The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
It's All About Julian


__ADS_3

“Selamat pagi Jinaa! Eh? Apaan tuh?” Tanya seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun yang duduk di samping adik kelasnya.


“Eh, kak… Ini? Kemarin ada kakak-kakak ke rumahku. Nawarin obat ini. Dia bilang ini suplemen yang mengandung berbagai vitamin sama… Zat besi kalau gak salah. Dia juga bilang kalau ini gratis… Buat… Promosi? Ya… Gitu deh.”


“Aku juga dapat suplemen ini kemarin. Tapi langsung diambil sama ibu sama bapa, terus di buang ke tempat sampah.”


“Loh? Kenapa?”


“Gak tau juga. Ayo kasih ini ke bu Ani, buat penelitian. Siapa tau ibu sama bapa ku buang suplemen ini karena alasan tertentu.”


“Kakak bener… Ayo!”


“Kalau aja kak Juju gak datang waktu itu, aku pasti udah ketemu sama mama papa…” Ujar Angelyna lemas yang duduk di sebelah Xennora sambil melamun. Xennora yakin gadis di sampingnya ini pasti sedang mengenang masa lalunya itu dengan perasaan sedih, bercampur marah, menyesal dan rindu.


Kini mereka tengah dalam perjalanan menuju ruang diskusi di kampus Xennora. Angelyna ingin ikut karena dia terlalu takut untuk mendatangi kamar kosannya sendiri. Radit meminta Xennora untuk mengambil alih mobil karena dia mengantuk akibat makan banyak tadi. Alhasil, kini Xennora tengah mendengarkan curahan hati seorang Angelyna Anugralia sambil mencoba untuk fokus mengemudi.


“Emangnya siapa nama kakak kelas itu?” Xennora mencoba merespon.


“Kak Julian…” Lirih Angelyna membuat Xennora mengangguk. Julian yang mana nih? Julian Bhiyantara, Julian Kayden, atau Julian yang ada di mimpi Xennora yang entah nama panjangnya apa? Atau… Ada Julian yang baru lagi? Astaga, kenapa nama Julian terdengar pasaran.


“Terus? Habis itu? Kakak selamat kan?”


Angelyna mengangguk lalu kembali bersiap untuk melanjutkan ceritanya. “Pulang sekolah aku liat mama sama papa yang terbaring di lantai dapur dengan mata yang melotot dan warnanya agak kebiruan. Keringat mereka juga gak wajar… Kayak yang habis marathon berkilo-kilo meter. Serius… Itu pemandangan paling mengerikan yang pernah aku liat. Hampir tiap malam aku mimpi buruk saat itu. Spontan, aku teriak manggil-manggil mama sama papa walaupun aku tau itu sia-sia…”


“Mama… Papa… Jangan tinggalin aku, kumohon…” Tangis sang gadis pecah saat tidak mendapat respon apapun dari kedua orang tuanya yang terbaring tak bernyawa. Ia hanya bisa menangis sampai hari mulai gelap.


Tidak bisa dipungkiri jika dia sendiri takut untuk mendekati kedua jasad itu saat hari mulai gelap. Lantas, ia berlari ke arah pintu utama lalu keluar dari rumah itu. Ia menutup pintunya rapat-rapat, lalu tubuhnya ambruk. Kakinya lemas tidak dapat menahan semuanya. Kenapa hal ini harus terjadi pada keluarganya? Kenapa tidak orang lain saja? Kenapa orang yang paling ia sayangi harus meninggalkannya tanpa satupun kata perpisahan?


“Kenapa hidupku gak seberuntung hidup orang kebanyakan sih?” Tanya Angelyna lirih membuat Xennora sedih sendiri. “Malam itu, paman sama bibi mau berkunjung. Mereka jelas kaget liat aku yang lagi nangis di depan pintu rumah. Waktu mereka nanya pun aku gak bisa jawab, aku cuma diam dan nyoba positif thinking kalau kejadian tadi sore itu cuma mimpi buruk. Tapi ya… Itu nyata. Bukan mimpi atau imajinasi. Mama sama Papa emang udah gak ada.” Lanjut Angelyna membuat Xennora mati-matian menahan air matanya. Kan gak lucu kalau nabrak mobil lain gara-gara matanya berembun pas nangis?

__ADS_1


“Besoknya di pemakaman korban antrovitoksin, aku juga gak bisa berhenti nangis di tengah makam mama sama papa. Bibi gak bisa apa-apa, kayaknya bibi memaklumi keadaan aku.”


“Ma, Pa… Kalian beneran pergi? Bukannya kalian mau liat aku fasih baca huruf hijaiyah? Liat… Aku udah bisa… Aku bahkan udah bisa baca tulisan di sini… Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un—” Kalimatnya sedikit tertahan karena ia tidak bisa menahan tangisannya.


Setelah lelah menangis, Angelyna pergi diam-diam dari sana menuju tempat yang lebih sepi. Di bawah pohon yang kekeringan dan tidak memiliki daun, dia duduk di sana memeluk lututnya lalu kembali menangis.


Tidak lama, ia merasakan kehangatan, seseorang memeluknya. Angelyna sangat berharap jika seseorang yang memeluknya ini adalah mama atau papa nya. Ia tidak peduli jika ia harus mati, Angelyna ingin bertemu mereka…


“Gak apa-apa Jina, kamu masih punya aku. Jangan sedih… Aku yakin kamu kuat.” Ucap laki-laki itu sambil mengelus punggung Angelyna yang masih bergetar.


“Kak...? Kok kakak ada di sini?” Tanya Angelyna setelah mengetahui siapa yang sebenarnya memeluknya.


“Orang tua Silvana sama Rakha juga meninggal… Dan juga, aku sama ibu bapa mau liat keadaan kamu…” Jawab anak itu sambil menghapus air mata Angelyna. “Aku gak akan ngebiarin sahabatku terus sedih kayak gini…” Lanjutnya.


“Setelah hari itu, dia bener-bener gak ngebiarin aku sedih lagi. Dia berusaha bikin aku sedikit ngelupain rasa sediku karena kehilangan mama papa. Tapi waktu SMA, aku sama bibi pindah ke Semarang, ke tempat bibi. Jadi aku udah kehilangan kabar kak Julian. Aku pindah lagi ke sini waktu kuliah. Bibi selalu khawatir banget kalau aku kenapa-napa, jadi bibi sedikit overprotective…”


“Terus sampai sekarang, kakak belum ketemu sama Kak Julian?” Tanya Xennora membuat Angelyna mengangguk. Wajahnya sedikit cemberut saat Xennora membahas Julian itu, tapi hal ini memberikan Xennora ide.


“Kalian akrab banget kayaknya?” Angelyna kembali mengangguk.


“Menurut kakak dia ganteng?” Angelyna lagi-lagi mengangguk, belum menyadari pertanyaan Xennora yang mulai melenceng.


“Kakak suka sama dia?” Jina masih mengangguk sebelum ia sadar karena mendapati Xennora yang tersenyum—nyaris tertawa.


“Eh? Hah? Wah… Xennora… Kamu ya! Ah…” Angelyna pasrah saat tawa Xennora pecah. Radit bahkan terbangun karena mendengar suasana yang tidak kondusif.


“Xennora… Udah deh, berhentii…!”


“Ya ampun… Hahahaha astaga… Oke-oke, aku berhenti. Tapi kenapa pipi kakak jadi kemarahan gitu?” Tanya Xennora tidak henti-hentinya menggoda Angelyna. Itu karena perempuan yang usianya dua tahun lebih tua dari dia itu terlihat menggemaskan, seperti anak SMP.

__ADS_1


“Ish, iya iya. Aku akui! Aku suka sama—ah, bukan… Aku cinta sama kak Julian. Denger gak Sen? AKU CINTA SAMA KAK JULIAAAANN!!!” Pasrah Angelyna sambil berteriak membuat telinga Xennora dan Radit berdengung. Xennora terdiam mendengar ucapan gadis berusia 24 tahun itu.


Kak Angelyna bar bar juga.


Namun kemudian Xennora tersenyum melihat Angelyna tersenyum lebar, sepertinya ia sedang berimajnasi. ‘Semoga aja kakak ketemu sama kak Julian nya kakak itu secepatnya…’


...***...


“Denger ya. Sabtu sore gue udah pergi ke rumah Nenek di desa. Ada banyak saksi termasuk Pak Bhiyan. Dan lagi, itu kan perusahaan keluarga gue sendiri, gue bisa aja dengan mudah ngehapus rekaman kamera pengawas. Lo mikirnya ke mana sih Kate?” Tanya Julian kesal karena gadis itu tidak mempercayainya sampai sekarang.


“Pak! Izin bertanya, apa benar Julian Kayden ada di desa sabtu kemarin jam 2 siang?” Cathleen berusaha bertanya langsung.


“Iya, benar. Kami semua sedang makan saat itu.” Jawab Bhiyan membuat Julian makin menatap Cathleen sinis. Lalu Bhiyan pun pamit untuk pergi lebih cepat karena ada urusan mendadak.


“Saya pergi duluan ya. Nanti kabari saja kalau ada kemajuan.” Pamit Bhiyan yang dibalas seruan berbeda-beda dari mahasiswa-mahasiswa yang ada di sana.


“Terus… Ini siapa dong? Dari belakang keliatan banget mirip sama lo Ju…” Ujar Cathleen melanjutkan obrolan antara dia dengan Julian.


“Gue punya sepupu. Dia kayaknya fanboy gue yang sangat fanatik…” Balas Julian terkekeh. “Dia selalu ngikutin model rambut gue, parfum, gaya pakaian, shampo, sabun, sampai cara bicara.” Lanjutnya.


“Gila serem… Eh, ini bukan tempat untuk mengarang cerita ya.” Ujar Cathleen tidak percaya, sedangkan anggotanya yang lain sudah memakan makan siang mereka karena bosan mendengar celotehan Cathleen yang tidak mempercayai klien mereka itu.


“Gue gak ngarang, ngaco. Itu fakta. Dan kemarin waktu kumpul-kumpul keluarga… Dia gak datang. Cuma dia, padahal adik sama orang tuanya datang. Ngomong-ngomong… Gue punya informasi menarik nih…”


“Apa tuh?”


“Dia punya kontrak kerja sama sama perusahaan FX Movie.” Ujar Julian pelan membuat Cathleen mengerutkan keningnya tidak percaya, lagi.


“Masa sih? Gini… Bentar ya Ju… Masalah hidup lo sama keluarga lo serumit ini ternyata, gue agak gak percaya… Tapi kalau dia kerja sama dengan FX Movie, berarti dia mengkhianati perusahaan keluarganya sendiri dong?!” Pekik Cathleen tertahan yang Julian balas dengan anggukan santai, seakan hal itu memang wajar terjadi.

__ADS_1


“Setengah jam sebelum berita di TV yang bilang kalau gue melakukan cyber crime, gue udah dapat informasi dari orang kepercayaan gue. Dia bilang… Manajer perusahaan itu di ganti karena kasus pelecehan seksual terhadap aktris-aktrisnya… Mereka juga memperlakukan karyawan mereka dengan buruk juga, pekerjaan overtime, sampai ada salah seorang karyawan yang meninggal karena kelelahan. Kasus meninggalnya karyawan sampai kasus pelecehan itu hampir aja dipublish kalau media gak rame sama kasus cyber crime yang bahkan gue gak tau apa-apa itu tayang di TV. Dan channel yang pertama tayang itu channel nya FoxFilm, mitra kerja sama FX Movie. Itu isu pengalihan. Dan kalaupun emang ada kasus peretasan pada waktu itu ya… It wasn’t me.”


__ADS_2