The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
One day at school


__ADS_3

"Loh, perasaan aku atau bu Raya gak nyuruh siswa ngasih tahu kak Julian deh. Aku kira kak Julian sama Xennora kebetulan lewat." Balas Eireen sedikit bingung.


"Emang iya?" Ujar Julian sedikit terkejut. Jika dipikirkan lagi, memang sedikit tidak masuk akal murid SMP berjalan-jalan di gedung 2, mereka cenderung masih pemalu walaupun sekedar menemui guru yang sedang mengajar di gedung 2.


Tapi, jelas-jelas Julian lihat seragam batik nya biru tua dan biru muda, dan roknya putih. Bahkan Xennora melihatnya, ah iya... Xennora.


"Eh, Sen!" Panggil Julian kepada Xennora yang masih berkutat dengan puluhan kembar kertas absen ditangannya.


"Hm?" Tanya Xennora lalu mengalihkan pandangannya menghadap Julian yang duduk diantara Ervin dan Edwin.


"Tadi yang ngasih tahu kita kalau Sofia kekunci, murid SMP kan?" Tanya Julian. Xennora terdiam sebentar, matanya melihat ke langit-langit ruangan, berusaha mengingat.


"Iya. Rambutnya hitam panjang, kayaknya ada sepinggang." Jawab Xennora detail membuat Julian menjentikkan jarinya puas. Lalu mereka kembali terdiam, bagaimana siswi itu tahu jika Sofia terkunci?


"Eh kak, lihat deh." Interupsi Xennora lalu duduk di sofa yang sedikit lebih dekat dengan Herina. Herina pun mendongak lalu memperhatikan buku catatan yang Xennora sodorkan.


"Gue udah cari semuanya, dan hasilnya sama, Nomor absen mereka 27. Kakak ngerasa gak, kalau kriteria korban menurut si pelaku itu, yang punya nomor absen 27?" Tanya Xennora. Herina membelalakkan matanya tak percaya.


"Serius Sen? Semua korban punya nomor absen 27? "Tanya Herina yang mendapat anggukan antusias dari Xennora.


Kompak, mereka berdiri lalu menghampiri teman-teman mereka yang masih terdiam.


"Hei, babo!" Teriak Herina tiba-tiba membuat mereka berjengit kaget.


"Astaghfirullah jantungku." Latah Vina.


"Hah, boba?" Tanya Leo belum conect.


"Astaga, bodoh..." Gumam Herina. Lalu mereka pun menatap Herina, penasaran dengan apa yang akan gadis berambut silver itu bahas.


"Nah gini. Xennora udah dapat point kriteria korban yang pelaku mau. Dan itu benar-benar unexpected!" Seru Herina membuat mereka terkejut.


"Serius kak? Apa kriteria nya?" Tanya Vina yang duduk di samping Herina.


Lalu Xennora pun menaruh catatannya di tengah membuat mereka mengalihkan atensi nya dan memperhatikan buku catatan itu.


"Ini... Nomor absen nya 27? Semuanya?" Tanya Leo terkejut.


"Gue pernah denger sih, kalo angka 27 itu termasuk angka terkutuk. Banyak publik figur yang meninggal di usia 27 tahun." Jelas Ervin membuat mereka menatap kearahnya.


"Gak usah ngaco, 27 curse gak akan berlaku di nomor absen." Bantah Edwin.


Xennora mengangguk lalu bertanya pada Sofia, "terus nomor absen lo berapa Fi?" Tanya Xennora. Sofia membelalakkan matanya tak percaya, lalu menjawab pertanyaan Xennora dengan napas sedikit tak teratur.


"27." Jawabnya singkat membuat mereka mengubah posisi nya menjadi sedikit lebih tegak.

__ADS_1


"Nah berarti bener. Terus ada satu lagi, semua ini terjadi berurutan dari awal semester satu sampai sekarang, awal semester dua. Yang berarti si pelaku menjalankan misinya dimulai dari kelas 7 sampai kelas 12." Jelas Xennora membuat mereka mengangguk.


"Terus nomor absen kalian berapa?" Tanya Ervin menatap teman-temannya satu persatu.


"15." Ucap Herina.


"18." Sambung Julian.


"22." Ujar Leo.


"8." Jawab Edwin.


"25." Ucap Vinca.


"9." Ujar Eireen.


"Gue juga 9." Potong Ervin.


Lalu, atensi mereka teralih pada Xennora yang sepertinya enggan menjawab. Merasa diperhatikan, Xennora menghela napas sebelum menjawabnya, "26." Jawabnya santai membuat mereka mengangguk. Bukan apa-apa jika mereka penasaran, masalahnya nama Xennora dimulai dari huruf X dan itu bisa saja mendapat nomor absen 27.


"Nomor absen aku 28, tapi enggak ada siswa yang ngisi nomor absen 27. Dan aku baru ingat itu." Jawab Vina tiba-tiba. Yeah, bahkan mereka melupakan seseorang yang juga belum menjawab.


"Siapa wali kelasnya?" Tanya Julian.


"Pak Fachri." Jawab Vina membuat Xennora mengangguk.


"Kayaknya buat antisipasi. Pak Fachri pasti udah nyadar dari lama." Tebak Eireen yang mendapat anggukan setuju dari mereka.


"Lo bilang kejadiannya berurut kan Sen, tapi kenapa kelas 11 Pidana 3 lebih cepat dari pada Sofia yang notabene nya murid kelas Pidana 1? "Tanya Vinca.


"Nah, itu yang gue pertanyakan sejak tadi." Ucap Xennora yang sama sekali tak menjawab pertanyaan Vinca.


"Eemm... Itu, masalahnya..." Ucap Sofia yang tidak terlalu terdengar jelas.


Menyadari jika teman-temannya tak mengerti, Sofia pun mengeluarkan handphone nya lalu membuka sebuah room chat yang ia perlihatkan pada mereka.


"Sejak kapan lo dapat chat random kayak gini?" Tanya Julian khawatir.


"Sejak hari pertama masuk sekolah di semester dua, kak. Si A ini mulai ngirim pesan yang isinya ancaman setiap jam 2 lebih 27 pagi. Terus kadang juga suka nelfon, tapi suara yang kedengeran kayak udah di edit gitu." Jelas Sofia membuat Julian menatap adiknya marah.


"Dan lo bahkan gak pernah ngasih tahu gue?!" Tanya Julian sedikit berteriak.


"Aku... Cuma gak mau bikin kakak khawatir." Ucap Sofia pelan yang hanya dapat didengar oleh Eireen dan Ervin disampingnya.


"Udah deh kak, Sofia gak selemah yang lo kira. Coba kakak pikir, kalau kakak yang dapat semua pesan terror itu. Emang kakak mau ngasih tahu Sofia atau Eireen? Gue yakin kak Julian gak se naif itu." Jelas Xennora yang memang masuk akal.

__ADS_1


Di situasi normal, mungkin Leo dan Edwin akan tertawa karena Xennora memanggil Julian dengan embel-embel 'kak' yang mana nyaris mustahil diucapkan adiknya. Namun, melihat situasi yang tidak mendukung ini, mereka memilih diam.


Julian menghela napas, lalu memejamkan matanya. Setelah tenang ia kembali bertanya, "jadi, harusnya Sofia dulu yang keluar dari sekolah, tapi karena suatu alasan tertentu, yang keluar malah anak kelas Pidana 3?" Tanya Julian yang sedikit tidak dimengerti.


"Suatu alasan tertentu itu... Contohnya? "Tanya Vinca.


"Ya, bisa aja siswa Pidana 3 itu terlalu lemah, atau bahkan Sofia yang sikapnya agak cuek dan gak mempermasalahkan pesan itu." Jelas Julian membuat Sofia tersenyum, setidaknya kakaknya sadar jika dia tak selemah itu.


"Yap, bisa jadi." Ucap Leo setuju.


"A itu.... Inisial namanya?" Tanya Vina ragu.


"Mungkin. Tapi bisa jadi itu singkatan dari anonymous atau tanpa nama." Jawab Xennora yang membuat Julian, Leo dan Herina mengangguk setuju.


"Oh iya, apa yang kalian dapat pas nanya-nanya ke si pemilik kunci ruang olahraga?" Tanya Edwin menatap Vinca, Ervin dan Leo satu persatu.


"Kata Satria sih, waktu hari rabu lagi gak ada jadwal latihan. Jadi kunci nya sengaja disimpan dirumah. Terus kata Pak Faris, pelajaran tentang basket baru dipelajari bulan depan, jadi gak ada yang ngeluarin bola. Kunci nya juga seharian dipegang sama Pak Faris. Terus kata Pak security, kunci nya gak pernah hilang dari ruangan security. Tapi kalau yang di ruang guru... Gak ada yang tahu." Jawab Leo serius membuat mereka mau tak mau terbawa suasana.


"Tapi kayak yang kalian tahu, gak mudah buat siswa masuk gitu aja ke ruang guru. Lagian, setiap guru yang manggil siswa pasti ketemuan nya di ruang kesiswaan. Bukan di ruang guru." Lanjut Leo membuat mereka terdiam, tak menemukan kata-kata yang pas untuk berkomentar.


"Apa perlu, gue ke ruang keamanan lagi buat liat CCTV?" Tanya Julian.


"Gak usah, yang ini biar gue aja." Potong Leo cepat.


"Udah malam nih, kalian udah pada makan?" Tanya Herina setelah melihat jam tangannya.


Semuanya kompak menggeleng karena mereka memang belum makan saking semangatnya.


"Yaudah biar gue sama Xennora aja ya yang beli. Gak apa-apa kan Sen?" Tanya Herina yang mendapat anggukan setuju dari Xennora. Mereka berdua pun bangkit untuk bersiap dan memakai jaket.


"Aku ikut boleh kak?" Tanya Vina. Herina tersenyum lalu mengangguk meng-iya-kan. Segera, Vina bersorak lalu mengambil jaketnya namun tidak dipakai, hanya disampirkan di kedua bahunya.


"Kalian mau pesan apa?" Tanya Herina.


"Samain aja deh.... Emm... Nasi goreng enak kali ya?" Tawar Ervin membuat mereka mengangguk setuju.


"Yaudah gue sama Ervin beli minuman dulu ya." Ucap Edwin lalu pergi keluar yang diikuti Ervin.


"Gue kayaknya ke ruang CCTV dulu deh sebentar. Reen, mau ikut?" Tanya Leo mengingat Eireen yang pernah memintanya mengajak Eireen pergi ke ruang keamanan karena penasaran.


"Mau kak!" Seru Eireen lalu mengikuti Leo yang sudah berada di ambang pintu.


Herina dan Xennora sedang memakai sepatu, Vina menunggu di luar karena hanya memakai sandal. Tak sengaja, gelang di tangan kanan Xennora terlepas karena gadis itu terburu-buru memakai sepatunya ketika melihat Herina sudah selesai. Xennora tidak sadar jika gelangnya terlepas, ia pun berdiri lalu mengajak Herina dan Vina untuk berangkat.


"Kita duluan ya." Pamit Xennora kepada Sofia, Vinca, dan Julian.

__ADS_1


"Iya!" Teriak Sofia dan Vinca. Sedangkan Julian hanya bergumam.


"Eh kak, aku sama Vinca mau ke toilet dulu ya!" Izin Sofia yang dibalas anggukan oleh Julian. Dan kini, hanya tersisa dirinya di ruangan yang cukup luas dan nyaman tersebut.


__ADS_2