
"Tolong jawab nak, kamu siapa dan ada keperluan apa sampai membuat keributan seperti ini?" Ucap Pak Jaka, salah satu security di SAN. Beberapa menit yang lalu, Pak Jaka dan rekannya memanggil perwakilan dari anggota penyelidikan. Lalu Herina, Edwin, Sofia dan Leo datang dan kemudian dimintai penjelasan bagaimana bisa terjadi keributan seperti tadi.
Selesai medengar penjelasan mereka, Pak Jaka pun mencoba bertanya pada pria dengan hoodie hitam tadi yang belum membuka suaranya dan malah menunduk. Tak lama, laki-laki itu mengangkat kepalanya, sepertinya berniat untuk menjawab pertanyaan Pak Jaka.
"Devan, kelas 11 Asasi 4, Pak. Saya berniat membawa laptop saya yang tertinggal." Ucapnya sambil menatap Pak Jaka. Pak Jaka pun mengangguk, percaya tidak percaya dengan perkataan Devan.
"Sebentar." Sela Sofia yang tengah memainkan Hanphone nya, sontak semua orang di ruangan itu menatapnya penasaran.
Sofia menelfon nomor si pelaku tadi, namun tak terdengar suara ringtone seperti tadi pagi. Edwin, Herina dan Leo mengerti dengan apa yang tengah Sofia lakukan. Mereka berempat menghela napas tidak percaya. Jika pelakunya bukan pria di depan mereka, siapa lagi?
"Lo bukan pelakunya, tapi kenapa lari?" Tanya Edwin tanpa ekspresi.
"Saya hanya takut ketahuan jika memasuki area sekolah tanpa izin.... Saya masuk lewat area belakang sekolah. Untuk itu saya pergi ke kelas diam-diam. Saat di depan lab perdata, saya terkejut melihat banyak orang disana. Saya kira itu guru yang sedang berpatroli." Jelas Devan panjang lebar.
"Terus kenapa lo berantem sama Julian yang mana lo kira kalau kita semua guru?!" Tanya Herina tak habis pikir dengan alibi yang dibuat oleh Devan. Pria itu terdiam, tak dapat menjawab pertanyaan Herina membuat mereka yakin jika penjelasan Devan tadi hanyalah sebuah alibi.
"Ya sudah, kalian boleh kembali. Devan, tetap disini. Saya akan menghubungi wali kelas 11 Perdata 4." Ucap Pak Jaka. Mereka ber empat pun pamit lalu kembali ke lab Perdata
...❄❄❄💙❄❄❄...
Sesampainya di lab perdata, Herina, Edwin, Sofia dan Leo menceritakan tentang apa yang terjadi di ruang security itu. Vinca paling ngotot dengan opini nya yang mengatakan jika handphone pria itu memakai mode silent dan hal itu disetujui oleh Edwin.
Dengan itu, mereka memutuskan untuk bertanya lebih lanjut pada murid kelas 11 Asasi 4 bernama Devan minggu depan. Setelah perundingan tanpa Ervin dan Vina tersebut, mereka pun memutuskan pulang karena dirasa sudah menemukan jalan keluar.
__ADS_1
Dan kini Julian sedang duduk santai di sofa ruang tengah rumahnya. Sofia sedang membaca di sofa single samping Julian. Dan Eireen sedang menonton Harry Potter di kamarnya.
"Fi! Professor Dumbledore nya meninggal masa?!" Teriak Eireen di kamarnya yang ada di lantai dua.
"Jangan spoiler dong ah, gak seru!" Balas Sofia lalu berlari menuju kamar Eireen meninggalkan bukunya di meja.
Julian menggeleng, karena tak ada channel televisi yang seru, ia pun mematikan TV nya lalu teralih dengan buku yang masih tergeletak di meja. Julian membaca judulnya, 'konspirasi sejarah'. Tak terlalu tebal, sepertinya hanya sekitar seratus halaman dengan sampul buku bergambar patung liberty, peta -sepertinya peta benua Asia-, dan beberapa tokoh penting dunia dengan warna yang bisa dibilang colorful namun sedikit terkesan suram.
Julian tak habis pikir dengan orang yang menulis buku ini maupun orang yang menerbitkannya. Merilis buku tentang konspirasi bisa dikatakan sama seperti memberi tahu pihak berwajib tentang markas kartel narkoba dunia.
Sangat berisiko.
Tapi walaupun begitu, Julian mau-mau saja membacanya, walaupun hanya sub-bab. Jika menarik mungkin ia akan membaca keseluruhan isi dari sub-bab tersebut. Namun sampai saat ini, belum ada yang membuatnya penasaran.
Konspirasi HAARP? Julian sudah tahu pasti apa yang akan dibahas.
Konspirasi kejadian 9 September 2001? Julian bahkan sudah hapal apa saja bukti yang akan dibahas maupun orang dibalik nya.
Time traveler? Julian tak mempercayainya.
Reinkarnasi? Tak tertarik. Boleh dicatat, Julian itu termasuk orang yang mempercayai bahwa hidup itu hanya sekali. Artinya, tak ada kehidupan lagi setelah meninggal ataupun sebelum lahir.
Kematian masal di Pulau Jawa? Julian tak pernah mendengar kabar konspirasi ini. Ia bahkan tak tahu jika di negaranya sendiri terdapat hal yang lumayan mengerikan dan belum terpecahkan siapa penyebabnya sampai sekarang. Buku itu mengatakan jika kematian masal terjadi di sekitaran Bandung. Juga ada beberapa korban di kota lain seperti Jakarta dan Bekasi.
__ADS_1
"Kejadian ini dimulai dari ditemukannya sepasang pasutri, Gerald Anugralia dan Sienna Amira yang tergeletak di ruang tengah dengan mata memerah dan keringat yang tak wajar... Tanggal 27 Februari 2007. Penyebabnya racun Antrovitoxin.... Antrovitoxin?" Gumam Julian sambil membaca beberapa paragraf. Selama delapan belas tahun ia hidup, tak pernah mendengar sekalipun mengenai Antrovitoxin.
Satu hal yang mengusik pikirannya,
"Apa racun ini juga yang jadi alasan paman sama bibi meninggal? "
...❄❄❄💙❄❄❄...
Minggu pagi yang cukup cerah di rumah keluarga Kayden. Sang tuan rumah, tuan dan nyonya Kayden sedang bersiap untuk pergi ke pesta pernikahan salah satu kolega plus sahabat Azka, ayah Julian. Mereka sengaja mengajak Julian karena ia lah yang akan meneruskan perusahaan perfilman milik ayahnya. Sofia dan Eireen sempat diajak, tapi mereka menolak dan memilih diam saja di rumah dengan catatan, jika masih ada yang meneror Sofia, mereka harus segera melapor pada Julian. Julian sebenarnya tak ingin ikut, tapi ayahnya bilang pertemuan ini harus dijadikan sarana bagi Julian untuk mempelajari perusahan KNJ group.
Kemeja putih dan jas hitam menjadi setelan yang Julian pakai kali ini ditambah gaya rambut hair up nya membuat Julian terlihat semakin tampan. Kemudian ia keluar dari kamarnya dan turun lalu duduk di sofa ruang tamu menunggu Azka dan Kamila. Tak lama, Eireen duduk di samping Julian sambil membawa laptop.
"Beneran gak akan ikut?" Tanya Julian saat Eireen masih sibuk menyalakan laptopnya.
Eireen menggeleng, "kenapa? Takut gak ada temen ya hahaha..." Biar bagaimanapun, interaksi mereka seperti benar-benar seorang saudara kandung. Tak ada kata canggung sama sekali. Julian mencibir sepupunya itu lalu kembali menatap ke depan.
"Tapi.... kayaknya pestanya megah deh. Paman Irfan Jiro kan pemilik stasiun TV swasta JCBA. Istrinya... penyanyi terkenal, bunda Carissa Putri sekaligus mantan istri Jaksa Rafael Haidar Fachrunaldo. Wooaah... Eh kak Julian tahu gak? Kabarnya, pas Jaksa Rafael sama bunda Carissa cerai, bunda Carissa habis melahirkan. Netizen curiga soalnya selama dua tahun bunda Carissa hiatus, sama sekali gak ke ekspose media. Terus tiba-tiba muncul di berita yang isinya perceraian bunda Carissa sama Jaksa Rafael." Jelas Eireen sedikit membuat Julian penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Eireen juga membuka laman pencarian di laptopnya dan benar saja, berita itu banyak di perbincangkan 17 tahun yang lalu. Dan kini kembali mencuat karena Carissa akan kembali menikah.
"Serius? Sampai sekarang belum ada kabar tentang anaknya?" Tanya Julian membuat Eireen mengangguk. "Kalau gitu, paling cuma kabar burung." Balas Julian santai.
"Ih enggak kak, banyak juga buktinya. Ya walaupun belum ada yang tahu siapa anaknya, tapi buktinya banyak loh kak, serius." Ujar Eireen mencoba meyakinkan Julian.
Eireen pun mengklik salah satu foto saat Carissa dan Rafael saat menikah. Julian yang melihat foto itu sedikit terkesiap karena ia rasa, ia pernah melihat wajah Carissa saat masih muda.
__ADS_1
Eireen juga tersadar beberapa detik saat melihat foto itu. Ia rasa ia sering melihat wajah bunda Carissa saat masih muda. Tidak, lebih tepatnya Eireen rasa, ia sering melihat orang yang wajahnya sekilas mirip Carissa saat masih muda.
Sayangnya ia sama sekali tidak ingat, sehingga mereka berdua seakan merasakan deja vu.