
...4 tahun kemudian… 2 Maret 2019...
“Raditya! Mana tugas kamu?! Dari awal semester sampai sekarang masih saja belum mengumpulkan. Alasannya inilah itulah. Pokoknya saya tidak mau tahu, setelah praktik akhir, semua tugas-tugasmu harus sudah selesai!” Ujar seorang Dosen sebagai pembukaan kelas hari ini.
“Maaf pak, saya udah ngerjain tugas berkali-kali. Tapi ada aja halangannya. Kemarin tugas saya kerebus waktu bikin mie instan, pak. Sepertinya saya memang tidak ditakdirkan untuk mengerjakan tugas.” Balas mahasiswa bernama Raditya tadi dengan santainya.
“Ngawur kamu.” Ucap Dosen itu malas. Sedangkan mahasiswa lain sudah menahan tawa mereka. Berbeda dengan ketujuh orang yang duduk di dekat Radit, sepertinya mereka sudah menahan malu.
“Kalian juga. Jangan berlagak sok malu. Tugas kalian juga pengumpulannya gak bener. Mengumpulkan tugas itu harus tepat waktu dan harus niat! Disuruh merangkum materi masa cuma dua paragraf aja… Diperbaiki ya! Ayuna, Xennora.”
“Iya pak…” Balas mereka berdua malas.
“Baik, bisa kita mulai kegiatan hari ini? Saya akan mengumumkan bahwa mulai minggu depan kalian akan mempersiapkan Praktik Terakhir. Rangkaian kegiatan khas Universitas Nusantara. Saya akan membagi kelompok. Kalian kan sudah dapat kelompok belajar yang anggotanya delapan sampai sepuluh orang, saya tinggal membagi kelompok itu menjadi dua. Mengerti?” Jelas sang Dosen, yang dibalas jawaban kompak dari mahasiswa-mahasiswa nya.
Xennora dan Ayuna menatap Raditya yang duduk di tengah mereka dengan malas, seakan mengatakan ‘kamu lagi kamu lagi…’
“……Kelompok 7 ada Raditya, Ayuna, Xennora dan Yohan. Terakhir kelompok 8, ada Azhar, Vinca, Fikri dan Cathleen.” Ucap Proffesor Prawija membuat tatapan Xennora dan Ayuna lebih malas lagi.
Ayuna, Raditya, Vinca dan Cathleen? Yep, itu mereka.
“Baiklah, ketua kelompoknya maju, dan pilih kasus yang akan kalian tangani. Ingat, ini tugas serius. Jika kalian ingin ganti kasus, boleh saja. Tapi untuk hari ini. Untuk besok tidak bisa, mengerti?”
“Siap mengerti pak….”
“Siapa yang belum memilih? Ketua kelompok 7 mana?!” Tanya Pak Prawija lantang. Sedangkan sekelompok oknum yang berkaitan malah ribut di belakang sana. Saling berbisik membuat Pak Prawija menatap mereka malas.
“Yoyo sakit woy, gimana nih?”
__ADS_1
“Ganti dulu kek!”
“Di antara kita, gak ada yang punya jiwa kepemimpinan ish…”
“Ya itu masalahnya…”
“Yuna deh, gimana?”
“Enak aja, mending Xennora gak sih?”
“Radit lah, Radit.”
“Boleh juga, kamu aja Dit.”
“Aku sabar…”
“Eh? Ketua kelompok nya Radit pak.”
“Saya pilih kamu! Ayo sini maju!”
Dengan gerakan tergesa, Xennora turun ke mimbar tempat Proffesor Prawija berada, sambil menggumamkan sesuatu yang membuat Ayuna hampir saja tertawa lepas. “Tenang dong, pak… Jangan kayak ngajak berantem gitu…”
“Dapet kasus apa?” Tanya Yuna.
Xennora membuka gulungan kertasnya seraya duduk di tempat semula. “Kasus 27/2/19-2.27…… Hah, apa nih?!” Ujar Xennora frustasi setengah berteriak.
“Oh… Ini kasus bunuh diri itu ya? Ah gak seru, gak ada yang bisa di sidang…” Ucap Yuna seraya menatap laptopnya yang menampilkan laman pencarian di laptopnya.
__ADS_1
“Taunya kasus ini bakalan rumit, rasain tuh.” Balas Raditya.
“Heh, kita kan sekelompok. Harus sportif dong!” Yuna tidak mau kalah.
Sedangkan Xennora sedang sibuk memperhatikan seorang mahasiswa yang tengah mengobrol dengan sang Dosen di mimbar sana.
“Eh, itu anak Fakultas Ekonomi gak sih? Yang ayahnya itu pemilik perusahaan perfilman, apa sih aku lupa…” Ujar Radit memulai topik.
“Iya, kalau gak salah. Dulu aku satu SMA loh sama dia. Vinca sama Cathleen juga deh… Xennora… Sen, kamu alumni SAN kan ya?” Tanya Yuna.
“Eh, iya… Aku alumni sana…” Jawab Xennora terdengar ragu.
“Kok kayaknya kita gak pernah papasan ya Hahaha…” Yuna kini melirik ke belakang. “Vin, katanya kamu sempet satu circle ya sama dia?” Tanya Yuna membuat Vinca sedikit terkejut.
“Eh? Iya kak, gak lama sih hehe keburu pindah…”
“Lo kan jarang keluar kelas Yun, gimana mau ketemu sama dia?” Sindir Cathleen yang dibalas cengiran khas Ayuna.
“Kok makin diliat-liat aku makin ngerasa kalau pernah liat wajah dia dulu…?” Gumam Raditya membuat Xennora melirik ke arahnya.
“Sama, aku juga…” Balas Xennora lalu kembali menuliskan sesuatu tentang materi kasus yang akan mereka pelajari.
Cathleen yang duduk tepat di belakang Xennora hanya bisa memandang gadis itu iba. Tak lama kemudian, ia memberanikan diri untuk berteriak. Tepat sesaat sesudah pria itu membungkuk hormat pada Proffesor Prawija. “Julian!! Aku fansmu!!!”
Teriakan Cathleen tentu membuat seluruh atensi di kelas itu teralih. Termasuk Xennora yang menatapnya heran, dan Julian yang menatapnya terkejut. Apalagi setelah ucapan Raditya terdengar di ruangan yang sepi itu.
“Xennora anjir temen lo itu… Malu gue…”
__ADS_1
Jadi… Apakah mereka akan bersama kembali?