
Sepanjang perjalanan, Xennora memegang pergelangan tangan kanannya. Lebih tepatnya, menyembunyikan dua huruf yang tercetak jelas oleh gelangnya. Tentu tidak akan hilang begitu saja, mungkin memerlukan waktu beberapa menit bersamaan dengan hilangnya rasa sakit yang kini ia rasakan juga.
Langkah Xennora dan Vinca terhenti ketika melihat Edwin dan Leo berdiri di dekat pintu UKS yang tertutup. Vinca menatap pintu UKS dan Edwin bergantian. Xennora memperhatikan jendela UKS yang terhalang tirai tipis, sehingga pemandangan di dalamnya sedikit memburam.
"Jangan masuk dulu. Ada kepala sekolah." Ucap Edwin menjawab rasa penasaran Vinca dan Xennora. Kedua gadis itu pun mengangguk lalu bersandar di tembok seberang Edwin dan Leo.
"Siapa aja yang ada di dalam?" Tanya Xennora.
"Pak kepala sekolah, Pak Rafi, guru kesiswaan, Eireen, sama Sofia." Jawab Leo.
"Loh, terus kak Ervin sama kak Julian dimana?" Kini Vinca yang bertanya.
"Ke kantin barusan. Sama adiknya yang tomboy itu. Siapa sih? Vania? Vinya? Riva?" Ujar Leo menerka-nerka membuat Vinca sedikit terkekeh.
"Revanea, kak. Panggil aja Vina kalau susah." Koreksi Vinca.
"Kenapa nggak Reva aja?" Edwin membuka suara.
"Suka ke tukar sama kakaknya yang paling tua." Jelas Vinca membuat Edwin dan Leo mengangguk mengerti.
Tak lama, pintu terbuka membuat mereka berdiri tegak. Mereka menundukkan kepala untuk sekedar memberi hormat, dan itu sudah seperti tradisi di SAN. Pak kepala sekolah tersenyum lalu pergi diikuti Pak Rafi dan dua guru kesiswaan.
Leo, Edwin, Vinca dan Xennora pun masuk ke ruangan dengan cat putih tersebut lalu duduk di kursi yang tersebar di ruangan.
"Apa kata Pak kepsek?" Sepertinya Leo yang paling penasaran disini, baru saja duduk sudah memberi Sofia dan Eireen pertanyaan.
"Katanya, kalau buat masalah kayak gini, cuma diberi waktu satu minggu buat diselidiki. Kalau dalam satu minggu itu pelakunya belum ditemukan atau bahkan menyerahkan diri, terpaksa kasus harus ditutup. Enggak kayak terror yang batas waktu nya satu bulan. Jadi, intinya ini termasuk masalah sepele atau bahkan cuma ketidak sengajaan." Jelas Eireen.
Jika memang seharusnya seperti itu, hal ini jelas bisa saja ketidak sengajaan. Namun disisi lain, jika memang tidak sengaja, siswa mana yang iseng bermain dengan bola basket di koridor?
Xennora menatap Sofia yang terlihat melamun namun kenyataannya ia sedang berfikir.
"Tinggal liat lo nya aja. Mau bikin kasus ini sebagai kesengajaan, atau ketidak sengajaan?" Tanya Xennora. Sofia mengalihkan pandangannya pada Xennora yang menanti jawabannya.
Edwin, Leo, Eireen dan Vinca juga menatap Sofia dengan tatapan penasaran. Ini memang masalah sepele, tapi tidak adil jika dibiarkan. Bahkan masih banyak orang yang menerapkan prinsip 'kebaikan dibalas kejahatan' dalam hidup mereka. Dalam kasus ini, Sofia hanya akan menerapkan prinsip 'kejahatan dibalas kejahatan' dan itu bahkan lebih adil dari pada apapun.
Kejahatan akan menang jika orang baik tidak melakukan apa apa.
Katakan saja jika mereka tengah berperan menjadi orang yang baik, maka mereka tidak akan diam walaupun kejahatan ini hanya berskala 1 : 1.000.000 alias kejahatan yang paling kecil.
"Yaudah, gue bakalan bikin kejahatan ini jadi kejahatan yang disengaja." Ucap Sofia yakin lalu menatap Xennora yang tengah tersenyum tipis. Entah kenapa, Edwin, Leo, Vinca dan Eireen sedikit merasakan atmosfer yang tiba-tiba berubah. Mereka menatap Sofia dan Xennora bergantian lalu bergidik ngeri karena kedua gadis itu seakan memberikan senyum yang terkesan licik dan angkuh. Walaupun kenyataannya Xennora hanya memberikan senyum tipis, begitu juga dengan Sofia.
"Eh, lo berdua senyum kayak gitu malah lebih keliatan kalau kalian penjahatnya tahu gak?!" Ujar Leo sedikit berteriak di akhir kalimatnya karena parno dengan ekspresi Xennora dan Sofia.
Refleks, kedua gadis itu pun mengalihkan pandangan mereka satu sama lain lalu menetralkan kembali ekspresinya.
"El, beliin minuman dong, seret nih." Celetuk Edwin sambil memegang kerongkongan nya. Leo memang sering dipanggil El, itu dari middle name nya, Ellery. Leo menoleh, lalu menatap Edwin seakan mengatakan, 'apaan sih?'.
__ADS_1
Namun karena tak sengaja melihat Eireen yang sepertinya kepanasan, Leo pun beranjak untuk pergi ke kantin untuk membelikan mereka minuman, terutama Eireen.
Bucin detected.
Edwin yang melihatnya pun tersenyum senang, awalnya Edwin tidak yakin jika Leo mau dia suruh. Tapi ternyata saudara kembarnya itu sedang dalam keadaan mood yang baik.
Edwin tidak tahu saja jika Leo membelikan mereka minuman hanya karena Eireen.
...❄❄❄💙❄❄❄...
"Haah... Udah 15 menit kita berpikir keras tapi nggak dapat hasil yang jelas..." Keluh Ervin sambil menyenderkan punggungnya lelah di kursi yang ada di kantin tersebut.
"Hei, pantunnya bagus." Celetuk Vina sambil menjentikkan jarinya yang membuat Julian dan Ervin menatapnya aneh.
"Siapa juga yang lagi berpantun." Gumam Ervin. Julian yang mendengarnya pun sedikit terkekeh.
"Emangnya.... Apa yang bikin kalian yakin banget kalo pelaku itu bukan Xennora?" Tanya Julian penasaran. Ervin dan Vina yang duduk bersebelahan itu saling menatap sedikit memberi kode yang tak terlalu Julian pahami. Sebelumnya, Julian dan Ervin sudah menceritakan rangkaian kejadian yang akan mereka selidiki secara rinci kepada Vina. Untungnya, gadis itu cepat paham dengan situasi. Jadi Julian mendapat lebih banyak saran dari kakak beradik di depannya ini.
"Gampang. Xennora kan payah banget dalam hal olahraga. Apalagi basket. Mana bisa dia ngelempar bola pas banget kena kepalanya Sofia." Ujar Ervin masuk akal yang diangguki Julian.
"Benar juga sih..." Gumam Julian yang dibalas senyum sombong dari Ervin.
"Tapi, bisa aja kan Xennora nyuruh orang?" tanya Julian yang jika Vina pikir-pikir lagi ada benarnya. Tapi, mana mungkin seorang Xennora Anesta Fachrunaldo se-jahat dan se-tega itu?
"Itu... Juga masuk akal." Ucap Vina sambil melamun, sepertinya sedang berpikir.
"Oke, sekarang gue juga punya pertanyaan buat lo. Apa alasan lo curiga sama Xennora. Kenapa nggak lebih curiga sama anak basket atau bahkan musuh Sofia?" Tanya Ervin yang membuat Julian terdiam.
"Lah, ekspresi Xennora emang suka gitu kan? Kayak gak punya harapan hidup." Celetuk Ervin membuat Vina sedikit terkekeh.
"Bohong kak. Teman Vina bilang, kalau kakak langsung ingat dan menyalahkan orang lain secara spontan, berarti kakak suka sama dia tapi seolah lagi menyangkal perasaan itu. Saat kakak bahagia dan teringat seseorang, berarti kakak suka sama dia. Tapi kalo kakak sedih dan teringat seseorang, berarti dia suka sama kakak." Jelas Vina. Ervin mulai bersedekap menatap adik perempuan disampingnya dan Julian didepannya secara bergantian. Sepertinya topik kali ini menarik. Tumben sekali adiknya yang tomboy ini mengerti dengan pembahasan seperti itu.
"Teman kamu konyol banget Vin. Gimana kalau yang kita ingat sesama jenis?" Tanya Julian seraya terkekeh.
"Buktinya, gue gak pernah merasakan keduanya. Saat sedih atau bahagia, gue gak pernah teringat seseorang. Apalagi cewek, bahkan yang notabene nya lagi jadi pacar gue." Lanjut Julian sambil menatap gelas didepannya kosong.
"Bukan gak pernah, tapi belum." Tegas Vina yang tengah menatap Julian tajam.
"Lihat aja nanti, kakak pasti akan merasakannya. Dan aku doain kakak, Julian Matteo Kayden akan ngerasa senang, sangat senang sampai kakak ingin memberitahukan rasa senang kakak sama dia. Saat kakak sedih, sangat sedih sampai kakak butuh pelukan dan ucapan dia yang menenangkan. Saat marah, kakak akan butuh dia sebagai seorang penenang. Saat putus asa, dia adalah orang yang kakak butuhkan sebagai penyemangat. Saat kakak ngerasa takut, sakit, kesal, bingung, khawatir dan bahkan saat kakak merasa dicintai, dialah alasannya." Jelas Vina dengan ekspresi khas miliknya saat sedang serius.
Ucapan Vina sontak membuat Ervin berdecak kagum dan bertepuk tangan beberapa kali. Sedangkan Julian, pria itu terdiam. Mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh siswi kelas 9 SMP.
"Wahh itu menyentuh banget nona Emilio. Buku apa yang baru lo baca?" Celetuk Ervin yang masih mengagumi ucapan berbobot dari seorang Revanea Emilio.
"Hehe, buku filosofi dan puisi punya kak Herina. Gak sengaja baca pas nginep kemarin." Jawab Vina dengan nada sombong.
Julian juga masih sibuk melamun sampai sampai obrolan kedua pria didepannya ini tak masuk kedalam otaknya sama sekali. Ucapan Vina benar benar membuat Julian menerka nerka apakah itu semua akan terjadi di kehidupannya nanti? Jika iya, Julian pastikan hidupnya akan lebih berwarna dari sekarang. Kegiatannya dari pagi sampai malam akan lebih berarti, dan tak jauh dari menjadi seorang bucin.
__ADS_1
'*Sangat senang sampai kakak ingin memberitahukan rasa senang kakak sama dia. Saat kakak sedih, sangat sedih sampai kakak butuh pelukan dan ucapan dia yang menenangkan. Saat marah, kakak akan butuh dia sebagai seorang penenang. Saat putus asa, dia adalah orang yang kakak butuhkan sebagai penyemangat. Saat kakak ngeradatakut, sakit, kesal, bingung, khawatir, dan bahkan saat kakak merasa dicintai, dialah alasannya.'
'Saat kakak merasa dicintai, dialah alasannya*...'
"Itu bagus hahaha. Tapi di kasus ini, Julian ingat sama dia sebagai pelaku, bukan seorang penenang." Ucapan Ervin membuat Julian kembali mendapatkan kesadarannya.
"Teman aku bilang, itu terjadi sama orang yang lagi mencintai, tapi dia terus menyangkal perasaannya. Jadi.... kesalahan orang itu pastinya karena menyangkal perasaannya." Jelas Vina dengan tatapan menerawang, seakan mengingat ingat ucapan milik temannya itu. Julian yang sudah jengah pun pergi membeli tiga botol soda untuk mereka, karena Julian sudah berjanji akan mentraktir kedua adik kakak itu. Untung saja permintaan mereka hanya minuman.
"Wahhh, Vin... Teman lo bener-bener..." Ucapan Ervin yang tengah mengagumi teman Vina pun terpotong oleh seseorang yang tengah berdiri dibelakang mereka.
"Jenius! Ya! Teman lo jenius banget, pikirannya sangat luas. Gue gak ngerti kok dia bisa kepikiran hal serumit itu. Dia pakar cinta? Love expert ya? Waah gue penasaran gimana orangnya." Celoteh Leo yang mengundang tatapan heran dari Vina dan Ervin. Menyadari tatapan tersebut, Leo pun membasahi kerongkongannya lalu kembali berbicara.
"Ekhem, maksudnya... Teman lo, keren.. Hehe, ah udahlah, lupain aja." Ucap Leo sambil melenggang pergi.
"Eh tunggu El, kita mau nanya." Ucap Ervin. Vina memandang pria disampingnya seakan mengatakan, 'kita? Kakak aja gak ngasih tahu aku apa-apa!'
"Apa?" Tanya Leo setelah berada disamping kursi tempat Julian duduk tadi.
"Lo kan ketua OSIS, lo tahu gak siapa aja yang nyimpen kunci ruang olahraga?" Tanya Ervin to the point.
"Kunci ruang olahraga ada tiga sih. Pak Faris guru olahraga, Satria si ketua eskul basket, sama gue. Terus kalau gak salah ada dua kunci cadangan. Yang satu disimpan di ruang guru, satu lagi sama security." Jawab Leo sambil memberikan gestur seakan mencoba mengingat.
"Kok banyak banget sih?" Tanya Ervin.
"Lah emang iya. Semua ruangan di sekolah punya lima kunci, kecuali ruangan kelas, toilet, Lab Perdata yang di lantai 2, sama aula yang ada di belakang gedung." Ucap Leo.
Tak lama, Julian datang dengan tiga kaleng soda dan berdiri dibelakang Leo yang sedang duduk.
"Bukannya aula itu udah lama gak dipake?" Pertanyaan Julian tersebut tentu membuat Leo terkejut sampai tersedak ludah sendiri.
"Maaf, gue gak tahu kalau lo datang. Gue cuma beli tiga." Lanjut Julian setelah duduk di kursinya tadi, tepatnya disamping Leo. Julian pun membagikan dua kaleng soda kepada Ervin dan Vina.
"Gak apa apa, nanti gue beli sendiri aja. Dan, iya emang. Bahkan niatnya mau dirobohkan terus dibuat kolam renang." Leo menjawab pertanyaan Julian yang tadi.
"Waah... Gue bahkan udah lupa kalau disana ada aula." Ujar Ervin.
"Aku bahkan gak tahu." Balas Vina sambil membelalakkan matanya tak percaya.
"Oh iya, tadi kata pak kepala sekolah... Kita punya waktu tujuh hari buat nyari siapa pelakunya. Kalian... Ada niatan gak, buat bikin penyelidikan?" Tawar Leo.
"Tujuh hari... Boleh juga tuh, penasaran banget gue siapa yang udah bikin Sofia pingsan." Ucap Ervin.
"Bukannya itu tugas pihak sekolah kak?" Tanya Vina.
"Iya emang. Tapi gue gak terlalu yakin pihak sekolah ngadain penyelidikan yang serius. Sebentar lagi kan kelas 9 sama kelas 12 ada simulasi, try out terus UNBK, dan lain lain. Pasti mereka lebih mengutamakan ujian ujian itu sih daripada ngadain penyelidikan." Jelas Leo membuat Julian mengangguk.
"Boleh. Siapa aja emang?" Tanya Julian.
__ADS_1
"Banyakan. Lo, Ervin, Vina, Gue, Edwin, Vinca, Eireen, Sofia, sama Xennora."
"Oke, jadi gimana rencananya?"