
“Masa? Tapi aku suka sama kakak…”
“Karena aku orang kaya?”
“Suudzon.” Semprot Xennora membuat Julian terkekeh. “Tapi ada benernya sih… Tapi enggak. Gak tau aku nyaman aja sama kakak… Kalau gitu, aku anggap kak Julian keluarga aja deh.” Final Xennora membuat Julian mengalihkan atensi dari handphone nya.
“Kenapa?” Tanya Julian setelah berusaha untuk tidak menanyakan hal itu.
“Siapapun yang bikin aku nyaman bakalan aku anggap keluarga. Lagian kan kakak gak suka aku. Jadi, boleh ya kak?”
Julian hanya bergumam entah itu tanda ia setuju entah tanda jika ia tengah memikirkannya. Tapi Xennora akan anggap itu iya. Xennora melihat photobox di dekat sana, ia ingin sekali mengajak Julian untuk berfoto dengannya. Xennora sudah mengajak semua orang yang pernah pergi ke mall bersamanya untuk berfoto. Dan Julian harus menjadi yang berikutnya. Ia juga akan mengajak Angelyna nanti.
“Kak, foto yuk di sini!” Ajak Xennora semangat dan langsung masuk ke ruangan photo itu. Tapi Julian masih mematung di dekat photobox membuat Xennora bingung, kenapa Julian belum juga masuk. Xennora kembali keluar lalu menarik tangan Julian agar mau berfoto dengannya. “Ayoo kak…”
“Oke, mulai ya? Satu, dua, ti…ga.”
“Kak senyum dong hehe…”
“Kak, pake ini deh.”
“Terakhir kak…”
“Yeay… Hasilnya bagus…” Gumam Xennora sambil melihat-lihat hasil foto tadi sambil melanjutkan langkah mereka menuju bioskop dan menunggu yang lain selesai dengan film mereka. Ada Yohan juga di sana yang tengah membaca buku.
“Yang lain belum keluar kak?” Tanya Xennora sambil duduk di samping Yohan.
“Bentar lagi paling.” Balas Yohan tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku.
“Sen,” Panggil Yohan seraya menurunkan bukunya, membuat Xennora menoleh. “Kira-kira cewek lebih suka apa? Kalung atau gelang?” Tanya Yohan terlihat.
“Hm?” Xennora terlihat terkejut. Ia belum pernah mendengar atau melihat Yohan yang membahas perempuan seperti ini. Biasanya pria itu bahkan tidak pernah tertarik dengan bahasan pacar atau perempuan. Oh, atau mungkin ini untuk ibunya. Tapi masa iya dia tidak tahu menahu tentang barang kesukaan ibunya?
“Relatif sih kak… Ada yang lebih suka gelang, ada yang lebih suka kalung. Tapi kebanyakan kalung sih ya… Buat siapa emang? Pacar kamu ya?”
“Menurut kamu, lebih cantik yang mana?” Bukannya menjawab pertanyaan Xennora, pria itu malah memperlihatkan sebuah gelang dan kalung berbahan emas putih.
“Woahh… Menurutku yang ini sih. Elegan, simple, tapi juga keliatan mahal.” Ujar Xennora sambil menunjuk kalung di tangan kiri Yohan.
“Nama dia siapa?” Tanya Julian pelan yang juga duduk di sisi Xennora.
“Yohan Affandra kak.” Jawab Xennora ikut memelankan suaranya. Julian mengangguk lalu kembali ke posisi semula.
“Kamu pacarnya Sofia bukan?” Tanya Julian tiba-tiba dengan suara yang kembali kencang, membuat Yohan yang tengah melamun kemudian mendongakkan kepalanya untuk menatap Julian. Julian masih ingat dengan ucapan Sofia kemarin. Tentu saja menyusun puzzle nya akan lebih mudah.
“Ah… Kamu udah tau ya?” Gumam Yohan terkekeh. “Iya… Niatnya aku mau minta izin nanti sore.”
“Izin mau ke mana?”
“Izin mau jalin hubungan yang serius sama adik kamu.” Jawab Yohan serius membuat Xennora hampir tersedak ludahnya sendiri. Pasalnya, sahabatnya yang satu ini tidak pernah curhat atau minta saran tentang perempuan, eh sekarang udah mau serius aja. Kan kaget.
Julian juga sepertinya sama, tapi beberapa detik kemudian dia langsung mengontrol ekspresinya. Julian hanya mengangguk sebagai tanggapan. Tiba-tiba, handphone nya bergetar membuat Julian langsung mengeceknya. Ternyata itu adalah pesan dari Edwin.
...Edwin Dery...
__ADS_1
|Ju, lo hutang penjelasan ya ke gue
Julian menghela napas, apa yang harus dijelaskan? Julian setidaknya sudah menuruti ucapan Edwin jika dia harus menyerah. Keadaan tadi hanya kebetulan, dengan timing yang tidak tepat.
^^^Tadi cuma kebetulan, Ed|^^^
|Kebetulan gimana?
^^^Ya... Kebetulan|^^^
^^^Gue nyamperin dia, dia nyamperin gue|^^^
|Gak jelas lo. Ntar ke rumah sakit?
^^^Buat apa?|^^^
|Gue yakin lo udah tau
^^^Iya, gue ke RS nanti|^^^
|Gue tau lo males banget. Tapi keadaannya emang memprihatinkan sih
“A Bhiyan? Ke mana tadi?” Tanya Xennora membuat Julian menyimpan handphone nya.
“Ada urusan di kantor sebentar, yang lain mana?”
“Lagi nonton— Oh, itu mereka.” Balas Xennora ketika melihat teman-temannya sudah keluar dari bioskop.
“Yah, bapak telat ke sini nya...” Ujar Rarisa pura-pura sedih.
“Gak apa-apa, asal traktir makanan habis ini hahaha, oh? Ini siapa?” Tanya Bhiyan ketika melihat kehadiran Angelyna di antara mereka.
“Julian Bhiyantara, salam kenal.”
Namun bukannya balas mengenalkan diri atau bahkan membalas jabatan tangan Bhiyan, Angelyna malah terlihat terkejut. “Kak Bhi...? Kak Juju?!” Pekik Angelyna senang. Bhiyan yang awalnya tersenyum kini membelalakkan matanya terkejut.
“Jina ya?” Tanya Bhiyan ragu, tentu saja, sudah hampir sepuluh tahun mereka tidak bertemu.
“Kak Bhi!!” Pekik Angelyna senang lalu refleks memeluk Bhiyan yang setengah mematung.
“Ya ampun Jina... Kamu ke mana aja?” Tanya Bhiyan sambil mengelus rambut Angelyna pelan.
“Kalian kenal?” Tanya Xennora shok.
“Ini kak Julian yang aku ceritain Sen...” Jawab Angelyna yang membuat Xennora menatapnya tidak percaya. Secepat itu Jina bertemu dengan Julian yang dia cari? Well, tidak secepat itu memang. Tapi maksudnya, baru saja Jina menceritakan soal kak Julian kepadanya tadi pagi, eh sekarang sudah ketemu lagi. Apa Xennora juga bisa menemukan Julian yang ada di mimpinya dalam waktu dekat?
“Dah yok gaes, kita pergi aja, dunia cuma milik berdua.”
...***...
Sesuai dengan apa yang ia beritahu pada Edwin, Julian pergi ke rumah sakit setelah mengantar yang lain kembali ke kampus. Ia berjalan di lorong rumah sakit dengan santai walaupun ia tahu jika saudaranya sedang terluka parah di salah satu ruangan rumah sakit ini.
“Gimana keadaannya bu?” Tanya Julian setelah mendapati Ibunya tengah duduk di depan salah satu ruangan dengan keluarga nya yang lain. Julian menghela napas samar, mereka sungguh rela membuang waktu mereka untuk menjenguknya. Julian bahkan awalnya ingin menolak, mendengar ceramahan si cerewet Cathleen rasanya lebih baik daripada membisu di sini.
“Udah lebih baik daripada tadi pagi.” Jawab Ibunya terlihat bosan juga. Sepertinya hanya ayahnya yang terlihat asik mengobrol dengan saudara-saudaranya di sini, sedangkan para ibu terlihat bosan. Tidak biasanya.
__ADS_1
“Julian boleh masuk?” Tanya Julian membuat Kamila dan Eireen terkesiap menatap pria itu tidak percaya.
“Tumben banget...” Celetuk Eireen.
“Lagi gak mau bahas ya Reen....” Jawab Julian lalu melenggang memasuki ruangan itu tanpa meminta persetujuan siapapun.
Di dalam sana, ternyata tidak hanya ada sang pasien, tapi juga ada seorang polisi berseragam lengkap tengah memperhatikan setiap inci luka yang didapat sang pasien. Polisi itu berbalik setelah mendengar suara pintu yang terbuka.
“Udah gue duga lo bakalan ke sini. Walaupun gak niat.” Ujar Edwin tersenyum melihat kedatangan kawan lama nya itu.
Julian pun tersenyum dan membalas pelukan singkat Edwin. “Juan...” Gumam Julian setelah memperhatikan pasien itu, jelas orang yang sangat dia kenal. “Kenapa lagi dia?”
“Iya. Sepupu lo ini... Dia di serang tadi subuh, kira-kira jam tiga atau empat. Dan keadaannya parah banget.” Jelas Edwin membuat Julian mengangguk. Dia sebenarnya tidak merasa iba akan hal yang dialami oleh sepupu fanatiknya itu, biar bagaimanapun ini konsekuensinya karena bekerja sama dengan FX Movie.
“Siapa yang nyerang?” Tanya Julian.
“Masih diselidiki.” Jawab Edwin singkat. “Ngomong-ngomong... Gimana keadaan Xennora?”
“Baik-baik aja. Dia keliatan lebih ceria dan suka bercanda.” Jawab Julian seadanya.
“She’s getting better?”
“Yeah...”
“Syukurlah.”
“Urusan lo udah selesai di sini? Gue mau keluar, sumpek.” Ujar Julian lalu pergi dari ruangan itu membuat Edwin terkekeh kemudian mengikuti Julian keluar dari ruangan itu.
Seluruh keluarga Julian yang datang langsung berdiri setelah melihat Edwin yang baru saja keluar dari ruangan Juan. Julian menatapnya aneh, tidak percaya jika temannya ini mendapat penghormatan yang lumayan. Sedangkan dia seperti tidak ada harga dirinya di keluarga ini. Bahkan saat Julian sedang serius, Sofia atau Eireen masih bisa menimpali dengan candaan. Menyebalkan.
“Maaf lama, saya terlalu fokus mencocokkan luka korban sampai lupa waktu.” Ujar Edwin tahu diri.
“Tidak masalah, kami juga ingin pelakunya cepat tertangkap...” Balas orang tua Juan.
“Pak Edwin, ada yang mencari bapak...” Ujar seorang laki-laki yang baru datang dan juga memakai seragam polisi. Edwin menatap rekannya itu dengan ekspresi yang seakan bertanya ‘siapa?’
Polisi itu langsung bergeser. Ternyata ada seorang perempuan di belakangnya. Perempuan dengan setelan putih itu tengah menoleh ke belakang seakan mencari temannya. Edwin dan bahkan Julian sedikit terkesiap, padahal sebelumnya Edwin pikir jika orang yang ingin menemuinya itu sedang berada di kantor polisi atau bahkan di lantai dasar rumah sakit. Tubuhnya benar-benar mungil, tapi dia memang tinggi. Temannya itu lah yang sejatinya bertubuh jangkung, setara dengan Julian.
Saat sadar jika di depannya tidak ada polisi yang baru saja mengajaknya ke sini, gadis itu segera berbalik dengan tawa canggung karena ada banyak orang di sini. Ia bahkan tidak tahu satu di antara mereka yang bernama Edwin. Oh tidak juga, ada beberapa orang yang ia kenal di sini, termasuk—
“Kak Julian!” Sapa Xennora sumringah. Seakan mendapat teman saat di ospek empat tahun yang lalu. Julian hanya menatap gadis itu kebingungan. Ia tidak tahu alasan kenapa Xennora rela datang sendirian ke sini, padahal gadis itu bisa saja ikut bersamanya tadi. Julian kan sudah pamit mau ke rumah sakit?
Tak lama, seseorang datang dari belakang dengan langkah cepat. Dia lah yang Xennora cari-cari, Xennora takut Yohan salah lantai dan malah mencari-cari ke mana agaknya Xennora dan polisi itu pergi.
“Pak Edwin, boleh kami berbicara sebentar dengan anda?” Tanya Yohan sopan karena gadis di sampingnya ini belum tahu oknum yang ia maksud.
Edwin yang tengah terhipnotis pun segera menarik kesadarannya kembali. Ia hampir saja menangis saat ini ketika melihat adik perempuan satu-satunya terlihat baik-baik saja. “Oh, iya... Baiklah, kita mengobrol di tempat lain saja.” Balas Edwin lalu berjalan melewati Yohan dan Xennora untuk memimpin mereka menuju tempat yang ia maksud. Tidak bisa dipungkiri lagi kalau saat ini pun Edwin sangat merindukan Xennora. Penampilan gadis itu jauh berbeda sekarang. Terlihat jauh lebih feminim dan anggun walaupun pakaiannya masih kasual.
Yohan pun mengikuti Edwin setelah berterimakasih pada polisi tadi. Xennora dan Yohan memasuki mobil Edwin setelah pemiliknya menjelaskan jika mereka akan mengunjungi Tempat Kejadian Perkara.
“Wah, aku gak nyangka bakalan langsung ke TKP.” Gumam Xennora membuat Yohan tersenyum kecil lalu menggeleng pelan. Olah TKP adalah cita-cita Xennora saat masuk ke Fakultas Hukum.
Edwin berdehem pelan, “Berhubung kalian sudah mendapat hasil otopsi, pasti kalian sudah tahu kalau luka di tangan korban itu dibuat setelah korban meninggal?” Tanya Edwin membuat keduanya mengangguk.
“Nah, kalau ada yang melukai jasad korban, besar kemungkinan orang itu juga yang membunuh korban. Tapi kami tidak menemukan sedik jari apapun di pisau yang dijadikan senjata itu selain sidik jari milik korban. Jadi sampai saat ini pun kami kesulitan untuk mencari pelaku sebenarnya. Saya dan tim saya hanya bisa mencurigai teman-temannya yang menjenguk korban karena kesaksian mereka berbeda-beda.”
__ADS_1
“Tapi apa anda sudah meminta kesaksian Angelyna Anugralia?” Tanya Xennora.
“Sudah, tapi dia tidak mau berbicara sedikitpun.” Jawab Edwin membuat Xennora menatapnya aneh. Tadi pagi bahkan Jina mau-mau saja ditanyai berbagai hal. Atau mungkin gadis itu masih bimbang akan keputusannya untuk jujur?