
“Eh, ini yang barusan nyanyi ya? Boleh minta foto? Kamu mirip banget sama Carissa Putri.” Ujar seorang wanita dengan usia sekitar 30 sampai 40 tahun membuat langkah Xennora terhenti. Gadis itu menatap sekitar dengan gugup dan bingung karena tiba-tiba didekati seperti ini. Apalagi kini makin banyak orang yang mengerubungi nya.
Yap, inilah yang tidak diinginkan Xennora ketika identitasnya terbongkar. Ia tidak ingin menjadi populer. Populer di sekolah saja sudah membuat jiwa nya lelah apalagi ini. Xennora tidak tahu sifatnya ini menurun pada siapa, yang jelas bukan Carissa. Mana mungkin seorang idola bersifat introvert seperti ini?
“Maaf bu, kak, mas… Pacar saya lagi gak enak badan, jadi tolong beri jalan…” Ujar Julian yang kini tengah memegang kedua pundak Xennora dari belakang.
Karena melihat ekspresi Xennora, orang-orang pun menyingkir, memberi jalan kepada mereka berdua. Padahal ekspresi Xennora bukan karena sakit, itu campuran bingung, lelah, dan takut. Takut jika identitasnya terbongkar. Jadilah ekspresi tidak enak badan itu.
Setelah keluar dari kerumunan, Julian mengajak Xennora mengunjungi sebuah kafe yng letaknya cukup dekat dengan roller coaster. “Tuh kan, ini yang bikin gue males ikutan festival musik. Karena mereka bakalan bilang gue mirip sama Bunda Carissa.” Dumel Xennora seraya duduk di hadapan Julian yang tengah menyimpan pesanan mereka di atas meja.
“Ya lo kan emang anaknya Bunda Carissa, Ra. Malahan aneh kalau lo gak mirip sama mama kandung lo sendiri.”
“Kok lo manggilnya Bunda sih?” Protes Xennora.
“Emang harusnya apa? Tante? Kan itu lebih aneh, sok kenal banget. Carissa Putri kan emang terkenal sama sebutan Bunda Carissa.”
Xennora terdiam, menatap Julian sengit lalu mengalihkan atensi nya pada wahana roller coaster yang dapat dilihat dari jendela kafe. "Oh iya, Sofia gimana kak? Gue masih inget dia pernah janji bakalan belajar keras kalau ada yang berhasil nyanyiin lagu pentas yang Korea itu.”
“Dia nepatin janjinya. Tiap hari dia pergi ke perpustakaan, walaupun gue gak terlalu yakin dia seratus persen belajar di sana sih.” Jawab Julian membuat Xennora mengangguk menatap Cappuccino nya. “Ra…” Panggil Julian membuat Xennora menoleh. Julian tidak berbicara apapun lagi membuat Xennora menatapnya aneh lalu mencari apa yang tengah Julian perhatikan. Sepertinya ini yang dinamakan kode.
Xennora menoleh ke belakang, di mana roller coaster tengah beroperasi. Ah, sepertinya ia tahu apa yang coba Julian sampaikan. “Lo mau ngajak gue naik wahana itu? Gak ya, makasih.” Tolak Xennora bahkan sebelum Julian memintanya dengan resmi. Tahu kan terakhir kali Xennora naik wahana itu bersama teman-teman yang lain itu seperti apa? Jauh dari kata menyenangkan.
Julian terkekeh mendengarnya. Ia sudah tahu Xennora akan menolak ajakannya yang ini. “Kayaknya kita impas deh, Ra.”
“Apanya? Dan, kenapa lo manggil gue jadi Ra, sih?”
“Impas, Besok lusa, seudah kelulusan, lo bakalan pergi sementara ke Bandung, dan gue juga bakalan pergi sementara ke luar negeri. Maaf, gue gak bisa nolak permintaan Ayah…” Jawab Julian, tidak memperdulikan pertanyaan terakhir Xennora.
“Kok lo bahas ini mulu sih kak? Haha… Kan gue udah bilang, orang tua itu prioritas lo.” Xennora tertawa canggung lalu meneguk Cappuccino nya lagi.
Julian hanya tersenyum diam, beberapa menit kemudian, dia berdiri. “Ayo, kita have fun aja hari ini.” Ajak Julian sambil mengulurkan tangannya. Xennora sempat Memandang Julian aneh karena sikapnya yang berubah-ubah ini. Tapi kemudian Xennora menerima uluran tangan Julian lalu keluar dari kafe setelah membayar minuman mereka.
__ADS_1
“Woah, gue baru tau di deket karnaval ada danau….” Kagum Xennora setelah beberapa menit yang lalu Julian mengajaknya pergi ke suatu tempat. Danau ini Sungguh indah, ada beberapa orang yang berkemah di sekitaran danau itu. Lampu-lampu gedung pun dipantulkan oleh air membentuk riak yang berwarna warni. Ditambah, suasana danau ini tidak terlalu ramai, cocok dijadikan tempat untuk menyendiri dan menjernihkan pikiran. Xennora bahkan tidak sadar jika Julian pergi sebentar untuk mengambil sesuatu di mobil nya.
“Ra…” Panggil Julian setelah kembali.
“Hm?” Gumam Xennora lalu mengalihkan atensi nya, kemudian tatapan Xennora terpaku, senyumnya luntur sedikit demi sedikit.
“Tadinya gue mau ngasih pas kelulusan besok lusa, tapi takutnya lo sibuk perpisahan sama temen-temen lo nanti.” Ucap Julian dengan sebuket bunga mawar biru di tangannya. Itu yang membuat Xennora terkejut.
“Jadi… Lo yang selama ini naruh mawar biru di meja gue kak?”
“Yeah… I am.” Jawab Julian lalu memegang tangan Xennora untuk mengambil alih bunga mawar biru yang terlihat sangat indah itu.
“Tapi… Waktu kakak sakit bunga ini masih ada di meja… Setiap hari. Dan cuma beberapa minggu lalu bunga nya gak ada.”
“Oh… Waktu gue kesiangan ya?” Tanya Julian membuat Xennora mengerti. Benar juga, itu pertama kalinya Julian kesiangan, bukan kesiangan, tapi datang agak siang. Secara harfiah, bel masuk belum berbunyi. “Waktu gue gak sekolah, gue titipin bunga nya ke pak satpam, atau bahkan titip ke Sofia sama Eireen.” Lanjut Julian.
Xennora menatap buket bunga di tangannya. Ini… Sangat indah. Bahkan Xennora bisa saja luluh saat itu juga, tapi sepertinya Xennora belum bisa. Tepatnya, Xennora tidak bisa.
“Apa maksud lo kak? Pasti suka lah…” Jawab Xennora. Wah… Sepertinya tebakan Antha benar. ‘Pengagum rahasia’ Xennora adalah Julian. “Makasih ya kak… Buat semua bunga ini… Ratusan bunga yang udah kakak kasih, bikin hari-hari gue sedikit lebih baik… Maaf juga, karena—”
“Ratusan bunga yang gue kasih, gak berhasil bikin lo luluh? Gak berhasil bikin lo sadar kalau semua itu ternyata pengorbanan gue? It’s okay, Ra… your feelings matter. Gue gapapa, jangan ngerasa bersalah ya cantik?”
“Lo mau bikin gue terharu atau malah mau ngegoda gue sih kak? Heran…” Ujar Xennora mencairkan suasana. Panggilan itu tidak ada di dalam daftar 10 panggilan kesayangan versi Julian tadi, jadi Xennora belum siap mendengar yang satu ini.
Julian terkekeh lalu mengelus pelan Kepala Xennora. Ia bahagia bisa sedekat ini dengan Xennora, ia bahagia bisa berdiri cukup lama di samping gadis itu, ia bahagia bisa menjadi alasan Xennora tersenyum, ia bahagia bisa memperbaiki hubungan mereka. Julian bahagia…. Karena akhirnya semua impiannya sejak lama terkabulkan. Semua permintaannya kepada Tuhan, semua harapan yang ia panjatkan, semua doa dan kerja keras yang Julian usahakan… Kini, semua itu menjadi kenyataan. Kenyataan yang cukup menyakitkan juga, karena hanya sementara. Hanya bertahan selama setidaknya 45 hari…
“Ayo pulang, udah malem.” Ajak Julian setelah menurunkan tangannya dari kepala Xennora. Tidak, hatinya berkata untuk tetap bertahan di tempat itu. Bertahan sedikit lebih lama lagi.
“Eh? Jam berapa sekarang? Jam setengah delapan… Lo yakin kak?” Tanya Xennora yang membuat Julian lebih bimbang lagi.
Julian tersenyum. “Iya, udah malem loh ini, Ra. Lain kali deh kita jalan-jalan lagi kayak gini, agak siangan biar mainnya lama Hahaha…” Kebohongan apa lagi ini…? Kenapa pikiran dan perasaannya tidak sinkron? Kenapa semua yang ia ucapkan tidak sesuai dengan apa yang ia rasakan?
__ADS_1
“Haha… Ya udah deh, ayo kak.” Ajak Xennora sambil berjalan mendahului Julian.
Julian masih diam di sana, ia menatap langit dengan mata berkaca-kaca, kemudian tersenyum setelah mendengar Xennora yang memanggilnya. Sebenarnya, ada beberapa hal lagi yang sangat Julian inginkan…
“Iya, sebentar. Aku… Nyusul…”
Salah satunya menggunakan kosa kata itu.
Entah keberapa kalinya Julian menghela napas di sana, ia tidak bisa menahan emosinya, ia tidak bisa menahan apa yang harusnya terjadi, ia tidak bisa menahan apa yang seharusnya pergi. Julian tidak bisa mempertahankannya. Ia tidak bisa menahannya. Dengan langkah cepat, Julian mendekati Xennora lalu mendekap gadis itu. Ia membiarkan air matanya keluar. Untuk kali ini, Julian tidak akan berusaha keras untuk menyangkal apapun. Menerima semuanya memang lebih berat, namun menyangkalnya akan lebih membuat Julian tersiksa.
Semua perjuangannya, semua harapannya, semua impiannya, semua kenangannya, dan dia… yang harusnya berjalan di sampingnya akan pergi ke arah yang berbeda. Semuanya tidak akan sama lagi.
Semua sudah jelas dari awal. Mereka bertengkar, tidak pernah akur selama 5 tahun, Xennora tidak pernah mengharapkan apapun, gadis itu tidak ingin mengubah apapun. Yang berlebihan di sini hanya Julian, yang ingin mengubah garis takdir hanyalah Julian, yang berjuang hanya Julian, hanya Julian, dan Julian… Tentu hal ini membuat suatu akhir yang jelas. Akhir tidak bahagia. Sepertinya semua orang pun menyadari, semua orang pun tahu, akhir dari kisah ini. Ya… Hanya Julian yang mencoba menutup mata, mencoba keluar dari garis takdir, mencoba menjatuhkan dirinya ke dalam lautan lepas, menyangkal akhir kisah ini.
Ternyata ada kisah seperti ini… Bukan orang ketiga, bukan halangan restu, bukan kepergian kepada Sang Pencipta, bukan juga halangan perasaan. Tapi ini tentang garis takdir, yang pada dasarnya memang tidak bisa diganggu gugat, bahkan ditebak.
...“Kisah ini memang suatu kesalahan… Kesalahan yang membahagiakan, sekaligus menyedihkan di waktu yang sama. Di mana semuanya terhalang oleh garis takdir.”...
...-Julian Matteo Kayden-...
“Matahari mengajarkan kita bahwa pada setiap pertemuan yang hangat terdapat sebuah perpisahan yang indah, dari Arief Subagja.”
“Mengucapkan perpisahan itu sama halnya seperti sedikit merasa mati, dari Raymond Chandler.”
“Mungkin kalian mengira ada cinta di dalam sebuah mempertahankan. Tapi juga ada cinta yang tak kalah besar dari sebuah melepaskan, Mario Teguh.”
“Perpisahan memang dibuat untuk menjadikan pertemuan kembali terasa indah sekali, Ken Terate.”
“Beberapa perpisahan bukanlah akhir dari cerita, tapi mungkin awal dari perjalanan baru.”
...Season 1… End...
__ADS_1