The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Plot Twist


__ADS_3

"Jadi gimana aunty?" Tanya Xennora. Seperti permintaannya tadi, Xennora dan Nazril pulang ke rumah sepupunya itu. Dan kini mereka tengah berada di laboratorium keluarga Arkatama untuk meneliti cairan yang Xennora bawa dari aula belakang.


"Emang itu apaan sih?" Tanya Nazril karena Xennora memang belum menceritakan apa-apa padanya tentang cairan itu.


Xennora menatap Nazril resah, "not a good thing." Jawab Xennora singkat lalu kembali menatap mama Nazril di depan mereka. Nazril mengangkat sebelah alisnya tanda tak mengerti setelah mendengar jawaban Xennora.


"Iya, Sen. Dari baunya aja udah jelas sih. Gak ada racun yang punya bau kayak minyak ikan. Warnanya juga bening. Kamu ambil darimana?" Tanya Naifa.


"Aula belakang sekolah, aunty. Jadi... Pelakunya sama?" Tanya Xennora dengan raut khawatir, marah, lelah, dan tak percaya.


"Kemungkinan iya Sen..." Balas Naifa tidak yakin.


Nazril yang tidak mengerti lantas mengambil buku catatan milik mamanya yang ada di meja depan tempat mereka berdiri.


"Antrovitoxin? Bukannya racun ini terbatas? Bahkan ilmuwan juga gak tahu gimana nyiptainnya." Ujar Nazril setelah membaca tulisan di buku catatan itu.


"Iya emang Na, makanya aneh aja gitu Xennora ngambil senyawa ini dari mana." Balas mamanya.


"Belakang sekolah?* Tanya Nazril yang dibalas anggukan oleh Xennora.


"Bentar. Devan, mengalihkan nomor, Delia, terus kalian nyari pelakunya, kesepakatan, terror, delapan tahun... Jadi maksud kamu kemungkinan besar pelaku terror di SAN sama kematian massal 2007 sama?" Tanya Nazril tak percaya. Lagi lagi, Xennora mengangguk sebagai jawaban.


"Tapi aunty punya kemungkinan kedua sih Sen. Pelakunya beda, dan aula SAN hanya dijadikan tempat penyimpanan racun aja." Ucap Naifa masuk akal.


"Bisa jadi sih. Terus gimana aunty? Kepala laboratorium udah ngambil semua racunnya?" Tanya Xennora.


Naifa melihat handphone nya sekilas, lalu mengangguk. "Udah, totalnya ada 39 botol dan akan langsung diteliti di lab pusat. Berarti, 40 botol sama yang ini ya."


Xennora mengangguk lega, "syukur deh kalau gitu."


...❄❄❄💙❄❄❄...


Xennora turun dari mobil hitam berkilau milik Nazril yang merupakan hadiah ulang tahun ke-17 dari ayahnya itu. Xennora melambaikan tangan seiring kepergian Nazril. Kemudian Xennora mendekati gerbang rumahnya perlahan lalu bersiap untuk membukanya sebelum ia mendengar seseorang memanggil namanya.


"Xennora?" Tanya seseorang di belakangnya dengan antusias. Xennora membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang baru saja memanggilnya.


"Eh, kak Deandra Callena. Ada apa kak?" Tanya Xennora tersenyum tipis.


"Enggak, tadi aku jalan-jalan sebentar. Eh, ngeliat kamu disini. Ternyata rumah kita dekat ya." Ucap Deandra dengan kaos nevy oversize dan celana jeans putih pendek.


"Oh ya? Kok aku gak pernah lihat kakak di daerah sini?"


"Hahaha aku emang suka diem di rumah sih, jarang keluar." Jawab Deandra.


"Ohh... Iya." Balas Xennora sambil memperhatikan Deandra yang terus menerus melihat ke dalam rumahnya. Kode kah?

__ADS_1


"Eh, masuk yuk kak. Di rumah ngobrol nya." Ajak Xennora membuat senyuman Deandra semakin lebar.


"Bole--"


"Xennora!!" Panggil Julian dari kejauhan, lalu berlari mendekati Xennora dan Deandra.


"Ayo!" Ajak Julian setelah ia berada di depan mereka.


"Ke... Mana?" Tanya Xennora tak mengerti.


Julian menatap Xennora dengan tatapan yang tak dapat Xennora mengerti, "lo gak baca pesan dari gue?" Tanya Julian.


Xennora menautkan alisnya tak mengerti. Padahal ia sama sekali tak menggunakan mode silent. Xennora pun mengambil handphonenya di saku rok seragamnya. Namun saat ia baru saja menyalakan handphone nya, Julian melotot dan langsung mengambilnya lalu disembunyikan di belakang tubuhnya dengan ekspresi sedikit tegang namun berusaha untuk senatural mungkin.


Xennora mengernyit, semakin tak mengerti dengan maksud Julian. Begitupun Deandra yang dibuat melongo dengan kelakuan aneh seorang Julian Matteo Kayden.


"Pokoknya gue udah ngajak lo jalan-jalan sore ini. Ayo." Ucap Julian sambil menarik tangan Xennora lembut lalu berjalan dengan cepat meninggalkan Deandra sendirian dengan ekspresi tak terima.


"Gue pinjam Xennora nya dulu buat sekarang, lain kali aja ya ngobrol nya!" Teriak Julian membuat Xennora memukul bahunya pelan lalu tersenyum tidak enak pada sekumpulan ibu-ibu komplek di dekat mereka yang tengah menatap mereka sambil tersenyum penuh arti.


"Permisi, bu..." Ujar Julian seraya menunduk hormat diikuti Xennora yang lengannya masih dipegang oleh Julian.


"Iya... Duuhh ibu jadi ingat masa muda dulu." Ucap salah seorang dari ibu-ibu tadi diikuti gumaman setuju dari teman-temannya.


"Langgeng terus ya Xennora sama pacarnya." Lanjut ibu ibu yang lain membuat Xennora hampir saja tertawa saat mendengar ucapan ibu tadi. Namun tak lama Julian membalas ucapan ibu tadi sambil tersenyum ramah.


Setelah mengucapkan satu kalimat itu, Julian kembali mengajak Xennora untuk melanjutkan perjalanan mereka dengan jalan kaki.


Xennora mengipasi wajahnya dengan tangan yang tak Julian pegang. Ah, bahkan Xennora lupa lengannya masih ditarik oleh Julian. Dan mengingat hal itu membuat udara disekitarnya menjadi semakin panas. Mungkin wajar, karena ini bulan Mei dan sedang musim kemarau.


Tak lama mereka sampai di taman dekat rumah Xennora, dekat sekolah juga. Sehingga jika Xennora ingin menenangkan pikiran, taman inilah pilihannya. Banyak anak-anak disini, mungkin karena lebih tepatnya ini taman keluarga. Banyak perosotan dan ayunan disini, juga banyak sekali penjual jajanan kaki lima, lebih terlihat seperti pameran kuliner. Xennora bahkan sering mentraktir es krim untuk anak-anak disana, sampai-sampai banyak orang tua yang berniat mengganti uang Xennora dengan nominal yang melebihi harga es krim tersebut. Alasannya selain karena telah membelikan es krim untuk anak mereka, tentu karena Xennora juga telah berhasil mentertibkan anak-anak yang nakal dan tak bisa diam.


"Lo cari aja tempat duduk. Gue beli minuman dulu. Mau apa?" Tanya Julian.


"Green Tea!" Jawab Xennora antusias.


Julian tersenyum. Sesuai dugaan nya, Xennora pasti akan memesan green tea. Julian mengangguk lalu menyuruh Xennora duluan.


Xennora mengangguk lalu memilih meja yang paling dekat dengan tempat dimana anak-anak sedang bermain.


"Sore, kak Rara!!" Sapa anak-anak itu kompak setelah Xennora baru saja duduk. Xennora tersenyum mendengarnya, senyum yang selama ini hanya diketahui oleh beberapa orang termasuk anak-anak itu.


"Soreee..." Balas Xennora ramah sambil melambaikan tangannya.


"Permisi..." Ucap seseorang di seberang meja tempat Xennora duduk. Xennora kira itu Julian, namun ternyata bukan. Raut Xennora berubah mejadi seperti biasanya, datar membuat pria di depan Xennora menghela napas pelan dengan dada yang bergemuruh, gugup.

__ADS_1


Julian yang sudah selesai dengan pesanannya berniat mencari keberadaan Xennora. Setelah menemukannya, Julian berjalan mendekat lalu tak lama langkah nya terhenti kala melihat seorang pria dengan kaos putih polos yang dibalut dengan jaket jeans berwarna hijau army tengah berdiri di depan gadis itu.


"Gue Raditya. Gue sering liat lo di sini, main sama anak-anak." Ucap pria bernama Raditya tersebut. Terdengar nada gugup di dalam kalimatnya.


"Uh huh..." Gumam Xennora sambil menatap Raditya intens, menurut Julian. Padahal Xennora hanya memperhatikan gerak-gerik pria di depannya saja. Raditya sedikit merasa canggung ketika Xennora hanya bergumam.


Raditya melirik meja di belakang Xennora, dimana teman-teman nya itu sedang bersorak menyemangatinya tanpa suara sambil tersenyum jahil. Sialan, batin Raditya pasrah. Image Cool boy yang melekat padanya akan hilang begitu saja karena saat ini ia merasa canggung berhadapan dengan seorang gadis bernama Xennora.


"Gue Xennora." Setelah hening selama beberapa detik akhirnya Xennora kembali bersuara membuat Raditya menghela napas lega.


"Emm... Boleh gak, gue minta nomor lo?" Tanya Raditya ragu.


"Buat orang yang dimintai nomor sama orang yang gak dikenalnya, kayaknya itu aneh." Balas Xennora. Posisinya masih duduk santai sedangkan Raditya masih setia berdiri, tak merasa nyaman dan lebih terlihat seperti sedang mendapat hukuman dari gadis di depannya.


"Eh... Hehe... Jadi...?" Tanyanya dengan tawa freak. Xennora tersenyum tipis lalu menopang dagunya dengan tangan kanan.


"Harusnya kalau lo masih punya otak buat berpikir, lo pasti tau jawabannya apa."


"Emm... Gak boleh ya?" Tanya Raditya sambil memegang tengkuk nya.


Di kejauhan, Julian sudah bosan menunggu. Untuk itu, Julian melanjutkan langkahnya menuju meja tempat Xennora duduk lalu Julian pun duduk di samping gadis itu membuat Raditya sedikit terkejut dengan kedatangan Julian.


"Is this one of the thousand tricks to approach girls?"


(Apa ini salah satu dari ribuan trik buat ngedeketin cewek?)


"I think... Yes." Jawab Raditya.


"And what you're doing here is... Approaching me?"


(Dan yang lagi lo lakuin disini itu... Ngedeketin gue?)


Tanya Xennora tersenyum simpul. Disaat-saat seperti inilah jiwa kepedean Xennora menggebu.


"Kayaknya enggak, gue cuma ngajak kenalan doang. Bukan dalam maksud 'ngedeketin' yang lo pikir." Ucapnya tegas. And the mission complete. Itu jawaban yang Xennora inginkan. Jawaban yang jujur dari Raditya. Ia tahu jika pria di depannya ini sedang bermain tantangan bersama teman-temannya.


"I like your answer. Lo bisa aja jadi petugas hukum." Celetuk Xennora. Setelah itu, Raditya pamit pergi yang hanya dibalas anggukan acuh dari Xennora.


Xennora menerima Green Tea yang Julian berikan, lalu meminumnya. "Thanks ya. Tapi Kenapa tiba-tiba ngajak gue kesini?" Tanya Xennora.


"Ngejauhin lo dari Deandra lah." Jawab Julian santai namun Xennora tak mengerti.


"Kenapa emangnya?"


"Dia bukan orang baik Xennora, gue yakin."

__ADS_1


"Lo udah yakinin perasaan lo buat gue belum?"


__ADS_2