
...A’ Bhiyan...
|Sen, gak akan pulang? Udah malem loh
^^^A Bhiyann|^^^
^^^Tau gak?|^^^
^^^Aku udah ketemu sama Bunda sama kakak-kakak akuu|^^^
^^^Dan yang paling penting... Aku inget semuanyaa|^^^
|Serius?
|Siapa Sen?
^^^Aa percaya gak? Bunda Carissa!|^^^
|Penyanyi Carissa Putri? Hahaha
|Jangan kebanyakan nonton drama Korea, Sen
^^^Ini aku lagi males bercanda loh A'|^^^
|Serius? Berarti rumor itu bener?
^^^Yep, dan ternyata aku tokoh utamanya, wahh gak nyangka...|^^^
|Hahaha selamat ya kalau gitu. Oh iya, jadi kamu gak akan pulang nih?
^^^Enggak A, besok pagi aku sekalian anter kak Leo kek bandara, mau pergi lagi, bentar lagi kelulusan katanya|^^^
|Oke kalau gitu, jangan kemaleman ya tidurnya, good night
^^^Night, A. Bilangin ke kak Jina, maaf aku malah gak ada di apart|^^^
|Iya santai aja, ada Silvana kok
“Udah bilang?” Tanya Herina. Bukan hanya Xennora yang mengangguk, tapi Eireen juga. Mereka bertiga kini telah berkumpul di kamar ujung lorong tempat Xennora mengalami kejadian menakutkan tadi.
“Kalau gitu kita mulai darimana ya? Haha udah lama gak ngobrol santai gini...” Ujar Herina yang duduk di karpet berbulu sebelah kasur.
“Aku mau mastiin dulu sih, yang tadi pingsan di kamar ini tuh Eireen kan?” Tanya Xennora membuat Eireen tertawa lalu mengangguk. “Tadi serem banget, serius. Aku udah mikir jauh-jauh ke makhluk halus, ditambah kepalaku langsung pusing...” Ratap Xennora yang membuat Herina terkekeh. “Tapi kalian tau kejadian itu dari mana?”
“Apa lagi kalau bukan ini?” Balas Herina sambil mengangkat sebuah buku diari milik Xennora yang sudah lama tidak disentuh di kamarnya.
“Ah pantesan...” Xennora pun mengambil buku itu lalu dibuka halamannya satu persatu, nostalgia. Isinya memang tidak banyak, hanya kejadian-kejadian atau bahkan masalah-masalah yang Xennora alami saja.
“Kamu bentar lagi lulus Reen? Kuliah jurusan apa?” Tanya Herina.
“Masih satu tahun lagi kak, semester enam, jurusan psikologi.”
“Oh iya... Kalau Xennora?”
“Semester ini mudah-mudahan lulus, jurusan Hukum.” Balas Xennora sambil menuliskan sesuatu di buku catatan kecil yang selalu ia bawa.
“Universitas Nusantara? Denger-denger tes praktik nya tuh langsung terjun ke Pengadilan ya?”
“Iya, kelompokku sidang empat hari lagi...”
“Kan kamu terkenal belakangan ini karena nge-handle kasus bunuh diri di apartemen Grand Moonlight.” Ujar Eireen yang berbaring di karpet sebelah Herina.
“Oh, pantesan pas aku sama Edwin ke mall tadi siang, banyak banget yang ngomongin Jaksa yang handle kasus bunuh diri.” Balas Herina membuat Xennora menatapnya.
“Oh jadi bener yang tadi di mall itu kakak sama kak Edwin? Sama adik kak Herina ya? Siapa sih namanya? Anell?”
“Hanelle, iya, adik aku.”
__ADS_1
“Kenapa kakak gak sapa aku aja?” Tanya Xennora.
“Ya kamu bayangin aja, kalau kakak nyapa kamu tadi, paling kamu bakalan mikir yang aneh-aneh.”
“Iya juga sih...”
“Ngomong-ngomong, Edwin sempet bilang kalau kasus bunuh diri di Grand Moonlight itu sebenernya kasus pembunuhan. Dan kasus ini juga semacam mini case nya... –Ekhm, Deandra.” Ujar Herina yang membuat suasana di kamar itu mendadak hening, sampai Xennora memperlihatkan apa yang sadari tadi ia catat di bukunya.
“Emang, ini salah satu kasusnya Deandra. Pertama, korbannya Kirania, aku masih gak ngerti kenapa dia bunuh adiknya sendiri, besok aku cari tahu. Kedua, korban terbukti meninggal karena antrovitoksin, sesuai dengan hasil otopsi. Ketiga, Luka ‘bunuh diri’ di pembuluh nadi tangan kanannya itu dibuat setelah korban meninggal. Keempat, gak ada motif untuk korban mengakhiri nyawanya sendiri. Dan kelima, aku punya saksi terpercaya yang bisa membuktikan kalau ini bukan kasus bunuh diri.”
“Terus... Gimana cara kamu supaya meyakinkan Hakim nanti? I mean, semua orang udah percaya kalau ini kasus bunuh diri, bukan pembunuhan. Lagipula, sampai sekarang Deandra belum ditemukan keberadaannya.” Ujar Eireen yang mendapat anggukan setuju dari Herina.
Xennora tersenyum santai. “Deandra? Ada... Dia ada di sekitar kita... Di sekitar kasus ini...”
...***...
“Hati-hati ya kak, cepet pulang...” Ujar Xennora lemas ketika didekap oleh Leo.
“Pasti, menangin kasusnya ya!” Balas Leo seraya mengusak rambut Xennora yang hanya mengangguk.
Setelah itu, Leo pergi untuk menaiki pesawat yang akan lepas landas. Xennora menatap kepergian kakaknya yang terlalu cepat ini sendu. Ya bagaimana lagi? Leo juga akan menghadapi kelulusan di sana, sebagaimana yang Xennora lakukan di sini. Carissa dan Irfan Jiro tidak ikut mengantar Leo karena Bunda nya itu sedang menghadiri wawancara khusus akan vakumnya dia di dunia hiburan. Kalau Irfan Jiro, ada klien yang ingin bertemu katanya. Jadi beliau harus merevisi berita itu, siapa tahu ada kalimat yang kurang berkenan. Sampai saat ini, Xennora belum mendengar kabar Rafael dan Narissa, Edwin dan Leo juga tidak membahas itu. Herina tentunya praktek di rumah sakit sejak pagi sekali. Dan Eireen sudah pulang bersama Herina.
Napas Xennora tertahan ketika melihat pesawat yang dinaiki Leo lepas landas. Mungkin jika Xennora ikut mengantar Leo empat tahun yang lalu, inilah yang terjadi. Sampai jumpa, beberapa bulan lagi, ketua OSIS terbaik SMA SAN.
“Pulang sekarang Ra?” Tanya Edwin membuat atensi Xennora beralih menatapnya.
“Iya... Ayo. Aku mau langsung ke kampus abis ini, tapi ke rumah sakit dulu sih...”
...***...
“Ju—”
“Iya iya, gue ke sana sekarang.”
“Idih apaan, gue gak nyuruh lo ke sini. Kerajinan amat.”
“Lo... Mau balas dendam sama FX Movie?” Pertanyaan Cathleen di seberang sana membuat Julian terkekeh pelan.
“Balas dendam bukan tugas gue Kate...”
“Maksud lo?”
“Ada orang yang lebih berhak buat balas dendam.”
...***...
“Anda yakin anda sudah sembuh total?”
“Belum, maka dari itu saya ingin membicarakan ini secepatnya.” Balas seorang pria yang memakai setelan sama dengan lawan bicaranya. Hanya saja, ada banyak perban di kepala serta tangan dan kakinya.
“Kalau begitu, apa maksud anda datang ke sini?”
“Saya ingin menawarkan sebuah series dengan 16 episode keluaran KayChief Holdings. Saya yakin... Series ini akan banyak disukai semua orang.”
“Maaf... Bukannya anda adalah staf FX Movie?” Tanya Irfan Jiro heran.
“Sekarang tidak lagi. Jadi... Bagaimana?” Melihat Irfan yang masih berpikir, Juan pun kembali melanjutkan ucapannya. “Series ini merupakan original milik FX Movie, lalu saya mencuri dan merombaknya karena ceritanya sangat membosankan. KayChief Holdings pun membelinya, lalu jadilah series ini.”
“Apa judul dan genre nya?”
“Back to 1990, genre nya keluarga, friendship, dan sedikit percintaan anak remaja.”
“Setuju. Kalau begitu... Kapan ditayangkan trailer nya?”
“Secepatnya.”
“Malam ini?”
__ADS_1
“Ide yang bagus. Dengan begitu, jika minggu depan mereka akan merilis trailer nya, orang-orang akan menganggap itu plagiat. Jika mereka menuduh pihak kita, tidak ada bukti kuat. Saya sudah mengundurkan diri dengan dalih perilaku curang mereka, dan perlahan... Saham mereka akan menurun...” Ujar Juan dengan suara pelan walaupun itu adalah ruangan pribadi Irfan. Tidak ada siapapun di sini.
Irfan hanya menggeleng ketika melihat perilaku Juan. Anak muda memang jiwa nya masih menggebu-gebu.
...***...
“I like your eyes, you look away when you pretend not to care
I like the dimples on the corners of the smile that you wear
I like you more, the world may know but don't be scared
'Cause I'm falling deeper, baby, be prepared.”
Bhiyan belum datang ke kampus, membuat Xennora asik bernyanyi ditemani petikan gitar Radit. Yang lainnya seperti Cathleen, Rarisa, dan Fikri hanya menikmati alunan lagu itu sambil mengerjakan hal lain. Bermain handphone, membaca buku, dan menyiapkan sidang.
Tak lama, seseorang membuka pintu ruangan, tapi tidak membuat nyanyikan dua orang sudut meja berhenti. Julian memasuki ruangan dengan sedikit terkejut, sudah lama ia tidak mendengar nyanyian Xennora. Julian pun duduk di salah satu kursi di sana setelah menggantungkan jas hitamnya di punggung kursi.
Hal itu membuat Cathleen sontak mendekati Julian lalu duduk di sampingnya. “Maksud lo yang berhak balas dendam itu siapa? Please jangan aneh-aneh ya Ju, seenggaknya sampai sidang selesai.”
“Sepupu gue, tenang aja, dia gak ada sangkut pautnya sama kasus cyber crime gue. Ngomong-ngomong, udah terbukti fitnah mereka?”
“Udah, mereka memanipulasi komputer dan data mereka sendiri. Aneh banget, gak ada kerjaan.” Caci Cathleen kesal membuat Julian terkekeh. Atensi nya terarah kepada Xennora sekarang, tanpa sengaja.
“Love you every minute, every second
Love you everywhere and any moment
Always and forever I know I can't quit you
'Cause, baby, you're the one, I don't know how...”
Julian jadi teringat pesan dari Leo kemarin, tapi sepertinya tidak ada yang berbeda dari gadis itu. Julian harus menuntut Leo agar mentraktirnya di Cambridge nanti. Julian tersenyum tipis mendengar lagu yang Xennora nyanyikan, entah kenapa, itu membuat hatinya bergemuruh.
“In a world devoid of life, you bring colors
In your eyes I see the light, my future
Always and forever I know, I can't let you go
I'm in love with you, and now you know...”
“Beneran ternyata...” Gumam Cathleen sambil meminum jus mangga miliknya dan menatap Julian yang tengah menunduk.
“Apa?” Tanya Julian karena Cathleen terus memandanginya.
“Lo masih bertahan Ju, gue tau itu.” Jawab Cathleen membuat Julian seketika mengalihkan pandangannya ke depan sambil terkekeh.
“Bertahan apaan...”
Melihat Julian yang seperti ini, ingin rasanya Cathleen membocorkan sebuah rahasia padanya. Namun melihat Xennora yang kini tengah menatapnya sambil tersenyum sabar, Cathleen pun mengurungkan niatnya itu.
“Gue cuma aneh sama lo Ju... Dibilang bertahan, tapi lo ngomongnya enggak, dibilang nyerah tapi sampai sekarang lo gak nyari yang baru. Mau lo apa sih?”
“Belum, tapi secepatnya gue cari...” Ujar Julian sambil memainkan handphonenya. “Mungkin.” Lanjutnya pelan.
“Lo tau gak Ju? Sen—” Ucapan Cathleen terpotong ketika seseorang membuka pintu dengan terburu-buru.
“Woy Dit, Pak Prawija nyariin. Katanya mana tugas kamu? Sampai sekarang belum ada ngumpulin...” Ujar Yuna sambil duduk di depan Xennora. Raditya yang tengah bersandar santai di kursi sambil memainkan gitar pun langsung menegakkan tubuhnya.
“Mati aku, tugasnya ketinggalan di warung... Pasti udah dijadiin alas gorengan sama Bunda...” Ratap Raditya pasrah.
“Kamu ceroboh banget sih jadi cowok. Ambil sana, siapa tau masih aman.” Ujar Yuna.
Radit pun bangkit lalu menyimpan gitarnya di meja depan Xennora. Ia memakai jasnya dengan tergesa, lalu menyambar kunci motor yang menggantung di sebelah pintu.
“Aku pulang dulu ya, gak akan lama!” Pamit Radit. Semua orang di ruangan itu menggeleng pelan melihat kelakuan temannya itu. Radit benar, sepertinya dia memang tidak ditakdirkan untuk mengerjakan tugas. Atau mungkin mengumpulkan tugas.
__ADS_1