
"Bodoh, kepedean, sok kenal, gak jelas dan miskin. Ada yang berani memanggilku seperti itu sekarang?" Deandra berjalan di bagian depan panggung. Mencoba berinteraksi dengan seluruh korbannya yang bahkan tak ada yang berani duduk di kursi barisan paling depan.
Semua penonton terdiam, tak ada yang berani bahkan untuk sekedar merespon ucapan Deandra. "Gak ada ya? Tapi walaupun gak ada, tetap akan ada yang kehilangan nyawa hari ini...."
"Bisa jadi kalian, atau tiga murid yang ada di sini, atau.... tiga murid yang baru saja kabur. Lihat saja nanti." ujar Deandra lalu pergi keluar ruangan itu lewat pintu yang ada di belakang panggung.
Sepeninggal Deandra, beberapa siswa dan dua orang guru mendekati Cathleen, Kaina dan Raina yang masih meringkuk kesakitan.
"Bagaimana ini Pak?" Tanya Bu Raya pada Pak Hasan.
"Hubungi kepolisian, apapun yang akan terjadi. Setidaknya kita harus meminta bantuan. SAN bukan tempat yang aman untuk saat ini, astaga mengapa aku menyekolahkan seorang kriminal." gerutu Pak Hasan seraya membuka handphone nya.
"Sebentar, Pak." Nazril menginterupsi seluruh atensi di ruangan itu. Ia pun mendekati Pak Hasan yang tengah berdiri di depan panggung, membuatnya benar-benar menjadi pusat perhatian.
"Mempertimbangkan ucapan Deandra tadi, sinyal di sini juga terganggu. Bapak tidak bisa menghubungi siapapun saat ini." jelas Nazril membuat Pak Hasan segera memeriksa handphone nya. Dan benar saja, tak ada sedikitpun sinyal di sana.
"Mungkin sebaiknya kita harus melakukan hal yang dapat membantu walaupun sedikit. Misalnya... Menghancurkan beberapa kamera pengawas di ruangan ini dan juga mengerahkan anggota PMR untuk mengurangi penderitaan ketiga siswi itu."
Terdengar gumaman yang mengatakan 'bener juga', 'iya ya...' dan beberapa gumaman tanda setuju lainnya. Pak Hasan mengangguk kecil. "Baiklah, bisa saja mereka meretas kamera pengawas. Kalau begitu, anggota PMR segera bergabung dan bantu mereka. Ada yang ikut ekskul beladiri? Atau siswa yang dirasa memiliki kekuatan yang cukup untuk menghancurkan sesuatu?"
Sekitar belasan siswa mengacungkan tangannya membuat Pak Hasan tersenyum puas. "Kalau begitu tolong hancurkan kamera pengawas di sini. Mungkin ada sekitar... Sepuluh kamera pengawas termasuk yang ada di lantai dua sana. Bapak akan sangat berterima kasih atas bantuan kalian."
"Umm maaf menyela, Pak." potong salah satu siswa berkacamata.
"Ya?"
"Daripada dihancurkan, apa lebih baik di nonaktifkan saja?"
"Kamu bisa?"
"Bukan hanya saya, Pak. Tapi kami, anggota club komputer." jawabnya seraya menunjuk dua siswi dan seorang siswa di dekatnya.
Senyum Pak Hasan kian merekah. "Boleh nak, Bapak sangat berterimakasih atas bantuan kalian."
Para siswa yang diberikan tugas untuk menyabotase kamera pengawas pun segera mengerjakan tugasnya. Edwin pun menuntun Sofia untuk mendekati Nazril.
"Gimana sama gas Fluorin nya?" Tanya Edwin sedikit berbisik agar orang lain tidak mendengar dan menjadi panik.
__ADS_1
"Deandra gak bilang apa-apa ya tadi? Um... Kalau ternyata info tentang Alvin sama Cleine salah, berarti info tentang gas ini juga gak sepenuhnya bener." Asumsi Nazril.
Tak lama, dua orang murid menghampiri Pak Hasan yang sedang berjongkok di dekat Nazril untuk memeriksa keadaan Cathleen dan kedua temannya.
"Pintu belakang dikunci, Pak. Security yang ada di luar juga sepertinya sedang pergi, atau mungkin pingsan."
Pak Hasan terdiam sejenak. Sementara itu, Cathleen, Kaina dan Raina sudah sedikit lebih tenang walaupun sesekali terisak. Keringat sudah membanjiri dahi dan leher mereka. Entah apa yang di berikan oleh para anggota PMR itu tapi yang pasti, Nazril melihat lima botol air mineral yang sudah kosong.
"Kalau begitu tidak ada cara lain. Kita harus memakai lorong rahasia."
...❄❄❄💙❄❄❄...
Xennora berlari sekuat tenaga menaiki puluhan anak tangga menuju atap. Napasnya tidak beraturan, semakin lama langkahnya pun semakin pelan. Ia terdiam sebentar, mengangkat gaunnya lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan sesekali mengelap keringat yang mengucur dengan punggung tangannya.
Langkah seseorang yang berlari tepat di bawah tangga tempat Xennora berpijak membuat gadis itu bertambah panik. Sesampainya di atap, Xennora menatap sekeliling lalu berjalan mundur dengan tatapan yang terpaku pada pintu yang ia lewati beberapa detik yang lalu. Sibuk berjalan mundur dengan napas yang senantiasa terengah, seseorang menariknya dari belakang membuatnya hampir berteriak kalau saja pria itu tidak menutup mulut Xennora.
Tak lama terdengar suara pintu yang terbuka dengan kasar, lalu setelah kurang dari satu menit pintu kembali tertutup membuat pria di belakang Xennora ini melepaskan tangannya yang membekap mulut Xennora. Gadis itu masih menerka siapa pria yang membantunya bersembunyi ini. Tak lama, kakinya terasa dingin dan sesuatu seperti air perlahan menetes di kakinya.
Xennora ingin berbalik namun posisinya dan pria ini sungguh canggung. Biar bagaimanapun ini terlihat seperti pelukan dari belakang.
"Kayaknya aman...?" Suara ini, tentu Xennora mengenalnya.
"Haha... Itu... Kecelakaan. Gak semua kok, celananya aja."
Xennora masih menatap Julian curiga. Tentu alasan yang Julian ucapkan terdengar sedikit konyol.
"Ju? Julian!" Itu suara Leo dari walkie talkie, segera Julian pun membalas. Merasa bersyukur alat itu tidak terkena air tadi.
"Hah? Apa?"
"Re--na ny--gal, ki-- ha--s manggil p--si sekara--,"
Tentu saja, sinyal di sini sedang tidak karuan.
"Ha?"
Tak ada balasan di seberang sana, hanya ada suara seperti radio yang rusak. Julian menyerah, mau dipanggil sampai kapanpun, jika tak ada sinyal maka alat itu juga tak akan berfungsi dengan baik.
__ADS_1
"Kayaknya kita harus ke bawah sekarang." ucap Julian yang sedang berjalan mendekati pintu berbahan besi dan kayu itu.
Xennora mengikuti di belakangnya, masih memikirkan bagaimana nasib Eireen dan Vina di bawah sana. Terdengar Julian yang berniat membuka pintu, namun sepertinya tertahan.
"Gak mungkin." gumam Julian tak percaya.
"Kenapa kak?"
"Pintunya gak bisa dibuka. Kayaknya di kunci."
Mendengar itu, Xennora ikut panik. Ia mencoba membuka pintu, siapa tahu Julian hanya membuat prank tapi ternyata salah, pintu benar-benar terkunci.
"Kok bisa? Padahal tadi gue kan dateng dari sini..." gumam Xennora.
Julian mencoba mendobrak pintu itu beberapa kali namun ternyata pintu berbahan besi dan kayu itu memang terlalu kuat untuk di dobrak. Lagipula, di atap sini tak ada benda-benda berguna seperti potongan besi atau bahkan kapak yang Xennora temukan di aula tadi.
"Coba pintu yang di seberang," saran Xennora. Julian pun segera berlari diikuti Xennora. Namun nihil, kedua pintu itu sama-sama terkunci. Lebih tepatnya dikunci.
Julian berdecak kesal seraya meninju pintu itu dengan keras walaupun nyatanya tinjuan Julian tak seberapa dengan kekuatan si pintu. Xennora menghela napas pasrah lalu bersandar di pintu itu. Julian berdiri membelakangi nya, terlihat seperti sedang berpikir. Postur tubuhnya dari belakang sungguh sempurna. Setelan itu benar-benar cocok untuknya. Xennora mengakui itu.
*17 Mei 2017
Sore itu seorang siswi kelas 8 SMP pulang sendirian menggunkan bus umum. Tak lama, seorang siswa kelas 9 juga memasuki bus itu. Mereka berdua tidak mendapatkan tempat duduk karena bus nya lumayan penuh. Xennora yang masih SMP itu pun tidak menyukai ide untuk berpegangan pada pegangan atas. Ia merasa sedikit tidak nyaman. Untuk itu, Xennora pun sedikit berpegangan pada kursi walaupun tidak memberikan keuntungan lebih. Leo dan Edwin sibuk dengan kegiatan ekskul mereka sehingga tidak dapat pulang bersama Xennora.
Seringkali tubuhnya terhuyung seiring dengan pergerakan bus. Siswa tadi yang melihat hal itu dari kejauhan pun berjalan mendekatinya dengan pelan, mencoba membuat Xennora tidak menyadari keberadaannya. Diam-diam, tangan kanannya sudah dalam posisi, bersiap menahan Xennora kalau-kalau gadis itu terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Sementara itu, tangan kirinya ia gunakan untuk berpegangan pada kursi.
Saat bus mengerem secara mendadak, Xennora nyaris benar-benar terjatuh. Julian pun berniat menahan tubuh gadis itu jika dia memang akan terjatuh. Namun ternyata Xennora pandai menjaga keseimbangan.
Karena menyadari seseorang berdiri di belakangnya, Xennora berbalik dan terkejut ketika mendapati kakak kelasnya yang juga sama terkejut nya dengan Xennora. Segera, Xennora menatap Julian penuh curiga.
"Lo mau dorong gue ya?!" Fitna Xennora membuat Julian lebih terkejut lagi.
"A-apaan?! ---"
"Apa banget nyerang cewek dari belakang... Gue tau kalau lo benci sama gue. Tapi gak usah gitu juga kali. Cemen tau gak?"
"Tapi Sen--"
__ADS_1
Terlambat, gadis itu sudah turun dari bus tanpa memperdulikan Julian. Bahkan Xennora tidak berbalik sama sekali membuat pria itu menghela napas lelah*.