
"Oke. Ini juga PR buat tim tiga. Siapa yang jaga di ruang keamanan?" Tanya Edwin.
"Kak Herina sama gue, kak." Jawab Antha.
"Jadi, kita juga harus fokus jaga Alvin sama Cleine?" Tanya Herina yang diangguki Edwin dan Julian. Sementara Vina masih melamun menatap handphone nya.
"Gampang sih, masalahnya cuma satu. Alvin kan ketua OSIS. Udah pasti bakalan mondar-mandir ngejaga suasana kondusif. And certainly kita akan sedikit kesusahan merhatiin dia," Lanjut Herina membuat Antha mengangguk setuju.
"Iya sih, tapi make sure aja dia gak akan kenapa-napa. Sampai itu terjadi, tim dua akan langsung turun tangan," Ucap Nazril. Mereka kemudian mengangguk.
"Rencana nya udah beres sih. Tapi kok ada yang ganjal ya? Kayak... Ada yang kelupaan," Celetuk Ervin membuat mereka mengangguk lalu bergumam meng-iya-kan. Iya juga, misi mereka akan dimulai tiga jam lagi, tapi kenapa mereka merasa harus menyiapkan lebih?
"Eh iya woy! Gas Fluorin nya!!" Teriak Sofia membuat mereka terkejut.
Julian tampak berpikir, "Fluorin gas berbahaya?"
Herina menepuk jidat nya berusaha sabar. "Bukan berbahaya lagi Ju! Tapi beracun! Warnanya kuning-hijau, yang paling reaktif secara kimia dan elektronegatif dari seluruh unsur. Dalam bentuk murninya, dia sangat berbahaya, dapat menyebabkan pembakaran kimia parah begitu berhubungan dengan kulit."
"Serius?" Julian masih tak percaya.
"Ya Allah..." Gemas Sofia karena kakaknya itu loading di waktu yang tidak tepat.
"Astaga... Udah deh, ayo ke aula." Ajak Leo sambil menarik Julian. Dengan berlari, mereka dapat mencapai aula di lantai satu dengan cepat, menghiraukan gaun dan pakaian formal yang bisa saja membuat langkah mereka terhambat.
Mereka membuka pintu aula dengan hati-hati. Jajaran bangku seperti suasana bioskop membuat mereka sedikit kesusahan menerka dimana tempat Deandra menyembunyikan tabung gas itu. Eireen pun menyalakan lampu yang membuat ruangan itu lebih terang. Lukisan tertata rapi di sepanjang dinding. Mereka tidak tahu lukisan apa itu, yang pasti terlihat seperti lukisan zaman yunani.
"Tim satu nyari di jajaran bangku atau di bawah bangku nya. Tim dua nyari sesuatu yang mencurigakan atau tersembunyi diantara tembok. Dan tim tiga, di sekitar panggung," Perintah Xennora. Mereka pun menyebar memenuhi seisi ruangan yang luas itu.
Bukan apa-apa, tapi siapa tahu Deandra memakai semacam selang untuk menghubungkan tabung gas dengan ruangan itu. Sekitar satu jam mereka mencari tapi tak ada hal yang aneh. Untuk itu, mereka kembali berkumpul di depan panggung.
"Gimana? Kayaknya gak ada yang aneh."
"Lantai dua udah diperiksa?" Tanya Xennora yang memperhatikan deretan kursi di lantai dua.
"Belum."
Spontan, Leo, Ervin, Edwin dan Julian berlari menuju tangga lalu pergi ke deretan bangku di lantai dia dan memeriksanya.
__ADS_1
Tak lama, Leo mendekati balkon dengan langkah gontai. "Gak ada apa-apa disini!" Teriaknya terdengar lesu.
"Waktu kita gak akan cukup," Gumam Herina.
"Gimana nih? Setengah jam lagi acaranya dimulai, pasti sebentar lagi anggota teater datang," Ucap Eireen panik.
"Ok, tenang dulu ya Reen. Mendingan lo sekarang ganti baju terus siap-siap di Backstage. Dari sini kita yang ambil alih semua, tugas spesifik lo cuma hibur penonton aja. Jangan sampai mereka sadar sama apa yang akan terjadi barengan sama pentas nanti," Sofia mencoba menenangkan Eireen karena dia tahu jika sepupunya itu mengidap panic attack. Jadi, Sofia harus membuat Eireen setenang mungkin.
"Jadi, misi kita dimulai sekarang. Ingat tugas tim kalian masing-masing. Karena kegiatan ini bersifat tertutup, jangan membocorkan informasi apapun sama pihak sekolah. Jangan pergi sendirian, terus hati-hati, dan satu lagi, tetap waspada. Semangat!" Seru Julian yang telah turun dari lantai dua lalu menaruh tangan kanannya di tengah. Tanpa perintah, mereka mengikuti Julian dan menumpukkan tangan mereka sambil bersorak.
"Semangat! "
Mereka pun berpencar. Herina dan Antha langsung pergi ke ruang keamanan lalu mengunci ruangan itu dari dalam. Mereka menyalakan seluruh komputer yang ada di sana lalu duduk di salah satu kursi dan memakai headphone untuk memperjelas volume dari kamera keamanan itu.
Saat melihat beberapa siswa memasuki kawasan sekolah, Herina meraih walkie talkie lalu berbicara. "Leo, lo denger gue?"
Di seberang sana, Tim 1 sedang berada di Rooftop mengawasi siapa saja yang memasuki kawasan SAN High School. Terlihat berlebihan memang, namun antisipasi itu cukup penting.
"Iya."
"Oke. Kita bakalan lebih perhatiin area-area itu."
Leo pun menjelaskan kepada Vina, Ervin dan Vinca tentang informasi yang baru ia dapat itu. Dia dan Vina pun setuju untuk memperhatikan bagian depan sekolah seperti jajaran pohon cemara, dan pembatas sekolah bagian Barat. Sedangkan Ervin dan Vinca sebaliknya.
"Tim tiga, Tim tiga?!" Panggil Leo sedikit memekik pelan.
"Ah, ya?" Antha yang menjawab berbarengan dengan gumaman di seberang sana. Sepertinya suara Xennora.
"Maksud gue Tim Monitoring," ralat Leo. "Liat kamera 4 yang deket jajaran pohon cemara. Keliatan?"
Antha yang mendengarnya pun mengubah fokus komputernya menjadi monitor kamera 4. Terlihat seorang siswa dengan kaos dan jaket kulit berwarna hitam serta jeans berwarna senada sedang mengangkat telepon.
"Itu..... Alvin?" Tanya Antha dengan walkie talkie di genggamannya membuat Herina menoleh lalu memperhatikan monitor di depan Antha.
"Ya, lo perhatiin dia untuk sementara ini. Cleine belum sampai di sekolah," Balas Leo di seberang sana.
"Dimengerti," jawab Antha singkat.
__ADS_1
Lima belas menit lagi acaranya akan dimulai. Tak lama setelah itu, siswi bernama Cleine turun dari mobil sedan nya dengan sangat elegan. Tak sulit mengetahui jika itu Cleine, hanya mengandalkan sorakan murid-murid di sekitarnya membuat mereka yakin jika primadona sekolah sudah sampai.
"Eh kak, lihat deh cowok di belakang Cleine. Mencurigakan gak sih?" Tanya Vina pada Leo sambil memperhatikan pemandangan di bawah. Terlihat, seorang siswa dengan pakaian urak-urakan, sedikit aneh maksudnya karena ia memakai jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans yang robek di bagian lutut. Bukan terlihat keren seperti Alvin tadi, malahan ia terlihat sedikit menyeramkan karena memakai banyak kalung rantai, wajah yang sedikit rusak karena bekas luka dan rambut yang acak-acakan --lebih terlihat seperti anak yang tak terurus atau bahasa tak sopan nya... Gelandangan dari pada seorang bad boy kelas atas--.
"Wajahnya ngeselin banget help..." Komentar Vinca yang ikut mengintip membuat Vina mengangguk setuju.
Leo terus memperhatikan pria yang terus menatap sang primadona di depannya. Lama berpikir, Leo mendekatkan walkie talkie ke mulutnya lalu berbicara dengan arah tatapan masih terfokus pada pria tadi yang mulai menghilang karena memasuki kawasan gedung. "Tim dua, awasi pria di belakang Cleine Eleonara. Sekali lagi tim dua, awasi pria di belakang Cleine Eleonara."
Julian yang sedang pura-pura mengobrol dengan Sofia dan Edwin sambil membelakangi pintu masuk aula pun menjawab perintah Leo singkat, "dimengerti."
Terlihat, mereka seperti tertawa ringan di sela mencuri-curi pandang ke arah pintu masuk. Tak lama, tiga orang gadis yang Julian tebak salah satu dari mereka adalah Cleine melangkah masuk ke aula disusul pria berpakaian sangat-sangat tidak formal yang masih menatap gadis di depannya dengan tatapan... Err--mesum? Ya, Julian kira sekitaran seperti itu.
Tanpa ba bi bu, Julian dan Edwin menghampiri pria itu lalu menarik bahunya agar menghadap mereka kemudian mendorongnya sampai menabrak tembok. Ternyata kekuatan preman ini tak sekuat penampilannya. Ekspresi pria itu kontan berubah menjadi sedikit ketakutan, sepertinya ia merasa sedang diintimidasi oleh dua orang anggota Intel melihat pakaian dua orang di depannya yang kelewat formal. Apalagi Edwin dan Julian jauh lebih tinggi dari si pria urak-urakan ini membuat siapapun menyangka jika Julian dan Edwin merupakan salah satu anggota Intel atau bahkan FBI.
"Lo bawa senjata tajam?" Tanya Julian dingin sambil mencoba melepas jaket pria di depannya. Tentu pria itu menolak dengan keras lalu menghempaskan tangan Julian kasar.
"Kalian siapa hm? Pihak keamanan atau anggota OSIS?" Tanya nya menantang sambil menarik kerah baju Julian membuatnya menghela napas lelah lalu dengan cepat ia menepis tangan pria pendek itu kemudian meninju rahang kiri pria itu membuatnya jatuh tersungkur. Kalian tahu sendiri jika pria bermarga Kayden itu memiliki sifat tidak sabaran yang berlaku dalam hal seperti ini juga. Sontak, orang-orang di sekitar mereka memekik kaget termasuk Cleine dan Sofia. Terlihat, Julian merapikan setelan dan dasinya sebelum mengeluarkan beberapa kalimat.
"Jangan coba-coba deketin Cleine kalau lo gak mau muka ancur lo itu tambah ancur," Ancam Julian dingin. Pria itu langsung berdiri dan menatap Julian remeh.
"Cih... Kenapa? Lo suka sama dia?" Tanya nya dengan nada meremehkan. Julian tak menjawab dan memilih mencoba menenangkan dirinya. Edwin yang menyadari hal itu pun maju untuk membalas pria pendek di depannya.
"Ck, udah deh. Lo tinggal jawab aja. Lo bawa senjata tajam gak?" Tanya Edwin malas.
"Kenapa?!! Kalian takut gue nyelakain siswa-siswa yang ada di sini?!" Pekiknya membuat siswa siswi yang sedang berkerumun itu bergumam, menyuarakan aspirasi mereka pada teman di sampingnya.
Julian hendak melayangkan tinju nya sekali lagi jika tak melihat Cleine berdiri di depan pria pendek itu seakan melindunginya. Julian berdecih pelan, drama apa lagi ini?
"Dia pacar aku kak, kalau kakak suka sama aku, gak harus gini caranya," Ucapnya termakan opini dari pria yang katanya 'pacarnya' itu. Edwin dan Sofia sedikit terlonjak mengetahui status hubungan Cleine dan si pria pendek. Primadona macam Cleine bisa-bisanya pacaran sama sampah masyarakat?
Maaf, cowok. Tidak bermaksud.
Julian berdecih mendengar ucapan adik kelas di depannya. Maaf maaf saja, tapi hatinya telah memilih seorang gadis yang tidak naif dan juga tidak memilih badboy urak-urakan demi kriteria pacar idaman versi novel.
"Udah udah, kalian bubar! Maaf juga ya pacarnya Cleine, kita kira lo penyusup soalnya setelan lo aneh," ucap Edwin yang entah niat nya untuk meminta maaf atau merendahkan.
"Siswa siswi di depan aula harap membubarkan diri, jangan sampai ada keributan lagi." terdengar suara Herina di salah satu pengeras suara yang letaknya di samping CCTV. Setelah itu, para siswa pun memasuki aula termasuk Cleine dan pacarnya.
__ADS_1