
Antha terbangun, ia seperti baru bangun tidur selama berhari-hari. Antha melihat sekeliling, ia sangat mengingat ruangan ini. Kamarnya. Tak lama, seseorang membuka pintu kamarnya, lalu masuk membawa nampan berisi makanan. “Mommy gak kerja?” Tanya Antha.
“Mommy cuti dulu beberapa hari, karena ngeliat kamu belakangan ini selalu murung. Dan akhirnya kamu drop. Fadhil yang nganter kamu tadi, sama temennya. Mommy kayak kenal sama temennya Fadhil tadi…”
“Oh jadi aku langsung dianter pulang Mom? Gak ke UKS dulu?”
“Enggak, Pak Harto nelepon Mommy terus yaudah Mommy minta anterin pulang aja. Tadinya mau Mommy yang jemput, tapi katanya temen kamu bawa mobil.”
“Yang bener temen aku apa temennya kak Fadhil Mom?”
“Temen kamu deh kayaknya.”
“Siapa Mom? Mommy inget wajahnya?”
“Mommy lupa namanya siapa, yang jelas dia cantik banget. Kayak artis… Kamu kok gak bilang-bilang punya temen cantik gitu?”
“Mommy aja gak pernah ada di rumah waktu temen-temen aku main…”
“Haha iyaa… Maafin Mommy ya sayang… Mommy terlalu sibuk.”
“Gapapa, Mommy pasti capek kerja terus. Oh iya, temenku itu rambutnya coklat bukan Mom?”
“Iya, rambutnya coklat sepunggung, habis tu bergelombang… Mirip artis Korea.”
Gak salah lagi...
“Dia gak bilang sesuatu gitu?”
“Dia… Cuma bilang ‘maafin saya tante…’ Mommy bingung, kan kamu itu pingsan waktu ada guru… Masa iya dia yang apa-apain kamu…”
“Mom, aku lupa. Aku ada kepentingan sekarang.” Ujar Antha lalu bangun dan bersiap-siap memakai jaket lalu mengambil handphone nya. Baru saja Antha bertemu dengan Xennora setelah berhari-hari lamanya, ia tidak ingin kehilangan jejak gadis itu lagi.
“Eh, kamu udah baikan? Makan dulu!”
“Gak sempet Momm…. Cuma sebentar kok! Aku janji!” Balas Antha diambang pintu. “Mom, aku pinjem motornya yaa…!”
Antha mengecek handphone nya sebelum ia berangkat. Setelah selesai, ia menjalankan motornya menuju arah rumah Xennora yang melewati taman. Kebetulan, Antha menemukan persensi Xennora di taman itu, sepertinya ia tengah membaca buku. Antha memarkirkan motornya lalu dengan terburu-buru, ia mendekati Xennora. Tiba-tiba, handphone nya bergetar, Antha pun mengecek handphone nya yang ternyata mendapat sebuah pesan dari Leo.
...Jumat, 10 April...
^^^You^^^
^^^Kak, mau nanya. Xennora kok gak masuk ya seminggu ini?|^^^
...Hari ini, 17 April...
Kak Leo
|Eh sorry Tha, belakangan ini sibuk nyiapin UN sama Ujian Praktek. Dan bay the way, Xennora gak masuk karena nyiapin UN juga. Dia ikut program lompat kelas
Really?
Dengan hal yang sepenting ini Xennora tidak menceritakan apapun kepadanya?
Kemarahan sedikit terpancarkan di wajah Antha. Ia mendekati Xennora dengan langkah kecewa saat ini. Masalah ini tentu tidak akan Antha besar-besarkan apabila ia da Xennora baru kenal setahun yang lalu. Tapi nyatanya, Antha sudah mengenal Xennora lima tahun yang lalu, begitupun sebaliknya. Antha tidak mengerti sesulit apa untuk memberitahu ‘temannya’ kalau dia mengikuti suatu program sekolah yang sangat membutuhkan pemikiran matang dan bahkan mungkin beberapa pendapat.
Sesulit itu rupanya?
Antha yakin, ada kemungkinan jika Xennora membencinya karena telah munafik dan berkhianat, tapi dengan cara menjauh seperti ini hanya akan memperumit masalah. Bahkan awalnya Antha kira jika Xennora terlalu membencinya sampai-sampai ia pindah sekolah dan tidak ada siapapun yang diberitahu kecuali kedua kakaknya.
Walaupun kini Antha tahu kalau alasan itu 90 persen salah karena nyatanya gadis itu menghilang untuk menyiapkan UN nya, tapi kemungkinan Xennora membencinya itu masih ada 10 persen. Nilai yang cukup besar baginya.
Antha mempercepat langkahnya ketika melihat Xennora bangkit dari duduknya lalu berniat untuk pergi. Dengan segera, Antha memegang tangan Xennora lalu membalikkan tubuhnya dengan agak kasar. Seperti biasa, Antha tidak menemukan ekspresi terkejut yang signifikan di wajah Xennora. Entahlah, Antha pernah berpikir kalau gadis ini tidak memiliki emosi.
“Maksud lo apa?!!” Seru Antha.
“Ini yang namanya temen? Main rahasia-rahasiaan?!”
Xennora masih terdiam. Memang seharusnya Antha marah sih, tapi kalimat ‘main rahasia-rahasiaan’ itu juga sepertinya cocok untuk mereka berdua, bukan untuk Xennora saja.
“Gue khawatir Ra…” Antha menunduk, kemarahannya menghilang seketika digantikan oleh rasa bersalah. Karena Antha terlihat menangis, Xennora mendekat lalu memeluk sahabatnya itu.
“Gue kira lo marah karena berita itu…”
“Maafin gue Sen, gue gak bisa nolak kak Fadhil… Gue… Gak bisa jadi sahabat yang baik buat lo… Gue…”
__ADS_1
“Sstt… Udah.” Akhirnya Xennora membuka suara. Mereka terdiam lumayan lama. “Lo gak salah, dan gue sama sekali gak marah, Tha… Maafin gue juga karena ngerahasiain banyak hal.”
“Lo… Beneran gak marah?”
Xennora mengangkat pundaknya tak peduli. “Cowok bukan hal elit buat direbutin.”
Antha mengangguk lalu tersenyum dan menghapus sisa air matanya. “Emang bener ya… Lo yang nganterin gue? Sama… Kak Fadhil?” Suara Antha mengecil di akhir pertanyaan.
“Oh itu? Iya sih…”
“Gak canggung… Kan?”
Xennora menatap langit dengan tatapan menerawang, mengingat-ingat potongan peristiwa beberapa jam yang lalu.
“Biar saya saja yang antar Antha ke rumahnya, pak. Saya bisa pinjam mobil punya kakak.”
“Baiklah kalau begitu, kamu siapkan mobilnya segera, bapak minta tolong ya Xennora.”
Lalu setelah itu Xennora berlari ke kantin, di mana kedua kakaknya bersama Ervin sedang bercengkerama. “Bang Edwin, pinjem mobil dong. Mau nganter temen.”
Meskipun mendapat puluhan kalimat hati-hati, akhirnya Xennora mendapat kunci mobil itu. Ia pun segera menyiapkan mobilnya di depan gerbang sekolah, dan entah bagaimana ceritanya, Fadhil datang seraya menggendong Antha dengan kedua tangannya dan mendekati mobil Xennora. Tanpa memikirkan apapun lagi, Xennora pun membukakan mobil untuk mereka berdua. Mereka duduk di belakang bay the way, dan Antha masih belum sadarkan diri.
Tanpa bertanya apapun, Xennora segera melajukan mobilnya kearah rumah Antha. Canggung sudah pasti terasa, tapi yang membuat Xennora lebih tidak nyaman adalah keadaan di mana ia seperti menjadi sopir pribadi mereka berdua. Dapat Xennora lihat di kaca spion, sepertinya Fadhil akan memulai pembicaraan namun terpotong karena handphone Xennora berbunyi. Xennora menggunakan earphone lalu menjawab panggilan masuk tersebut.
"Lo ke mana? Edwin bilang lo pergi pakai mobil?”
“Nganterin temen.”
"Ck, ya itu sih gue juga udah tau..." Sahut Julian greget.
“Antha pingsan.”
"Antha? Temen lo itu? Yaudah cepet sembuh yaa.”
“Harusnya lo ngucapin sama dia, bukan gue. Lagian pingsan bukan berarti lagi sakit, dasar gak nyambung.”
"Kena salty mulu gue, heran.”
“….”
“Hmm…”
"Sen, gue ada satu lirik lagu. Dengerin deh ya… Can—“
“Gue gak yakin lo bisa nyanyi.”
"Bisa dongg, Julian Matteo Kayden apa aja bisaa.”
‘Terserah’ Balas Xennora dalam hati.
“And you've got a smile that can light up this whole town. I haven't seen it in a while since he brought you down. You say you're fine, I know you better than that. Hey, what you doing with a boy like that?”
“Haha jangan aneh-aneh deh lo, gue lagi sama dia.”
"Hah? Lo lagi sama dia?! Ngapain?! Bukannya lo nganterin Antha?!!”
“Iya, kak Julian…. Dan gue sama dia bareng…”
"Udah sampe?"
“Umm… Lima menitan lagi ada deh kayaknya.”
"Abis itu langsung ke sekolah lagi. Jangan keluyuran dulu. Mentang-mentang udah beres UN jadi bebas, tidak semudah itu Esmeralda. Lo bisa aja harus ngehadepin UTBK, SBMPTN terus kalau—“
Karena bukan hal yang penting lagi, Xennora segera menutup panggilan telepon itu. “Gak jelas.” Gumam Xennora seraya melepaska earphone nya. Iya, gak jelas. Bikin mood hancur aja pake bahas UTBK segala.
“Sen…” Seseorang memanggilnya, oh bahkan ia hampir lupa jika dia tidak sendiri di mobil ini. Gara-gara UTBK fiks. Enggak deng, gara-gara Julian ini…
Xennora melirik sekilas wajah Fadhil melalui kaca mobil. “Iya kak?"
“Lo… Pasti kaget… Denger berita itu.”
Awalnya Xennora tidak mengerti, namun kalimat terakhirnya membuat Xennora tahu konsep pembahasan apalagi kali ini.
“Pasti sih.”
__ADS_1
“Gue php ya?” Fadhil terkekeh, namun wajahnya jelas memperlihatkan raut menyesal. “Gue emang pernah…. Suka sama lo… Xennora.”
“Dan kemudian nyerah karena sifat gue? Haha, klasik kak.”
“Bukan, itu gak mungkin. Gue selalu suka ngeliat lo ngucapin makasih dengan wajah yang datar. Biasa aja dan gak kelitan excited banget.”
“Gue liat, Julian suka sama lo… Itu sebabnya, dua tahun belakangan ini gue agak menjauh.”
Xennora mendengus-tertawa. “Alasan klasik apa lagi ini…” Gumamnya malas. “Udah deh kak, lo udah sama Antha. Gue cuma mau minta lo buat jagain dia baik-baik. We’re still friend. Semua cerita itu Cuma masa lalu, dan semua orang pun tau, masa lalu gak bisa diulang semudah nyetel kaset kapanpun lo mau.”
“Gue tau… Gue cuma mau minta maaf.”
“Permintaan maaf lo gak jelas, kak. Lo gak ada salah sama gue, buat apa minta maaf?”
“Maaf…”
Xennora hanya mendengus malas lalu memilih untuk tidak memedulikan ucapan Fadhil.
Begitulah kejadian singkat di mobil. Dan yang selanjutnya terjadi adalah Xennora yang kembali ke sekolah sendiri karena Fadhil yang lebih memilih membawa motor sendiri di rumahnya.
Ya, syukurlah.
“Canggung lah Tha…” Jawab Melody tanpa menceritakan detail kejadiannya.
“Jangan canggung lagi dong Sen, hehe… Oh, malam ini lo mau nginep gak? Gue bakalan ceritain semuanya, dan lo juga harus ceritain semuanya.” Ajak Antha.
Saat Xennora akan menjawab, seseorang berlari menghampiri mereka. “Sen, sorry…” Ucap Julian melas saat baru sampai di hadapan mereka berdua.
Xennora menghela napas malas lalu melemparkan buku UU KUHP --yang Antha kira sebuah novel tadi—kepada Julian. “Telat lo.”
Ingat apa yang Julian ucapkan di telepon?
Inget ya, nanti sore.
“Ya Maaf dong cantik. Sofia gak jelas tadi minta anter hang out nya. Jadi tadi keliling-keliling dulu ampe mabok perjalanan.”
“Lo ngajak ketemuan gini buat apa sih?” Tanya Xennora.
“Ya… Udah berhari-hari kita gak ketemu… Lo sibuk mulu sih, heran gue. Padahal temen-temen gue di kelas Pidana kayaknya santai-santai aja tuh.”
Xennora terdiam. “Lo nyuruh gue ke sini cuma buat ketemuan biasa doang?”
“Iyaa, romantis kan gue?”
“Buang-buang waktu.”
Kini, giliran Julian yang terdiam, menghela napas sabar. Antha tersenyum gemas melihat interaksi mereka. Karena Antha ingat betul, tahun-tahun sebelumnya mereka seperti Hermione Granger dan Draco Malfoy dalam serial Harry Potter. Dan kini sudah ada sedikit kemajuan. Setidaknya Julian mau mengakui perasaannya pada dirinya sendiri.
“Main di rumah gue aja gimana kak? Xennora udah janji mau nginep malam ini soalnya.” Ucap Antha.
“Boleh tuh. Yuk Sen.” Ajak Julian menarik tangan Xennora untuk mendekat ke mobilnya, namun Xennora melepaskan tangannya.
“Lo bawa motor Tha?” Tanya Xennora.
“Iya, kenapa emangnya?”
“Lo masih melum sembuh total, Tha. Biar gue aja yang bawa motor lo. Kalian naik mobil.”
Julian dan Antha tahu, melawan ucapan Xennora sedikit mustahil bagi mereka. Kalau bisa pun, akan memerlukan waktu yang lama untuk beradu debat. Darah Rafael memang mengalir di jiwa Xennora. Akhirnya, sesuai ucapan Xennora, mereka Antha pun naik ke mobil Julian.
“Gimana?” Tanya Julian saat di perjalanan.
“Gimana apanya?” Tanya Antha balik karena tidak mengerti.
“Perkembangan gue. Menurut lo gimana?”
“Ohh… Menurutku ini perkembangan yang bagus sih kak. Coba deh terus deketin Xennora. Dia bukan tipe cewek yang langsung akrab kalau tiba-tiba dideketin, tapi dia tipe yang lama-kelamaan nyaman.”
“Ya… Gue tau… Tapi masalanya, gue harus pindah ke Bandung beberapa minggu lagi. Tepat seudah kelulusan. Gue takut waktu gue gak cukup banyak.”
“Gak usah mikirin itu dulu kak. Lo pasti tau sendiri kalau cinta itu suka tiba-tiba datengnya. Lagian kita gak tau apa yang Xennora rasain sekarang. Itu akar masalahnya sih, dia tuh susah buat jujur sama dirinya sendiri. Ampe greget gue.”
Begitulah percakapan singkat itu terus berlanjut sampai akhirnya mereka sampai di rumah Antha.
"Eh kak Fadhil?"
__ADS_1
Di episode selanjutnya sepertinya akan ada fantastic duo : )))