The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Another Julian


__ADS_3

“Iya iya, Aa tau. Ini aku lagi mau pulang ke rumah. Masih nunggu bus, Bu…” Ucap seorang pria Kepada ibunya di seberang telepon. Pria itu memakai setelan formal yaitu jas hitam lengkap dengan dasi dan nametag bertuliskan Julian di dada kanannya.


“Nah itu bus nya dateng. Ya udah bu, Aa tutup dulu ya, nanti kalau udah deket Aa kabarin lagi.” Ujar pria itu sambil mencari tempat duduk di dalam bus yang lumayan penuh itu. Akhirnya pria itu memilih duduk di samping seorang wanita yang sepertinya tengah tertidur. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutupi oleh rambut brunette nya yang panjang itu.


“Hati-hati di jalannya, A. Ibu tutup.” Final Ibu nya lalu menutup sambungan telepon saat pria bernama Julian itu berniat menjawab.


‘Untung Ibu sendiri.’ Batinnya sabar.


Tanpa sengaja, pria itu melihat map di tangan gadis di sampingnya. Map khas keluaran Universitas ternama di Bandung. Universitas Nusantara. Tapi bukankah Universitas itu sudah dilewati sejak tadi? Sejak dirinya menaiki bus ini? Dengan inisiatif tinggi, pria itupun berniat membangunkan gadis di sampingnya demi membuktikan kalau dugaannya itu salah.


“Teh…. Teteh… Mbak?” Pria itu berusaha keras membangunkannya dengan cara menepuk pundak gadis itu. Tapi sudah sekitar lima menit dia berusaha, gadis itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.


“Mbak?” Saat Julian menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah gadis itu, ia sedikit panic karena bibirnya sangat pucat, dan suhu tubuhnya pun tinggi. Kepanikannya bertambah ketika menyadari bahwa gadis itu bukan tertidur, tapi pingsan.


“Aduh, gimana ya? Rumah Sakit… Ah, Rumah Sakit udah deket. Pak! Tolong berhenti di depan Rumah Sakit ya!” Seru nya kepada seorang kenek yang langsung menyuruh sang sopir untuk berhenti di depan Rumah Sakit yang jaraknya sudah dekat.


Julian melepaskan jas hitamnya lalu ia pakai untuk menutupi kaki gadis itu karena dia memakai rok yang lumayan pendek Menurut Julian.


“Ini pak, ongkos kita berdua.” Ujarnya sambil memberikan dua lembar uang dengan nominal yang besar. Kemudian Julian menggendong gadis itu menuju Rumah Sakit dengan wajah yang masih terlihat panik. Jelas tidak akan lucu jika gadis itu meninggal dalam dekapannya.


Kini, Julian tengah menunggu di depan ruangan tempat gadis itu diperiksa. Ia mengobrol dengan Ibu nya di telepon lagi.


“Maaf Bu, kayaknya aku gak akan berkunjung sekarang deh, tadi ada yang pingsan di bus. Perempuan. Kasian banget Bu, mana dia demam…”


“Ya Allah… Semoga cepet pulih… Iya, gapapa A, lain kali aja…”


“Lusa deh Bu, Aa janji.”


“Iya. Yaudah, ibu tutup ya. Mau masak buat makan malam.”


“Iya bu…”


Tak lama setelah itu, dokter yang memeriksa gadis tadi keluar dari ruangan, membuat pria itu menatapnya penuh harap. “Gimana keadaannya dokter? Gak ada hal serius kan…?”


“Tidak ada. Tapi…. Sepertinya Pasien mengalami amnesia disosiatif atau amnesia psikogenik.” Jelas sang dokter membuat pria di depannya mengerutkan dahi tidak mengerti. Namun beberapa detik kemudian dia tekesiap menyadari sesuatu.


“Dia hilang ingatan, dokter?”


“Iya… Pada amnesia disosiatif, ingatannya masih ada. Tapi tersimpan sangat dalam di pikirannya dan tidak dapat diingat. Tapi memori tersebut dapat kembali muncul dengan sendirinya atau setelah dipicu oleh sesuatu yang ada di sekitarnya. Dalam kasus ini dia bisa sembuh dengan terapi. Terutama terapi keluarga.” Jelas sang dokter.


“Eung… Tapi dokter, Bagaimana kalau dia tidak ingat siapa keluarganya?”


“Loh, kamu bukan keluarganya?”


“Bukan… Saya bahkan baru ketemu sama dia setengah jam yang lalu…”


“Kalau begitu… Sepertinya penyembuhannya akan sangat lama… Memangnya dia tidak punya siapa-siapa?”


“Ya saya juga tidak tahu, dokter… Kalau begitu, apa dia akan dirawat inap?”


“Dia boleh pulang dan mendapat penanganan di rumah. Tapi masalahnya, tidak ada yang tahu rumahnya di mana?”


“Bagaimana kalau tinggal sementara di rumah saya…?”


“Yakin? Kamu jangan macam-macam.”


“Enggak lah dokter, masa iya. Lagian saya tinggal sama—”


“Bhiyan!!” Sebuah pekikan memotong perkataan Julian. Terlihat, seorang perempuan berlari mendekatinya, berbanding terbalik dengan pria di belakangnya yang berjalan dengan santai.


“Siapa yang sakit?” Tanya perempuan itu setelah menunduk hormat pada sang dokter.


“Nanti aku jelasin. Gimana nih dokter? Udah ngasih saya kepercayaan? Saya tinggal di apartemen sama dua sepupu saya ini. Gak akan ada yang berani berbuat macam-macam kalau ada Silvana.” Jelas Julian.


“Ya sudah, terserah kamu saja. Kalau begitu saya pamit.” Dokter itu pun kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga.


“Woy, siapa yang sakit?” Tanya Silvana, lagi.


“Ikut aku.” Ajak Julian lalu memasuki ruangan tempat gadis tadi diperiksa.

__ADS_1


“Kamu udah sadar?” Tanya Julian senang saat melihat gadis tadi sudah sadar dan melihat langit-langit ruangan dengan tatapan menerawang.


“Iya… Kalian siapa? Kok gue bisa ada di Rumah Sakit?” Tanya gadis itu menatap mereka curiga.


“Eh santai dong. Udah ditolongin tuh harusnya makasih dulu…” Ujar Silvana.


“Gue gak minta buat ditolongin.”


“Wah sombong!” Silvana tiba-tiba on fire membuat adiknya yaitu Rakha menahannya lalu membawanya ke luar ruangan.


“Gue kenapa? Kok gue gak inget apa-apa…?” Tanya gadis itu melihat ke arah jendela, terlihat menahan air matanya.


Julian hanya bisa tersenyum lalu menggaruk tengkuknya canggung. “Eung… Kamu kayaknya lagi stress… Sampai harus ngalamin hal kayak gini…” Jawabnya ragu


“Gue hilang ingatan ya?” Gadis itu terlihat menghela napas nya, lalu kembali berucap. “Sekarang selesai. Gue mau stress karena apa lagi? Gak ada hal yang gue inget… Bisa-bisanya gue stress sampai kayak gini.” Lanjutnya seraya terkekeh pelan.


“By the way… Makasih. Um… Lo liat handphone gue gak?” Lanjut gadis itu membuat Julian mendongak.


“Kamu bawa handphone? Kamu inget?” Tanya Julian terkejut.


“Ya… Gue bahkan gak sadar apa yang udah gue lupain… Ahh…. Keluarga sama temen-temen gue ya ternyata?” Gadis itu terlihat berkaca-kaca.


“Aku bakalan cari handphone kamu, jangan kemana-mana dulu.” Pamit pria itu lalu berdiri dari kursinya.


“Thanks, nama lo siapa?”


“Julian…” Jawabnya memunggungi gadis itu. “Kenalin, aku Julian Bhiyantara.” Lanjut pria itu seraya berbalik untuk menatap wajah gadis yang sudah ia tolong.


...***...


“Kok aku kayak pernah liat wajah dia ya Teh?” Gumam Rakha Padahal konteksnya ia bertanya pada Silvana.


“Apa sih? Jangan bisik bisik deh.” Protes Silvana karena adiknya itu bertanya dengan volume yang sangat kecil.


“Aku kayak pernah liat wajah dia…” Balas Rakha malas lalu tatapannya teralihkan melihat sepupunya yang terlihat tengah mencari sesuatu. Rakha pun menghampirinya tanpa memperdulikan Silvana yang bergumam protes karena adiknya itu pergi tanpa izin.


“Cari apa A?” Tanya Rakha membuat Julian menoleh sebentar.


“Tanya ke security dulu, A. Siapa tahu udah ada yang ngelaporin.” Saran Rakha membuat Julian segera masuk lagi ke dalam Rumah Sakit dan bertanya di meja resepsionis.


“Permisi suster, kira-kira ada handphone yang hilang gak? Eh, maksudnya liat handphone yang jatuh gak di sekitar halaman depan Rumah Sakit?” Tanya Julian, atau sepertinya mari kita panggil dia Bhiyan.


“Oh, ada dua handphone yang ditemukan siang ini… Yang satu sepertinya sudah mati total.” Jawab suster itu lalu memperlihatkan dua handphone dengan keadaan yang saling bertolak belakang.


“Yang mana A?” Tanya Rakha membuat Bhiyan membuyarkan pikirannya.


“Yang keadaannya udah retak kali ya? Daerah sana kan berbatu…” Gumam Bhiyan berniat menunjuk handphone yang kacanya sudah retak, namun tak lama seorang perempuan usia SMA mendekati lalu memekik pelan.


“Suster, ini hape saya…” Ujarnya membawa handphone yang retak tadi lalu membuka lockscreen yang menggunakan kode itu dan ternyata benar.


“Baik, kalau begitu lain kali hati-hati…” Balas sang suster.


“Iya, terimakasih ya suster, saya pamit.”


Bhiyan kini hanya punya satu pilihan lagi. Handphone yang keadaannya masih terlihat sangat bagus, tapi susternya bilang yang satu sudah mati total… Berarti handphone yang ini?


“Handphone yang ini yang mati total suster?” Tanya Bhiyan lemas.


“Iya. Ini benar punya mas nya?”


“Iya, benar suster. Kalau ternyata bukan nanti saya kembalikan lagi. Terimakasih sebelumnya…” Ujar Bhiyan lalu pergi menjauhi meja resepsionis diikuti Rakha. Mereka pun mendekati Silvana yang tengah memainkan handphonenya.


“Ibu… Aa’ ngerusak hp orang…” Gumam Bhiyan lemas membuat Silvana menatapnya terkejut.


“Keadaannya masih bagus tuh.” Celetuk Silvana sambil melirik handphone itu sekilas.


“Tapi mati total…”


“Bawa ke tukang servis. Oh iya, cewek tadi bakalan tinggal sama kita? Kamar udah penuh Bhi…”

__ADS_1


“Sama kamu aja. Kan aku udah sekamar sama Rakha.”


“Idih? Gak mau ya.”


“Kamu punya ide yang lebih bagus?”


“Ck, ya udah. Awas aja kalau dia sombong.”


...***...


“Jadi dia Cuma inget sama pengetahuan umum, sedangkan orang-orang yang sebelumnya dia kenal gak akan inget?” Tanya Silvana seraya berdiri memperhatikan gadis yang ada di depannya.


Setelah berdebat cukup panjang, akhirnya gadis itu mau tinggal bersama mereka dengan catatan, mereka akan membantunya menemukan siapa keluarga aslinya. Dan mengenai handphone itu… Bhiyan segera membawanya ke tukang servis. Handphone nya berhasil hidup, namun semua data yang ada di sana terhapus, atau istilahnya ke reset. Bhiyan sudah meminta maaf berkali-kali membuat gadis itu bosan dan akhirnya menerima ajakannya untuk tinggal bersama mereka sebagai tebusan atas rasa bersalah Bhiyan.


Ternyata gadis itu masih tahu diri, dia berniat untuk mencari pekerjaan part-time agar kehadirannya tidak terlalu membebani Siapapun di apartemen yang cukup luas ini.


Kembali ke pertanyaan Silvana barusan, Bhiyan hanya mengangguk sebagai jawaban. Sementara gadis itu masih melamun, memikirkan semua hal tentang masa lalunya. Tapi tidak bisa, sekeras apapun dia mengingat, ingatan itu seperti terkubur dalam dan ini rasanya seperti ia baru saja dilahirkan dengan perbekalan berupa jutaan pengetahuan umum.


“Jahat banget ingatannya…” Komentar Silvana. Sebanyak apapun ia kesal kepada gadis itu karena perangainya yang sombong dan angkuh, tetap saja ia merasa iba melihatnya seperti ini.


“Siapa Presiden Indonesia yang ke-3?” Tanya Silvana, berupaya mengecek ingatan gadis itu.


“Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie.” Jawab gadis itu datar.


“Ooo… Bener…”


“Kalau ini siapa?” Tanya Bhiyan menyodorkan foto berukuran 4x6 yang terselip di dalam casing handphone gadis itu. Pertanyaannya ini dibalas dengan gelengan ragu, karena dia yakin dia pernah melihat mereka tapi kapan dan di mana?


“Emang dia kenal sama mereka?” Tanya Rakha.


“Gak tau.” Jawab Bhiyan polos.


“Lah, bego.” Maki Silvana tidak habis pikir.


Mengenai foto itu, itu foto masa kecil Deandra dan kedua saudaranya. Tidak ada yang mengetahui hal itu di sini. Apalagi, karena yang punya foto terpaksa kehilangan ingatannya.


“Ngomong-ngomong… Kita belum bener-bener kenalan. Kenalin, namaku Julian Bhiyantara. Sekarang ini lagi Kuliah semester 2, Fakultas Hukum. Dan mereka berdua sepupuku. Silvana Rayden Achilleo, semester 2 Fakultas Seni Musik dan adiknya, Rakha Sadeli Nataprawira, baru lulus SMA Kedokteran. Kamu mau kuliah jurusan apa Kha?”


“Kedokteran juga lah, masa oleng ke hukum.” Jawab Rakha membuat Bhiyan terkekeh.


“Terus nama kamu… Inget gak?” Tanya Bhiyan hati-hati.


“Enggak. Tapi mungkin clue nya ada di tas aku.” Entah malu karena kosa katanya beda sendiri, entah karena tidak enak, entah karena tertular. Gadis itu pun ikut mengganti kosa katanya seraya membuka tasnya. Di sana ada beberapa dokumen dan surat dengan header yang cukup mencolok. Yaitu Universitas Nusantara.


Silvana mengintip sedikit ketika gadis itu mengeluarkan ijazah SMA miliknya. “Xennora Anesta F… Nama kamu lumayan juga.” Puji Silvana.


“Nah, ada kartu keluarga atau akta kelahiran gak?” Tanya Bhiyan semangat.


Namun saat dicari-cari, hanya ada ijazah asli, dan beberapa surat undangan serta surat rekomendasi di sana.


“Kamu udah daftar Universitas Nusantara?” Tanya Silvana.


“Bukan Van… Dia dapet surat rekomendasi dari sekolahnya… SAN Multi Law Academy… Woww, kamu alumni SAN? Keren banget. Dan dia juga dapet surat undangan dari Fakultas Hukum Universitas Nusantara…” Jelas Bhiyan membuat Silvana dan Theo terdiam.


“Atas nama Xennora? Gak mungkin. Gue gak percaya…” Ratap Silvana. Ia masih mengingat Bagaimana kerasnya perjuangan sepupunya untuk masuk ke Fakultas Hukum UN. Jangankan mendapat surat undangan, diterima dengan nilai raport dan ijazah pun rasanya sudah sangat membanggakan. Karena masalahnya, FH UN hanya menerima sekitar seratus sampai dua ratus mahasiswa baru saja setiap tahunnya.


“Serius Van… Di SAN emang suka ada surat rekomendasi gini ya? Syarat nya apa aja?” Tanya Bhiyan pada Xennora.


“Aku… Gak ingat.” Jawab Xennora pelan. Ah, Bhiyan lupa…


“Ini artinya kamu udah daftar dong ya? Pantesan gak ada kartu keluarga atau seenggaknya fotocopy nya…”


“Aa kenapa senyum senyum?” Celetuk Theo melihat Bhiyan yang tersenyum sendiri.


“Akhirnya ada temen debat….”


“Idih kirain apaan…”


“Julian…” Gumam Xennora.

__ADS_1


“Eh iya?”


“Enggak… Kok rasanya aku bahagia banget bisa denger nama itu…”


__ADS_2