
“Maksud kamu?”
“Ya lo tau sendiri kan Sen, kasus itu udah selesai. Tuntutannya dicabut. Jadi kemarin Proffesor nyuruh kita buat selidiki kasus yang kemarin lusa itu…”
“Kasus cyber crime perusahaan KayChief Group?”
“Iya. Dan kita ada di pihak pro, pengacara.”
“Ini… Kayaknya agak susah ya?”
“Kayaknya… Ya udah, gue tutup ya. Sampai jumpa nanti di ruang diskusi.” Ujar seseorang di seberang sana, Cathleen.
“Iya…” Balas Xennora lalu menutup telepon itu. Ia melanjutkan langkahnya menuju Fakultas Kedokteran untuk meminta keterangan hasil otopsi jenazah yang bunuh diri dalam kasus yang didapatnya itu. Tidak ada kejadian spesial weekend kemarin selain mencuatnya kasus Julian walaupun pria itu sepertinya tidak terlalu mengambil pusing. Mengagumkan.
Sesampainya di taman Fakultas Kedokteran, Xennora segera mencari oknum yang bisa membantunya memecahkan kasus ini dengan mudah.
“Rakha!”
Merasa terpanggil, Rakha segera menoleh lalu menutup bukunya dan berdiri menghampiri Xennora yang memakai setelan formal abu putih. “Kenapa Sen?” Tanya Rakha.
“Kamu kan ikut praktek waktu otopsi nya jenazah Kirania Aliya Pyralis, boleh minta laporannya gak?”
“Oh… Boleh teh. Nanti sore aku kasih.”
“Sip, makasih ya Rakhaa…!” Seru Xennora berniat pergi dari sana.
“Tapi Sen… Ada yang aneh sama jenazahnya…” Ucap Rakha membuat langkah Xennora terhenti dan kemudian berbalik menatap pria yang seumuran dengannya itu.
“Eh? Aneh gimana?”
“Luka sayatannya itu kayak dibuat setelah dia meninggal…”
“Iya kah? Aku gak ahli sih masalah ginian, tapi makasih yaa, aku akan pake informasi ini. Aku pergi dulu, dahh…!” Pamit Xennora lalu melenggang pergi dari sana. Kini, tujuannya adalah ruang diskusi kelompok yang ada di dekat Fakultas Hukum. Setiap satu ruangan diskusi memuat satu kelompok yang isinya delapan sampai sepuluh orang. Kelompok Xennora sudah pasti tim 7 dan 8.
...***...
“Tim paling gagal kayaknya tim Xennora sama Radit deh…”
“Oh… Tim yang dapet kasus 27/2/19?”
“Iya hahaha, dari Nomor kasusnya aja udah aneh banget. Nomor sial. Jam 2.27 di tanggal 27 bulan 2”
“27 curse haha... Eh, bukannya itu kasus bunuh diri ya? Apa yang harus diselidiki?”
“Kabarnya sih, itu bukan kasus bunuh diri biasa. Banyak yang bilang itu kasus perampokan, pelecehan, bahkan pembunuhan berencana.”
“Dan orang-orang payah itu dapet kasus yang segitu rumitnya?”
Lawan bicaranya mengangguk.
“Haha, gak habis pikir aku…”
“Wah… Harusnya mereka udah nyiapin skripsi sih. Karena jelas mereka bakalan kalah.”
“Aku setuju.”
Dua orang perempuan itu terus mengobrol di dekat ruang diskusi kelompok Xennora. Duduk di taman yang memang dekat dengan beberapa penjual minuman. Siapa yang payah di sini? Membicarakan orang di belakang, namun di lingkungan tempat orang yang dibicarakan berada.
Tidak lama, ada empat orang yang mendekat, lebih tepatnya berniat masuk ke dalam ruang diskusi itu. Mereka tahu jika mereka dibicarakan, tapi mereka tidak peduli. Lagi pula mereka tidak mendengar semua gibahannya.
“Apaan banget ngomongin di belakang? Mana ngedo’ain yang enggak enggak…” Gumam Yuna lalu duduk di salah satu kursi. Ada satu meja berbentuk persegi panjang di sana. Dengan delapan kursi dan deretan loker di belakangnya.
__ADS_1
“Dapet?” Tanya Radit setelah Xennora duduk di sisi kanannya. Yuna duduk di depan Radit, dan Yohan duduk di samping Radit.
“Dapet dong. Nanti malam aku kirim fotonya.” Jawab Xennora.
“Please lah… Kita di sini mau bantu lo. Kerja sama dikit napa?! Gak mau bebas?!!” Pekik seseorang di seberang sana. Anggota tim 8, Cathleen.
“Aku gak tau apa-apa Cathleen… Kalian selidiki sendiri lah. Kalau aku yang cerita kerja kalian apa?” Jawab tersangka kali ini, Julian. Ya, Xennora mengenalnya, ia telah beberapa kali bertemu dengan pria itu.
“Itu siapa?” Tanya Raditya menunjuk seorang pria dengan setelan jas rapi adn tatanan rambut hair up yang membuatnya kian terlihat berwibawa, tidak mempedulikan orang-orang yang tengah berdebat tadi.
“Pembimbing kita?” Tanya Yohan.
“Oh?! Kita udah dapet pembimbing? Siapa?!” Seru Xennora senang. Ia selalu ingin mendapatkan pembimbing yang cakap dan cerdas. Setiap dua tim memiliki satu pembimbing. Jadi, setiap satu kelompok belajar memiliki satu pembimbing. Biasanya seorang pengacara atau Jaksa. Jarang seorang pembimbing yang menjabat sebagai Hakim.
Pria itu pun berbalik menampakkan wajah seseorang yang Xennora kenal.
“A Bhiyan? Pembimbing kelompok kita siapa?!” Tanya Xennora masih antusias, seakan tidak mempedulikan kemungkinan jika Bhiyan lah yang akan jadi pembimbing mereka.
“Oh? Pembimbing kalian… Beliau akan datang sebentar lagi…” Balas Bhiyan seraya melihat ke luar ruangan.
“Mana?” Rupanya benar, pembimbing mereka bukan Bhiyan.
“Itu… Kayaknya ngobrol dulu… Mana yaa?”
“Siapa Emangnya A'?”
“Pembimbing kalian itu… Saya. Hehe.” Jawab Bhiyan seraya tersenyum manis membuat Xennora mengubah ekspresi senangnya menjadi ekspresi tidak terima.
“Apa… Apa-apaan? Serius A'?”
“Iya lah, saya gak pernah bohong. Dan untuk urusan ini, Panggil saya ‘pak’. Saya tidak mau tahu.” Balas Bhiyan sok, lalu duduk di salah satu kursi.
“Heh, aku juga alumni sini ya. Dan aku udah jadi Jaksa berlisensi.” Sombong Bhiyan meninggalkan kesan formal nya. “Jadi, apa yang udah kalian dapat?” Lanjutnya membuat Raditya, Yohan dan Yuna langsung duduk. Dengan ragu, Xennora pun duduk dengan tatapan yang setia menatap Bhiyan aneh.
“Kita belum nemu apa-apa sih pak…” Balas Raditya dengan wajah tanpa dosa nya.
“Pak! Kami butuh bantuan di sebelah sini!” Seru Fikri membuat Bhiyan spontan pergi ke kubu itu tanpa rasa bersalah.
“Ya udah, apa aja yang udah kalian dapet? Kita bahas langsung. Mulai dari… Kronologi?” Tanya Yohan menatap teman-temannya yang tengah memegang kepala frustasi. Yohan pun menghela napas lalu pergi ke luar untuk memesankan mereka minuman.
“Ya udah, daripada kalian berantem di sini, mending Julian duduk dulu di sana. Kamu Cathleen, cari apapun informasi yang didapat. Mau langsung pergi ke gedung KayChief Group?” Lerai Bhiyan mencairkan solusi agar tidak ada keributan di sini.
Julian berniat menolak karena tempat duduk yang Bhiyan maksud itu adalah tempat duduk di dekat Xennora dan teman-temannya. Julian sudah berjanji untuk menghindari gadis itu karena setiap bertemu, Julian selalu ingin memeluknya dan mengatakan kalau dirinya sangat merindukan gadis itu.
Karena keputusan Bhiyan anti protes, Julian pun duduk di kursi yang paling ujung. Cathleen pun sama, dia bersiap untuk pergi ke gedung KayChief dengan propaganda berupa… “Jangan kabur lo! Awas aja. Gue belum selesai!”
“Iya iya. Ribet amat sih lo.” Balas Julian. Pantas saja waktu SMA, Deandra membalas gadis itu dan teman-temannya. Mulutnya memang menyebalkan. Dan soal teriakan Cathleen di kelas Jum’at kemarin, Julian yakin itu adalah salah satu cara untuk mempermalukan dirinya sendiri. Mana mungkin gadis itu mengidolakan Julian kalau setiap bertemu saja bawaannya emosi gini?
“Nasibku sial banget sampai harus sekelompok sama kalian…” Gumam Radit dengan wajah yang seperti tidak ada harapan hidup lagi. Celetukan itu membuat Yuna dan Xennora mendongakkan kepalanya tidak terima.
“Kamu ngeremehin aku?! Siswa terburuk gak usah sok keras!” Balas Ayuna tidak mau kalah.
“Wah kurang ajar!” Raditya berdiri seraya menunjuk Yuna yang kini juga berdiri dari duduknya membuat Xennora panik sendiri karena dia seakan duduk di tengah dua orang yang tengah berdiri, berhadapan, saling berteriak, dan juga tunjuk-tunjukan. Xennora mencoba merentangkan tangannya untuk melerai adu mulut itu, tapi tidak berhasil juga.
“Apa?! Berani kok sama cewek?!”
“Cewek kok ngajak baku hantam.”
“Halah sok-sokan nantangin, sendirinya aja mental kerupuk.”
“Dasar mahasiswi pemalas.”
__ADS_1
“Dasar mahasiswa gak niat. Malu-maluin Fakultas hukum aja.”
“Udahlah, sesama human dengan tittle terburuk gak usah sok keras…” Akhirnya Xennora turun tangan.
“Gak ngaca!” Semprot Yuna dan Radit kompak.
“Iya kan? Kita udah terkenal dengan reputasi terburuk sepanjang sejarah Fakultas hukum Universitas Nusantara. Jadi guys, harusnya kesempatan ini kita pakai buat pembuktian!”
“Mereka emang suka berantem gini?” Tanya Bhiyan yang dibalas anggukan dari Vinca.
Tak lama Yohan kembali membawa dua kresek besar berisi sembilan minuman. Ia membagikannya kepada semua orang yang ada di ruangan itu.
“Thanks Yo, yang Cathleen?” Tanya Risa.
“Udah aku kasih tadi pas lewat.” Jawab Yohan lalu duduk di tempatnya tadi, di samping Raditya. “Okay? Bisa kita mulai?” Tanya Yohan yang dibalas anggukan dari anggota yang lain. “Xennora, kamu ketua. Apa yang harus kita bahas pertama?”
Pertanyaan Yohan itu membuat Xennora melamun dengan tatapan sayu. “Yo… Bisa gak gantiin aku jadi ketua?” Tanya Xennora malas.
“Gak bisa, Ra… Pak Prawija yang tunjuk kamu. Nanti aku bantu deh. Sekarang, apa langkah pertama yang kamu pikirin?”
“Mungkin kita harus cek ulang biodata sama kronologi nya…”
“Bagus. Yuna, bacain biodata dan kronologi nya.”
Yuna segera mengecek tumpukan materi kasus di depannya lalu mengambil map yang paling tipis. “Jadi korbannya di sini adalah Kirania Aliya Pyralis. Lahir di Bandung, 13 April 1996, yang artinya dia meninggal saat berusia 23 tahun. Selama empat tahun terakhir, dia tinggal di apartemennya sendirian. Menurut berbagai informasi, kakaknya adalah seorang kriminal—”
“Hah?” Potong Radit tidak percaya.
“Iya, kejadian tahun 2015 di SAN Multi Law Academy. Kalian pasti tau.” Jawab Yohan. Ayuna terdiam, agak sulit rasanya mengingat kejadian kelam SMA nya itu. Bukan hanya Ayuna, bahkan Vinca dan Julian juga terdiam, tidak percaya jika masa depan kasus ini diserahkan pada ketiga mahasiswa termalas dengan bantuan seorang jenius seperti Yohan. Xennora juga terdiam, karena memang dia tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan.
“Terus kakaknya itu… Lagi di penjara?” Tanya Xennora memecah keheningan.
“Dia menghilang. Ada yang bilang bunuh diri, ada yang bilang kabur, bahkan ada yang bilang dia meninggal karena kecelakaan itu terus badannya hancur gak bersisa.” Jelas Yohan.
“Ya udah… Lanjut Yun.” Ujar Raditya.
“Oke lanjut. Sekarang kronologinya. Sekitar jam 08.10 malam, sahabat korban yaitu Choi Hana, pindahan dari Korea datang mengunjungi korban untuk mengajaknya pergi ke Rumah Sakit dengan motif mengunjungi sahabat mereka, Clarissa Amanda yang saat itu sedang dirawat karena penyakit tifus. Korban menolak dengan dalih sedang tidak enak badan, serta meminta Choi Hana untuk membelikannya obat pereda demam. Lalu, Choi Hana pun pergi dari apartemen korban pada pukul 08.28 dan tertangkap kamera CCTV di koridor.”
“Pukul 09.00, Choi Hana terlihat di depan resepsionis Rumah Sakit Nusantara. Dia mengunjungi Clarissa Amanda dari pukul 09.10 sampai 10.34. Dia pulang bersama dua temannya yang juga sahabat Clarissa. Jadi mereka berlima, Kirania Pyralis, Clarissa Amanda, Choi Hana, Angelyna Anugralia, dan Emily Kaliya memang sudah bersahabat. Pukul 10.58 mereka kembali mengunjungi korban setelah membeli obat yang dimaksud tadi. Lalu mereka bertiga pun menginap di apartemen Hana yang memang letaknya berada tepat di samping kamar apartemen korban. Karena Hana orang yang menyukai pesta dan musik, dia melapisi tembok ruangannya dengan peredam suara agar tidak mengganggu tetangga—"
“Wait…” Interupsi Yuna seraya meminum minuman yang telah diberikan Yohan tadi.
“Perusak suasana lo. Lagi seru juga…” Protes Radit.
“Kerongkongan ku kering kakak.” Sarkas Yuna lalu kembali membacakan isi dokumen itu. “Mereka tertidur setelah asik karaokean sampai jam 12 malam lebih. Beberapa jam setelah mereka terlelap, ada suara tangisan yang makin mengecil, dan akhirnya menghilang. Saat mereka cek ke kamar korban, mereka menemukan mayat korban yang tengah menggenggam pisau dapur di tangan kiri nya. Polisi bilang, korban bunuh diri sekitar pukul 2 dini hari, dan korban meninggal di tempat.” Yuna menyelesaikan ceritanya lalu minum sebanyak-banyaknya.
“Kayak ada yang janggal gak sih?” Tanya Raditya.
“Banyak…” Jawab Xennora yang tengah menunduk. “Katanya ruangan apartemennya pake peredam suara, Tapi kenapa masih kedengeran suara orang nangis?”
“Nah bener. Ngomong-ngomong ini kronologi dari sahabatnya korban itu?” Tanya Yuna.
“Iya. Jadi untuk sidang pertama. Kayaknya kita harus buktikan kepada semua orang kalau korban gak meninggal karena bunuh diri.” Balas Xennora.
“Setuju. Kita bisa menghadirkan semua saksi mata ini untuk ditanya langsung di Pengadilan nanti.” Ucap Yohan.
“Bentar… Korban itu… Kidal?” Tanya Radit yang tengah melihat foto-foto TKP serta jasad korban.
“Enggak, mereka bilang enggak. Bahkan korban bener-bener gak bisa potong kuku pakai tangan kiri.” Jawab Yuna.
“Well, kita punya dua bukti di sini…” Balas Xennora.
__ADS_1