The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Herina Zhuanshi Annora


__ADS_3

"Na, ke rumah lo dulu ya. Ada yang mau gue tanyain sama aunty Naifa." Ucap Xennora saat dia dan Nazril sedang di mobil.


"Oke." Jawab Nazril singkat karena sedang fokus menyetir.


Beberapa menit berikutnya atmosfer di sekitar mereka dipenuhi oleh keheningan sampai Nazril membuka suaranya.


"Lo... Masih belum nyeritain soal... Itu?" Tanya Nazril ragu. Xennora menatapnya sebentar lalu kembali menatap jalanan di depannya.


Xennora menghela napas pelan, "belum. Gue bingung Na mau gimana bilangnya. Gue udah terlanjur gak ceritain apa-apa sama mereka." Ucap Xennora dengan raut wajah resah membuat Nazril menatapnya sebentar lalu mengelus kepala Xennora dengan tangan kirinya.


Xennora menghela napas berat, "pasti mereka benci sama gue." Ucapnya yakin.


Nazril tersenyum, tatapannya masih fokus pada jalanan. "Hei, namanya kakak pasti bakalan suport adiknya terus dong. Aku yakin, Edwin sama Leo pasti ngerti alasan kamu nyembunyiin semuanya. Privasi itu berlaku buat semua orang, Xennora. Dan yang namanya privasi, hanya boleh diketahui sama diri sendiri dan beberapa orang yang di percaya. Kadang orang-orang butuh ruang lingkup nya sendiri, dan seperti yang kamu tahu, semua harus ada alasannya dulu." Jelas Nazril membuat Xennora tersenyum lalu mengangguk menyetujui.


"Bay the way, lo cocok deh sama Vina." Ucap Xennora mengalihkan pembicaraan sambil tersenyum jahil.


"Eey, kenapa jadi kesana." Nazril sedikit terkekeh menyadari topik yang dijadikan pengalihan oleh Xennora.


"Serius, Na... Lagian, lo belum pernah ngenalin temen cewek lo ke gue. Benar-benar belum pernah...." Ucap Xennora menekankan kalimat terakhirnya membuat Nazril tersenyum dan mengangguk. Memang benar, selama 17 tahun ia hidup, tak pernah memiliki teman dekat perempuan atau yang sering disebut pacar. Begitupun Xennora yang sama-sama belum pernah berpacaran.


Julian tertawa, "gue cocok ya sama Vina?" Tanyanya diselingi tawa.


Xennora tergelak memikirkan bagaimana jadinya jika Nazril dekat dengan Vina. Kemudian Xennora mengangguk, "iya, cocok banget Na. Vibes nya tuh kayak... Nazril Arkatama yang bisa dibilang softboy ketemu Revanea Emilio yang penampilannya agak tomboy tapi sifatnya ceria.... Damn! Cocok loh beneran." Jelas Xennora dengan gerakan tangan khas nya.


"Eh tapi waktu pertama kali ketemu, penampilan Vina lebih tomboy loh Na, gak kayak sekarang yang udah agak girly." Xennora mulai bergibah.


"Lo tau jenis kalimat apa yang selalu keluar dari mulut secara spontan, terutama mulut lo?" Tanya Nazril sambil tertawa membuat Xennora berhenti tersenyum.


"Ha? Apaan?"


"Ghibah." Jawab Nazril singkat. Spontan, Xennora memukul lengannya membuat tawa Nazril lepas.


"Itu bukan ghibah... Gue cuma ngajak lo diskusi dan targetnya kebetulan Vina." Alibi Xennora.


"Oh ya? Lo yakin??"


"Iya ish... Muka lo ngeselin banget."


"Hahaha iya iya udah woy gue lagi nyetir..."


Nazril Arkatama, sepupu Xennora. Satu-satunya orang yang diperlakukan berbeda oleh gadis itu.


...β„β„β„πŸ’™β„β„β„...


Herina pulang ke rumahnya dengan keadaan sedikit lelah. Setelah kepergian Xennora dan Nazril tadi, mereka segera membubarkan diri dan memilih membahasnya lagi nanti di grup chat.


"Udah pulang?" Tanya ibunya yang sedang mengupas kulit kacang sambil menonton TV. Herina mengangguk lemas lalu membuka sepatu nya.

__ADS_1


"Hmm..." Gumamnya. Rumah Herina terbilang sederhana dengan satu lantai saja. Lagipula, kedua orang tuanya hanya seorang buruh harian lepas yang tak terlalu terkenal bahkan dikalangan tetangga.


Setelah mengunci pintu kamar, Herina meletakkan tasnya di kasur lalu duduk di meja belajar nya. Ia membuka buku bahasa Inggris nya karena besok ada try out dengan mata pelajaran bahasa Inggris.


"Rin! Cuci piring ya! Ibu mau jemput adik kamu dulu! Mainnya lama banget." Teriak ibunya dari luar lalu tak lama terdengar suara pintu yang ditutup. Herina menghela napas, tak bisakah Herina belajar dengan tenang hari ini?


Dengan rasa kesal, Herina beranjak untuk mandi terlebih dahulu. Herina memiliki seorang adik perempuan yang usianya baru enam tahun, Hanelle. Kepribadiannya ceria, dan agak tidak tahu malu. Hanelle tidak secerdas kakaknya, namun entah apa alasannya, Hanelle lebih dicintai oleh kedua orang tuanya.


Tentu kalian sudah mengerti apa permasalahan Herina?


Apapun yang Hanelle lakukan, selalu berhasil mencuri perhatian ibu dan ayahnya sampai dipuji habis habisan. Sedangkan Herina, sekeras apapun ia berusaha untuk memenangkan olimpiade akademik, hanya mendapat ucapan selamat dari ayah dan ibunya. Sering juga Herina tak mendapat ucapan apapun.


Hidup tidak adil? Memang.


Selesai mandi dan mengganti baju, Herina pun keluar untuk pergi ke dapur dan mencuci piring. Di ruang keluarga, Herina melihat ayah dan ibunya sudah kembali. Dengan Hanelle tentunya. Hanelle yang baru selesai menggambar sesuatu, langsung memperlihatkannya pada ibu dan ayah yang tentunya mendapat pujian another level. Herina tersenyum miris pada dirinya sendiri, lalu melanjutkan langkahnya untuk pergi ke dapur.


Entahlah, tapi sepertinya Herina tak pernah merasakan apa yang tengah Hanelle rasakan. Bahagia karena banyak mendapat pujian.


'Kamu melakukannya dengan baik', 'pintar sekali anak ibu', 'ayah bangga sama kamu', 'kamu berbakat banget......


Hanelle...'


Iya, Hanelle. Hanelle yang berbakat, Hanelle yang pintar, Hanelle yang lucu, Hanelle yang ceria..... Kenapa seakan dunia ini berpusat pada Hanelle? Sedangkan Herina hanya seperti bayangan yang tak terlihat dibelakang Hanelle yang berdiri dengan penuh rasa percaya diri.


Tak terasa, air mata menetes di tangannya yang sedang mencuci piring dengan pelan itu. Herina tak menangis, bisa dibilang begitu karena ia hanya menatap kosong piring yang sedang ia cuci dan tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja. Lalu Herina lekas mengelap air matanya itu dengan lengan bajunya. Sedikit beruntung juga memiliki rambut yang panjang untuk menutupi wajahnya.


Hanelle lagi. Herina sudah bosan mendengar nama itu. Bahkan jika Herina diberi pilihan untuk memilih mendengar nama Hanelle atau Edwin ---pria di kelasnya yang dulu sering sekali mengganggunya---, Herina dengan tegas akan lebih memilih Edwin tentunya. Apa Herina menyayangi adiknya? Hell, tentu saja. Namun Herina masih di fase sedang mencoba menyayangi Hanelle karena jujur, Herina tak terlalu suka dengan perangai gadis itu yang petakilan, tak bisa diam, selalu melawan, dan juga sedikit tak sopan.


Dan hal itu pula yang menjadi dasar dari pertanyaan Herina, mengapa Hanelle lebih dicintai daripada Herina yang jelas-jelas sikapnya jauh lebih baik dari pada Hanelle?


Tentu banyak orang yang akan menjawab "itu karena Hanelle masih kecil." Ya, memang. Tapi setidaknya ibu tak perlu menyalahkan Herina atas segala kesalahan yang Hanelle buat, iya 'kan? Seakan Herina terlahir memang untuk menanggung kesalahan adiknya.


Saat cuciannya sudah tinggal sedikit, ayahnya datang dengan setumpuk piring dan beberapa mangkuk dan sendok. Hey, bahkan Herina tak ikut mencoba makanan yang mereka bawa, tapi sudah habis lagi? Dan yang paling membuatnya kesal, ia tak mencoba makanannya, namun harus mencuci piringnya. Benar-benar tidak adil.


"Istirahat dulu dong Rin." Ucap ayahnya sambil menepuk pundak Herina beberapa kali. Herina tersenyum tipis lalu menggeleng pelan.


"Tanggung, yah." Balas Herina. Ayahnya pun mengangguk lalu pergi.


"Hanelle sayangnya sama ibu, enggak sayang sama ayah." Ucap Hanelle ketika ayahnya datang dari dapur.


'Halah caper.' Batin Herina kesal.


"Loh kenapa?" Tanya ibu.


"Ayah bau ketiak." Ucapnya polos lalu ditertawakan oleh ibu dan juga mendapat kekehan dari ayah.


"Awas aja, gak akan ayah gendong lagi." Canda ayahnya membalas ucapan Hanelle.

__ADS_1


Entah kenapa, mendengar mereka tertawa lepas seperti itu tanpa Herina membuatnya seakan terasingkan, memang benar 'kan? Diam-diam Herina tertawa tanpa suara namun disaat bersamaan air matanya ikut turun membuat siapapun bingung dan tak dapat memutuskan apa Herina sedang tertawa atau menangis. Jika menebak tertawa bahagia, mungkin tidak. Karena dalam ekspresinya pun hanya terdapat ribuan luka. Satu tetes air mata itu, berisi ribuan luka.


Hanelle, kau sangat beruntung.


Sebenarnya mempunyai adik tidak seburuk itu jika orang tua memberikan perlakuan yang sama. Hanya karena Herina seorang pendiam yang cerdas danΒ Β  seorang yang ceria namun tak terlalu cerdas bukan berarti mereka harus membangun sekat antara mereka dan Herina 'kan?Β 


Jadi... Apalagi yang harus Herina lakukan agar setidaknya ayah dan ibu memperhatikannya?


Setelah selesai mencuci piring, Herina kembali ke kamarnya lalu menutup pintu. Terdengar Hanelle berbicara pada ibunya.


"Hanelle maunya spidol punya kak Ina buu..." Ucapnya memelas.


Lalu tak lama, ibu datang ke kamarnya dan mendekati Herina yang sudah duduk di meja belajar. Tanpa permisi, ibu mengambil spidol hitam di tempat pensil Herina lalu berbalik untuk keluar.


Herina berdecih, jika dia yang memberikan permintaan itu pada ibunya, yang ada hanyalah ia dinasihati habis-habisan karena menginginkan barang orang lain.


Namun ternyata ibunya yang mendengar decihan itu mengartikan hal lain.


"Kok kamu gitu sih Rin sama ibu? Kayak yang gak butuh aja." Ucap ibunya sambil keluar lalu menutup pintu dengan lumayan keras.


Sumpah, demi apapun Herina melakukan itu untuk dirinya sendiri, bukan untuk menghina ibunya. Herina berdecih pada dirinya sendiri. Ia meremehkan dirinya sendiri karena apapun yang ia lakukan, tak akan pernah berguna bagi ayah dan ibunya.


Herina mengerjap tak percaya. Well, sepertinya kesalah pahaman ini akan berlangsung lama. Lagipula, ucapan itu sungguh-sungguh refleks keluar dari mulutnya. Awalnya Herina hanya berniat tertawa meremehkan, untuk dirinya sendiri tentu. Namun yang keluar adalah decihan menghina yang membuat ibunya salah paham.


Jika hubungan Herina dan ibunya memburuk setelah ini, Herina yakin ia akan membenci Hanelle dengan sepenuh hati.


"Kalau udah capek belajar, Yaudah. Istirahat aja. Jangan ngelampiasin ke orang lain." Teriak ibunya di luar membuat Herina mendengus tak percaya.


Hey, Herina belajar dengan sepenuh hati tanpa merasa lelah sekalipun. Bahkan jika Herina merasa lelah, ia akan tidur beberapa menit untuk menenangkan pikirannya. Tapi ini? Kenapa ibunya menyimpulkan seenaknya? Bahkan ibunya tak pernah menanyakan keadaan Herina selama ini. Apa yang ibu tahu tentang dirinya?


Tutur kata ibunya tadi termasuk hal yang Herina benci dari ibu. Selalu membandingi bandingkan dia, sampai di sindir habis-habisan yang jelas-jelas Herina sangat tak menyukai cara ibunya berbicara itu.


Air mata Herina kembali menetes di bukunya. Disaat seperti ini, Herina ingin mengetahui kesulitan apa yang tengah dialami oleh orang-orang disekitarnya. Bukannya ingin membandingkan dan mengklaim pengalaman Herina merupakan pengalaman yang paling buruk diantara mereka semua, bukan. Tapi Herina ingin menyadarkan dirinya bahwa orang lain juga pernah mengalami kesulitan seperti Delia tadi. Jadi, Herina belum boleh menyerah, tidak boleh menyerah.


Detik itu juga, Herina menangis sejadi-jadinya namun berusaha untuk tak bersuara. Karena menahan tangisan itu lebih menyakitkan daripada mencoba tak mengeluarkan suara saat menangis. Herina meraih ponselnya lalu menyetel lagu yang selama ini menemaninya agar suara tangisannya tak terlalu terdengar. No more dream, sepertinya cocok untuk menghiburnya.


Setengah bagian lagu sudah terputar namun ingatan Herina juga masih terputar kejadian beberapa menit yang lalu. Oh... Kenapa lagu energik seperti ini terdengar mellow sekarang??


Apalagi di beberapa bagian, seperti...


"Geojismal-iya, you such a liar. See me see me yeah, neon wiseonjaya ." Herina menggumamkan salah satu liriknya dengan air mata yang tak mau berhenti.


'Kalau udah capek belajar, yaudah. Istirahat aja. Jangan ngelampiasin ke orang lain.'


Herina memukul meja dengan sedikit keras. Mengingat ucapan ibunya itu membuat Herina perlahan membenci ibunya. Kenapa harus di sangkut paut kan dengan belajar jika masalah Herina adalah adiknya sendiri?


Herina bahkan lebih menyukai belajar daripada harus mengasuh adiknya yang akan selalu berakhir buruk. Tapi kenapa mereka tidak mengerti?Β 

__ADS_1


__ADS_2