
"Gue... Suka sama lo. "Ucap Julian menatap Xennora yang terlihat terkejut. Tatapannya benar-benar terfokuskan pada gadis di depannya seakan tak ada pemandangan lain yang lebih menarik daripada menatap netra hitam berkilau milik Xennora.
"Lima tahun yang lalu. Tapi gue mikir, kalau lo gak akan pernah suka sama gue. Alasannya? Tatapan lo, tingkah lo, semua hal yang lo lakukan pas deket atau denger apapun tentang gue. Makanya, gue mau lupain perasaan gue. Seenggaknya sampai gue gak masuk fase 'cinta' buat lo." Lanjut Julian membuat Xennora menatapnya setengah tidak percaya.
Lima tahun yang lalu berarti saat Xennora baru saja menjadi murid baru SAN High School 'kan?
"Tapi kak... Aku... Ah, kakak... Gak seharusnya--"
"Tapi gue gak pernah bisa." Ucap Julian memotong perkataan Xennora membuat gadis itu menatapnya bingung. Xennora si trouble maker boleh-boleh saja kan bersikap malu, salting atau bahkan baper?
"Hah?"
Kini Julian terlihat lebih santai karena telah mengeluarkan unek-unek nya. Dengan itu, ia kembali melanjutkan ucapannya. "Sampai kemarin gue sadar, kalau emang tatapan itu biasa buat seorang Xennora Anesta. Dan gue gak harus sekeras ini nyoba buat lupain perasaan gue. But We're act like an enemy. Dengan cara gue yang terus berantem sama lo, bikin lo kesel, gue harap bisa bikin gue lupa sama perasaan gue. Ternyata, malah lo yang lebih kesel sama gue." Ujar Julian disertai kekehan diakhir kalimatnya.
Xennora terdiam, masih menunduk. Fakta bahwa Julian menyukainya lima tahun yang lalu membuatnya salah tingkah. Hal itu juga membuat Xennora kembali berpikir, apa Julian masih menyukainya?
Cukup lama mereka berkutat dengan pikirannya masing-masing hingga Xennora mendongak lalu menatap Julian. "Ya... Kabar baik buat gue, ada yang suka sama gue walaupun sifat gue seburuk ini." Ujar nya terkekeh pelan.
Julian tersenyum, "apapun yang lo lakukan pasti harus ada alasannya dulu kan?" Ucap Julian meniru ucapan Xennora tadi membuat gadis bersurai brunette itu tersenyum lalu mengangguk.
Tak lama, Xennora melihat ke bawah. Tempat dimana Carissa dan Irfan tengah berfoto di pelaminan. Julian mengikuti arah pandang Xennora. Ia bahkan lupa harus bersosialisasi dengan rekan kerja ayahnya.
"Lo tau dia?" Tanya Xennora menatap Julian yang mengetahui siapa 'dia' yang Xennora maksud.
Julian mengangguk yakin, "tau lah. Penyanyi terkenal, Carissa Putri." Jawabnya yakin.
Xennora yang masih melihat Carissa pun tersenyum, "percaya gak, kalau dia mama kandung gue?" Tanya Xennora. Julian yang tengah asik menyantap anggur pun masih tak sadar dengan ucapan Xennora.
"Eireen juga pernah bilang, ada rumor yang bilang kalau bunda Carissa sempat melahirkan." Ucap Julian menyetujui Xennora. Namun satu detik kemudian pria itu berhenti mengunyah dan segera menelan anggurnya. Ia menatap Xennora tak percaya.
"Jadi... Lo anaknya?!" Teriak Julian. Namun karena situasi di sekitar lumayan ramai, hanya segelintir orang yang menatap mereka aneh.
"Wah... Hahaha... Pantesan gue kayak pernah lihat wajah bunda Carissa pas masih muda... Iya juga ya, kalian mirip. Rambut, hidung, dimple, senyum, bibir.....
--ekhm..." Seketika raut Julian yang terlihat excited berubah menjadi seperti biasa. Xennora pun terkekeh melihatnya.
Julian baru ingat, saat ia melihat Xennora bernyanyi di ruang musik. Pantas saja suaranya bagus. Ternyata bakat turunan dari Carissa.
"Itu rahasia gue, sekarang kita impas. Gue gak akan bocorin rahasia lo dan gue harap lo juga bisa jaga rahasia gue." Ucap Xennora tersenyum manis untuk pertama kalinya.
Julian mengangguk, tapi tak lama pandangan Xennora jatuh pada tangan kiri Julian yang masih di perban.
"Udah diganti perbannya?" Tanya Xennora.
__ADS_1
Julian sedikit terperangah karena ia baru mengingatnya. "Belum." Jawabnya sambil tersenyum kikuk. Xennora menghela napas lalu ia mengeluarkan kotak P3K kecil di tasnya. Isinya hanya plester, perban, salep, obat pereda nyeri dan botol kecil berisi alkohol. Jaga-jaga untuk situasi seperti ini.
Perlahan Xennora membuka perbannya dan melihat luka di tangan Julian yang mulai membaik. "Lukanya udah lumayan kering, nanti malam boleh dibuka perbannya. Jangan lupa ya." Ucap Xennora sambil mengoleskan salep.
"Lo... Tahu banyak ya soal ginian." Ujar Julian setelah puas memandang wajah Xennora.
Gadis itu terkekeh pelan. "Sepupu gue yang ngajarin. Dia juga yang nyuruh gue buat selalu bawa P3K." Jawab Xennora yang kini tengah membalut tangan Julian dengan perban.
Julian mengangguk, lalu ia tersadar. Jika Xennora adalah putrinya Carissa dan Rafael, berarti...
Leo dan Edwin adalah saudara tiri nya?
...❄❄❄D-5❄❄❄...
Setelah upacara bendera selesai, biasanya murid-murid diberi waktu sepuluh menit untuk memulai kegiatan belajar mengajar. Sepuluh menit itulah yang dipakai para anggota penyelidikan untuk pergi ke kelas 11 Asasi 4. Eireen dan Vinca mengetuk pintu kelas yang siswanya sedang ribut, bukan bertengkar hanya saja, kurang tertib menurut peraturan SAN high school.
"Iya? Ada apa?" Tanya salah satu siswi dengan name tag Amanda yang mendekati mereka berdua. Delapan orang lainnya memantau di depan markas Perdata yang letaknya di samping kelas Asasi 4.
"Ada Devan gak?" Tanya Sofia yang mendapat ekspresi bingung dari Amanda.
"Devan? Setau gue, dia udah pindah. Gak tahu kemana, tapi kalian bisa tanya sama kakaknya, kak Deandra kelas 12 Hukum Publik." Ujar Amanda yang dibalas anggukan oleh Eireen dan Vinca.
"Ohh... Udah pindah? Kalau gitu, makasih ya info nya." Amanda mengangguk lalu kembali masuk ke kelas. Eireen dan Vinca pun mendekati teman-temannya.
"Kapan?" Tanya Edwin. Eireen dan Vinca menggeleng tanda tak tahu.
Julian menghela napas sebelum membuka suaranya, "mending kita ke kelas dulu, pulang sekolah kita bahas lagi." Ucapnya yang dibalas anggukan setuju dari mereka. Untuk itu, mereka segera pergi ke kelas masing-masing.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Jam pelajaran terakhir di kelas Xennora diisi oleh pelajaran PPKN yang guru atau bisa dibilang wali kelasnya... sedikit random. Bagaimana tidak, bukannya mengajar, Pak Harto yang usianya menginjak kepala empat malah mengajak mereka bermain. Bukan petak umpet, namun semacam truth or dare. Bedanya, ini truth or truth alias bermain jujur jujuran.
Kapan lagi punya guru seperti ini...
Jadi caranya, pak Harto menggunakan kertas absen lalu dengan penanya menunjuk deretan nama siswa di kelas dari atas ke bawah, ke atas ke bawah lagi seperti mainan anak SD saat sedang gabut. Lalu Pak Harto menyuruh muridnya untuk mengucapkan stop, dan Pak Harto menghentikan gerakan penanya. Nah bagi siswa yang namanya ditunjuk oleh pena, harus menjawab pertanyaan Pak Harto dengan jujur.
"Stop!" Teriak murid serempak dengan semangat, kecuali Xennora yang hanya menggerakkan mulutnya saja.
"Xennora Anesta Fachrunaldo! Yeeay!" Ujar Pak Harto semangat diikuti sorakan murid-murid yang lain guna memeriahkan suasana. Xennora tersenyum miris lalu mengangkat tangan kanannya, tanda jika dia duduk di barisan ke tiga.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Pak Harto bermain seperti ini, ia hanya ingin membuat murid-muridnya terbuka dan melepaskan semua masalah mental yang biasanya menyerang anak-anak remaja. Sekalian tempat curhat atau sarana pencerahan. Lagipula, pertanyaannya tidak aneh-aneh.
"Jadi Xennora, apa penyesalan terbesar kamu?" Tanyanya serius. Seluruh siswa juga otomatis mengalihkan atensi mereka menghadap Xennora. Lalu dengan singkat dan yakin Xennora menjawab,
__ADS_1
"Kurang teliti." Jawaban Xennora yang setengah-setengah tentu membuat orang-orang yang ada di kelas 11 Pidana 2 mengerutkan kening nya tak mengerti, termasuk Pak Harto sendiri.
"Maksudnya?" Akhirnya Pak Harto bertanya.
"Ya karena saya kurang teliti, saya pernah dapat nilai 90 di pelajaran matematika. Padahal saya bisa saja dapat nilai 96." jelas Xennora sambil memainkan pena-nya. Antha yang duduk disamping Xennora langsung mengernyit tak terima.
'Orang lain sih udah bersyukur banget dapat 90 di pelajaran matematika. Eh dia malah nyesel.' Batin Antha tak percaya.
"Kurang teliti nyontek nya ya? Hahahaha..." Tebak Aji di meja paling depan. Sontak beberapa siswa tertawa membuat Xennora mendelik pada Aji.
"Enak aja. Nilai gue murni hasil mikir ya! Lagian, tes matematika kan semuanya essay, gak mungkin gue nyontek." Bela Xennora.
"Sudah-sudah, kita main satu kali lagi sebelum bel pulang bunyi." Lerai Pak Harto lalu kembali mengambil penanya.
"Stop!" Teriak murid-murid serempak.
"Astaga, Xennora lagi..." Ujar Pak Harto membuat Xennora menghela napasnya lelah.
"Ya sudah, Xennora... Apa yang menjadi mimpi terburuk kamu, atau... Apa hal yang paling kamu takutkan dan khawatirkan?"
Xennora terdiam, dari yang posisi awalnya menyandar ke kursi menjadi tegak, tangannya ada di atas meja. Ia bingung ingin menjawab apa karena pertanyaan ini tak pernah terpikirkan sama sekali olehnya. Jika jawabannya adalah kematian bisa saja. Tapi jujur, Xennora tidak terlalu takut menghadapi kematian. Siapapun yang hidup pasti akan mati dan kembali menghadap-Nya kan?
Lalu, jika jawabannya adalah hari akhir... Itu juga bisa jadi. Tapi Xennora percaya diri jika dia termasuk orang beriman. Terlalu banyak memang hal-hal mengerikan di dunia ini, tergantung dilihatnya dari sudut pandang siapa. Setiap orang memiliki ketakutan tersendiri bukan?
Jadi, untuk Xennora... Hal yang paling ia khawatirkan yaitu,
"Ketika saya kehilangan semua ingatan bersama orang yang saya sayangi." Jawaban Xennora mampu membuat para siswa terdiam termasuk Pak Harto yang tak menyangka jawaban se-filosofis itu keluar dari mulut muridnya. Ia kira jawaban Xennora tak akan jauh dari yang namanya 'laki-laki' atau paling tidak 'makhluk'.
"Saya selalu khawatir jika hal-hal yang pernah saya lakukan bersama teman-teman dan saudara akan terlupakan begitu saja. Dan saya bahkan khawatir moment-moment di SMA seperti sekarang ini akan saya lupakan. Bagaimana saya tumbuh menjadi dewasa, bagaimana saat saya masih kecil dan bermain dengan saudara-saudara saya, bagaimana saat saya bercanda dengan teman-teman, bagaimana saat kak Edwin dan kak Leo yang selalu berusaha menjadi kakak yang baik dan selalu ada untuk adiknya, bagaimana saat pertama kali saya bertemu dengan Antha, bagaimana saat saya masuk ke kelas ini, dan.... Bagaimana saat saya menjalani hari-hari sebagai seorang Xennora Anesta Fachrunaldo.... Itu semua, akan berisiko terlupakan. Iya 'kan?" Percayalah, Xennora sedang menahan air matanya yang akan keluar, dan berusaha untuk mempertahankan senyumnya.
Antha sudah meneteskan air matanya sambil menunduk. Sedikit tak percaya kata-kata dari seorang Xennora mampu membuatnya mengeluarkan air mata. 'Bagaimana saat pertama kali saya bertemu dengan Antha '. Kalimat itu membuat Antha mengingat kembali pertemuan mereka yang cukup freak lima tahun yang lalu.
Pak Harto menghela napasnya, akhirnya ia mengerti jalan pikiran Xennora yang sangat suka membuat keonaran. Pak Harto pun tersenyum, "itu sebabnya... Kamu menjadi pembuat masalah? Untuk membuat hari-harimu tidak mudah terlupakan?"
Xennora tersenyum tipis, yakin jika Pak Harto mengerti dengan jawabannya. Tak lama, bel berbunyi. Beberapa murid masih termenung memikirkan perkataan Xennora yang memang sepenuhnya benar. Sisanya bernapas lega, lelah menanggung dosa karena berbohong. Jangan ditiru.
Begitulah, bukankah semua masalah akan lebih cepat selesai jika kita jujur? Namun tidak sepenuhnya salah, manusia berbohong pasti karena suatu alasan. Tentu alasan yang kuat dan benar-benar masuk akal.
Pak Harto membereskan barang-barangnya lalu berdiri dan menyuruh Aji untuk membawakan barang-barang nya itu ke ruang guru.
"Ya sudah, bapak pamit. Jangan lupa tugas nya dikumpul minggu depan ya. Sampai jumpa." Pamit Pak Harto yang mendapat jawaban serempak dari murid-muridnya.
"Iya pak, terimakasih ilmunya..."
__ADS_1