The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Choi Hana


__ADS_3

“Mencari ini?” Tanya seorang perempuan di belakang mereka. Sontak, Xennora, Edwin dan Yohan berbalik menatap wanita yang kini tengah tersenyum tersebut.


“Maaf, anda tidak diperbolehkan masuk ke TKP tanpa seizin pimpinan.” Ujar Edwin datar melihat kelancangan wanita yang malah lebih melebarkan senyumannya itu.


“Oh? Tapi tadi gak ada garis polisi kok, saya kira tempat ini sudah dikosongkan. Saya hanya ingin mengembalikan benda ini.” Ucapnya seraya mengacungkan pisau itu ke arah wajah Xennora membuatnya memundurkan wajahnya sedikit dengan ekspresi tidak suka yang coba ia kontrol.


“Kenapa benda itu bisa ada pada anda?” Tanya Yohan.


“Oh, saya meminjamnya seminggu sebelum kejadian itu, dan... Baru mengembalikannya sekarang...”


“Kenapa anda memiliki ide untuk mengembalikan itu ketika anda tahu kalau pemiliknya sudah tiada?” Tanya Xennora datar, persis seperti Xennora yang dulu. Bahkan Edwin sedikit terperangah untuk beberapa detik.


“Entahlah... Saya hanya merasa berhutang kalau terus menyimpan ini.”


“Setelah anda menyimpan benda itu, tolong segera pergi dari TKP dan jangan merusak apapun di sini, saudari Choi Hana...” Balas Edwin lelah. Hana mengangguk asal, ia pun menyimpan pisau itu di atas kabinet lalu pergi tanpa sepatah kata apapun.


“Bolehkah aku membawa benda ini? Buat jaga-jaga.” Ujar Xennora menunjuk pisau yang dibawa Hana tadi. Setelah mendapat persetujuan dari Edwin, Xennora pun membawa pisau itu dengan menggunakan sapu tangan dan di simpan di tas slempang nya.


“Baiklah, jadi tujuanku di sini adalah untuk menjelaskan hipotesis kronologi yang sudah saya pikirkan matang-matang kepada kalian, karena saya yakin tidak akan ada yang mempercayai ini selain kalian...” Edwin berjalan menuju ruang tengah yang masih terlihat dari dapur. Xennora dan Yohan pun mengikutinya dengan raut bingung.


Edwin berdiri di samping sebuah sofa berwarna merah, dari gesturnya sepertinya pria itu akan mulai menjelaskan hipotesis nya itu. “Di sinilah... Tempat pelaku memaksa korban untuk meminum antrovitoksin tingkat tinggi. Korban sempat memberontak, itu sebabnya jika kalian mencium bau sofa dengan seksama, akan tercium bau minyak ikan atau setidaknya bau amis menyengat. Setelah korban meminum sisa antrovitoksin itu dengan paksaan, korban diseret menuju tempat penemuan mayat, di dekat balkon. Tentunya korban menolak dan meronta, sehingga letak kursi ini bergeser, begitu juga dengan taplak mejanya dan menjatuhkan vas bunga serta sisa bubur di atas meja makan.” Xennora dan Yohan beralih menuju daerah dekat balkon seiring Edwin berjalan ke sana.


“Seiring dengan efek antrovitoksin yang mulai terasa, korban mulai lemas dan merasakan sakit yang luar biasa tanpa bisa banyak bergerak. Akhirnya, pelaku menempatkan korban di sini, duduk bersandar pada tembok di depan balkon. Dan saya pikir, awalnya si pelaku akan pergi begitu saja sebelum dia sadar kalau kematian korban yang seperti itu akan membuatnya cepat atau lambat tertangkap. Oleh karena itu, pelaku berinisiatif untuk memanipulasi kejadian. Setelah selesai, dia keluar dengan membawa botol antrovitoksin yang ia bawa sejak awal, dia pasti punya kunci cadangan apartemen ini.”


Xennora dan Yohan mengangguk mengerti, ini memang masuk akal, tapi mereka juga memerlukan bukti agar kronologi itu bukanlah hipotesis biasa.


“Dia... Melakukan semuanya menggunakan sarung tangan ya?” Tanya Xennora.


“Pastinya. Itu sebabnya, tidak ditemukan sidik jari yang mencurigakan di sekitar sini.” Balas Edwin lalu membuka tirai yang menutupi pintu balkon yang terbuat dari kaca itu. Mata Edwin dan Yohan memicing ketika melihat seseorang memperhatikan mereka di jendela gedung seberang. Tiba-tiba, vas bunga di balkon pecah disusul suara tembakan lainnya sebanyak dua kali. Sontak, mereka bertiga menunduk melindungi kepala masing-masing meskipun tahu itu tidak akan berguna jika menghadapi senjata api seperti ini. Setelah tidak terdengar suara tembakan lagi, mereka berdiri dengan jantung berdegup karena terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


Dapat mereka dengar, suara riuh orang-orang di bawah sana yang penasaran suara apa yang baru saja mereka dengar. Edwin kalut, jika orang-orang tengah berkumpul di bawah sana, hal ini akan menjadi lebih berbahaya daripada hanya nyawa mereka bertiga yang terancam.


Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Yohan keluar dari apartemen itu dengan sedikit berlari dan tentunya dengan wajahnya yang datar. Edwin hendak menyusul, tapi sebelum itu, ia memegang pundak Xennora yang terlihat sangat terkejut. Napasnya bahkan terlihat tidak beraturan, Edwin pun mencoba menenangkan gadis itu. Dan entah mengapa, Xennora merasa lebih baik walaupun Edwin hanya memegang kedua pundaknya.

__ADS_1


“Jangan kemana-mana, hubungi aku jika terjadi sesuatu. Bersembunyilah!” Ujar Edwin dan setelah itu ia berlari menyusul Yohan untuk mencari tahu siapa yang menembakan peluru ke arah mereka tadi. Xennora mengangguk dengan jantung yang masih berdegup. Rasa-rasanya, ini adalah keadaan paling menegangkan yang pernah ia alami di sepanjang hidupnya.


Xennora melangkahkan kaki menuju pintu apartemen dengan takut, ia melangkah pelan seiring dengan gumaman orang-orang yang semakin jelas terdengar. Ayolah, ia hanya ingin memastikan jika pintu itu sudah dikunci, kenapa ini terasa seperti menyelamatkan diri dari zombie di luaran sana?


Tiba-tiba, pintu terbuka dengan dobrakan membuat Xennora memekik sebelum pelaku yang membuka pintu tadi menutup mulutnya lalu berjalan pelan ke arah belakang pintu. “Ke mana polisi yang lain?” Tanya gadis itu, Choi Hana.


Xennora yang masih terkejut pun hanya menjawab singkat setelah tangan Hana menjauh dari wajahnya. “Keluar...”


“Ninggalin kamu sendiri? Dasar cowok-cowok gak tanggung jawab...” Omel nya mengalihkan pandangan dari wajah Xennora. Tubuh Xennora kembali tegang ketika mendengar suara langkah kaki di dekat mereka. Astaga, bodoh sekali Choi Hana ini... Kenapa pintunya tidak ditutup?!


Hana yang baru sadar ada langkah kaki di dekat mereka pun ikut melotot tidak percaya. “Ya ampun, aku bodoh banget...” Gumamnya melirik pintu yang masih terbuka. Kalau ditutup sekarang pun, orang misterius itu pasti akan langsung berlari mendobrak pintu itu. Sudahlah, Xennora pasrah saja kalau sudah begini.


“Kamu tunggu di sini... Jangan kemana-mana.” Persis seperti ucapan Edwin tadi. Choi Hana keluar dari tempat persembunyiannya dan Xennora tidak sempat menahan gadis itu untuk tetap bersembunyi saja.


Saat Hana akan keluar dari apartemen ini, seorang pria dengan setelan dan masker hitam masuk begitu saja membuat gadis itu terkejut dan mundur beberapa langkah.


“Apa kamu polisi?” Tanya pria itu dingin.


“Ah... A-apa?”


“Ah, bukan... Aku bukan polisi...” Jawab gadis itu lirih.


“Lalu di mana mereka?!”


“A-apa? Polisi? Umm... Aku yakin mereka ada di sini beberapa menit yang lalu, kemana ya— Hei!!” Pekik Hana ketika pria itu berlalu begitu saja dari apartemen Kirania. Melihat itu, Hana segera bernapas lega lalu mendekati tempat Xennora bersembunyi, masih di belakang pintu.


“Udah aman sekarang, aku yakin dia gak bakalan ke sini lagi...” Ujar Hana lalu menutup pintu itu dan menahannya menggunakan tongkat besi yang entah kenapa ada di apartemen ini. Persetan dengan ucapan polisi tadi yang mengatakan jangan merusak apapun di sini. Salah siapa meninggalkan seorang perempuan sendirian seperti ini?


Tidak lama, terdengar sirine mobil polisi yang membuat Hana sontak menutup telinganya. Tatapannya berubah menjadi marah campur sedih ketika mendengar sirine itu, membuat Xennora memandangnya aneh. “Ada apa?" Tanya Xennora. Hana tidak menjawab, mungkin dia benar-benar tidak mendengar pertanyaan Xennora. Setelah suara sirine berhenti, barulah gadis itu melepaskan tangannya dari telinga lalu menatap lantai dengan tatapan kosong.


“Ada apa?” Tanya Xennora lagi.


Hana menoleh dengan tatapan terkejut. “Ah, bukan apa-apa. Aku cuma trauma sama suara sirine mobil polisi. Selalu mengingatkanku dengan penangkapan abeoji dulu...” Ucapnya sendu.

__ADS_1


“Abeoji?” Tanya Xennora karena merasa asing dengan kata itu.


“Eh, maksudku Ayah...”


“Ayahmu... Dipenjara? Kenapa?”


Hana mengangguk pelan, “Dia difitnah, ada kesalahpahaman di tempat Ayah bekerja. Ah... Orang tua itu... Kenapa dia terlalu baik?” Kekeh Hana pilu.


“Kamu gak nyoba buat nyari bukti kalau Ayahmu sebenarnya gak bersalah?”


“Udah, gak ada yang mau mendengarkan ku... Orang dewasa yang gak punya hati nurani...” Cibir Hana dengan tatapan kosong.


“Udah berapa lama kamu di Indonesia?”


“Udah lumayan lama... Aku ke Indonesia sejak kelas satu SMP, terus pindah ke Andong, kota kelahiranku waktu kelas dua SMA. Dan pindah lagi ke sini dua tahun yang lalu.”


Xennora mengangguk pelan, ia mengerti dengan keadaan Hana. Tapi dia juga tidak bisa merasakan apa yang sebenarnya gadis itu tengah rasakan. Xennora menepuk pundak Hana pelan, mencoba menyalurkan semangat dengan senyumannya. “It’s okay, semua orang mengalami pasang surut di kehidupannya. Dan itu normal... You’re gonna be happier... Someday.”


Hana menatap Xennora hangat, senang rasanya ada orang yang mengerti seperti ini. Walaupun entah apa reaksi Xennora kalau tahu kejadian yang sebenarnya.


Sebuah ketukan pintu menginterupsi obrolan mereka, jantung Xennora kembali berdegup kencang. Sepertinya ia harus pergi ke dokter ahli organ dalam nanti, kalau dia masih bisa selamat dari sini. Ada yang aneh dengan jantungnya. Apa ini memang normal? Jantung berdegup ketika berada dalam satu gedung dengan seorang ******* itu normal kah?


“Ra?” Panggil orang di seberang sana dengan nada tidak sabar membuat Xennora menghela napas lega lalu bangkit untuk membuka penghalang besi itu. Ketika pintu di buka, seseorang baru saja memeluknya. Xennora bisa merasakan kekhawatiran di balik pelukannya ini, itu sebabnya Xennora menepuk punggungnya pelan, setinggi apapun jabatan dan profesimu, ketakutan adalah musuh yang paling sulit untuk dilawan.


“Tangan kanan anda...”


“Bukan luka serius, um... Xennora?”


“Ya?”


“Tolong ikut dengan saya, ada yang mau saya tunjukkan.”


“Eh, apa?”

__ADS_1


“Rahasia, kamu bakalan tahu nanti.”


__ADS_2