The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Lie


__ADS_3

“Ada apa? Mau nanya tentang Kira?” Tanya Choi Hana tepat sasaran walaupun Radit atau Xennora belum mengutarakan niat mereka.


Xennora mengurai rambut brunette sepundak nya itu. Memakai rok span dan jas berwarna putih dengan kemeja dan heels biru tua berkilau. Begitu pula dengan Radit, pria itu juga memakai setelan berwarna putih namun kemeja dan septu pantofel berwarna hitam. Terlalu bosan menggunakan setelan hitam karena terlalu suram.


“Ekhm, iya. Apa kamu beli obat pereda demam sirup?” Tanya Radit.


“Iya.”


“Bukankah untuk orang dewasa yang diberikan itu obat tablet?”


“Aku yang meminta apotekernya untuk memberikan obat sirup. Kira tidak bisa memakan obat tablet…” Ujar Hana sendu. Sepertinya ia sudah merindukan sahabatnya itu.


“Ohh… Baiklah kalau begitu… Kami hanya tidak bisa menemukan botol obat nya di apartemen korban…”


“Oh iya kah? Bagaimana bisa…” Hana terlihat terkejut. “Apa ini sebenarnya kasus perampokan?” Tanya Hana dengan raut wajah terkejut campur khawatir.


Xennora menggeleng pelan. “Tidak ada barang hilang. Sangat tidak mungkin perampok datang cuma buat mencari obat pereda demam.”


“Lalu bagaimana kronologi saat kalian mendengar suara tangisan?” Tanya Radit.


“Suara tangisan apanya?” Hana terkekeh pelan. “Apartemenku dilapisi peredam suara… Aku bahkan tidak bisa mendengar suara adzan jika jendela nya benar-benar tertutup. Padahal masjid berada tepat di samping apartemen.”


“Lalu, apa yang kamu lakukan di depan pintu saat yang lain tidur?” Radit mulai kebingungan.


“Di depan pintu? Aku gak tau… Yang jelas waktu aku bangun, aku langsung melihat Emily yang terlihat akan keluar dari apartemen…” Hana juga kini terlihat kebingungan.


“Sebentar… Coba baca ini. Apakah semua kronologi nya benar?” Xennora menghadapkan laptopnya kepada Hana. Gadis itu membaca dengan cepat untuk ukuran foreigner.


“Ah… Ini bener… Kecuali kronologi di mana ada suara tangisan dan Emily melihatku berdiri di depan pintu untuk mengecek suara tangisan… Saat aku dan Angelyna mengecek apartemen Kira, itu juga Emily yang mengusulkan karena dia yang mendengar suara tangisan. Aku sempet ragu, darimana dia denger suara tangisan itu? Kok bisa? Tapi ya sudah, Emily menyuruh kita untuk mengecek, dan dia sendiri mengecek seluruh ruangan apartemenku. Aku sempat mengira dia indigo, Angelyna atau Jina juga terlihat ketakutan saat itu… Emily terlihat seperti orang kesetanan…” Hana memberikan tatapan menerawang seakan pikirannya tengah memutar kejadian di masa lalu.


“Benar juga… Dia kan mengidap halusinasi…” Gumam Raditya setelah mengingat sesuatu.


Xennora bimbang, ia tidak bisa mempercayai seseorang begitu saja saat ini. Ia tidak tahu siapa yang jujur dan siapa yang berbohong. Walaupun begitu, Hana jelas terlihat lebih meyakinkan daripada Emily yang terlihat gugup kemarin. Apalagi fakta bahwa Emily memang mengidap halusinasi, membuat Xennora sedikit yakin jika gadis itu hanya mengarang cerita. Atau mungkin… Ternyata dia lah yang telah memberikan racun itu untuk Kirania?


...***...

__ADS_1


“Ini tempatnya?” Tanya Radit seraya memperhatikan bangunan berbentuk kamar kos di depan mereka.


“Iya… Ayo.” Xennora menyimpan kertas alamat itu di saku jas nya lalu mengetuk pintu kosan bernuansa pastel di depannya. Tak lama, seorang wanita seumuran Ibu nya Bhiyan keluar dengan wajah terkejutnya karena melihat dua orang berpakaian rapi di depan pintu.


“Pagi, bu… Kami mau bertanya, apa ada yang namanya Angelyna Anugralia di sini?” Tanya Xennora ramah.


“Iya, ada… Kalian siapa ya?”


“Perkenalkan bu, saya Xennora dan ini Raditya. Kami mendapat tugas untuk menyelidiki kasus bunuh diri minggu lalu, dan kami membutuhkan pernyataan dan kesaksian dari saudari Angelyna Anugralia… Apakah boleh bu? Saya janji ini tidak membutuhkan waktu lama…”


“Boleh kok, boleh… Ayo masuk. Kamar Jina yang nomornya 14 ya, saya mau pergi dulu.”


“Iya bu, hati-hati di jalan…” Balas Raditya saat Ibu pemilik kosan tadi pergi melewati mereka.


Sekali lagi, Xennora mengetuk pintu kamar milik Angelyna yang tidak memerlukan waktu lama, seorang gadis dengan rambut panjang dan lurus membuka pintu tersebut.


Kini, Xennora dan Radit tengah duduk ruang tengah rumah itu. Setiap kamar memang ada di dalam sebuah rumah yang besar ala rumah milik keluarga besar di India. Ini membuat suasananya lebih hangat dan kekeluargaan. Angelyna tengah menyiapkan minuman untuk mereka.


“Kalau kesaksian dia bikin tambah pusing, aku mau nyerah aja deh…” Celetuk Radit lemas.


“Yep, ngomong-ngomong… Kapan kamu mau kerja lagi? Fans kamu nungguin tuh di kafe.”


“A Bhiyan ngelarang aku kerja dulu… Buat fokus sama proyek ini.”


Tak lama, Jina datang membawa tiga gelas teh untuk mereka. “Kalian… Mau bertanya tentang kasus Kira?” Tanya Angelyna saat dia sudah duduk di hadapan Radit dan Xennora.


Xennora yang masih pusing hanya mengangguk. “Bisakah saya percaya dengan cerita mu ini?”


“Umm… A-aku tidak bisa berbohong… Kalau aku berbohong, akan ada hal buruk yang terjadi pada diriku. Dan itu selalu berbeda-beda…” Ucap Angelyna yang sedikit memelankan suaranya membuat Xennora dan Radit menatapnya tidak percaya. Orang-orang seperti inilah yang dibutuhkan seluruh dunia.


“Serius?” Tanya Xennora tidak percaya.


“Keren…” Gumam Raditya.


“Psemaphobia?”

__ADS_1


“Apaan tuh?”


“Fobia berbohong.”


“Pinocchio gak sih?”


“Iya, bedanya dia gak cegukan, tapi kayaknya ini bisa lebih fatal…”


Angelyna menatap kedua orang di depannya cemas. Sebelumnya, ia belum pernah menceritakan hal ini kepada orang lain. Tapi dia sangat ingin pelaku sebenarnya tertangkap. Dengan cara meyakinkan Jaksa-jaksa itu seperti ini, dirinya akan mendapat kepercayaan dari mereka.


“Ah… Oke-oke… Kalau gitu kita mulai, kita cuma perlu jawaban paling jujur atas beberapa hal ini. Saya minta kamu menjawabnya dengan spontan.” Ujar Radit yang langsung dibalas anggukan dari Angelyna,


“Saat kamu baru bangun di apartemennya Choi Hana, siapa yang ada di depan pintu? Hana atau Emily?”


“Emily.” Jawabnya spontan. Tak lama, kepalanya terasa pusing, telinganya berdengung. Rasanya sedikit menyakitkan, Angelyna menutup telinganya takut, membuat Xennora dan Radit menghampirinya dengan khawatir. Namun setelah menyadari sesuatu, Xennora menatap Angelyna datar. Ia kembali duduk di tempatnya tadi membuat Radit menatapnya aneh.


“Udahlah, gak perlu bohong kayak gitu. Saya yakin Tuhan memberikan kamu sindrom ini untuk membantu kita.” Ucap Xennora lalu meminum teh nya santai, membuat Angelyna menatapnya heran setelah rasa pusingnya mereda.


“Apa sikap anda memang begini?”


“Begini apanya?” Tanya Xennora tanpa menatap Angelyna dan malah sibuk mengagumi rasa teh yang Angelyna buat.


“Gak tau diri?” Celetuk Angelyna membuat Radit yang masih ada di sampingnya hampir tertawa lepas. Spontan, Xennora menyimpan gelas teh nya lalu memperbaiki cara duduk dan juga merapikan pakaiannya.


“Gak usah merasa bersalah… Kamu bener kok. Dia orangnya gak tau diri.” Balas Radit lalu kembali pindah ke tempatnya.


“Kalau gitu… Bisa jawab pertanyaan tadi? Dengan jujur.” Ujar Xennora.


“Ekhm… Sebenarnya aku baru bangun saat Hana dan Emily sudah membuka pintu depan. Aku langsung mendekati mereka saat Hana bilang dia mendengar suara tangisan.”


“Oh… Ada satu hal yang mau aku bahas. Tentang obat yang dibeli Hana. Aku bekerja selama tiga tahun menjadi seorang apoteker, dan sesekali ditunjuk untuk mengawasi racun-racun di lab pusat, termasuk sampel Antrovitoksin yang ditemukan beberapa tahun yang lalu. Saat aku memasakkan bubur untuk Kira, aku sempat melihat cairan itu secara jelas walaupun botolnya berwarna gelap. Aku mengenal kekentalannya, cairan itu juga terlihat tidak berwarna. Aku masih bisa melihat dengan jelas sendok di belakang botol itu. Dalam sekali lihat pun aku sudah tahu apa isi sebenarnya dari botol itu. Antrovitoksin, cairan itu lah yang membuat kedua orang tua ku meninggal. Aku mengabaikan botol itu sebentar untuk menyajikan bubur buatanku tadi. Saat aku melewati meja makan, aku langsung mengambil botol itu untuk ku hancurkan di belakang gedung, aku juga membakarnya sampai sepertinya sudah tidak menyisakan apa-apa lagi.”


“Tapi Kira bunuh diri malam harinya… Bikin aku sadar kalau dugaanku mengenai racun itu akan diberikan pada Kira salah. Tapi aku masih merasa lega. Si pemilik botol itu tidak jadi membunuh ku atau temanku malam itu. Jadi hanya ada satu orang yang kehilangan nyawa…” Terlihat kesedihan di mata Angelyna saat membahas sahabatnya yang sudah meninggal itu.


“Tapi kamu tau? Kirania tidak meninggal karena bunuh diri, tapi dia meninggal karena mengkonsumsi antrovitoksin…”

__ADS_1


__ADS_2