The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
The chosen one


__ADS_3

"Bang Leo kemana ya? Kok lama. Gak ngasih tahu kita juga mau ngapain..." Keluh Vinca.


"Bang...?" Tanya Ervin aneh karena selama ini Vinca memilih menyebut kakak daripada abang.


"Hehe... Iya, abang. Soalnya dia keren, kak."


Ervin mengangguk pelan, sedikit tidak terima dengan pemikiran Vinca.


"Kak Ervin sama Bang Leo udah temenan dari kelas 7 ya? Sama kak Julian? Kak Edwin? Kak Herina? "


"Hmm..." Ervin mengangguk menyetujui. Namun hal itu membuat Vinca sedikit aneh. Biasanya Ervin kan hiperaktif, tapi ini sedikit pendiam. Mungkin canggung? Tapi sepertinya tidak mungkin, masih ada Vina juga di sini.


"Pertama kali gue ketemu sama Bang Leo sih waktu MPLS kelas 10. Bang Leo jadi pembimbing kelas gue, sama Sofia dan Eireen juga. Bang Leo tuh baik, dari first impression sampai sekarang juga vibes nya masih sama. Bang Leo juga--"


"Ca, gue punya satu permintaan." Potong Ervin membuat Vinca sedikit terkejut.


"Apa, kak?"


"Tolong panggil gue Abang, itu aja. "


Vinca terkejut. Ia sangat gugup sekarang, apalagi melihat tatapan serius Ervin ditengah pantulan cahaya dari beberapa gedung di sekitar sekolah. Di saat seperti ini, ia juga merasa sedikit aneh. Suasana ini terlalu sepi.


"Vi-Vina mana ya kak? Ada yang mau gue tanyain..." Tanya Vinca gugup. Namun Ervin masih tak merespon apa-apa. Jika sudah seperti ini, maka hal yang harus di lakukan...


"Bang... Vina... dimana Vina?"


Bukan pertanyaan basa basi, namun karena suasana di sini terlalu sepi. Tak ada suara seseorang yang menahan tawa apalagi suara-suara yang membuat Vinca malu. Ini... Terlalu sepi. Kini Vinca sadar bahwa telah terjadi hal yang tidak mereka inginkan.


Setelah mendengar pertanyaan itu, barulah Ervin kembali mengendalikan dirinya. Mereka mengedarkan pandangannya dan tak menemukan siapapun lagi di atap. Saat mereka mencari di seluruh tempat pun tak ada siapa-siapa. Vinca khawatir, Ervin yang merupakan kakak kandung Vina apalagi.


Mereka kebingungan dan panik. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Tadi Leo yang tiba-tiba pergi. Sekarang Vina yang menghilang? Atau mungkin Vina menyusul Leo? Tapi kenapa tidak memberitahu mereka? Semoga saja opini mereka tentang Vina yang menyusul Leo itu benar.


Apa keputusan mereka untuk menghentikan Deandra ini sudah benar?


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Targetnya beneran Cleine sama Alvin 'kan, kak? Tapi kok Xennora yang tiba-tiba hilang? Sedangkan mereka berdua masih fokus nonton." Tanya Antha yang masih fokus pada monitor di depannya. Sesekali ia mengedarkan pandangannya pada monitor di sekeliling ruangan itu.


"Iya sih. Gak ada pergerakan dari Deandra dan kroni nya. Jangan-jangan... Rani bohong?"


"Bisa aja, kak. Kita juga belum pernah ngobrol langsung. Mungkin dia manfaatin kita supaya lebih fokus ke orang-orang yang sebenernya gak penting. Jadi, kita gak ngewaspadai rencana Deandra yang sebenarnya. Kak--"


Ucapan Antha terpotong karena handphone Herina berdering. Ia pun segera mengangkat telepon dari Ervin itu.


"Kenapa Vin?"


"Her, lo liat sesuatu gak?"


Ucapannya terburu-buru, napasnya juga terengah membuat Herina sedikit khawatir seraya mengedarkan pandangannya pada puluhan rekaman kamera keamanan.


"Eungg... Gak ada apa-apa sih Vin. Gak ada yang aneh. Emangnya kenapa?"


"Vina hilang Her, gue gak tau dia ada di mana..."


"Vina? Serius?"


"Iya..."

__ADS_1


"Tha, coba telepon Julian deh." perintah Herina. Antha pun menuruti, tak lama Julian mengangkat teleponnya.


"Ada apa Tha?"


"Kak Julian, Xennora... Baik-baik aja kan?"


Hening beberapa saat di seberang sana. Yang terdengar adalah suara dialog antar tokoh di drama.


"Xennora... Xennora gak ada, Tha. Jam tangannya udah temuin, tapi dia gak tau di mana. Kayaknya dia dibawa ke suatu tempat. Yang pasti sih masih di area sekolah. Gue yakin itu."


Herina yang mendengarnya segera mengambil alih handphone Antha.


"Loh?? Terus kalian gak nyariin lagi gitu?! Gimana sih? Kan jadinya sekarang Vina juga hilang Ju!"


"Vina?!"


"Iya! Ayo dong kita harus kerja sama biar gak ada yang ilang-ilangan lagi...."


Tak ada jawaban diseberang sana, membuat Herina kesal sendiri.


"Lo mau nyerah gitu aja?"


"Lo tau konsekuensi apa yang kita dapat kalau telat beberapa dik aja?"


Masih tak ada jawaba, Herina pun menghela napas lelah.


"Sekarang lo keluar, ajak setidaknya seorang lagi. Jangan bertingkah aneh yang bikin security curiga. Kesempatan kita nemuin mereka cuma... 10 persen."


Setelah itu Herina mematikan sambungan telepon sepihak. Ia kembali mengembalikan handphone milik Antha lalu fokus pada telepon dari Ervin lagi.


Untuk kedua kalinya, Herina mematikan sambungan telepon sepihak, tak peduli dengan apa yang akan Ervin katakan setelah itu. Rasanya ini terlalu memusingkan.


Tingg


Handphone Herina kembali berbunyi membuatnya kembali mengerang kesal.


JulianKayden


|Gue sama Leo berhasil keluar.


|Ngomong-ngomong, bisa kirim rekaman CCTV yang dua cewek tadi gak?


|Buat mastiin aja sih kalau mereka beneran manusia.


|Hehe,,,


"Aish nih orang bisa-bisanya..." Gerutu Herina, meskipun begitu ia tetap menuruti permintaan temannya itu.


^^^HerinaZhuanshi^^^


^^^*send a video*^^^


JulianKayden


|Kayak kenal...


^^^HerinaZhuanshi^^^

__ADS_1


^^^Siapa sih cewek yang gak dikenal seorang crocodile macam lo?|^^^


JulianKayden


|Bye gw mau nyari Xennora.


Lah ke sindir tuh bocah.


JulianKayden


|Asal lo tau, gue udah tobat ya.


|Lagian bukan tanpa alasan gue punya banyak mantan yang bahkan salah satunya gak pernah dikasih perasaan lebih


Herina mengernyit, penjelasan Julian terlalu rumit dan bertele-tele menurutnya.


^^^HerinaZhuanshi^^^


^^^Serah Ju, serah...|^^^


JulianKayden


|EH IYA WOY GUE INGET


|Mereka temennya cewek yang udah ngebully Deandra


^^^HerinaZhuanshi^^^


^^^Hah serius?|^^^


^^^Awas lo kalo salah liat!|^^^


JulianKayden


|Serius.


"Tha, lo lebih curiga Deandra nyulik anak-anak populer, atau anak-anak yang bermasalah sama dia?"


"Hm? Lebih masuk akal yang bermasalah sih... Jadi keliatan jelas kalau itu... Dendam."


"Kalau gitu ayo kita anggap dua cewek tadi, terus Xennora sama Vina diculik. Kira-kira, apa alasan yang lebih tepat?"


"Ummm... Kalau ngeliat pesan dari kak Julian sih masuk akal. Dua cewek tadi udah bikin masalah sama Deandra. Kalau Xennora.... Oh?! Katanya Xennora juga pernah debat sama Deandra kan di belakang sekolah itu?"


"Ah... Iya iya..."


"Seingatku juga, Deandra pernah masuk ke kelas aku terus nyariin Xennora. Dan Xennora kayak sembunyi dari Deandra gitu. Aku gak tahu alasannya tapi yang aku yakini, Xennora udah berurusan lebih jauh sama Deandra."


"Kita harus kasih tahu Tim 2 supaya mereka gak usah ngawasin Cleine sama Alvin lagi." final Herina lalu meraih handphone nya.


Suara dobrakan pintu membuat mereka sangat terkejut lalu bangkit dan berjongkok di dekat pintu agar tak terlihat oleh siapapun di luar sana. Bukannya berhenti, dobrakan di pintu malah semakin keras membuat mereka sedikit ketakutan.


Tak lama, orang yang berusaha mendobrak pintu itu berhenti membuat Herina dan Antha bernapas lega. Namun tiba-tiba, gas berwarna hijau keluar lewat celah di bawah pintu. Mereka berdua memekik terkejut dan berusaha membuka pintu namun tidak bisa, pintu itu terkunci dari luar. Herina memutar otak sebelum gas berwarna hijau itu memenuhi ruangan. Setelah mendapatkan cara melarikan diri, Herina melempar ujung kursi pada jendela membuat kacanya sedikit retak. Antha yang mulai mengerti pun membantu Herina dengan melemparkan ujung kursi juga. Gas mulai memenuhi ruangan membuat Antha dan Herina menahan napas mereka. Kaca jendela itu masih belum pecah, tak heran karena keamanan di ruangan ini lumayan ketat.


Di lemparan ketujuh, kaca itu pecah. Herina membersihkan serpihan yang masih ada di sekitar jendela lalu melompat keluar diikuti Antha. Mereka terduduk lemas dengan jarak yang sedikit jauh dari ruangan itu. Sama-sama menarik napas sebanyak-banyaknya. Rasanya tadi itu seperti mimpi buruk, masih beruntung jendela di ruang keamanan berukuran besar dan letaknya tak terlalu tinggi.


Kalau tidak... Entahlah, mungkin mereka akan mati saat itu juga?

__ADS_1


__ADS_2