The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Full Story


__ADS_3

...13 Januari 2013...


...Hari itu Xennora diajak berpartisipasi dalam acara ulang tahun si kembar. Pagi tadi saat berangkat sekolah Xennora sudah mengempiskan ban motor mereka berdua sedangkan dia sendiri berangkat naik taksi. Hal itu membuat Leo dan Edwin terlambat ke sekolah lalu dihukum menghafalkan tiga puluh pasal dalam UUD. Itu lumayan menguras waktu dan otak sih sampai mereka harus melewatkan jam istirahat pertama. Bahkan Edwin juga melewatkan rutinitas hariannya di sekolah, mengganggu Herina. ...


Karena saat itu Leo dan Edwin tidak sekelas, jadi Edwin yang memiliki kelas tambahan terpaksa tinggal dua jam lebih lama di sekolah. Sedangkan Leo, entahlah tiba-tiba ada rapat OSIS mendadak. Saat itu Leo belum menjabat sebagai ketua OSIS masalahnya, jadi itu bukan kehendaknya.


Dan di rumah kediaman keluarga Fachrunaldo, Sofia, Eireen, Julian dan Xennora bertugas menyiapkan pesta ulang tahun si kembar. Ervin tidak bisa membantu, bahkan ia izin tidak masuk sekolah tadi karena harus pergi ke Rumah Sakit, entah apa alasannya tapi dia berjanji akan datang saat perayaan nanti.


Saat hompimpa, Sofia dan Eireen mendapatkan bagian dekorasi, dan mereka tengah membeli dekorasi itu. Tinggal Xennora dan Julian di rumah, dengan tugas memasak dan menyiapkan makanan.


Gak mau ribet menyiapkan kue dan makanan, mereka lebih memilih meminta tolong salah satu asisten keluarga Fachrunaldo untuk delivery makanan dan minuman. Setelah pesanan datang, mereka segera memindahkannya ke piring, mangkuk, dan gelas di rumah.


Biar gak keliatan hasil delivery.


Saat sibuk menata meja dalam keheningan, mereka kedatangan tamu. Dengan malas Xennora pergi ke pintu depan untuk membukakan pintu, Julian mengikuti karena penasaran juga. Ternyata tamu itu adalah Narissa, mama tiri Xennora. Gadis itu menatap Narissa malas lalu kembali pergi ke dapur meninggalkan Narissa yang masih berdiri di depan pintu dengan senyum kecewa nya. Julian dan Narissa tersenyum canggung, lalu tak lama Julian tersadar.


"Eh, tasnya biar saya yang bawa, tante."


"Oh? Terimakasih ya nak... Julian." Narissa melihat Nametag seragam Julian.


Akhirnya mereka berdua pun menyusul Xennora ke ruang makan yang telah tersedia beberapa kue dan makanan lain di atas meja.


"Apa kabar Rara?" Tanya Narissa basa basi.


"Baik, sampai lima menit yang lalu." Jawab Xennora seraya memberikan senyum sarkas lalu kembali menata sendok dan garpu di meja.


"Ekhm... Kamu gak kangen mama gitu?"


"Untuk seorang anak yang gak punya kenangan indah bareng orang tuanya... Enggak sih. Apa yang harus dikangenin?"


Julian Speechless. Gadis itu benar-benar tidak waras.


"Mama liat di meja depan ada laptop baru... Punya kamu?" Rupanya Narissa belum menyerah, dan Xennora hanya mengangguk.


"Punya uang dari mana emang? Kamu kerja? Kok gak ngasih tau mama?"


"Mama sama Papa berbulan-bulan gak pulang ke rumah ngapain? Kerja? Kok gak ngabarin?"


Oke suasana sudah semakin kacau. Perasaan Julian sudah tidak enak.

__ADS_1


"Aku dapat uang hasil dari kompetisi musik sih." Akhirnya Xennora menjawab pertanyaan Narissa tadi. Namun sepertinya Narissa tidak berniat balas menjawab pertanyaan Xennora.


"Tapi papa kamu--"


"Berhenti. Tolong berhenti berperilaku seolah-olah kalian memberi uang bekal rutin ya! Saya tidak peduli jika Papa marah karena ini murni bukan kesalahan saya! Bahkan kak Leo dan kak Edwin bekerja paruh waktu itu karena apa?! Karena tidak ada yang peduli kepada kami bertiga..."


"Maaf, mama gak bermaksud seperti itu Ra, mama punya alasan.... Mama--"


"Berhenti membual kalau anda memiliki alasan! Alasan se-rasional apapun tidak akan masuk akal jika itu membuat kalian melupakan anak-anak kalian! Sebih baik, sekarang tolong anda pergi dari sini." Xennora menunjuk arah pintu depan dengan tangannya.


"Ra, dengerin ma--"


"Pergi!!"


Akhirnya Narissa menyerah lalu pergi meninggalkan rumah itu. Xennora dan Julian pun kembali melanjutkan aktivitas mereka, napas Xennora masih terlihat memburu, dia masih kesal.


Tapi, mau dipikirin gimanapun, perilaku Xennora sama mamanya itu... Aneh banget. Dan itu... Salah.


"Sen, gue pikir lo terlalu kasar sama Mama lo. Dia datang karena ini hari ulang tahun anaknya, harusnya lo ikut Happy dong."


"Peduli apa lo?!" Sesuai dugaan, Xennora masih diliputi rasa kesal.


"Gue bukan maksud peduli atau apapun itu yang ada di pikiran aneh lo, tapi gue ngerasa ada hal yang harus dilurusin disini."


Idih ngelawak.


"Sen, gue serius. Perlakuan lo sama nyokap lo gak seharusnya gitu. Seenggaknya lo hargain nyokap lo kek karena udah datang di hari ulang tahun anaknya walaupun bukan ulang tahun lo."


"Mau dihargain berapa? Kebetulan gue masih punya uang sih."


Julian mengusap wajahnya kasar. "Haha... Kayaknya ada yang harus dibenerin dari pikiran lo itu."


"Gue baik-baik aja, dan gak ada yang salah dari pikiran gue."


"Kalau lo masih bisa nganggap lo orang waras, terus semua ucapan lo sama nyokap lo tadi apa?! Oh gue salah... Seharusnya gue rekam aja tadi biar lo sadar...?"


"Tau apa lo anjir sampai nyudutin gue gini?! Pake sok menggurui lagi! Waras lo?!"


"Gue cuma bilang itu salah! Ucapan lo salah! Perlakuan lo salah! Dan emang itu faktanya... Lo gak seharusnya naikin volume suara lo sama orang yang lebih tua termasuk gue!"

__ADS_1


Karena tidak tahan mendengar ocehan Julian, Xennora meraup segenggam kue yang tadinya berbentuk bulat sempurna, kini jadi tidak berbentuk. Ia lalu melempar kue di tangannya pada Julian yang tidak sempat menghindar.


Tidak mau kalah, Julian melempar dua ekor udang yang telah dibumbui dan siap di santap ke wajah Xennora. Beruntung, karena gadis itu sempat menutup wajahnya dengan tangan. Namun hasilnya, rambut dan lengannya penuh dengan bumbu seafood.


"Woy! Berani lo sama gue?! Maju sini lo!" Pekik Xennora kembali melemparkan sebuah kue coklat utuh ke wajah Julian. Dan ya... Kena lagi.


Dasar preman pasar.


"Sen, Sen.... Tenang dulu... Gue gak maksud menggurui kok. Tapi gak tau aja... Hati gue kayak ngeganjel ngeliat kelakuan lo tadi."


Tapi Xennora tetap melempar dua buah cupcake. Satu mengenai pundak Julian, satunya lagi meleset. Xennora udah kayak orang kesetanan soalnya, makanya Julian niat nenangin dia dulu.


"Lo keras kepala ya ternyata! Siapapun yang juga ngeliat kelakuan lo tadi, pasti dia bakal setuju sama gue!" Balas Julian lelah lalu melemparkan cake strawberry yang akhirnya mengenai wajah Xennora.


Xennora sudah selesai, akhirnya ia melempar kue black forest dan juga semangkuk es krim. Ia mengejar Julian yang berlari memutari meja. Ya, sejak tadi memang mereka main kejar-kejaran di sekeliling meja. Mereka hanya berhenti saat akan berbicara, atau melempar sesuatu. Kue black forest mengenai seragam Julian, sedangkan es krim meleset sehingga mangkuk yang terbuat dari kaca itu pecah. Namun Xennora tidak peduli dan terus mengejar Julian. Beruntung mereka memakai sepatu.


"Orang-orang bakal nganggap itu bener atau salah tergantung bagian apa yang mereka tau. Jadi, gak usah sok tau deh!"


"Aaaa! Sakit anjir jangan di tarik!"


Xennora berhasil menjambak rambut Julian, namun mereka masih terhalang meja makan. Tak mau kalah, Julian ikut menjambak rambut Xennora walaupun tidak terlalu kuat. Dan saat itu pula, Sofia dan Eireen yang baru datang syok melihat keadaan dapur yang berantakan disertai dua manusia yang saling menjambak dalam keadaan kacau.


"Aaaaa!" Ringis Xennora. "Lepasin." Lanjutnya.


"Lo dulu."


"Bohong!"


"Bener Rara... Lo dulu lepasin..." Balas Julian lelah.


Mendengar nama panggilan itu, Xennora malah menguatkan jambakannya.


"Aa! Shsh... Salah gue apa sih... Yaudah gue lepasin tapi abis itu lo lepasin juga."


"Oke!"


"Oke."


"Yaudah lepasin!"

__ADS_1


Perlahan Julian menjauhkan tangannya dari rambut brunette Xennora. Gadis itu terdiam sebentar lalu tanpa aba-aba menarik rambut Julian sebelum melepaskannya membuat pria itu berteriak kesal.


"Kenangan epic, tapi sayangnya kamu lupa, Ra..."


__ADS_2