang di sekitarnya menatap bingung.
“Anta, sama… Apa tadi? Julian… Julian apa sih?! Arghh… Bisa-bisanya aku lupa…” Teriaknya frustasi.
“Julian apa? Julian Bhiyantara?” Tanya Bhiyan masih khawatir.
“Anta apa Sen?” Tanya Bu Ira yang mulai tenang. Pasalnya kejadian seperti ini bukan pertama kalinya. Kejadian yang pertama bahkan mebuat gadis itu jatuh pingsan dan berakhir sakit.
“Bukan… Bukan Julian Bhiyantara… Julian yang lain…” Gumam Xennora dengan wajah yang tengah berpikir.
“Julian Matteo Kayden…?” Tanya Sofia ragu membuat Xennora membelalakkan matanya.
“Bener! Julian Matteo Kayden!!” Seru Xennora senang lalu menuliskan nama itu di dalam list daftar nama yang ada di mimpi Xennora. “By the way… Siapa dia?” Tanya Xennora membuat yang lain kebingungan.
“Ya… Mana aku tau kak, kan kakak yang bilang bener nya…” Gumam Dila.
“Itu… Kak—” Ucapan Sofia terpotong karena seseorang datang dan menghampiri mereka.
“Ibu, Tante, semuanya, coba liat berita ini…!” Interupsi Silvana dengan napas terengah.
Karena panik, mereka semua langsung berlari ke arah ruang tengah di mana Rakha sedang duduk menyimak berita yang disampaikan oleh pembawa berita di televisi.
“… Berinisial JMK Diduga memimpin kejahatan cyber yang dilakukan oleh perusahaan mereka terhadap perusahaan FX Movie. Seperti yang diketahui, KayChief Holdings dan FX Movie memang sering ‘perang dingin’ sampai saat ini. Kejahatan cyber inilah yang paling parah dan membuat kerugian berupa hilangnya data-data penting milik perusahaan. Pengacara direktur FX Movie menuntut JMK atas pelanggaran pasal 45 ayat (2) tentang ketentuan hukum Pidana Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 dengan Pidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak satu miliar rupiah—”
Bu Ira segera mematikan televisi membuat semua orang yang ada di sana menatapnya lalu menyadari seorang pria yang berdiri di samping Bu Ira dengan pose yang cukup santai. Pria itu melipat tangannya di depan dada dan menatap televisi dengan tatapan dingin. Tidak ada raut terkejut ataupun takut di sana membuat Bhiyan, Kamila, Rakha dan Bu Ira menatapnya aneh dan curiga.
“Itu isu pengalihan. Ibu gak usah khawatir.” Komentar Julian lalu pergi dari sana.
“Tunggu, Julian! Jelasin dulu!” Kamila segera pergi mengikutinya disusul Sofia dan Eireen karena tidak enak berada di sekitar orang yang baru dikenal.
Sementara kumpulan orang yang masih terdiam di ruang tengah berkutat dengan pikiran mereka masing-masing. Belum terlalu mengerti dengan apa yang disampaikan oleh pembaca berita tadi.
__ADS_1
“JMK yang dimaksud itu… Kak Julian?” Tanya Rakha yang terdengar seperti gumaman. Seperti biasa…