
Brakk
"Aww! Aish..."
Bagaimana rasanya dilempar ketika kondisi kepala sedang tidak karuan?
Kesal, rasanya Xennora siap memakan orang saat itu juga. "Santai napa sih?"
Pria dengan hoodie hitam di depannya hanya mengangkat bahu acuh sambil mengambil tali untuk mengikat gadis itu. Xennora tak memberontak saat tangannya diikat, rasanya mengangkat kepala saja sudah terasa berat. Penglihatannya masih berkunang-kunang. Setelah menyelesaikan kegiatannya, pria itu pergi. Tak lupa, ia juga menyalakan lampu untuk mempermudah permainannya.
Xennora menyangga kepalanya dengan tangan yang masih terikat itu. Ia melenguh pelan lalu menyadari bahwa ia tak sendirian. Dalam pandangan yang masih berkunang-kunang itu, Xennora berusaha menajamkan penglihatannya.
"Udah gue bilang kan buat hati-hati." Ujarnya malas membuat ketiga gadis itu terkesiap dengan tiga alasan, mengerti akan maksud Xennora kemarin, Xennora telah mengetahui jika mereka akan mengalami hal buruk, dan...
Memikirkan hal rasional bagaimana seseorang bisa berkata "santai napa sih" dalam kondisi diculik, kepada sang penculik itu sendiri.
Xennora adalah jiwa yang santai.
Ia memandang sekitar. Ini di aula belakang. Xennora menunduk diam, mencoba mengingat kembali apa saja hal terakhir yang ia ingat. Terakhir, Xennora melihat Nazril yang tergeletak saat ia dibawa oleh sang penculik kesini. Sebelum itu... Pria tadi memukulnya dengan pemukul baseball? Atau entahlah, mungkin semacam itu.
Dan sebelum pria itu memukulnya... Dia memanggilnya Alfanisa. Xennora pikir pria itu salah target karena suasana yang gelap. Tapi mana mungkin. Jika hal itu terjadi, dia tak mungkin membawa Xennora sampai sini.
Alfanisa... Xennora mengorek semua ingatannya mengenai nama itu. Atau, kata itu.
Alfanisa...
Xennora menggumamkannya beberapa kali sampai-sampai beberapa kali ia membenturkan kepalanya pelan pada tembok di sampingnya. Pria itu tak mungkin kan memanggilnya asal dengan nama orang lain? Tidak, penjahat licik apalagi bawahan Deandra tak mungkin sebodoh itu.
Sampai dalam keputus-asaan nya karena tak mengetahui apapun tentang Alfanisa, Xennora mengingat sesuatu. Benar, Alfanisa. Nama yang ada di buku "10M Nama Dari Bahasa Yunani" halaman 6 baris ke-5. --Padahal nama-namanya tidak sampai 10 Miliar-- Xennora bahkan masih ingat di mana letak kata itu di tulis. Dulu ia selalu menggumamkan nama itu sebelum mengetahui apa yang telah di lakukan Deannisa pada kembarannya.
Iya, Deannisa Helcia Illiana, gadis yang ingin dipanggil Alfanisa. Karena dia ingin menjadi yang pertama.
__ADS_1
Gadis yang Xennora benci sampai sekarang, dan entah kenapa ia mulai menyamakan Deannisa dengan Deandra.
Alfanisa, artinya wanita yang pertama. Entah ini benar atau tidak, firasat Xennora mengatakan bahwa disebutkan nya nama itu pada dirinya akan menjadi pertanda buruk. Entah untuk dirinya, atau untuk seseorang yang ada di dekatnya.
...❄❄❄💙❄❄❄...
"Julian, Leo, Nazril, pergi dari sana secepatnya. Ada security ke lantai 3. Pake tangga kelas Pidana aja!"
Mendengar itu, Leo dan Julian pun segera membantu Nazril yang masih berjalan sempoyongan. Sampai di lantai satu, Nazril melepaskan tangannya yang menjadi saluran bantuan dari Julian dan Leo. Ia sudah merasa baikan.
Lampu di pintu aula kembali menyala yang artinya jeda pentas telah berakhir. Mereka bertiga pun berjalan menuju aula dengan bimbang. Jika sudah seperti ini mau bagaimana lagi? Risiko karena tak membiarkan pihak sekolah tahu tentang rencana sadis salah satu muridnya itu.
Kebetulan, tempat duduk mereka ada di belakang kursi Edwin dan Sofia. Suasana di sini masih kondusif, mereka bertiga hanya memerlukan waktu, untuk saat ini biarkan Edwin, Sofia, Vinca, Vina dan Ervin tak mengetahui apa-apa.
Babak kedua dimulai dengan penyesalan Ratih saat berada di alam ghaib. Eireen terlihat sedikit berbeda dengan gaun putih dan penutup wajah berwarna senada itu. Rambutnya pun disanggul kecil menyisakan leher jenjang nya.
"Perasaan aku aja atau gimana... Eireen kelihatan lebih tinggi." Tanya Sofia pada Edwin.
Julian mendengarnya, dan ia juga menyadari hal itu. Julian tidak yakin, perempuan di balik kerudung yang menutup wajahnya itu adalah sepupunya, Eireen.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Xennora menatap sekeliling, mencari letak kamera pengawas yang di pasang oleh Deandra ataupun pria tadi. Ternyata memang ada, tepat di belakang Xennora. Untuk itu, ia beringsut mundur, keluar dari kawasan area yang diawasi oleh kamera itu.
Setelah yakin ia berada di luar jangkauan kamera, Xennora bersusah payah untuk berdiri. Ia sedikit mengangkat rok nya itu sehingga tali di kakinya melonggar, untuk masalah ini, Xennora akui pria tadi tak sepintar itu. Bodoh sekali mengikat kaki seorang perempuan yang memakai gaun. Lebih bodohnya gaun yang bisa diangkat kapan saja itu bahkan ikut diikatnya. Hei dude, itu rok. Bukan celana. Cathleen, Kaina dan Raina hanya menatap Xennora bingung.
Di aula belakang tak ada benda-benda tajam, maka dari itu Xennora memilih merusak kamera keamanan terlebih dahulu. Dengan tangan yang masih terikat, Xennora mencoba memukul kamera yang tingginya hanya sepuluh senti diatas kepalanya dengan potongan besi bekas kursi yang rusak.
Agak sulit tapi setelah pukulan ketiga, kamera jatuh dan hancur. Xennora mendekati Cathleen, orang yang tangannya diikat di depan, seperti Xennora. Sedangkan tangan Kaina dan Raina diikat di belakang. Cathleen sedikit kesusahan membuka ikatan di tangan Xennora, namun akhirnya ia berhasil. Maka, Xennora pun melepaskan ikatan Cathleen dan si kembar.
Saat Cathleen mencoba melepaskan ikatan di tangan Raina, handphone Xennora berdering, letaknya di salah satu meja bekas yang sedikit jauh dari tempat mereka tadi. Di samping handphone Xennora, ada sebuah handphone lagi yang Xennora tebak merupakan handphone pria tadi. Saat ia mengaktifkan handphone nya, ternyata itu foto yang dikirimkan Pak Arif, pemilik tempat fotocopy-an yang dimintai Xennora untuk memperbaiki foto milik Deandra. Sesaat Xennora berpikir jika itu tidak penting. Untuk apa juga dia mengembalikan barang milik penjahat.
__ADS_1
Tapi pesan pop up sekilas itu sejenak dapat membuat Xennora penasaran karena tak hanya Deandra saja yang ada di foto itu. Ada seorang perempuan lainnya dan seorang laki-laki. Deandra ada di sisi kiri dan pria itu di sisi kanan. Untuk perempuan itu Xennora mengenalnya. Dia Rani, teman Vina yang duduk di tengah, di depan kue ulang tahun. Untuk laki-laki itu... Itu Devan, laki-laki yang bertengkar dengan Julian di parkiran. Jadi, kakak yang Rani maksud adalah Devan? Berarti pria yang membawa mereka kesini adalah Devan?
Mengabaikan hal itu, Xennora fokus mengajak Cathleen, Kaina dan Raina keluar dari aula. Mereka beruntung karena Devan --atau siapapun itu-- meninggalkan kunci aula di atas nakas tempat Xennora menemukan Antrovitoxin saat itu. Mereka pun keluar dari aula dengan perasaan was-was. Sejenak, Xennora teringat sesuatu. Ia kembali ke dalam dan berniat mengambil handphone milik Devan dengan sapu tangannya untuk dijadikan bukti.
Namun setelah Xennora berhasil membawa handphone itu, terdengar jeritan kompak dari arah pintu masuk. Itu Cathleen, Kaina, Raina, dan dua perempuan lain yang terjatuh di depan pintu yang tertutup rapat. Saat Xennora hendak menghampiri mereka, terdengar sesuatu yang dijatuhkan, dan itu adalah tabung gas berwarna hitam yang Xennora tebak warna aslinya adalah kuning sedikit oranye. Itu gas Fluorin.
Baiklah, Xennora tak bisa gegabah karena sedikit saja pergerakan di sekitar tabung itu, penutupnya akan terlepas dan gas akan memenuhi ruangan.
Kelima gadis diseberang Xennora tak bergerak, sepertinya pingsan. Entah apa yang terjadi pada mereka tapi yang pasti Xennora mengenal gaun yang di pakai dua perempuan lain itu. Yang satu memakai gaun hitam, yang satunya lagi memakai kebaya Jawa sederhana yang berwarna hitam juga. Sudah pasti itu Eireen dan Vina. Maksud Deandra apa sampai menculik mereka? Vina bukan orang yang berpengaruh di SMP SAN, hanya seorang anggota OSIS biasa dan seorang gadis tomboy. Tapi mengapa ia juga dijadikan target Deandra?
Saat akan kembali berjalan, tatapannya jatuh pada monitor yang lebih menyerupai suatu alat dengan beberapa lubang di dekat jatuhnya tabung gas tadi. Kini ia hanya berharap jika tembakannya salah. Itu laser pendeteksi. Jika diperhatikan lagi, monitor tadi terhubung pada sesuatu di bawah tabung gas. Akhirnya ia mengerti, jika sesuatu melewati laser pendeteksi, sesuatu di bawah tabung gas itu akan bergetar dan membuat pergerakan penuh pada tabung yang juga akan membuat penutupnya terlepas.
Xennora mendesah pelan, perasaan saat ia mengambil handphone nya tadi, alat ini tak berfungsi sama sekali. Atau mungkin berfungsi, hanya saja tak ada sesuatu di atas alat yang bergetar itu sehingga tak ada yang menyadarinya.
Baiklah, tantangan pertamanya adalah harus membuat sinar laser itu kasat mata. Di film detektif biasanya akan menggunakan bubuk bedak atau semacamnya. Namun di sini tak ada apa-apa. Untuk itu, ia memiliki ide dengan mematikan seluruh lampu aula. Ia meminta Kaina atau Raina untuk mematikan lampu, karena saklar nya ada di dekat pintu kekuar. Benar saja, semua laser itu dapat dilihat dengan jelas. Sangat sulit untuk dilewati, namun Xennora tetap menciba melewati nya tanpa menyentuh sensor laser itu.
Saat hampir sampai, sebuah suara di luar aula membuat Xennora terkejut hingga kehilangan kontrol akan tangannya yang tak sengaja melewati sensor itu. Seperti yang ditakutkan, penutup gas itu terlepas membuat seluruh gas yang ada dalam tabung keluar. Karena gelap, Xennora tak dapat melihat apapun dengan baik namun dengan segera, Xennora berlari mendekati Cathleen dan yang lainnya di depan pintu. Mereka telah sadar karena menghirup gas yang berbau itu.
"Ayo buka pintunya." Gumam Xennora sambil sesekali mencoba mendobrak pintu yang terkunci. Cathleen dan yang lainnya pun membantu merusak pintu dengan besi atau apapun yang ada di sana. Xennora menyalakan senter di handphone nya tapi tak ada yang menghalangi penglihatannya. Gas Fluorin berwarna hijau sedangkan gas ini tak berwarna. Itu membuat Xennora berpikir bahwa tabung gas itu kosong namun nyatanya tidak, karena...
"Uhuk uhuk, sesak banget..." Lirih Eireen.
"Ini bukan gas Fluorin, tapi Karbon monoksida..." Xennora menyimpulkan, tapi dengan itu juga mereka harus cepat cepat keluar dari sini, kalau tidak gas itu bisa saja memenuhi paru-paru sampai menghilangkan nyawa.
Dengan sekuat tenaga, Xennora, Eireen dan Vina mencoba merusak pintu aula. Sedangkan Cathleen, Kaina dan Raina memecahkan kaca jendela.
Rasanya sedikit sia-sia mengingat kayu yang digunakan sebagai bahan pembuatan pintu adalah kayu jati. Jendela pun mungkin hanya dapat dilewati anak SD,
"Uhuk uhuk... "
Dan mereka mulai kehabisan napas...
__ADS_1