
"Kita kemana sekarang? Semua tempat gelap kecuali aula yang dipakai pementasan." ujar Leo yang tengah berjalan dibantu senter kecil di samping Julian. Mereka kini berada di koridor belakang aula. Julian pun nampaknya masih fokus mencari dengan senter kecilnya itu.
Sebelumnya mereka telah mencoba mencari menggunakan jam tangan GPS yang Xennora kenakan. Dan mereka hanya menemukan jam tangannya saja, tepat di tembok pembatas sebelah Timur sekolah. Mereka masih tidak tahu Xennora dibawa kemana. Komplotan itu terlalu cerdas sampai mengetahui jika jam itu adalah jam tangan pelacak. Sungguh menyebalkan.
"Mungkin... Ada di sekitar sini. Cari aja terus." balas Julian sangat fokus sampai tidak menyadari Leo berbelok ke kiri menuju lorong yang menghubungkan koridor dengan aula belakang sekolah. Leo melihat sedikit cahaya terpantul dari sana, padahal saat tadi melihat dari atap, tempat itu gelap gulita. Ia pun tak sadar jika Julian tidak mengikutinya.
Sampai di dekat tangga Julian merasa tak ada langkah yang mengikutinya. Ia melihat sekeliling namun tak menemukan Leo di sana. "Loh, dia kemana sih? Udah dibilang jangan berpencar juga..."
Saat mencoba mengirimi Leo pesan, sebuah senter menyorot ke tempat yang ada di dekatnya membuat Julian terkejut, ia kira itu Leo namun ternyata,
"Hei! Siapa kamu?! Kenapa tidak masuk?!" Itu security. Karena panik, Julian lantas berlari menyusuri tangga namun sialnya security itu mengejarnya. Sampai di atap, ia mencari tempat yang paling aman untuk bersembunyi. Yaitu di dalam tangki air yang untungnya ada salah satu tangki yang isinya hanya seperempat saja. Tanpa berpikir lagi, Julian segera memanjat lalu masuk ke dalam tangki air itu.
Tak lama terdengar suara pintu Rooftop yang terbuka lalu langkah yang kian lama kian mendekat. Julian mengatur napasnya agar tidak tersengal. Selang beberapa menit, akhirnya terdengar suara pintu lagi yang artinya security itu sudah pergi.
Julian menghela napas lega. Celananya sudah basah sampai area lutut. Namun permasalahan selanjutnya adalah,
"Ini gimana keluarnya woy?!"
Bego.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Leo mendekati aula belakang yang dapat dikatakan terang. Ia mengernyit bingung, setahu nya tidak ada akses listrik ke sini. Jika bukan cahaya dari petromaks, maka itu--- setelah menyadari teka teki di area ini, Leo segera mengecek handphone nya.
"Udah gue duga. "
__ADS_1
Tak ada sinyal, mungkin seluruh sambungan internet di sekolah ini mengalami peretasan, dan seluruh akses listrik hanya di pakai untuk area ini. Ah, pantas saja hari ini sekolah terlihat sangat gelap dan hanya menyisakan aula pementasan, ternyata memang dimanipulasi. Tapi mengapa sinyalnya sangat jelek? Ini tak biasa terjadi. Sepertinya memang seluruh akses internet ditutup, ulah komplotan pembuat semua kekacauan ini.
Semakin Leo mendekati aula, semakin ia merasa sesak. "Uhuk, karbon monoksida," ia pun mengambil sapu tangan di saku jas nya lalu ia gunakan untuk menutupi hidungnya. Rasa penasaran masih menyeruak, ia pun memasuki ruangan dengan pintu yang terbuka lebar itu. Saat diperhatikan, ternyata pintunya rusak parah. Knop pintu dan lubang kuncinya sudah hampir lepas, pintu bagian dalamnya pun penuh dengan bekas pukulan. Bekas pemukul lebih tepatnya, itu seperti telah dipukul oleh besi atau semacamnya.
Ia menyimpulkan bahwa tempat ini adalah tempat penyekapan Xennora dan yang lainnya. Tapi dimana mereka? Napas Leo terdengar gusar, ia pun segera keluar dari sana setelah dirasa tak ada hal lain yang menarik. Saat di ambang pintu, ia bertabrakan dengan seseorang yang terlihat sama terkejut nya dengannya.
"Eireen!"
Eireen bernapas lega, masih dengan tangisannya dan lengan yang diikat. Leo memeluknya singkat, mencoba menenangkan lalu membawa gadis itu ke tempat yang agak jauh dari aula karena bau gas nya yang masih menyeruak.
Leo menyuruh Eireen untuk duduk di bawah lalu ia melepaskan ikatan di tangan Eireen yang masih setia menangis. Saat mencoba kabur tadi Eireen memang berniat bersembunyi di aula belakang tak peduli dengan konsekuensi nya nanti. Beruntung sekali ia bertemu dengan Leo di sini. Namun bagaimana dengan Xennora dan Vina....
...❄❄❄💙❄❄❄...
Vina berlari sekuat tenaga, sesekali ia melihat ke arah belakang. Pria itu masih mengejarnya. Ia pun berbelok di antara koridor dan lorong, berharap jika trik ini dapat membuat pria itu kebingungan. Sampai ia berhenti sesaat lalu menatap sekitar. Ah, ini rasanya sia-sia karena di sini terlalu gelap dan ia bahkan tak dapat memastikan penglihatannya.
Saat Vina berbelok, tubuhnya menabrak seseorang. Ini terlalu gelap, Vina tak dapat memastikan siapa yang ia tabrak. Ia sudah pasrah saja jika korban yang ia tabrak adalah kroni nya Deandra yang terus mengejarnya tadi, atau bahkan mungkin itu hantu sekolah. Tangisannya sudah tak dapat terbendung lagi, tapi kemudian suasana di sini sedikit lebih terang.
"Vina! Vina..." Ervin mengguncang bahu adiknya itu agar membuka mata. Perlahan Vina membuka matanya lalu tangisannya kian pecah.
"Ya Allah, adik gue..." Ervin memeluk Vina. Terlihat jelas raut khawatir di sana. Vinca yang sedari tadi memegang senter pun bernapas lega. Tapi, di mana Xennora?
Tak lama, ada suara seseorang yang sedang berbisik. Mungkin juga beberapa orang. Vinca meninggalkan kedua saudara yang masih berpelukan haru itu lalu mendekati suara yang tak jauh dari posisi mereka. Di belokan dekat tangga yang ada di lantai satu, Vinca melihat jelas dua orang yang sedang mengobrol. Di sana sedikit terang karena memang biasanya akses menuju tangga memiliki lampu darurat.
Seorang perempuan yang mengobrol dengan seorang laki-laki. Kelihatannya mereka sangat serius. Perempuan itu membelakangi tempat Vinca menguping di ujung tangga. Yang pasti rambutnya brunette, panjang, sedikit bergelombang dan juga sedikit berantakan. Sedangkan pria tinggi di depannya terasa sangat familiar.
__ADS_1
"Gue udah yakin, kalau semuanya akan berjalan dengan mudah. Itu kan? Ya... Gue akui mereka gak punya rencana B. Agak konyol tapi, yeah... Lumayan untuk beberapa orang yang cuma punya waktu setengah hari buat bikin rencana."
Perempuan itu... Ini jelas-jelas suara Xennora. Saat dilihat kembali, gaunnya juga juga sama. Tidak salah lagi jika itu memang Xennora.
Pria itu tersenyum. Senyum itu, Vinca mengingatnya. Pria yang sempat adu jotos dengan Edwin, Leo, Ervin dan Julian tempo hari. Jadi, dia dan Deandra yang merencanakan semua ini? Lalu bagaimana dengan Xennora? Haruskah Vinca keluar dari tempat persembunyiannya dan mengatakan "hohooo, ternyata lo anak buahnya Deandra?!" dan setelah itu Vinca menjambak rambutnya sampai ia berteriak memohon ampun, lalu--
Oke hentikan Vinca. Itu terlalu konyol dan tidak realistis.
"... Dengan begitu, kamu gak akan ketahuan, kan... Alfanisa." ujar Devan seraya mengelus rambut Xennora dengan lembut.
Tunggu, apa-apaan ini? Alfanisa? Apa yang terjadi?
Sial sekali Vinca tak dapat melihat ekspresi Xennora. Apa gadis itu sedang menahan amarahnya yang bisa meluap kapan saja?
"Gak ada yang bakalan nyadar apa alasannya... Atau bahkan siapa pelaku di baliknya. Karena apa? Karena... Kita terlalu pintar." lanjut Devan yang untungnya tak menyadari kepala Vinca yang sedikit menyembul dari tangga.
Terdengar Xennora mendengus-tertawa, pundaknya sedikit bergetar menandakan jika dia memang menganggap ucapan Devan hanya sebuah lelucon yang pantas untuk ditertawakan.
Tunggu, apa? Kenapa Xennora tidak marah? Ayolah, hampir seluruh murid di SAN tahu jika Xennora akan sangat agresif jika berhubungan dengan seorang musuh. Hal ini dibuktikan saat ia berurusan dengan Julian, amarahnya senantiasa meluap kapan saja.
"Sandiwaramu bagus. Nyembunyiin semuanya dari teman-teman kamu seolah kamu memang gadis yang penuh misteri, dan menyembunyikan banyak hal itu merupakan bagian dari dirimu. Kamu melakukannya dengan baik. Dengan saaangat baik. Luar biasa, Alfanisa. Tidak ada yang mencurigaimu. Itu pencapaian yang bagus." lanjut Devan lagi. Vinca tidak mengerti, maksudnya Xennora menyembunyikan sesuatu?
"Lo tahu? Gue emang gak menyangkal kalau gue pinter. Nyembunyiin banyak hal? Haha, well of course because that's my privacy. Kita bertiga cukup pintar bersandiwara. Iya 'kan? Dan gue gak akan nyangkal kalau kalian juga melakukannya dengan...." Xennora menggantungkan kalimatnya seraya mengangguk kecil. "Sangat baik," lanjutnya singkat.
Sudah, cukup. Vinca benar-benar muak akan semua ini. Tangannya terkepal, napasnya tak beraturan. Sebelum pergi dari sana, Vinca berdecih pelan,
__ADS_1
"Dasar penghianat."