
“Kak diem ish…”
“Kak, ada Xennora sama kak Julian…” Bisik Antha pelan.
“Ya emangnya kenapa? Kita udah baikan kok, ya kan Sen?” Tanya Fadhil merilik Xennora yang tengah mengetikkan sesuatu.
Xennora hanya bergumam meng-iya-kan tanpa melepaskan pandangannya dari laptop. Berbeda dengan Xennora yang sepertinya tidak terlalu terganggu dengan adanya Antha dan Fadhil, Julian sepertinya sangat merasa iri melihat mereka berdua. Julian menatap gadis di sampingnya, Xennora, berharap kali ini gadis itu segera peka.
“Karena sampai sekarang keberadaan Deandra masih misterius, gimana kalau kita kunjungin Rani aja dulu?” Tanya Xennora kepada Julian. Xennora terdiam ketika menyadari Julian yang terus menatapnya. Tanpa basa basi, Xennora menyentil pelipis Julian membuat pria itu meringis kesakitan. Lalu dengan wajah polos seakan tak melakukan hal apapun, Xennora kembali melirik laptopnya.
“Jadi gimana menurut lo?” Tanya Xennora final. Namun, Julian dengan tangan yang masih memegang pelipis hanya dapat memandang Xennora malas. Ada kata yang kurang dalam pertanyaan Xennora.
“Kak?” Lanjut Xennora membuat Julian tersenyum.
“Satu hal yang perlu lo tau. Rani udah dipindahin ke Bandung. Dan kita gak tau dia tinggal di mana sekarang. Akan lebih susah kalau harus nanya sama Polisi karena mereka pasti gak akan jawab.” Ujar Julian.
Xennora menyenderkan kepalanya di bahu sofa yang empuk. Ia menghela napas lelah. Namun, Xennora mengingat satu hal, orang yang menelepon ayahnya beberapa minggu yang lalu.
“Waktu itu gue gak sengaja denger jaksa lagi teleponan. Gue gak tau nama peneleponnya, tapi yang pasti orang itu Deandra atau Devan, karena jaksa sendiri yang bilang ‘kau pelaku pembunuhan massal 2007, iya kan?’. Itu artinya…”
“Mereka gak mati? Melainkan berhasil melarikan diri?”
“Yep, lo pasti tau ada hal-hal yang aneh waktu kecelakaan itu terjadi?”
“Tentang ban yang licin padahal gak lagi hujan dan jalanannnya pun kering?”
“Itu salah satunya. Sebenernya masih ada lagi. Pertama, kalau mereka beneran hanyut di sungai, pasti jasadnya bakalan ditemuin. Kenapa? Dan di mana? Tepatnya di AFS, alat filter sampah yang letaknya di deket muara sungai. Kalau mereka gak hanyut melainkan tenggelam, pasti dalam waktu beberapa hari aja, mayatnya udah mengapung di permukaan air. Teori pertama gak dicoba karena gue yakin Polisi lupa kalau di sana ada AFS, soalnya letaknya emang tenggelam, apalagi karena air yang lumayan keruh waktu itu, Jaring AFS gak akan keliatan alias tenggelam.”
“Satu lagi… Kalau misalkan ledakan itu berasal dari mobil Polisi… Maka, gak akan ada satu Polisi pun yang selamat.”
“Tunggu… Maksud lo… ledakan itulah yang bikin kecelakaan?” Tanya Julian memperjelas.
“Exactly, kronologinya kayak… Mereka udah ngerencanain sesuatu, mereka nyuruh bawahannya untuk meletakkan bom tersembunyi di deket jembatan itu. Waktu mobil Polisi ngelewat, bom diaktifkan tanpa timer. Satu mobil Polisi yang paling depan terpental langsung jatuh ke sungai, sedangkan tiga lagi masih ada di jalan. Tapi karena kaget, pengemudi gak bisa ngendaliin mobilnya dengan tenang, mereka berbelok gak teratur sampai nimbulin bekas hitam di jalan, dan akhirnya sisa mobil itu tabrakan. Ada dua mobil yang masih di jalanan. Salah satunya yang dinaiki Deandra sama Devan. Mobil mereka berdua udah ada di ujung jembatan karena itu sesuai dengan rencana mereka. Jadi, mereka bakalan gampang kaburnya. Tapi sayangnya, satu mobil lagi remnya blong dan menyenggol mobil mereka berdua. Akhirnya... Kalian pasti ngerti.” Jelas Xennora dengan memberikan beberapa bukti seperti mobil yang remnya blong, mobil yang penyok karena ‘saling bertubrukan’, bahkan letak keempat mobil itu saat pertama kali ditemukan oleh tim penyelamat.
Sunyi.
Mereka bertiga masih mencoba mencerna kronologi kecelakaan versi Xennora.
“… Lo ada di lokasi kejadian ya?” Tanya Julian ngawur.
“Enggak, gue cenayang, makanya bisa tau.” Jawab Xennora asal.
“Jadi intinya, mereka berdua emang masih hidup ya?” Tanya Fadhil.
__ADS_1
“Kemungkinan. Makanya gue pengen mastiin. Bisa aja Rani tau rencana mereka apa. Jadi kayaknya, abis pembagian ijazah minggu depan, gue bakalan pergi ke Bandung dan nyari dia.” Jelas Xennora.
“Lo yakin? Bandung bukan tempat sekecil itu.” Julian memperingatkan.
“Lo punya ide yang lebih bagus?” Tanya Xennora. “Hati-hati aja, belakangan ini bumi jadi tempat yang gak aman.” Lanjutnya.
“Tapi bisa aja kan Rani emang gak tahu menahu tentang rencana mereka setelah ini?” Julian masih tidak mau kalah. Ia bisa saja ikut menemani Xennora ke Bandung, hanya saja minggu depan Julian akan lebih sibuk mempelajari lebih dalam struktur-struktur di kantor keluarganya itu. Julian baru akan pindah ke Bandung beberapa minggu lagi, saat kemampuannya mengendalikan perusahaan sudah stabil.
“Manusia kan sulit berubah. Kalau dia gampang dihasut ya… Yaudah, dia gak bakalan berubah semudah itu.”
“Lo gampang berubah. Kemarin kemarin mood banget, sekarang judes.”
“Itu artinya lo gak tau gue.”
“Emang. Sama halnya dengan mencari harta karun dan jalan keluar dari labirin yang ditutupi kabut tebal. Gue gak pernah bisa ngenalin lo. Tapi gue juga gak bisa berhenti penasaran sama lo… Gue harus gimana?” Tanya Julian seraya melihat ke arah langit-langit rumah Antha. Bahkan sepertinya Xennora dan Julian lupa jika ada dua orang yang tengah menahan gemas dan senyuman di depan mereka.
“Just find the way out.” Balas Xennora singkat, masih berkutat dengan laptopnya.
“Tha, kita jadi nyamuk gak sih?” Bisik Fadhil.
“Biarin lah kak, tonton aja dulu. Lagi seru ini.” Balas Antha ikut berbisik pelan.
“Loh, ulangan kenaikan kelas minggu depan Tha? Berarti barengan sama pembagian ijazah kelas 12 dong ya?” Tanya Xennora saat melihat kalender di laptopnya. Antha hanya meringis ketika ingat bahwa minggu depan sudah ulangan.
“Hehe… Iya…” Balas Antha.
“Kebiasaan.” Gumam Xennora.
“Yaudah tunggu apa lagi? Belajar sana. Mumpung ada banyak mentor di sini.” Perintah Fadhil.
Dengan sedikit terpaksa, Antha mengambil beberapa buku di kamarnya. Buku catatan dan buku latihan soal. Ia pun mulai membuka dan membaca buku-buku itu. Dibantu Fadhil yang menjelaskan jika ada yang tidak Antha mengerti.
“Tugas praktek lo udah beres Sen? Udah disetujui?” Tanya Julian memecah keheningan di antara mereka berdua.
“Udah, kerja keras gue sampe mimisan masa gak bisa lolos sih haha…” Balas Xennora.
“Iya juga ya, sampai susah banget ngajak ke kantin bareng doang. Oh?! Lo pilih kasus kecelakaan ini ya makanya lo tiba-tiba bahas tadi?!” Tebak Julian.
“Wah… Kak Julian pinter ternyata. Calon direktur hm?” Puji Xennora namun tatapannya masih terfokus ke laptop.
“Ya… Gue juga mau bahas sesuatu pas kita ketemuan kayak gini…. Kayaknya gue bakalan urus cabang perusahaan yang di luar negeri deh buat beberapa tahun, sambil kuliah. Mungkin gue bakalan pindah ke Jepang atau Eropa. Dan keluarga gue yang lain bakalan pindah ke Bandung..."
“Uh huh… Ya terus? Apa urusannya sama gue?” Tanya Xennora tak acuh.
__ADS_1
“For your information aja sih, siapa tau lo nyari-nyari gue nanti pas gue udah pindah.”
“Thanks for your information, sir.” Ujar Xennora seraya menatap Julian singkat. “Kalau lo gak kemana-mana gue lebih berterimakasih.” Lanjutnya dengan suara yanag lebih pelan sampai tidak ada seorangpun dari mereka bertiga yang mendengarnya.
“Gue gak mau pindah Sen…. Gue gak mau kehilangan dia.” Ujar Julian lelah, ia sekali lagi menatap langit-langit rumah Antha yang sederhana.
“Then, you can do it. Gak usah pindah kalau lo nya aja gamau, kak. Gak betah nantinya. Apalagi kalau lo gak bisa hidup tanpa dia.” Jawab Xennora seadanya.
“Tapi dia yang nyuruh gue nyari jalan keluar. Find the way out. Gue tau jalan keluarnya, tapi gue terlalu sedih kalau harus ngelewatin jalan itu.” Balas Julian kemudian menunduk, menatap gelas yang dipegangnya sendu.
Okay, kini Xennora sadar siapa yang Julian sebut dengan someone special. Tentu saja, Xennora tidak akan melupakan perkataannya semudah itu.
“And then… Apa yang bakalan lo lakukan kalau dia nyuruh lo biar gak pergi. Dia menyesali semua ucapannya, dan dia ngaku kalau dia sangat butuh lo? What would you do?” Tanya Xennora sambil menatap Julian yang kini mendongak menatapnya juga.
“Apa yang lo pikirin? Pastinya gue seneng banget lah! No doubt!"
Xennora hanya mengangguk membuat keyakinan Julian yang mengatakan jika Xennora sadar, berkurang. Kemudian Julian menghela napas kecewa. Xennora hanya menanyakan suatu kemungkinan. Bukan berarti Xennora sadar jika Julian tengah membicarakannya. Julian sudah tahu, dia sangat hapal jika Xennora tidak akan sepeka itu.
“Jangan kemana-mana. Gue butuh lo di sini. Maaf… Gue sadar kok selama ini.” Ujar Xennora yang pastinya membuat Julian terkejut.
“Eh… Maaf?” Tanya Julian ingin memastikan.
“Itu yang mau gue ucapin. Tapi ini kan hidup lo, kak. Lo berhak pergi ke luar negeri kapanpun. Lo berhak lanjut kuliah ataupun ngurus perusahaan. Ya terserah kak Julian. Gue harap, gue gak jadi alasan yang menghambat lo dan cita-cita lo, kak.”
Benar, insting Julian benar. Xennora sadar apa yang Julian maksud beberapa menit yang lalu. Julian tersenyum, “Thanks… Makasih banyak Sen… Sekarang gue punya alasan kuat kenapa gue harus menetap di negeri ini…”
“Bukan, kak… Gue ngerasa—“
“Menghambat gue sama cita-cita gue? Cuma satu jawabannya. Enggak.”
Xennora terlihat masih meragukan jawaban itu. Ia melamun, memandang laptop nya dengan tatapan kosong. Julian memang tidak terlihat sedang bercanda. Tapi entahlah, Xennora merasa bersalah di sini. Jelas Julian mengatakan jika akhirnya Julian memiliki alasan kuat untuk tetap berada di sini. Dalam artian Julian tidak akan pergi ke luar negeri, dan tidak akan belajar di sana. Ada dua kemungkinan jika Julian masih berada di sini. Ia akan meneruskan perusahaan keluarganya, atau ia akan melanjutkan pendidikannya di sini. Mau dibandingkan seperti apapun, pilihan pergi ke luar negeri masih lebih baik untuk karir Julian daripada menetap.
“Gue serius… Jadi gue mohon… Gue mohon tolong percaya sama gue, dan jangan ngerasa bersalah, please…” Lanjut Julian terdengar lirih. Untuk yang satu ini Xennora dapat memastikan jika perkataan Julian tulus. Jujur atau tidak, yang penting tulus.
"Satu syarat, semuanya tergantung keputusan orang tua lo kak, gue gak berhak sih sebenernya..."
“Ekhm… Maaf nih, bukannya mau ngeganggu, tapi makan malam udah siap. Ayo makan dulu Sen, Kak Julian.” Interupsi Antha yang datang dari arah dapur. Lihat saja, saking seriusnya, Xennora dan Julian tidak sadar jika Antha dan Fadhil pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam beberapa menit yang lalu.
“Ah… Iya, makasih loh tante…” Ujar Julian seraya memasuki area dapur, menyusul Fadhil yang tengah menyusun piring.
Antha terdiam melihat Xennora yang menatap laptop di depannya kosong. Padahal laptopnya hanya menampilkan gambar hujan panas, tidak ada sesuatu yang spesial. “Sen… Lo kenapa deh?”
“Ini… Di mana?” Tanya Xennora menunjuk foto itu. Salah satu foto yang baru saja di upload selebriti Korea favorit Antha minggu lalu dan Antha simpan karena foto nya sangat bagus.
__ADS_1
“Ini… Ya di Korea Selatan sih kayaknya…” Jawab Antha bingung.
“Itu… Deandra sama Reydevan bukan sih?” Tanya Xennora sambil menunjuk pojok kiri bawah foto.