
"Kenapa lo bodoh banget sih?! Udah kakak bilang kan jangan pergi ke gedung dua kalau kakak lagi berulah! Gini kan jadinya!" Bentak seorang perempuan kepada adiknya yang sedang menunduk. Di meja itu bukan hanya seorang gadis yang sedang duduk sambil menunduk dan satu gadis lainnya berdiri tepat didepannya, namun ada seorang pria dengan jaket hoodie yang duduk di sisi meja yang lain. Sepertinya tak berniat menghentikan perdebatan antara kakak dan adiknya itu.
"Gue tanya, kenapa lo ada di ruang kesenian gedung 2? Kenapa lo ada di deket lab biologi di gedung 2?! Sampai ngasih tahu Julian sama Xennora segala. Mau kakak lo ini kena masalah hah? Mau?!" Tanya sang kakak membuat adiknya menggeleng sambil menangis.
"Terus kenapa lo ada disana?!" Bentak kakaknya lagi.
"A-aku cuma khawatir kalau Vina ngasih tahu kakaknya. Vina udah curiga kak sama aula belakang sekolah, dan aku... Aku takut kalo Vina sama kakaknya pergi kesana lagi dan berhasil buka pintunya..." Lirih gadis itu.
"Rani... Rani..." Ujar kakaknya sambil terkekeh lalu berjalan mendekati adiknya dan berdiri di belakang gadis yang ia panggil 'Rani' itu.
"Kakak udah menjalankan 'misi' ini selama 8 tahun. Kamu kira kakak sebodoh itu hm?" Ucap sang kakak yang suaranya melembut dengan tangan yang menyentuh kedua bahu adiknya dari belakang.
"Pokoknya, kakak gak mau tahu. Lo jangan pergi ke gedung 2 apalagi sampai ngeganggu urusan kakak. Ngerti?" Suaranya kembali tegas membuat sang adik mengangguk spontan.
"Rey, kerja kamu gimana?" Sang kakak teralih dengan adik laki-laki yang sedari tadi tak mengeluarkan suara.
"Beres kak, dia mau." Jawab laki-laki yang dipanggil 'Rey' tersebut membuat sang kakak tersenyum puas lalu mengangguk.
"Bagus. Kakak mau pulang dulu, udah malem. Takut mereka curiga." Ucap kakaknya sambil melenggang pergi dari ruangan gelap itu.
Kerja sama keluarga yang bagus. Tapi jika dipakai untuk kejahatan bukannya bagus, tapi sebaliknya. Rani muak dengan ini semua, tapi apa boleh buat? Dia anak bungsu yang dilahirkan dengan kedua kakak ber-tempramental dan brengsek. Rani akui itu. Ia tak membenci Vina dan kakaknya Vina, maupun teman-teman kakaknya Vina. Lagipula usianya memang tidak cocok dengan figur seorang siswi kelas 9 SMP, tapi kenapa kakaknya memaksa agar Rani tidak naik kelas? Dia kan ingin mencoba satu kelas dengan anak-anak yang populer di seluruh SAN, seperti Xennora, Vinca, dan bahkan Satria si ketua basket.
Dan lucunya lagi, teman-temannya bahkan mengira jika Rani seumuran dengan mereka. Hal ini membuat ia bertanya-tanya apakah kondisinya sama dengan kedua kakaknya?
...❄❄❄💙❄❄❄...
Karena yang lain berkutat dengan keperluan masing-masing, hanya Julian yang tersisa di lab Perdata itu. Sedikit lelah, ia pun berbaring di karpet lalu mencoba berbagai posisi sambil meregangkan tubuhnya. Tanpa sengaja, Julian melihat sesuatu berkilauan seperti manik-manik di dekat pintu. Dengan rasa penasaran, Julian pun mendekatinya dan itu adalah sebuah gelang yang sepertinya pernah ia lihat.
"Ini... Punya Xennora 'kan?" Gumamnya seraya membolak-balikkan gelang itu. Terlihat, ukiran timbul berisi dua huruf yang pernah Julian lihat, J dan K. Tak salah lagi, gelang ini milik Xennora. Julian pun pergi keluar dan diam berdiri dengan kedua tangan yang ia masukkan ke saku celana sambil menatap langit dari lantai dua tersebut.
Langitnya cukup indah, ratusan bintang bertabur dengan bulan sabit di tengah-tengahnya. Suasana sekolah bisa dibilang agak mengerikan, Julian bahkan tidak yakin jika Vinca dan Sofia pergi ke toilet dengan tenang. Sedangkan toilet hanya ada di lantai satu dan tiga, mereka berdua pasti banyak melakukan cursing dan bahkan toxic jika mendengar sesuatu terjatuh. Bahkan Julian tak bisa membayangkan hal itu.
Tak lama, siluet seorang perempuan terlihat dari kejauhan karena tak semua lampu di koridor menyala membuat Julian harus menyipitkan matanya untuk melihat siapa yang datang. Setelah di depan kelas 11 Perdata 4 yang berada di samping lab, Julian baru mengetahui siapa gadis yang datang dan itu adalah Xennora dengan wajah flat, seperti biasa.
Xennora sempat melihat ke arah Julian, dan untungnya gelang milik Xennora di genggam oleh Julian sehingga gadis itu tidak sadar. Dengan langkah santai, Xennora masuk ke lab diikuti Julian di belakangnya.
"Dompet gue ketinggalan." Ucap Xennora sambil mencari dompetnya di tas, menjawab pertanyaan pria di belakangnya itu. Julian mengangguk lalu bersandar di tembok dekat pintu seraya memperhatikan Xennora yang telah menemukan dompetnya lalu berniat untuk pergi ke luar lagi.
Saat akan melewati pintu, Julian menghentikan nya dengan cara memperlihatkan gelang milik Xennora tepat di depan wajah gadis itu membuat Xennora sedikit terkejut. Selain terkejut karena tiba-tiba sebuah gelang menggantung di depannya, Xennora juga terkejut kenapa gelang miliknya ada pada Julian.
"Punya lo kan?" Tanya Julian santai.
__ADS_1
"Kok?" Bingung Xennora langsung mengambil gelang itu, tapi gagal. Julian telah menarik lengannya sebelum Xennora berhasil meraih gelang tersebut.
"Jelasin dulu ke gue, JK itu inisial nama gue kan?" Tanya Julian percaya diri. Jika tebakan Julian salah tentu Xennora akan tertawa karena ucapan yang penuh rasa percaya diri itu keluar dari mulut Julian. Namun sekarang tidak, Xennora bahkan bingung mencari alasan karena tebakan Julian seratus persen benar.
"A-apaan.. Haha percaya diri banget sih lo. Itu... Itu..." Jawab Xennora gelagapan karena belum mendapat pelesetan yang pas dari kedua huruf tersebut.
"Itu...?" Pancing Julian sambil tersenyum menggoda.
"Itu... Inisial nama Jungkook BTS!" Sumpah... Xennora bahkan tidak tahu Jungkook itu yang mana. Ia hanya tahu jika Jungkook adalah salah satu member BTS karena Antha terus membicarakan mereka. Benar, the power of kepepet.
Julian tersenyum, jelas sekali dari cara bicara Xennora jika gadis itu sedang membuat pelesetan dan itu bahkan terdengar dari nada bicaranya yang terlihat panik. Seakan mendapatkan jawaban, Julian pun memberikan gelang milik Xennora ke pemiliknya dengan senyuman yang membuat Xennora kesal sendiri.
"Rese banget sih lo!" Ujar Xennora lalu mengambil gelangnya dan pergi untuk menyusul Herina dan Vina.
"Gak salah lagi. Pasti nama gue."
...Day 3...
Kini, para anggota penyelidikan --kurang Edwin, Julian dan Herina karena mereka membeli sarapan seperti bubur atau roti bakar di sekitar sekolah-- sedang duduk melingkar sambil membahas masalah baru.
Bagaimana cara menghentikan pelakunya?
Dan juga...
Pukul 8 mereka baru bangun karena semalam bergadang membahas rekaman CCTV yang Leo bawa. Hasilnya, tak ada yang mengambil kunci di ruang guru, dan hal itu mampu membuat mereka tak bisa tidur. Alhasil Vina, anggota yang tidur pertama di jam 11 malam karena kakaknya memaksa. Lalu Sofia, Eireen dan Vinca pukul setengah satu malam. Dilanjutkan Herina dan Xennora pukul dua pagi. Dan terakhir para laki-laki pukul tiga pagi karena Edwin mengajak bermain game online sebentar.
"Gimana kalau manipulasi nomor absen?" Usul Leo membuat Sofia, Eireen, Vinca, Ervin, Vina, terutama Xennora memandangnya terkejut, namun lebih ke seakan mengatakan,
'hah? Gila kali. Mending jangan deh'
"Terlalu berisiko, ngaco." Ucap Xennora sebal.
"Satu-satunya jalan yang benar-benar tepat sih.... Cari siapa pelakunya." Ujar Vinca yang mereka angguki.
"Ada sekitar tiga ribu siswa di SAN. Kita perlu waktu yang lebih banyak daripada seminggu. Belum lagi ngumpulin bukti yang akurat." Ucap Eireen.
"Mungkin siswa SMP bisa kita hapus dari daftar tersangka." Usul Sofia yang menimbulkan pro dan kontra.
"Bisa jadi."
"Hei gimana kalau si pelaku nyamar jadi murid SMP padahal usianya udah 20-an?"
__ADS_1
"Ga ada yang kayak gitu, ngaco."
"Bisa aja ya! Absen juga bisa dimanipulasi apalagi umur!"
"Tapi gimana kalau ternyata si pelaku itu orang-orang di sekitar kita?"
"Nah ini baru masuk akal."
Sungguh, perdebatan mereka sampai terdengar ke luar ruangan. Untung saja tak ada siapa-siapa di sekolah. Para guru yang ada jadwal malam sudah pulang pukul 7 dan security pun baru datang nanti agak siang.
Herina dan Edwin masuk dengan dua mangkuk bubur di kedua tangan mereka. Disusul Julian dibelakang dengan langkah pelan dan hati-hati karena membawa nampan berisi 6 mangkuk bubur yang disusun seperti piramida. Salahkan saja Edwin dan Herina karena tak bersimpati padanya.
"Emangnya gak ada bukti lain yang menyangkut si pelaku?" Tanya Edwin. Percakapan mereka memang benar-benar terdengar sampai ke luar.
Mereka menatap Sofia yang sudah bersiap memakan buburnya. Tentu Sofia menyadari itu, ia pun memandang teman-temannya bingung campur sedikit tidak enak.
"Apa?" Tanya Sofia setelah menyimpan kembali sendok nya.
"Lo kan punya nomor si pelaku Fi. Coba deh telfon." Ucap Vinca penuh harap.
"Ha? Gila kali. Kayak nyari mati banget gue." Tolak Sofia.
"Bisa aja dia pakai nomor sekali pakai? Eh tapi gak mungkin sih, dia ngirim pesannya tiap hari..." Ujar Leo.
"Ayolah Fi, siapa tahu pelakunya jawab terus nanti ngobrol terus janji gak bakalan ngeganggu lagi terus main bareng terus ngedate terus jadian deh hahahaha..." Canda Ervin yang diberi tatapan datar oleh Sofia, Julian, Edwin, Herina dan Xennora.
"Yakali kak." Ujar Sofia sebal lalu mengeluarkan handphone nya. Ia menekan roomchat nya dengan seseorang yang nomornya tidak ia simpan. Sofia pun menelfon nomor itu namun mereka merasakan hal yang aneh. Seperti terdengar sesuatu,
Sebuah suara ringtone.
Refleks, para laki-laki berlari keluar dan menemukan siluet seseorang dengan hoodie hitam berlari di koridor yang berseberangan dengan markas mereka.
Julian, Ervin, Edwin dan Leo pun mengejar pelaku. Julian dan Ervin ke koridor sebelah kanan sedangkan Edwin dan Leo ke koridor sebelah kiri. Para perempuan baru keluar karena bingung harus melakukan apa. Xennora lihat, di seberang sana si pelaku menaiki tangga. Jauh di sekitarnya ada Leo, Edwin, Julian dan Ervin. Segera, Xennora pun menuju tangga yang jaraknya dekat dengan lab lalu naik ke lantai tiga.
Dari postur tubuhnya, orang dengan jaket hoodie itu adalah seorang laki-laki, apalagi dia berlari sangat cepat yang mana tak mungkin dilakukan seorang perempuan. Di lantai tiga, Xennora tak melihat siapapun walaupun matanya sudah melihat sekitar dan hanya mendapati keempat kakak kelasnya yang baru sampai di lantai tiga. Xennora pun berlari lagi di tangga menuju Rooftop sekolah. Julian yang melihatnya langsung mengikuti niat Xennora untuk pergi ke Rooftop dan meninggalkan tiga temannya yang masih melihat sekeliling dengan napas terengah.
Xennora sampai dengan napas tak beraturan. Ia menunduk dan memegang kedua lututnya. Diseberang sana, ia lihat Julian yang berjalan dengan sedikit sempoyongan sambil melihat sekeliling. Xennora bangkit lalu melihat sekitar. Pemandangan disana tentu gedung-gedung tinggi dan jalan raya. Di Rooftop juga ada dua tangki besar tempat menyimpan air. Ada juga beberapa meja dan kursi yang tak terpakai dan posisinya berantakan. Disekitarnya terdapat banyak tanaman hijau, lebih terlihat seperti taman.
Julian dan Xennora sempat saling menukar pandangan lalu Julian menunjuk ke depan yang artinya mereka harus mengecek ke bagian belakang Rooftop. Xennora mengangguk lalu dengan sedikit berlari kecil, ia berjalan ke kanan atau bisa disebut Rooftop gedung bagian belakang sekolah. Mereka berjalan cukup jauh karena luas gedung SAN high school lumayan besar.
Saat sudah dekat dengan sudut Rooftop, langkah Xennora melambat. Ia dapat melihat sepasang kaki yang memakai sepatu converse putih. Xennora tidak yakin itu pelakunya karena tadi ia lihat sendiri jika si pelaku memakai jeans panjang.
__ADS_1
Dengan penasaran, Xennora pun kembali mempercepat langkahnya dan menemukan kakak kelasnya sedang duduk bersandar di tembok pembatas Rooftop sambil mengenakan kemeja biru dan rok hitam sedikit diatas lutut lalu di sampingnya ada sebuah jaket hoodie hitam yang dibiarkan begitu saja. Rambutnya lurus sebahu berwarna hitam ombre silver yang terlihat sangat menawan.
"Kakak ngapain disini?"