
“Yoyo masih sakit?” Tanya Xennora di telepon. Kini ia, Yuna dan Radit tengah berkumpul di kafe untuk membahas sugas praktek mereka. Yohan tidak bisa hadir karena masih sakit, jadi sekarang Xennora tengah menanyakan keadaannya.
“Udah mendingan kok.” Balas Yohan.
“Bohong, orang tadi aku ke rumah tapi badanmu masih panas banget.” Ucap Ayuna.
“Ya udah, kamu istirahat aja dulu Yo, baru nanti kita diskusiin secara terbuka kalau kamu udah bener-bener sehat. Sidangnya masih ada seminggu lebih kok.” Ujar Xennora yang disetujui oeh Ayuna.
“Hmm, thanks…”
“Aku tutup yaa, cepet sembuh…” Ujar Xennora lalu memutus hubungan telepon.
Tiba-tiba, dua orang pria mendekati meja mereka, satu orang dengan sebuah buku tebal, satunya lagi mengikuti dari belakang. Langkahnya terlihat ragu, dadanya bergemuruh. Namun ia mencoba mendekati mereka dengan tenang.
“Nih, Dit, bukunya. Semua materi di buku ini udah lengkap.” Ujar orang yang membawa buku tadi.
“Thanks bang, oh? Ada Julian juga…” Sapa Radit seraya menundukkan kepalanya sedikit. Julian hanya tersenyum membalas sapaan itu. Melihat Xennora yang hanya menatapnya datar membuat Julian ingin menangis saat itu juga.
“Ya udah, duluan ya Dit? Yok Ju!” Ajak teman Julian membuat Julian tersadar. Pria itu pun mengangguk lalu berbalik untuk pergi dari sana. Sepertinya Julian akan mulai mencoba melupakan Xennora, walaupun itu agak sulit karena Nyatanya ia sangat merindukan gadis itu. Lagi… Julian merasa masa lalunya itu sangat berharga. Julian selalu memikirkan hal ini dua tahun terakhir. Julian tidak bisa melupakannya.
“Pertemuan sama perpisahan selalu berdampingan… Kan?”
Baiklah, kini Julian mengerti apa arti dari kalimat yang Xennora ucapkan itu. ‘Cinta selalu merupakan perjalanan yang singkat, kenangan adalah mimpi selamanya…’
“Woww, itu Julian anak Fakultas ekonomi kan?” Kagum Yuna.
“Iya, aura nya emang konglomerat ya?” Gumam Raditya terkekeh.
“Dia beneran orang kaya?” Tanya Xennora tiba-tiba.
“Maksud kamu apa? Jelas lah!” Jawab Yuna menatap Xennora tidak percaya.
“Oh gitu…”
“Guys, aku duluan ya… Mau family trip hehe.” Interupsi Xennora setelah obrolan singkat lain.
“Gegayaan family trip, kel—”
“MULUTMU MASS! Belum pernah dijejelin bohlam lampu?” Potong Yuna karena ia tahu apa yang akan diucapkan oleh Raditya.
Xennora mendengus-tertawa. “Di kamus ku, siapapun yang bisa bikin nyaman, aku anggap keluarga. Dah ah, aku pamit. Byee! ” Ujar Xennora lalu keluar dari kafe itu yang disambut dengan kehadiran Bhiyan.
“Udah Sen? Yuk berangkat.” Ajak Bhiyan. Xennora pun mengangguk lalu mengikuti langkah Bhiyan menuju parkiran. Theo dan Silvana sudah siap di mobil, Xennora pun masuk lalu duduk dibelakang, bersama Theo yang tengah membaca buku. Bhiyan yang menyetir dan di sampingnya ada Silvana yang sibuk mencari menu makanan enak untuk di masak di rumah Ibu nanti.
Sudah merupakan kegiatan rutin apabila weekend di minggu pertama itu dijadikan waktu untuk mengunjungi Ibu nya A Bhiyan. Biasanya dua hari itu diisi oleh berbagai kegiatan yang terbilang masih tradisional, seperti memainkan mainan tradisional bersama anak-anak tetangga, memetik sayuran langsung di kebun, dan bahkan mengadakan acara makan bersama beralaskan daun pisang yang orang Sunda sering menyebutnya ngaliwet. Xennora paling suka makan bersama itu karena rasa nasinya sangat berbeda. Lebih enak dan bahkan Xennora bisa menerima dengan sepenuh hati jika disuruh memakan nasi saja tanpa lauk pauk. Karena dalam nasinya sudah ada rasa asin, rasa itu adalah rasa yang Xennora rindukan setiap harinya. Apalagi nasi liwet buatan Ibu Ira, Ibunya A Bhiyan yang rasanya terbaik menurut Xennora.
Astaga, ia sudah tidak sabar mencicipi masakannya Bu Ira yang kelewat enak itu…
“Sampai….” Seru Bhiyan lega. Perjalanannya hanya memakan waktu sekitar satu jam setengah dari pusat kota. Xennora keluar dari mobil lalu seperti biasa, ia menghirup udara pedesaan ini dalam-dalam. Udara nya masih sangat sejuk, pepohonan menjulang di sekitar mereka membuat kesan menakutkan. Itu saat Xennora pertama kali ke sini. Namun sekarang, yang ia lihat hanya pancaran keindahan alam yang begitu sempurna bak lukisan. Tetangga yang berdekatan dengan rumah Bu Ira dan suaminya hanya ada dua, sisanya berjarak sekitar 100 meter karena terhalang perkebunan sayuran. Rumah Bu Ira lah yang letaknya paling kanan, paling dekat dengan jalan raya yang memberikan akses ke desa ini. Jauh ke dalam semakin jelas hutan terlihat, pepohonan pun semakin rindang membuat suasana mencekam.
Xennora bersyukur Bu Ira tinggal di deretan paling awal. Di sini masih lumayan terang dan pohonnya pun tidak se lebat di daerah hutan sana. Benar-benar terasa seperti berkemah. Namun tidak biasanya rumah tetangga dekat Bu Ira itu terlihat sangat ramai. Biasanya hanya terdengar suara radio atau bahkan sepi senyap.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum…” Kompak Bhiyan, Xennora, Silvana, dan Theo ketika membuka pintu depan rumah Bu Ira.
“Wa’alaikumsalam…” Balas Bu Ira yang datang dari dapur lengkap dengan senyum hangatnya. Beliau memakai celemek membuat Xennora yakin jika Ibu nya A Bhiyan itu tengah memasak.
“Eh si cantik ikut… Masih sibuk Sen?” Tanya Bu Ira kepada Xennora membuat Bhiyan tersenyum sabar.
“Hehe… Masih sih Bu… Tapi sibuknya di delay dulu soalnya temen aku masih sakit…” Jawab Xennora membuat Bu Ira tersenyum mengerti. Beliau pun kemudian menarik tangan Xennora untuk pergi ke ruang keluarga di mana semua anggota keluarga besar Bhiyan tengah menonton film di sana.
Melihat kepergian Ibu dan Xennora, Bhiyan melangkah malas. “Buuu, Aa gak ditanyain nih?” Protesnya.
“Hayolohh, Bibi lebih sayang Xennora daripada kamu… Ternyata yang anak pungut di sini itu kamu ya? Hahahaha.” Gelak Silvana lalu pergi menyusul Xennora ke ruang tengah diikuti Theo. Bhiyan menghela napas sabar lalu ikut pergi ke ruang tengah, membiarkan barang bawaan mereka tergeletak di kursi ruang tamu.
“Ibu, Uwa, sama Bibi lagi masak apa nih?” Tanya Bhiyan sesampainya di dapur. Memang, ruangan pertama yang wajib Bhiyan kunjungi ketika pulang itu ya dapur. Dapur Ibu nya itu seakan tidak pernah kehabisan makanan, selalu saja Bhiyan menemukan makanan dari yang ringan sampai makanan berat. Letaknya pun macam-macam, dari Kulkas, lemari pinyimpanan, sampai tergeletak begitu saja di meja makan entah siapa pemilik asli makanan-makanan tersebut.
Prinsip di Rumah Bhiyan cukup unik. Tidak ada yang pernah kehilangan uang atau perhiasan di sini sekalipun tergeletak di meja ruang tengah sekalipun. Tapi makanan, jika ditinggalkan sepuluh detik saja, makanan itu akan langsung menghilang layaknya menggunakan sihir.
“Biasa… Kita ngaliwet dulu aja.” Jawab Bibi nya sambil mengulek sambal yang wangi terasi nya Sungguh menggugah selera.
“Wahh, kita langsung makan-makan?” Tanya Xennora semangat yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Bhiyan membuat pria itu memaki di dalam hatinya. Untung gak kelepasan ngomong langsung.
“Iya Sen… Mumpung daun pisangnya udah ada. Tinggal di lap aja sama Bapak…” Jawab Bu Ira membuat Xennora tersenyum semangat.
“Ngomong-ngomong, kok rasanya rame banget bu? Itu anak-anak siapa?” Tanya Bhiyan seraya melirik empat orang anak berusia antara empat sampai tujuh tahun yang sedang bermain dengan anak-anaknya Bibi dan Uwa. Sungguh suasana ruang tengah yang sangat ramai.
“Itu cucunya Bu Cempaka… Ganteng-ganteng ya?” Ucap Bu Ira membuat Bhiyan mengangguk setuju. Keempat anak-anak tersebut memang laki-laki semua, tidak ada yang perempuan.
“Pantesan tadi Aa liat rumahnya rame banget… Lagi ada kunjungan keluarga besar juga?”
“Bu… Ada yang bisa Xennora bantu gak?” Interupsi Xennora ketika Bhiyan berniat bertanya lagi.
“Udah kok Sen… Tinggal goreng-goreng aja ini… Kamu istirahat aja sana, katanya Belakangan ini sibuk sampai tidurnya Cuma satu jam dua jam? Tidur apaan satu jam?” Omel Bu Ira membuat Xennora tersenyum hangat. Dalam hitungan detik, Xennora segera mencium pipi Bu Ira dari belakang membuat wanita beranak dua itu terkejut, namun juga ikut tersenyum.
“Xennora sayang Ibu… Yaudah, aku mau kenalan aja sama anak-anak. A Bhiyan jangan ngemil muluu.” Ledek Xennora karena dari tadi Bhiyan terus memakan kentang yang harusnya dijadikan tumis kentang. Bhiyan dengan kesabarannya, hanya dapat menatap Xennora malas, lalu sibuk mencomoti kentangnya lagi.
“Halo dek adek… Udah kenal kakak belum nih?” Tanya Xennora seraya menghampiri tujuh anak yang tengah bermain lego tersebut. Satu diantara mereka perempuan, anaknya Bibi. Ratu namanya, Ratu Adistia Indira. Nama yang sangat indah. Bangsawan perempuan cantik yang mencintai keadilan.
“Belum kaak…” Ujar keempat anak yang dibicarakan Bu Ira tadi.
“Ya udah, kenalan dulu yuk. Nama kakak, Xennora Anesta… Kalian Panggil kak Sera aja okay?”
“Oke kaak!” Jawab mereka kompak mem membuat senyuman Xennora makin merekah.
“Kak Rara…” Panggil Ratu sambil cemberut. Tangannya direntangkan ke arah Xennora tanda jika ia minta di gendong.
“Iya?”
“Gendong… Di sini cowok semua, aku gak ngerti mereka ngomongin apaa…” Keluhnya membuat Xennora gemas sendiri.
“Hahaha yaudah yuk, kita jalan-jalan ke luar.” Ucap Xennora yang kini tengah menggendong Ratu lalu melangkahkan kakinya ke luar rumah, bertepatan dengan pulangnya adik Bhiyan dengan seragam pramuka nya. Nadila Anisa Ardani, yang kini tengah menempuh pendidikan kelas 1 SMA. Xennora sering memanggilnya Dila atau Nad. Gadis itu tersenyum ketika melihat kehadiran Xennora di sana.
“Yeey ada Teh Rara! Kebetulan minggu depan ada tes nyanyi hihihi…” Sambut Dila antusias, Xennora membalasnya dengan senyuman lebar. Ya, dia memang guru vokal Nadila yang cita-cita nya seorang penyanyi. Xennora sering menghabiskan waktu dengan gadis itu hanya untuk bernyanyi seharian.
__ADS_1
“Teteh… Kapan sampainya?” Tanya Dila.
“Baru beberapa menit yang lalu. Ciee yang mau naik kelas 2 SMA hahaha…”
“Ciee yang mau jadi sarjana hukum hahaha…” Balas Dila. “Kak, aku boleh mulai latihan vokal sekarang kan? Nanti mau ngerjain tugas…” Lanjutnya. Dila memang sering memanggil Xennora dengan sebutan ‘kak’ atau ‘teh’. Tergantung mood.
“Gak capek emang baru pulang sekolah?”
“Enggak kok… Ya? Ya kak?”
“Ya udah, pinjem gitarnya sana sama Teh Silvana.”
“Oke sip.” Patuh Dila sambil masuk ke dalam rumah setelah mencubit pipi Ratu gemas.
Xennora duduk di kursi yang ada di teras seraya menyuapi anak perempuan berusia tiga tahun yang ada di pangkuannya itu dengan roti yang ia bawa dari kota yang niat awalnya untuk di perjalanan tadi. Namun masih tersisa satu bungkus.
Tak lama, anak-anak laki-laki yang awalnya bermain di rumah tiba-tiba keluar dan duduk di lantai sekitar Xennora membuatnya menatap anak-anak itu aneh dan terkejut. Selang beberapa menit, munculah Dila dengan gitar akustik milik Silvana dan seragam yang telah di ganti menjadi baju santai.
“Yuk kak, Ratu biar aku aja yang gendong.” Ujar Dila mengambil alih Ratu lalu duduk di kursi yang ada di sisi kiri Xenora. Kini Xennora tahu mengapa anak-anak itu tiba-tiba keluar. Mereka ingin melihat konser dadakan di depan rumah mereka.
Xennora memangku gitarnya lalu berdehem pelan. “Mau lagu apa?”
Dila terlihat berpikir, tak lama ia menjawab pertanyaan Xennora. “Hello dari Adele, This is Me dari Keala Settle, buat lagu Jepangnya aku mau Falling nya Day6, terus yang terakhir I Will Show You dari Ailee, gimana?”
“Pilihan yang bagus. Pembagian lagu nya kayak biasa aja, satu bait satu bait. Oke?”
“Okee.”
Xennora mulai memetik gitarnya membuat membuat atensi anak-anak itu menjadi terfokus. Xennora hampir saja tertawa melihat wajah terkejut mereka. Saat memasuki verse, suara Dila kini mengiringi alunan petikan gitar itu, membuat suatu melodi yang indah ditambah pelafalannya yang fasih dan suara yang Xennora pikir sudah tidak perlu diperbaiki lagi karena sudah sangat bagus. Hanya memerlukan latihan yang lebih banyak. Memasuki chorus, Xennora menghentikan petikan gitarnya selama dua detik. Kemudian Xennora lanjutkan, dengan pengekspresian yang terlihat menyayat hati dan mendalami menurut Dila, Xennora menyanyikan bait pertama chorus.
“Hello from the other side…
I must’ve called a thousand times
To tell you I’m sorry for everything that I’ve done
But when I call, you… never seem to be home…"
Chorus yang indah itu dilanjutkan oleh Nadila dengan suara dan penghayatan yang tak kalah indah dan menyayat. Sepertinya mereka berdua memiliki momen yang pas dengan lirik lagu ini.
“Hello from the outside
At least I can say that I've tried
To tell you I'm sorry for breaking your heart
But it don't matter, it clearly doesn't tear you apart anymore..."
...‘Cinta selalu merupakan perjalanan yang singkat, kenangan adalah mimpi selamanya…’ ...
...-Now, Day6 cover...
__ADS_1