
Antha terlihat khawatir pagi ini. Ia mengecek handphone nya berkali-kali, berharap sahabatnya segera mengabarinya sehingga mereka bia membicarakan ini secara baik-baik. Bell juga telah berbunyi beberapa menit yang lalu namun kursi di sampingnya masih kosong. Hanya terlihat tas berwarna biru saja yang ia tebak isinya hanya buku pelajaran. Tak lama Guru datang. Ini sedikit aneh, Bu Raya tidak menanyakan alasan mengapa Xennora tidak hadir di kelas.
Ia… Khawatir.
Kalau saja Antha meminta Fadhil untuk merahasiakan hubungan mereka sementara ini. Kalau saja Antha menolak permintaan Fadhil untuk menjadi pacarnya. Kalau saja ia dan Fadhil sedikit lebih menjaga jarak sehingga perasaan mereka tidak pernah ada dan tumbuh. Kalau saja…..
Baiklah cukup. Semua kalimat itu cukup munafik. Antha menyukai Fadhil, itu memang benar. Ia selalu mencoba menjaga jarak dengan Fadhil, itu juga benar. Tapi itu cukup sulit karena ia dan Fadhil bertetangga.
“Antha! Sepertinya kamu yang paling baik dalam memperhatikan penjelasan Ibu. Jadi, tolong jawab soal ini!”
Antha terperanjat, ia perlahan berdiri dan maju ke depan. Soal biologi, Antha bersyukur itu tentang analisis penyakit. Ia cukup menguasai pelajaran ini.
“Jawaban yang bagus. Tapi tolong ya nak, jangan melamun di kelas. Pasien akan cepat meninggal jika dokter nya kebanyakan melamun.” Hardik Bu Raya.
“Iya, maaf bu.”
Antha pun kembali duduk di kursinya. Memandang tas biru milik Xennora dengan sedih. Berharap pemilik rambut Brunette itu tidak marah padanya.
Pulang sekolah, Antha kira ia akan bertemu Xennora yang kembali untuk mengambil tas nya. Tapi nihil, yang datang hanyalah Leo dengan ucapan selamat nya atas hubungan Antha dan Fadhil. Sepertinya dia tidak tahu kalau adiknya pun menyukai Fadhil.
Sudah merupakan suatu kepastian jika seorang pasangan akan menikmati hari-hari nya bersama. Antha pulang bersama Fadhil. Ia menahan Fadhil sebelum pria itu melanjutkan langkah ke rumahnya yang ada di depan rumah Antha.
“Kak, siapa sih yang nyebarin gossip kita pacaran?”
“Secara teknis itu bukan gossip Antha, itu fakta…”
“Iya terserah, sekarang jawab pertanyaan gue tadi.”
“Kakak kurang tau sih, kayaknya Agatha.”
“Oh… Admin akun gossip sekolah itu?”
“Iya. Emangnya kenapa? Kamu ngerasa gak nyaman?”
“Gak gitu… Tapi kakak tau gak? Ada yang suka sama lo kak.”
__ADS_1
“Tau. Kamu kan?” Ujar Fadhil seraya mengelus rambut Antha yang kemudian menghindar.
“Bukan, tapi Xennora.” Antha pun segera berlari masuk ke rumahnya lalu mengunci pintu. Pintu diketuk beberapa kali sampai akhirnya tenang. Tak lama handphone Antha berbunyi, telepon masuk dari Fadhil.
“Maksud kamu apa?”
“Pikir aja sendiri. Gue yakin lo ngerti, kak.” Balasnya lalu memutus panggilan itu dan beranjak ke kamarnya. Antha kemudian menyimpan tas nya di atas kasur lalu mengotak-atik handphone nya untuk menelepon seseorang.
“Please jawab dong…. Gue gak bisa kalau kayak gini Ra…” Gumam Antha sambil terus mendengarkan bunyi telepon yang belum dijawab juga.
Sampai panggilan ke sepuluh kalinya, Antha menyerah. Ia melempar handphone nya ke kasur lalu berbaring di kasur itu. Air matanya turun setetes, kini ia benar-benar menyesal.
...❄❄❄💙❄❄❄...
“Nak… Nak…” Panggil petugas perpustakaan untuk membangunkan Xennora. Gadis itu perlahan membuka matanya.
“Sudah sore, nak. Sebentar lagi Bapak mau kunci perpustakaan ini. Kamu sudah selesai?”
“Ah iya, sudah kok pak. Sebentar, saya beres-beres dulu.”
Astaga habis baterai. Ia pun menyimpan handphone nya di tas lalu berjalan keluar dari perpustakaan. Setelah kepergiannya Deandra dan Reydevan, hidup Xennora agak tenang. Rasa bersalahnya pada Zenara berkurang sedikit demi sedikit. Ia harap Deandra benar-benar telah pergi. Ia tidak peduli akan di cap kejam atau bagaimana, yang pasti melihat Julian dengan darah di kemeja nya membuat perasaan Xennora campur aduk.
Mari kita throwback ke beberapa tahun yang lalu di mana Xennora masih sangat tidak menyukai Julian. Perjalanannya ke rumah sepertinya akan di penuhi ingatan kali ini. Xennora berjalan kaki karena bus terakhir pasti sudah lewat satu jam yang lalu. Baiklah, kita mulai. Xennora pernah satu ruang ujian dengan Julian, Ujian Kenaikan Kelas. Tapi tidak duduk satu meja, Julian di deret depan, sedangkan Xennora di belakang. Saat Xennora akan mengumpulkan lembar jawaban, Julian dengan sengaja mengeluarkan kakinya, berniat untuk membuat Xennora terjatuh. Tapi tidak bisa, yang ada Xennora yang dengan sengaja menginjak kakinya membuat Julian meringis dalam diam karena masih ada pengawas.
Julian memang menyebalkan.
Mengenai ruang ujian, ini yang membuat Xennora heran. Ruang ujiannya selalu berbeda dari tahun ke tahun, bahkan kakak kelas atau adik kelas yang satu ruangan pun selalu berbeda. Dan sama halnya dengan meja ujian, ia tidak pernah menempati deret dan barisan yang sama. Tapi anehnya, bunga mawar biru misterius itu selalu ada di meja manapun yang Xennora tempati. Bahkan di awal-awal Xennora mendapat bunga itu, ia sedikit ketakutan karena merasa diikuti. Karena, di awal-awal itu bunga nya benar-benar ada di mana saja. Dititipkan pada pak satpam depan rumahnya, penjual green tea latte di taman, di atas piano ruang musik sekolah, bahkan di kursi bus yang selalu ia naiki tiap pagi. Cukup menyeramkan.
Dan akhirnya ia menceritakan semua kejadian itu pada Antha. Karena gadis itu pecinta horor, dia malah terlihat sangat bersemangat. Tapi anehnya… Ini yang lebih aneh. Setelah Xennora bercerita kepada Antha, perlahan eksistensi bunga itu berkurang. Dan sampai saat ini, Xennora hanya menjumpai bunga itu di kolong meja saja. Aneh kan? Gak mungkin juga kalau selama ini Antha yang mengirimkan bunga itu.
Ah… Membahas Antha… Kenapa dia tidak cerita saja kepada Xennora kalau dia juga menyukai Fadhil? Xennora cukup sering bercerita kepada Antha tentang beberapa hal yang tengah ia alami.
“Dek? Kok baru pulang?” Tanya Edwin ketika Xennora sudah sampai di rumah.
“Tadi ke perpustakaan dulu, eh ketiduran.” Jawabnya seraya duduk di samping Edwin.
__ADS_1
“Gimana Try Out nya?”
“Lulus kok. Gue bisa ikut UN minggu depan.”
...❄❄❄💙❄❄❄...
Dua minggu. Dua minggu yang membuat Antha gila. Antha telah mencari Xennora kemana-mana namun mengapa Antha tidak pernah bertemu dengan gadis itu? Setiap hari Antha mengecek ruang musik, perpustakaan, bahkan setiap Antha berkunjung ke rumahnya, rumah itu seakan kosong. Kini Antha seakan kehilangan harapan. Oh ayolah, Antha hanya ingin meminta maaf dan memberikan penjelasan, mengapa rasanya mustahil sekali.
“Antha? Kamu sakit?” Tanya Pak Harto.
“Ah enggak pak, aku gapapa.”
“Kamu boleh bertukar tempat duduk dengan Aira, terus tidur di sana.”
“Iya Antha, ayo tukar. Kalau lo udah baikan, pindah lagi."
Antha mengikuti perintah Pak Harto. Ia pindah ke tempat duduk paling belakang, bertukar tempat duduk dengan Aira. Ia menjatuhkan kepalanya di beja beralaskan kedua tangan yang dilipat. Ia menatap kearah jendela di samping kiri nya. Seketika kepalanya menjadi sedikit pusing, padahal tadi baik-baik saja. Benar kata ayahnya, kita tidak akan sadar kalau kita sakit kecuali jika ada yang memberitahu.
Dengan mata yang sayup-sayup dan hamper tertutup, Antha masih dapat melihat seorang gadis berambut coklat tua yang disanggul asal berjalan melewati lorong kelas mereka. Tak lama pintu diketuk, dan Antha sadar akan sesuatu.
“Selamat siang, pak. Ini materi kasus yang sudah saya susun.” Ucapnya terdengar sayup-sayup karena kepala Antha semakin pusing. Spontan, Antha mengubah posisinya menjadi duduk tegap untuk melihat siapa pemilik suara itu.
“Kerja bagus. Ini sudah benar-benar terstruktur?”
“Saya kurang yakin, pak.”
“Nanti saya cek kalau begitu, bagaimana dengan—eh? Kamu mimisan?” Tanya pak Harto ketika melihat hidung gadis itu disumbat dengan gulungan tisu yang terdapat sedikit bercak darah. Gadis itu terlihat sedikit terkejut. Ia lalu melepaskan tisu itu dari hidungnya.
“Sedikit—“
“Xennora?” Tanya Antha pelan yang posisinya sudah berdiri dari mejanya. Sontak Seluruh atensi mengarah padanya termasuk Pak Harto dan Xennora sendiri.
Antha tersenyum haru, ia sedikit menangis dengan wajah pucatnya itu. “Gue… Gue seneng banget, akhirnya bisa ketemu sama lo haha, gue….”
Setelah itu Antha jatuh pingsan. Membuat orang-orang di dekatnya reflex menahan tubuhnya. Beberapa orang terkesiap. Xennora masih mematung, jelas ia terkejut karena selama ini ia tidak pernah melihat Antha sakit apalagi sampai jatuh pingsan.
__ADS_1