
"Waaah... Tadi seru banget..." Ujar Sofia yang diangguki Vina dan Eireen dengan kompak saat mereka telah selesai menaiki bianglala.
"Tapi ini udah malam, lanjut lain kali aja deh ya." Usul Herina.
"Setuju. Kita harus nyiapin diri buat besok." Ujar Vinca.
Julian menghela napas sejenak, "gue lupa kalau besok bakalan jadi hari terburuk. Perasaan gue gak enak."
"Tenang Ju, dengan bantuan dari Rani temennya Vina, kita pasti bisa tangkap pelaku itu, Deandra Pyralis." Ucap Ervin dengan nada suara horror.
"Ya... Semoga lo bener."
"Positif thinking lah..." Leo merangkul Julian lalu mereka berjalan menuju parkiran.
"Kita pulang duluan ya!" Pamit Edwin. Leo, Xennora, Herina dan Vinca pun berpamitan singkat lalu masuk ke mobil Edwin.
Julian, Sofia, Eireen, Ervin dan Vina pun ikut masuk ke dalam mobil Julian, lalu pulang. Sungguh hari yang menyenangkan, sekaligus melelahkan. Tapi mereka tetap harus bersiap untuk esok.
...❄❄❄💙❄❄❄...
"Habis darimana kalian?"
"Ayah bahkan gak bener-bener pengen tahu kita darimana." Jawab Xennora acuh. Leo dan Edwin hanya memasang ekspresi datar.
"Xennora,"
"Udah deh Yah, ini udah malam. Xennora capek debat sama Ayah." Final Xennora lalu naik ke lantai dua disusul Leo dan Edwin membuat Rafael menghela nafas lelah. Semua ini memang salahnya.
Tak lama, ponselnya berdering tanda seseorang menelepon. Nomor yang tak dikenal, namun Rafael dapat menebak siapa yang menelepon. Dengan malas, ia menjawab teleponnya.
"Hall--"
"Bebaskan Ardian, kalau tidak--"
"Sudah kubilang jangan meneleponku lagi sialan!!" Suara Rafael naik satu oktaf di akhir kalimatnya.
"Sebelum Ardian bebas, aku tak akan berhenti membuatmu menderita."
"Hey dengar," Rafael menenangkan dirinya. "Bukan salahku jika Pak Ardian kalah dalam sidang. Dia hanya menggunakan pengacara yang payah, dan aku bahkan tak pernah ikut andil dalam pemilihan pengacara yang membelanya. Jadi berhenti mengganggu ku lagi brengsek!!" Teriak Rafael kehilangan kontrol. Ia hanya berharap ketiga anaknya tak mendengarkan teriakannya.
"Aku tak peduli. Kasus itu yang membuat jabatan serta popularitas mu naik dengan sangat drastis. Aku tal menyukainya, saat kau bersenang-senang, sedangkan kami tidak."
"Jika kau memang seberani itu untuk mengangguku, maka tunjukkan siapa dirimu. Jangan hanya bersembunyi dan mengganggu ku lewat telepon bodoh! Aku tak akan mengungkap kebenarannya sampai aku tahu siapa yang menelepon ku selama ini."
"Silakan, jika kau melaporkan ku... Maka aku juga bisa mengganggu istrimu... Bahkan keempat anakmu. Ups, maksudku... Ketiga anakmu hahaha..."
"Sialan--" Umpatan Rafael terpotong karena orang tak dikenal itu telah mematikan sambungan teleponnya. Rafael berteriak kesal lalu melempar handphone nya ke sembarang arah.
__ADS_1
Semua ini tak akan terjadi jika dia merelakan dua hal pada hari itu. Popularitas, dan jabatan.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Julian duduk di samping ayahnya yang tengah berkutat dengan laptop. Hanya ada mereka berdua di ruang tengah itu. Kamila, Eireen dan bahkan Sofia sedang menyiapkan makan malam.
"Yah... Ayah tahu kan kejadian kelam tahun 2007?" Pertanyaan anak sulungnya itu membuat Azka terdiam sebentar.
"Satu-satunya kejadian menggemparkan tahun 2007 itu ya.... Diangkat nya Jaksa Rafael di Firma Hukum Jakarta Pusat." Jawab Azka enteng membuat Julian mendesah kecewa. Sudah pasti akan seperti ini, kenapa ia mengharapkan lebih?
"Ayah... Julian tahu Yah... Tentang kematian masal itu, tentang alasan orang tua Eireen meninggal. Tepat satu bulan setelah kenaikan jabatan Jaksa Rafael. Jadi Julian minta tolong sama Ayah buat nyeritain kronologi nya..." Ucap Julian membuat Azka terkesiap selama beberapa detik. Ia kemudian menelan ludah nya dengan susah payah, berusaha berpikir darimana ia akan memulai ceritanya.
"Delapan tahun yang lalu... Saat CEO KayChief Group masih di jabat oleh kakekmu. Dan ayah sebagai Managernya, manajer sementara. Gak tahu kenapa, pagi itu agak beda, suasananya ramai tapi suram. Semua karyawan terlihat sibuk, tapi juga terlihat kacau. Pemandangan yang tidak biasa ayah lihat. Puluhan reporter dan kru TV memenuhi gedung bagian komunikasi. Sedangkan gedung bagian Sumber Daya dan Periklanan hanya diisi beberapa orang."
"Yah... Please, to the point aja. Flash back nya nanti." Potong Julian jengah membuat Azka terkekeh karena sifat tidak sabaran anak sulungnya itu.
"Ayah gak tau pasti sih kronologi nya gimana aja, kamu bisa tanya kakekmu."
"Ya... Intinya selama beberapa minggu itu Ayah sibuk di gedung komunikasi, ngurusin berita kasus kematian masal.... Oh iya! Beberapa minggu sebelum kematian masal itu ada tiga orang anak kecil. Mungkin... Usianya sekitar dua belas tahun...? Ya, pokoknya mereka datang ke Gedung KayChief sambil bawa semacam sertifikat gitu. Mereka ngotot sambil nangis bilang kalau perusahaan harus bantu ngebebasin papa mereka yang dipenjara, --emangnya KayChief itu Firma Hukum?--"
"Tiga... Orang?" Julian memastikan.
"Iya, kamu meragukan Ayah? Gini-gini ayah masih inget ya. Pokoknya mereka bertiga, perempuan dua, laki-laki satu."
"Oh iya, jangan kasih tahu Bunda kamu ya kalau ayah udah cerita." Lanjut Azka. Julian hanya melirik Ayahnya sebentar karena sibuk berkutat dengan pikirannya.
Tiga orang anak... Minta tolong supaya Ayah mereka bebas dari hukuman? Kenapa cerita ini sedikit familiar di telinga Julian? Ia sepertinya pernah mendengarnya, namun entah dari siapa.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Pagi ini mereka sudah berkumpul di rumah Julian. Dia sendiri yang menjemput teman-temannya satu persatu. Memang niat.
"Please deh, ini masih jam lima pagi," Ucap Xennora memelas karena sedari tadi ia disuruh memilih gaun yang akan dipakai nanti malam. Catat, nanti malam.
"Persiapan lah Sen, semangat dikit napa?" Bujuk Ervin.
"Gue punya ya, dress hitam di rumah. Kenapa harus beli?" Xennora masih tidak terima.
"Biar couple-an. Mumpung di beliin sama om Azka. Ya gak?"
Ekspresi Xennora masih sama. Lagipula couple dari mananya? Warna gaunnya saja yang sama, tapi modelnya jelas berbeda. Aneh.
"Gue mau jas yang ini deh, biar kayak Man In Black," Celetuk Leo sambil menunjuk salah satu setelan jas.
"Kalau jas, semuanya juga semodel bego," Maki Edwin.
"Aku... Dress selutut ini deh." Pilih Vina mengambil salah satu gaun.
__ADS_1
"Oke. Tinggal Xennora sama Sofia." Ucap Julian. Tanpa perintah, Xennora dan Sofia mendekati deretan gaun berwarna hitam yang menggantung dengan rapi. Masih ada sekitar sepuluh model gaun yang menggantung disana.
"Lo dulu deh," Ujar Xennora pada Sofia.
"Gue gak bisa milih nih. Bareng aja, tutup mata. Gimana?" Tawar Sofia. Xennora mengangguk menyetujui lalu mereka mulai menutup mata secara bersamaan. Salah satu tangan mereka mulai meraba jajaran gaun hitam elegan yang sangat sulit untuk sekedar dipilih.
Disaat yang bersamaan pula, tangan mereka berhenti pada gaun pilihan masing-masing. Xennora dan Sofia menarik gaun mereka lalu perlahan membuka mata. Senyuman melengkapi Majah mereka kini.
"Pilihan yang bagus." Puji Herina saat Xennora memperlihatkan gaun panjang berbahan sutra berlapis di bagian rok dengan bahu terbuka. Dan Sofia dengan gaun panjang yang lebih mengembang di bagian rok karena menggunakan bahan organdi sebagai dasarnya. Berlapis, sama seperti milik Xennora, namun juga berlengan.
Setelah Julian memerintahkan para maid nya untuk pergi, mereka kembali berkumpul. Ada yang duduk di sofa, ada juga yang di karpet.
"Mungkin kita harus dibagi jadi beberapa tim. Nazril ikutan gak?" Tanya Eireen.
"Gue suruh aja biar dia ikutan. Antha juga 'kan Sen?" Usul Edwin membuat Xennora mengangguk.
"Jadi kita dua belas orang 'kan? Tim satu, Ervin, Vinca, Leo sama Vina. Jaga gerbang depan, tembok belakang, pokoknya jalan apapun yang membuat akses ke SAN. Jangan sampai ada yang masuk atau keluar saat pentas berlangsung. Tim dua, gue, Sofia, Edwin sama Eireen. Buat suasana kondusif, jangan sampai terjadi hal yang berbahaya. Sampai itu terjadi, cepat telepon polisi. Tim tiga, Herina, Xennora, Nazril sama Antha. Kalian semua paling pintar di sini, jadi gue minta dua orang stay di ruang keamanan, dua lagi keliling sekolah, cari markas mereka dan salah satunya harus ada cowok," Jelas Julian yang setelah itu mengeluarkan empat walkie talkie.
"Setiap Tim pegang satu walkie talkie, kecuali tim tiga yang dapat dua walkie talkie. Ingat, kita harus kerja sama, jangan sampai kalian terpisah. Kalau mau pergi usahakan berdua, jangan ada yang sendiri. Dan karena Sofia punya risiko di apa-apa in mengingat dia juga korban, gue akan jaga dia secara langsung, gue juga percaya sama lo Ed." Julian kembali mengeluarkan sesuatu dari tas ransel berwarna hitam itu, jam tangan.
"Masing-masing dari kita pakai ini. Ada GPS-nya, jadi lokasi kalian bakalan terakses di GPS handphone."
"Wah... Keren." Vinca memakai jam tangan berwarna silver berkilau. Memang ada sekitar lima belas buah jam tangan berwarna silver dan hitam, Xennora tidak tahu akan diapakan jam tangan ini jika tak sedang mereka gunakan. Lima belas loh... Sangat meresahkan.
"Kayaknya lo siap banget deh menghadapi situasi-situasi kayak gini?" Tanya Herina terkekeh seraya memakai jam tangannya.
"Gue dapat dari KayTechnology sih hehe..."
"Udah gitu doang? Gue mau tidur dong," Celetuk Xennora tak tahu diri membuat Leo dan Edwin menatapnya dengan senyuman sabar. Hening sebentar menciptakan suasana yang sedikit aneh.
"Boleh, tidur aja. Mau di kamar gue atau Eireen?" Tanya Sofia masih menatap Xennora tak percaya.
"Ah... Gak apa-apa. Gue tidur disini aja." Balas Xennora sambil mendekati sofa di sudut ruangan.
"Yakin? Kamar gue gak berantakan kok."
"Udah, gak apa-apa Fi. Sofa nya enak kok." Xennora membuka blazer coklatnya lalu berbaring dan memainkan handphone nya.
"Yaudah, ada yang mau main PS?" Tanya Julian yang langsung disoraki setuju oleh Leo, Edwin dan Ervin. Mereka berempat pun pergi ke kamar Julian menyisakan Sofia, Eireen, Herina, Vinca dan Vina di ruangan itu. Setelah makan malam kemarin, Azka dan Kamila pergi untuk perjalanan bisnis ke Australia dan Julian belum memberitahu kedua orang tuanya itu apa yang akan terjadi malam ini.
"Kita masak-masak aja deh yuk, sekalian bikin sarapan." Ajak Eireen yang langsung mendapat gelengan panik dari Vina.
"Aku... Disini aja. Aku juga ngantuk, baru tidur jam satu hehe... Kalian aja."
Sedikit ragu mendengar jawaban dari Vina, akhirnya Herina meng-iya-kan. Herina, Vinca, Sofia dan Eireen pun pergi. "Lo gak bisa masak ya?" Celetuk Xennora yang masih memainkan handphone nya. Sedangkan Vina tengah bersiap berbaring di karpet, sedikit terkejut mendengar pertanyaan Xennora.
Vina tertawa kikuk menatap Xennora yang posisinya agak jauh dari tempat ia berbaring. "Ya... Gitu deh kak. Kakak sendiri? Pasti jago ya?"
__ADS_1
"Gue bisa aja masak. Tapi soal masakan tradisional sih, masih perlu bimbingan." Jawab Xennora. Vina mengangguk menyetujui sambil menatap langit-langit ruangan sampai kesadarannya perlahan pudar tertelan dunia mimpi.
Sementara itu, Xennora masih berkutat dengan handphone nya untuk menjelaskan pada Nazril dan Antha mengenai misi mereka nanti malam.