
“Jadi gimana? Lo bilang ke kak Julian kalau lo pernah suka sama dia gak?”
“Dih tau dari mana lo? Enggak lah gila, mana mungkin gue se frontal itu. Gak tau malu banget.”
“Yaelah wajar kali Ra… Anak muda kan perasaannya emang labil, dia pasti ngerti.”
“Jadi, lo juga pake prinsip itu pas nerima kak Fadhil?”
“Hmm hehe lo emang paling ngertiin gue…”
“Emang ya… Ngurusin cowo tuh gak akan ada habisnya huhuu… Gue masih ngerasa bersalah loh ini Sen…” Lanjut Antha.
“Ck, udah deh ah, lupain aja. Cinta monyet itu, geli gue nginget nya juga. Lo tau? Gue kayak orang gila nyempil di tengah-tengah kak Fadhil sama temennya, mana sok polos lagi ARGGH Xennora… Bisa-bisanya lo…” Gumam Xennora jengkel.
“Gue udah gak aneh sih sama tingkah gila lo… Oh iya, kabar si secret admirer itu gimana?”
“Ya… Masih aktif sampai sekarang. Masalahnya ya Tha, bunga mawar biru kan mahal ya, langka juga. Dia keluar modal banyak banget astaga gue ngerasa bersalah… Bay the way, bunga nya gue tanam di kamar sama halaman belakang haha lumayan lah.”
“Gak usah ngerasa bersalah deh, dia kan sukarela kirim bunga nya. Emang bener-bener Setiap hari kirim bunga mawar biru itu? Waktu lo gak masuk kelas, gak ada tuh gue nemu bunga nya.”
“Kadang itu bunga mawar putih biasa yang dikasih tinta biru sih… Tapi gue apresiasi usahanya sampai bela belain ngecat bunga. Kalau waktu gue UN itu, dia kirim di bangku ujian gue langsung… Menurut lo, gila gak sih?”
“Wah… Gila banget, sampai tau lo ikut UN… Gue aja gak tau. Tapi emang lo gak pernah penasaran sama siapa pengirimnya?”
“Ya kalau dibilang penasaran atau Enggak, pastinya penasaran lah Tha… Mawar biru tuh melambangkan misteri dan keunikan karena emang susah didapetin, dan—“
“Gak salah sih lo suka bunga itu, makna nya aja sama kayak lo. Misterius dan unik.”
“Exactly, tapi ada makna-makna lain yang bikin gue penasaran sama siapa pengirimnya. Apa dia ngirimnya asal-asalan, atau sesuai dengan bunga kesukaan gue, atau emang dia tau makna dari bunganya. Mawar biru… Simbol kemustahilan… Sesuatu yang tidak biasa… Sesuatu yang tidak bisa ditebak… Simbol kekhawatiran, simbol kesempatan, dan… Cinta pertama…” Xennora sedikit terkekeh Ketika mengucapkan dua kata terakhir… Cinta pertama.
Entah berhubungan atau tidak, Antha jadi mengingat salah satu ucapan yang ia dengar beberapa jam yang lalu.
“Sama halnya dengan mencari harta karun dan jalan keluar dari labirin yang ditutupi kabut tebal. Gue gak pernah bisa ngenalin lo.”
“Gue… Kayaknya punya satu orang yang karakteristiknya nyambung sama bunga mawar biru itu…”
“Siapa?”
Antha membuka mulutnya, bersiap mengatakan jawabannya, tapi kemudian ia terhenti menatap Xennora dengan senyum teduh. “Lo harus nyari tau sendiri. Gak akan seru kalau berita penting didapat dari orang lain, bukan kerja keras sendiri.”
Xennora menghela napas lelah. “Yang pasti gak mungkin kak Julian.” Balas Xennora tidak peduli. Karena ia yakin orang yang Antha maksud adalah Julian.
Antha mengangkat sebelah alisnya. “Hm? Apa yang bikin lo segitu yakinnya?”
“Apa lagi? Jelas-jelas dia tuh tipe orang yang blak-blakan, gak mungkin segala ngirim-ngirim bunga kayak gini. Mana modal banyak.”
“Really? Kayaknya lo tau banyak ya tentang kak Julian?”
“Eh? Gak juga sih… Dia gampang ditebak.”
“Wah… Seriusan? Kalau kak Julian gampang ditebak, terus kenapa lo baru tau kalau dia suka sama lo beberapa minggu yang lalu? Bukannya kak Julian udah suka sama lo lima tahun yang lalu ya? Wahh… Xennora Anesta Fachrunaldo… Kemana aja lo?”
__ADS_1
Xennora terdiam mendengar penuturan yang menjurus ke arah sindiran dari Antha. “Jadi… Masalahnya ada di gue ya? Gue gak peka?”
“Bukan gak peka, lo terlalu gak peduli sama lingkungan sekitar lo. Ambil contoh yang baru-baru ini. Lo sibuk banget sama UN sampai-sampai lupa gak ngabarin sahabatnya sampai sakit gini. Kalau peka, pasti lo peka, itu juga pas lo lagi gak fokus sama pekerjaan lo doang.”
“Jadi masalahnya di sini… Dengan ketidak pedulian lo itu, dan pengetahuan lo yang terbilang sedikit tentang orang-orang di sekitar lo, lo masih berani ngambil kesimpulan kalau dia tuh sifatnya gini, dia tuh sifatnya gitu. Padahal Enggak Ra… Lo Cuma perhatiin satu hal yang pernah lo liat, bukan semua hal yang ada tentang dia. Lo harusnya ngerti, sebagai seorang pekerja hukum, semua itu gak akan diterima sebagai gugatan di Pengadilan nanti. Jangan ngambil kesimpulan kalau lo ngerasa lo gak ngeliat dia sepenuhnya.”
“Contoh nya gini deh… Lo ngambil kesimpulan kalau gue itu suka sama hal-hal berbau horror. Itu pernyataan yang bener. Kenapa? Karena gue nonton film horror 24/7, koleksi foto sama barang-barang horror kapanpun dan di manapun. Plus ngobrol tentang horror 24/7. Itu udah jadi bukti kuat kan? Beda lagi kasusnya kalau lo bilang, kak Fadhil tuh suka sama hal-hal horror gara-gara pernah ngeliat dia nonton film horror di bioskop satu kali. Pernyataan ini bener? Enggak. Karena Nyatanya kak Fadhil gak suka film-film horror. Lo Cuma ambil kesimpulan di satu peristiwa, lo Cuma punya satu bukti. Dan bukti itu belum Berarti bener. Lo ngerti apa perbedaannya?”
“Oke oke, gue ngerti… Gue harus lebih objektif… Thanks bay the way, I will improve myself.”
“Jadi gimana??” Tanya Antha saat Xennora bersiap memasuki alam mimpi.
“Gimana apanya?”
“Kak Julian? Sekarang lo masukin dia ke list secret admirer kan???”
“Aish, terserah.” Ujar Xennora lelah lalu membelakangi Antha yang malah tertawa.
“Hahahaha Wah… Xennora salting nih kayaknya… Harus telepon kak Julian nih…”
“Ish Antha… Tidur! Udah malem astaga… Yang baru sembuh dari sakit hiperaktif bener dah, gak paham.” Balas Xennora yang kemudian menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang justru menambah gelak tawa Antha.
...***...
Saat matahari sudah menyongsong, bunyi telepon terdengar membuat seorang gadis yang masih terlelap itu mencoba meraba nakas samping tempat tidurnya. Tidak lama kemudian, gadis itu menemukannya lalu menggeser tombol hijau di layar handphone nya tanpa berniat mengetahui siapa yang menelepon.
“Hm? Iya hallo…” Sapa nya dengan suara parau.
“Ra, nanti jadi deh hang out nya ke karnaval yang waktu itu pernah kita kunjungin.”
“Jam lima sore harus udah siap deh pokoknya.” Jawab seseorang di seberang telepon dengan nada semangat. Berbanding terbalik dengan gadis itu.
“Hm. Oke..”
“Ra, masa dapet morning call dari pacar gak excited sih?”
Oalah pacar... ganti kosa kata kalau gitu…
“Ha? Engga, aku excited kok…”
“Aku nih Ra?”
“Iya lah…” Jawabnya sambil menguap tanpa suara. Matanya masih terpejam, tidak berniat untuk bangun. Kalau boleh jujur, suara pria di seberang telepon healing sekali, bagaikan lullaby yang terus membuatnya mengantuk karena terlalu indah didengar. Oh, Apakah ini mimpi?
“Hahaha oke deh… Belum bangun juga? Bangun dong sayang jam sarapan udah mau habis…”
“2 menit. Seriusan. Nyawaku belum kekumpul…”
“Ra, Ra..”
“Hm?”
__ADS_1
“Panggil aku sayang dong…”
“Say- apa sih geli banget.”
“Yah… Yaudah, oh ini ada yang mau bangunin kamu nih.”
“Siap—“
“HAI KAKAK, BANGUN DONGG. UDAH-- aku kamuan nih ya?? Gue kira kak Julian bohong lohh…”
Xennora langsung melempar handphone nya. Terkejut, jelas. “Ya ampun sayang!” Latahnya. Matanya cerah seketika, Bahkan moodnya untuk tidur menurun drastis karena terkejut. Ia Bahkan sampai terduduk sambil merenung memikirkan apa yang ia dengar dan ucapkan beberapa menit yang lalu. Benarkah? Dia punya pacar sekarang? Tapi… Sejak kapan?
Xennora kemudian meraih handphone nya yang sudah tergeletak di karpet pink kamar Antha. Ngomong-ngomong, yang punya ruangan ini pun masih terlelap padahal sepertinya Xennora menjerit tadi. Xennor menghidupkan layar handphonenya lalu melihat siapa yang sedang menelepon.
“Hallo kak? Kok diem? Salting? Oh atau jangan-jangan Julian bohong nih?”
“Kurang ajar, pake kak dong!”
Okay, ****.
Tertera dengan sangat jelas, siapa penelepon itu.
Kak Julian XII Perdata 1
“SIAL—sabar Xennora…” Ucapnya Kepada dirinya sendiri. Setelah itu, ia mendekatkan handphone nya ke telinganya.
“Kak?? Yah… Masih tidur?” Yap, tidak salah lagi. Ini suara Sofia.
“Udah deh woy, kasian. Jangan ganggu.” Ujar seseorang yang sepertinya posisinya tak jauh dari Sofia.
“Lo ngapain Panggil gue kak…” Xennora masih mencoba untuk bersabar.
“NAH KAN UDAH BANGUN WOY TADI SIAPA YANG BILANG MASIH TIDUR?!!”
“Yaudah sih woy, masih pagi. Gak usah bikin keributan.”
“Okay listen, tadi gue posisinya masih gak sadar. Jadi apapun Jawaban atau ucapan gue tadi, tolong lupain. Makasih.” Ucap Xennora lalu mematikan sambungan telepon. Ia menutup matanya kesal. Jika Julian ada di sini sekarang, Xennora jamin ia akan memaki pria itu karena menelepon sepagi ini. tak terlalu pagi memang, seperti apa kata Julian tadi, jamnya sarapan hampir berakhir. Tapi kayak…. Ngapain nelepon sih??
“JIAHAHAHA KASIAN DISURUH LUPAIN. BELUM JUGA JADIAN UDAH DISURUH MELUPAKAN AJA.” Ledek Sofia membuat Julian menatapnya malas.
“Anda yang keluar, atau saya yang keluar?” Tanya Julian dengan nada seperti ancaman membuat Sofia langsung keluar dengan sisa tawanya.
Julian kemudian duduk di kasurnya lalu mengambil handphone yang Sofia bajak tadi. Dia mengetikkan sesuatu di handphone nya karena ia yakin gadis itu tidak ingat apa yang Julian ucapkan beberapa menit yang lalu.
^^^You^^^
^^^Maafin Sofia ya, Ra^^^
^^^Bay the way nanti sore siap-siap, gw mau ngajak lo jalan. Jangan mager.^^^
“Eh, kak. Eireen mana ya?” Tanya Sofia setelah membuka pintu kamar Julian secara tiba-tiba.
__ADS_1
“Mana kakak tau. Palingan dia ke perpus lagi.”
“Oh, yaudah…” Final Sofia lalu menutup kembali pintu kamar Julian.