
Xennora dan Raditya kembali ke Rumah Sakit satu jam kemudian. Itu karena ternyata di dekat Rumah Sakit ini ada pemeran kuliner. Tidak ingin menyia-nyiakan makanan tradisional yang enak-enak, mereka pun mencoba makanan itu satu persatu. Jadi, itu bukan pengganjal perut lagi.
Tapi syukurnya, dokter Gandhi belum kembali untuk mengecek keadaan Angelyna lagi. Satu-satunya dokter di sini adalah dokter muda yang berdiri di seberang tempat Xennora duduk. Dalam satu ruangan itu memang ada banyak ranjang tempat orang sakit. Ada banyak pasien dengan penyakit ringan juga di sini yang tidak memerlukan perawatan menginap.
Xennora mengecek handphone nya yang bergetar, chat dari Ayuna.
...Kak Yuna ITZY :)...
|Sen, di mana? Kok lama?
^^^You^^^
^^^Di RS kak, bentar lagi ke sanaa|^^^
|Oke, btw siapa yang sakit?
^^^You^^^
^^^Saksi kita yang paling jujur kak ^^|^^^
Merasa diperhatikan, Xennora yang sedang memainkan handphonenya menjadi gugup sendiri. Xennora terus menyibukkan dirinya bermain handphone. Sedangkan Radit sepertinya tidak sadar ada yang memperhatikan gadis di sampingnya.
Di seberang Xennora, seorang dokter muda bersurai hitam rapi memang sedang memperhatikan gadis itu. Dia sudah tahu informasinya, dia sudah tahu apa yang tengah terjadi di sini. Tidak salah lagi, Nazril tidak salah lihat. Itu memang Xennora. Sepupu kesayangannya. Nazril tersenyum melihat keadaan Xennora yang terlihat baik-baik saja. Sayang sekali Nazril tidak bisa menangis lalu memeluk gadis itu sekarang. Edwin sudah memberinya peringatan. Herina juga sepertinya tahu itu.
Puas memandang Xennora untuk mengobati rasa rindunya selama empat tahun, Nazril pun mendekati mereka setelah melihat Angelyna yang mulai sadar. “Anda sudah kembali?” Tanya Nazril yang telah berada di samping Xennora secara tiba-tiba membuat gadis yang tengah menanyakan keadaan Angelyna itu terkejut.
“Eh? Ah… Iya…” Balas Xennora lalu memundurkan tubuhnya agar dokter itu dapat memeriksa keadaan Angelyna.
Nazril terkekeh melihat respon Xennora yang sejatinya tidak begitu berubah. Tapi entahlah, suara dokter itu membuat Xennora merasa déjà vu. Xennora menundukkan kepalanya, tiba-tiba terdengar suara tawa anak kecil yang entah berasal dari mana. Kepalanya sedikit berat, tapi Xennora tidak begitu merasa pusing.
“Ish kok ketawa?”
“Rara lucu hahaha…”
“Rara itu cantik, tapi kalau marah nyeremin hahaha…”
“Ra, itu bukan salah kamu… Senyum dong kayak Nana Hehehe…”
“Ra, hahaha liat nih kelincinya lucu banget! Aku beli buat kamu biar gak sedih lagi.”
“Kenapa kamu namain Julio?”
“Julio bisa bikin kamu gak sedih lagi Ra… Julio artinya mensejahterakan kehidupan orang lain hahaha…”
__ADS_1
Kilasan ingatan penuh tawa itu terlintas begitu saja dalam pikirannya. Xennora merasa kepalanya semakin berat, ia menunggu sampai semuanya selesai, sampai otaknya beristirahat. Setelah itu Xennora menggelengkan kepalanya pelan. Mencoba menarik dirinya kembali ke dunia nyata.
“Saya diperintahkan dokter Gandhi untuk memeriksa pasien bernama Angelyna Anugralia karena dokter sedang menjalankan operasi korban kecelakaan.” Jelas dokter itu. Astaga, Xennora sepertinya melewatkan beberapa percakapan.
“Apa dia bisa pulang hari ini?” Tanya Radit yang terlihat kagum melihat bagaimana Nazril bisa mengerti dengan nomor-nomor yang ada pada bedside monitor.
“Karena keadaan nya juga sudah membaik, pasien bisa pulang.” Jawab Nazril membuat Xennora berterimakasih. Mimpi buruknya yang mengatakan Angelyna hilang ingatan telah sirna.
“Xennora… Boleh gak aku nginap di rumah kamu sementara ini?” Tanya Angelyna pelan yang membuat Xennora sedikit terkejut.
“Hm? Emangnya kenapa? Kok tiba-tiba?”
“Perasaanku… Gak enak aja…” Balas Angelyna lemah.
“Oh yaudah. Kakak bisa tinggal sama aku sampai kasus ini selesai. Ini juga untuk melindungi saksi. Tapi… Aku gak tinggal sendiri… Gak apa-apa?” Tanya Xennora membuat Angelyna terkekeh pelan.
“Justru kalau kamu tinggal sendirian aku bakalan ngerasa aneh dan khawatir…”
“Tenang aja. Berkat kasus ini aku jadi lebih waspada sama antrovitoksin.”
“Antrovitoksin?” Celetuk Nazril pelan namun Xennora masih dapat mendengarnya.
“Oh? Dokter tau racun itu?” Tanya Xennora semangat.
“Emm… Iya, sedikit. Racun penyebab kematian massal 2007 yang lebih mematikan daripada sianida dan arsen.” Jelas Nazril membuat Xennora tersenyum.
Tiba-tiba, gadis itu memberikan handphone nya pada Nazril membuat pria itu mengernyit bingung.
“Tolong simpan nomor telepon dokter… Kayaknya saya butuh lebih banyak informasi dari dokter.” Balas Xennora mengerti akan tatapan bingung Nazril.
“Ah… Baiklah.” Nazril pun menyimpan nomor ponselnya. Di dalam hati ia tersenyum senang, setidaknya Nazril dapat menjelaskan hubungannya dengan Xennora pelan-pelan. Menjelaskan semuanya dengan gadis itu, sampai Nazril mendapatkan kepercayaan Xennora, Nazril akan menceritakan tentang kembaran Xennora yang telah meninggal, serta kejadian-kejadian memilukan di masa lalunya. Xennora harus berdamai dengan masa lalunya. Ia yakin selama ini Xennora hidup dengan rasa bersalah yang ia sendiri tidak tahu ia merasa bersalah untuk siapa, dan kenapa ia merasakan hal itu.
“Dokter Nazril Arkatama? Namanya bag—” Kepala Xennora kembali terasa berat, ia menunduk, menahan untuk tidak menjerit.
“Anak dari adiknya mama Narissa?”
“Iya, aku Nazril Arkatama, salam kenal ya? Siapa nama kamu?”
“Aku gak suka mama Narissa, aku gak suka keluarga mama Narissa. Itu artinya, aku juga gak suka sama kamu. Kenapa aku harus kenalan sama orang yang gak disuka?”
“Termasuk kakak-kakak kamu sendiri dong?”
“Ck, jangan ngikutin aku!”
__ADS_1
“Bahaya, hey… Laut nya lagi pasang…!”
“Haii! Kamu inget aku? Nazril Arkatama!”
“Kalau kamu lupa… Namaku Nazril Arkatama yaa!”
“Oh? Kamu gak inget ya? Gapapa… Aku bisa ngenalin diri sebanyak yang aku mau. Nama aku… Nazril Arkatama.”
“Ck, aku gak se pikun itu sampai setiap ketemu, kamu harus terus ngenalin diri kamu dulu.”
“Akhirnya…”
“Nazril itu nama yang susah di sebut. Aku males panggil nama kamu.”
“Kamu bisa panggil Nana atau apa aja deh yang mudah.”
“Kamu harus selalu bawa kotak P3K. Soalnya kamu agak ceroboh…”
“Kamu, kamu… Sini deh!”
“Ahh… Aku capek panggil kamu-kamu terus. Emangnya nama kamu sejelek apa sih? Nama kamu apa?”
“Namaku Xennora Anesta.”
“Loh, itu bagus loh! Kenapa gak dari awal aja Rara… Pake nunggu seminggu dulu baru bilang…”
“Gimana sekolah di Jakarta Ra?”
“Ya gitu… Lumayan beda sih…”
“Udah empat tahun nih, lo punya pacar gak? Hahaha…”
“Gue puya sepupu kayak lo aja udah ngerasa punya pacar.”
“Ah!” Pekik Xennora setelah berusaha membawa dirinya ke kenyataan membuat tiga orang di sekitarnya terkejut. Untung saja handphone Xennora langsung ditangkap oleh Nazril. Napas gadis itu masih tidak teratur, bahkan Radit sudah berencana memeriksakan gadis itu mumpung sedang berada di Rumah Sakit, khawatir jika dia terlalu stress karena kasus ini. Xennora mendongak menatap Nazril yang terlihat cemas.
“Dokter… Keluarga ku bukan?” Tanya Xennora pelan karena pertanyaannya takut malu-maluin. Nazril terkejut sendiri, daya ingat Xennora sebenarnya cukup bagus.
Refleks, Nazril mengangguk lalu memeluk sepupu kesayangannya itu dengan erat. Xennora masih mematung, tidak percaya bahwa dokter di depannya memang keluarganya. Lebih tepatnya sepupunya. Matanya berkaca-kaca, Xennora balas memeluk Nazril dengan tangis haru. Akhirnya setelah menunggu dan mencari selama empat tahun, seseorang datang dan dengan mudahnya mengembalikan semua kenangan itu. Keluarganya, sepupunya. Nazril Arkatama.
“Kamu inget Ra?” Tanya Nazril yang juga terisak. Xennora rasanya tidak bisa mengeluarkan suaranya, ia terlalu bahagia, yang ada nanti pasti hanyalah suara tangisan. Xennora pun mengangguk dengan air mata yang tidak bisa terbendung lagi. Menemukan seorang anggota keluarga rasanya sesenang ini.
Radit terlihat terkejut sekaligus senang. Ia masih tidak percaya dokter itu adalah adalah keluarga temannya sendiri. Rasanya itu terdengar sangat keren, apalagi mereka berdua memang terlihat sangat cocok. Sama sama good looking. Ia ikut bahagia Xennora akhirnya menemukan keluarganya. Walaupun sering mengolok-olok gadis itu, Radit masih merasa iba melihatnya menangis karena gagal untuk berusaha mengingat keluarganya. Angelyna yang melihat interaksi Xennora dan keluarganya juga iri sendiri. Untuk orang-orang yang melihat sekilas pasti sudah menganggap mereka pasangan kekasih yang baru bertemu setelah sekian lama.
__ADS_1
Melihat mereka berpelukan seperti ini, mengingatkannya dengan masa lalunya. Saat ia berusia sebelas tahun. Ya… Dua belas tahun yang lalu?