The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Poison


__ADS_3

"Mau ikut gak Ta? Ke markas." Ajak Xennora yang tengah membereskan buku-bukunya ke tas.


"Pengen sih, tapi gue disuruh pulang cepet sama Bunda." Jawab Antha yang juga masih membereskan buku nya. Xennora pun mengangguk lalu menggendong tasnya.


"Ya udah, gue duluan ya! Bye jomblo!" Pamit Xennora yang mendapat pelototan dari Antha. Mau dikejar pun hanya buang-buang waktu. Baru saja dia baper karena perkataan Xennora, eh sekarang sudah kembali menyebalkan.


"Mirror please!" Teriak Antha, Xennora yang mendengarnya pun tersenyum lalu mempercepat langkahnya menuju lab Perdata.


Di sana, Xennora tak menemukan siapapun. Ia pun menutup pintunya lalu menyalakan lampu. Xennora mendekati mading berukuran sedang dengan peta sekolah empat lantai menempel disana. Xennora mulai memperhatikannya satu persatu sampai tatapannya jatuh pada peta lantai satu.


Aula belakang sekolah. Xennora sedikit menyayangkan kenapa aula itu ditutup semenjak pengalih-fungsian ruang teater menjadi aula baru ditengah gedung sekolah. Padahal aula lama juga tak kalah luas dan megah. Disana juga tempat pertama kalinya Xennora bertemu Antha. Serta pertama kalinya ia bertemu Julian dan teman-temannya. Xennora ingat, bahkan hari pertama pertemuan mereka juga sudah tidak akur. Dan mengingat-ingat hal itu, membuat Xennora terkekeh pelan. Namun setelah itu ia baper sendiri saat mengingat Julian yang menuliskan tanda tangan di sampingnya.



Kejadian di aula itulah yang menjadi pemicu utama dia dan Julian selalu bertengkar setiap berpapasan. Xennora bahkan tidak tahu alasan jelas mengapa mereka tak pernah akur. Yang jelas, Julian lah yang selalu menyulut emosinya, Xennora juga baru sadar ternyata ia orang yang mudah tersulut.


Setelah lima menit belum ada yang datang, Xennora pun memutuskan untuk pergi melihat aula belakang sekolah. Setelah Xennora mulai menuruni tangga, Herina, Edwin, Julian, Leo dan Ervin datang dari tangga depan yang letaknya dibelakang Xennora sehingga Xennora tak tahu akan keberadaan mereka. Para murid kelas 12 itu memasuki lab dengan ekspresi pasrah dan lesu.


Leo dan Ervin langsung menghempaskan tubuh mereka di sofa. Herina menyempatkan untuk membawa setumpuk jurnal sekolah mengenai siswa-siswa di SAN high school lalu duduk di sofa yang letaknya di depan Leo dan Ervin. Sedangkan Edwin rebahan dan Julian duduk di karpet.


"Gue gak yakin nilai try out gue bagus." Ujar Leo sambil melamun, Julian mengangguk membenarkan ucapan Leo.


"Nilai lo kecil? Zoom aja." Ujar Ervin garing yang mendapat tatapan datar dari Herina.


"Perasaan kita yang paling lambat kesini. Tapi kok belum ada siapa-siapa?" Ujar Edwin seraya membenarkan almamater seragamnya.


"Iya juga. Mungkin ke kantin dulu." Balas Julian acuh.


Julian mengalihkan atensi nya ke arah pintu dimana terdengar langkah orang berlari. Dan benar saja, tak lama kemudian pintu terbuka lalu Eireen, Sofia dan Vinca masuk dengan tergesa-gesa.


"Kepala sekolah udah tahu siapa pelakunya!" Ucap Vinca menggebu membuat Herina, Julian, Leo, Edwin dan Ervin berjengit kaget.


"Apa?!" Pekik mereka bersamaan.


"Tapi kan kita juga belum tahu siapa pelakunya!" Lanjut Herina.


"Emangnya siapa? Devan kan? Pasti Devan gue yakin." Ujar Leo.


"Kok pihak sekolah bisa tahu?" Tanya Julian.

__ADS_1


Eireen, Sofia dan Vinca yang nafasnya masih tak teratur bingung mendengar pertanyaan senior mereka. Eireen dan Sofia pun duduk di samping Julian dan Edwin. Sedangkan Vinca di samping Herina karena ia yang akan menjelaskannya.


"Jadi gini..."


...❄❄❄💙❄❄❄...


Xennora mendekati aula, ternyata keadaan nya benar-benar tak terurus. Namun juga bisa dibilang masih bagus dan layak ditempati. Tak lama, terdengar langkah seseorang mendekatinya dari belakang, sedikit berlari.


"Ini kak kuncinya. Kode B09X kan?" Ujar Vina setelah berada tepat di belakang Xennora sambil menyodorkan sebuah kunci di tangan kanannya. Xennora berbalik lalu mengambil kunci itu.


"Iya, thanks ya." Ucap Xennora lalu membuka gembok di pintu aula menggunakan kunci yang Vina bawa. Hal itu membuat Vina terperangah. Ia membawa kunci itu dari ruang OSIS, dan dia sendiri anggota OSIS. Tapi tak pernah terpikirkan sedikitpun untuk mencari kunci aula.


"Aku pernah kesini sekali. Tapi kekunci, mau lihat lewat jendela juga gak bisa." Curhat Vina sambil melihat sekitar. Xennora tersenyum tipis masih berusaha membuka gembok.


"Kok kakak tahu kode kunci buat aula?" Tanya Vina tiba-tiba.


"Tahun lalu pernah disuruh ngambil kursi disini. Dan gue ngeliat kode kuncinya. Gitu deh." Jelas Xennora membuat Vina mengangguk. Setelah itu Xennora membuka pintunya lalu masuk diikuti Vina.


Mereka sedikit terbius dengan pemandangan di dalam ruangan itu. Sedikit gelap namun masih ada cahaya remang-remang dari jendela. Kursi dan meja berserakan di sisi-sisi ruangan dan coretan yang jika Vina teliti merupakan tanda tangan. Ratusan tanda tangan yang melapisi tembok aula.


"Kakak sama kak Julian itu... Emang selalu berantem ya dari dulu?" Ucap Vina di sudut ruangan. Xennora yang sedang melihat sekeliling pun berbalik untuk menatap Vina. Jarak mereka lumayan jauh, makanya Vina sedikit berteriak tadi. Sisi yang sejajar di ruangan pun memiliki luas yang lumayan besar. Tentu saja, karena bisa memuat sekitar lima ratus orang.


Xennora berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan Vina, "ya... Bisa dibilang?" Ucap Xennora dengan nada bertanya namun membuat Vina terkekeh. Karena penasaran kenapa Vina tiba-tiba menanyakan itu, Xennora mendekatinya. Dan ternyata Vina melihat tanda tangan miliknya, di samping tanda tangan Xennora, terdapat tanda tangan Julian.


Alasannya mungkin karena melihat tatapan Xennora yang tidak terlalu bersahabat, saat mengenalkan diri pun Xennora sama sekali tak tersenyum. Dan ketika menuliskan tanda tangan itu, tiba-tiba seseorang berdiri dibelakangnya dan menuliskan tanda tangan nya disamping tanda tangan Xennora. Dan itu Julian.


Pria itu sama sekali tak membuka suaranya. Setelah selesai, ia pergi tanpa mengucapkan apapun atau sekedar berkenalan. Selang beberapa detik, dua orang siswa mendekatinya. Lalu menuliskan tanda tangan mereka.


'Hai, namaku Antha. Antha Ayslyn.' Ucapnya setelah selesai dengan tanda tangan nya. Pria disamping Antha yang baru selesai pun berbalik menghadap Xennora.


'Gue Fadhil Auliansyah. Salam kenal ya. "Ucapnya.


Setelah itu pun, Xennora mengenalkan dirinya dan sampai sekarang ia bersahabat dengan Antha. Antha pernah bilang, jika dia dan Fadhil sudah berteman sejak kecil karena mereka bertetangga.


Sebenarnya tembok akan di cat ulang saat tahun ajaran baru dan penerimaan murid baru. Namun karena Xennora adalah angkatan terakhir yang menggunakan aula tersebut, makanya semua tanda tangan masih ada di sana.


"Tapi kayaknya, ada sesuatu yang... Gak seharusnya ada." Ucap Vina ketika mengingat kembali perbincangan nya dengan Julian dan Ervin di kantin.


Xennora terkekeh sedikit tidak mengerti dengan ucapan Vina, ia pun kembali menelusuri aula yang lumayan besar itu.

__ADS_1


"Maksudnya?" Akhirnya Xennora bertanya.


Vina menoleh ke arah Xennora, "menurut kakak, apa yang gak seharusnya ada di dua orang yang gak pernah akur?" Bukannya menjawab pertanyaan Xennora, Vina malah balik bertanya.


"Dalam kategori? Barang atau semacamnya?" Xennora memastikan.


"Atau semacamnya." Jawab Vina masih menatap Xennora yang membelakangi nya.


"Emm... Mungkin rasa?" Tanya Xennora setengah-setengah membuat tatapan Vina menjadi datar.


"Rasa apa? Manis? Asin? Hm?" Ucap Vina dengan nada menyebalkan membuat Xennora terkekeh.


"Rasa peduli barangkali? Rasa kasihan? Suka? Atau bahkan... Cinta?" Tanya Xennora yang tengah menatap Vina yang tengah tersenyum puas.


"Exactly." Puji Vina.


"Jadi... Maksudnya?" Tanya Xennora penasaran karena tidak mengerti dengan apa yang Vina maksud.


"Ya... Ada yang harusnya gak ada antara kakak sama kak Julian. Salah satunya apa yang udah kakak sebutin tadi." Jawab Vina sambil berjalan melewati Xennora yang tiba-tiba melamun.


Xennora mendengus-tertawa, "gak mungkin kan kalau gue suka sama Julian?" Tanya Xennora.


Vina mengangkat bahu nya acuh, "bisa aja sebaliknya kan?" Ucap Vina membuat Xennora benar-benar terdiam, kembali teringat dengan ucapan Julian kemarin. Namun tak lama dia mendengus pelan. 'Iya, sebaliknya... Mungkin?'


"Eh kak, lihat deh. "Interupsi Vina membuat Xennora sadar dan segera menghampiri nya. Terlihat sebuah poster yang tengah Vina lihat, berisi jenis-jenis racun dengan gambar molekul dan penjelasan lainnya.


"Tetrodotoksin, Neurotoksin, arsenal, sianida, VX... Wahh ternyata banyak juga ya. Kok aku cuma tahu sianida?" Tanyanya sambil terkekeh. Xennora diam memperhatikan poster yang sedikit berdebu itu. Namun sayang, apa yang dicarinya tak ada dalam poster itu.


Vina berniat mengambil poster itu. Ia tak dapat membaca karena debu yang menutupinya. Saat poster diturunkan dengan susah payah, mereka mendengar suara benda jatuh di dekat mereka tepatnya disamping sepatu Xennora. Ia pun mengambil benda yang ternyata kunci itu. Sepertinya tergantung di belakang poster.


"Kunci? Kunci apa?" Tanya Vina. Xennora menggeleng tak tahu, tapi kemudian ia ingat sesuatu. Ia pun mendekati sebuah nakas yang berada di sudut ruangan diikuti Vina yang menaruh poster itu di meja rusak.


Xennora benar, kunci itu adalah kunci nakas. Saat ia membukanya, ada puluhan botol berukuran kecil yang biasa dipakai untuk vaksin. Xennora mengambil satu, cairannya tak berwarna dan sedikit kental. Saat Xennora membuka tutupnya, bau amis langsung menyapa indra penciuman mereka. Segera,  Xennora menutup kembali botol itu rapat kemudian menutup dan mengunci kembali nakas tanpa mengembalikan botol yang ia ambil. Xennora pun menyimpan botol itu di saku almamater nya lalu berdiri dan mengajak Vina untuk keluar.


Vina menurut tanpa bertanya lebih lanjut lalu mengikuti Xennora. Setelah mengunci aula, mereka pun pergi ke lab Perdata di lantai dua. Namun saat di koridor depan musholla, mereka berpapasan dengan bu Raya. Segera mereka menunduk untuk memberi hormat yang dibalas dengan senyuman.


"Oh iya Xennora, kebetulan. Nilai Try Out kamu sempurna. Nilai test nya juga di atas rata-rata semua. Jadi... Kamu bisa melanjutkan lewat Try Out selanjutnya sampai Ujian Nasional. Oh, dan kamu juga akan melakukan ujian kesetaraan. Semangat ya! Ibu bangga sama kamu." Jelas bu Raya lalu pergi setelah menepuk bahu Xennora.


Xennora diam, tak lama ia tersenyum. 'Ibu bangga sama kamu.' kalimat yang sederhana namun berharga bagi Xennora. Bagaimana tidak? Kedua orang tuanya saja tak pernah mengucapkan kalimat sepanjang itu padanya jika bukan untuk memarahi, apalagi berkata jika mereka bangga padanya.

__ADS_1


Vina menunduk hormat seiring perginya bu Raya yang juga sempat tersenyum padanya. Boleh ia akui, bu Raya adalah guru yang luar biasa. Ramah namun juga dapat membuat murid-muridnya disiplin. Namun tak lama, Vina mengerti dengan apa yang bu Raya ucapkan pada Xennora. Ia pun melotot tak percaya pada kakak kelasnya itu.


"Kakak lompat kelas?!"


__ADS_2