The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Untold story


__ADS_3

"Pembunuh masal?" Lanjut Xennora dengan nada bertanya membuat Leo di samping kanannya segera memukul lengan gadis itu tak terlalu keras.


"Ngadi-ngadi." Komentar Leo. Xennora terkekeh puas melihat ekspresi teman-temannya.


"Tenang guys, tenang hahaha... Udah gue ganti kok impiannya, jadi--" ucapan Xennora dipotong oleh Nazril di sebelah kanannya.


"Pacaran sama Nazril Arkatama." Ujarnya santai membuat Julian menoleh dengan cepat dan ekspresi nya yang gak nyantai.


Xennora melirik Nazril di sampingnya secara perlahan. "Ha? Apa Na, apa?" Tanya Xennora mendekati wajahnya pada Nazril dengan senyuman yang menurut Nazril senyuman psycho.


Nazril mundur perlahan lalu tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi. Ia pun menggeleng yakin. "Enggak Ra, enggak hehe..." Ujarnya.


...❄❄❄💙❄❄❄...


Sepulang sekolah, Delia pergi ke cafe. Setelah ia mengganti seragamnya, ia pun berdiri di belakang kasir. Temannya tersenyum padanya. "Tepat waktu, hari ini lumayan berat untukku." Ucap temannya lalu melepaskan topi dan celemek nya. Delia tersenyum melihatnya.


"Ya... Hari ini emang lumayan berat..." Ucap Delia membenarkan opini temannya itu.


"Aku pulang dulu ya." Pamit temannya lalu menepuk pundak Delia kemudian pergi setelah mendapat anggukan dari Delia.


Tak lama, seorang pria mendekatinya untuk memesan. Sepertinya anak kuliahan. "Cheesecake dua, caramel latte nya tiga ya mbak." Ucap pria itu.


"Baik mas, ada lagi?" Tanya Delia setelah menuliskan pesanannya.


"Udah itu aja. Oh iya mbak, ini..." Ujar pria tadi sambil memberikan sticky notes yang dilipat.


Delia membenarkan letak kacamata nya lalu mengambil sticky notes dengan raut kebingungan. Delia ingin bertanya dari siapa, namun pria tadi sudah pergi untuk duduk di bangkunya.


Dengan sedikit ragu, Delia membuka notes itu perlahan lalu membacanya. Matanya melebar, raut ketakutan dan tidak percaya tampak di wajahnya membuat pria yang memberikan sticky notes tadi menatapnya bingung di kejauhan.


"Emang isinya apa?' Batin pria itu.


Ia tidak tahu, ia hanya disuruh dan bahkan ia tak keberatan jika hanya memberikan sticky notes kecil. Tapi, memang apa isinya sampai membuat gadis itu terlihat ketakutan?


Dengan cepat, Delia melempar topinya ke sembarang arah, lalu berlari menuju pintu belakang.


"Zal, aku izin hari ini. Ada keperluan mendadak!" Teriak Delia sambil terus berlari menuju sekolah. Berharap orang-orang itu masih ada di sana.

__ADS_1


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Jadi... Sampai sini aja nih?" Tanya Edwin yang tengah berbaring santai di karpet bersama Leo. Julian tengah membaca novel bergenre thriller, Sofia dan Eireen juga sedang membaca novel, namun genre nya romance dan comedy. Herina, as always. Belajar di sofa single, Vinca memakan snack, Kakak beradik Ervina bermain game di komputer. Sedangkan Xennora dan Nazril duduk diam di sofa.


Gabut. Satu kata yang dapat mendeskripsikan suasana saat ini. Ucapan Edwin lah yang membuat atensi mereka kembali terkumpul.


"Dih, enggak lah. Kalian semua juga harus bantuin gue buat nyari tahu siapa pelaku teror nya ya. Kayaknya cewek tadi gak ada sangkut pautnya sama teror." Ujar Leo yang mendapat anggukan samar dari beberapa yang mendengarnya.


"Capek Ra?" Tanya Nazril dengan senyumannya. Suaranya tak terlalu keras sehingga hanya mereka berdua saja yang mendengarnya. Ah, tidak. Tapi Julian juga.


Tentu saja, Julian duduk di depan mereka mana mungkin ia tak mendengarnya.


Xennora tersenyum lelah lalu mengangguk pelan. Nazril menepuk pahanya beberapa kali, tentu dengan senyuman khasnya yang masih terpampang.


"then you need a rest." Ucapnya membuat Xennora tersenyum. Pria di depannya ini sangat tahu apa yang selalu Xennora butuhkan. Ia pun dengan senang hati berbaring. Nazril terkekeh melihatnya, ia mengelus rambut Xennora pelan, hal yang selalu ia lakukan setiap mereka bertemu.


Tentu hal tersebut tak luput dari mata Julian. Ia menghela napas beberapa kali sampai Herina yang mendengarnya pun menatap Julian aneh. Bahkan Julian membalik halaman novel berikutnya dengan gerakan yang tidak santai sampai Herina menggeleng pelan dibuatnya.


Tak lama, pintu terbuka dengan sangat kencang saat Julian masih asik berkutat dengan halaman di novelnya. Mereka berjengit kaget mendengar suara pintu yang terbuka dengan tak santai. Sampai-sampai Julian yang sedang membalik halaman dengan bar bar tak sengaja menyobek kertas itu.


"Uhuk uhuk..." Ternyata Vinca sampai tersedak snack yang ia makan lalu diberi minum oleh Eireen.


"Sorry..." Cicit seseorang di depan pintu setelah menyadari apa yang telah ia lakukan.


"Ada apa lagi Del?" Tanya Sofia. Delia perlahan masuk lalu menutup pintu. Ervin dan Vina mulai mendekat. Delia pun memberikan Sticky notes yang ia dapatkan tadi pada Edwin yang sudah duduk. Xennora juga bangkit untuk melihat tulisan apa yang ada di dalamnya.


"Udah gue bilang kan kalau ini rahasia... Ha?" Leo membacakan notes itu keras-keras agar yang lain mengetahuinya juga.


"Maksudnya?" Tanya Julian.


"Soal aku yang ngasih tahu kalian penyebab aku mengaku. Kayaknya dia tahu..." Ucap gadis itu bergetar.


Herina mengerjap tak percaya, "kok bisa?" Tanyanya namun dibalas gelengan tanda tak tahu dari Delia.


"Wait... Perasaan lo belum kasih tahu kita deh, siapa yang nyuruh lo." Ucap Xennora membuat mereka mengangguk kecuali Delia.


Delia menghela napas pelan, "tanpa aku sebut pun, aku yakin kalian juga tahu siapa pelakunya." Ujar Delia pelan. Leo memberinya kode untuk duduk, Delia yang mengerti pun langsung duduk dengan keadaan masih merasa canggung.

__ADS_1


"Devan?" Tanya Ervin setelah beberapa menit mereka berkutat dengan keheningan. Delia hanya menatapnya tanpa memperjelas dengan mengatakan iya atau tidak. Dari wajahnya, ia terlihat sedikit takut ketika mendengar nama itu.


"Yaudah, kalau lo ngerasa gak aman, lo boleh nginep di rumah gue malam ini." Tawar Herina yang dibalas gelengan cepat oleh Delia.


"Gak apa-apa, gak perlu kak. Makasih. Aku harus pulang, mama sama adik aku pasti belum makan. Kalau begitu aku pulang dulu, permisi." Pamit Delia lalu keluar dari lab dan menutup pintu. Setelah kepergian Delia, mereka saling berpandangan namun berkutat dengan pikiran masing-masing.


"Dia... Bakalan aman kan?" Tanya Nazril membuat mereka semua menggeleng samar. Entah artinya tidak tahu, atau mungkin mereka merasa Delia tak akan aman.


Tak lama, Vina duduk di samping Julian sambil membawa buku catatannya.


"Tugas aku kan nyari tahu sejarah sekolah ini. Nah ternyata keanehan tiba-tiba muncul di tahun ajaran 2007/2008. Delapan tahun yang lalu. Sebelumnya sekolah baik-baik aja sampai tahun ajaran itu. Tiba-tiba aja, banyak siswa yang mengalami pembullyan tapi mereka benar-benar gak mau kasih tahu siapa pembully nya. Sampai puluhan siswa milih untuk pindah sekolah dari pada terus dibully. Dan, ya... Kak Xennora benar. Nomor absen mereka 27. Di tahun 2007 sih masih berupa pembullyan dan gak terlalu mengerikan. Tapi, makin sini, pelakunya makin berani. Sampai sampai tahun 2015 ini udah masuk fase teror." Jelas Vina sambil sesekali melihat catatannya.


"Udah delapan tahun ya... Berarti pelakunya bukan murid dong? Jangan-jangan staf sekolah lagi?" Tebak Vinca. Mereka pun mengangguk menyetujui opini Vinca.


"Bisa jadi tuh."


"Tahun.... 2007? Bukannya di tahun itu ada kematian massal?" Tanya Julian membuat Xennora menatapnya terkejut. Biasanya orang tua tak akan membiarkan anak-anaknya mengingat kejadian kelam itu. Itu sebabnya Xennora sedikit kesulitan mencari informasi mengenai kejadian itu jika bukan dari internet yang tak jarang ditambah-tambahkan atau bahkan dikurangi. Tapi Xennora juga tidak yakin jika Julian mendapat informasi dari orang tua nya.


"Kematian massal? Dimana?" Tanya Eireen.


"Loh, kalian gak tahu? Kematian massal di Bandung....." Jawab Julian. Namun mereka justru menatap Julian tak mengerti kecuali Xennora dan Nazril. Julian menatap mereka satu persatu sampai ia melihat Edwin dan Leo menatap Xennora canggung.


Xennora menyadarinya, tentu. Apalagi sekarang hampir semua orang disana menatapnya, entah apa arti dari tatapan itu Xennora sendiri tidak tahu. "Apa?" Tanya Xennora malas.


Edwin dan Leo seakan ragu untuk bertanya pada adiknya itu, sedangkan yang lain masih belum mengerti dengan situasi ini dan hanya tersenyum canggung.


Xennora sadar dengan topik yang akan mereka bahas, dan hal itu membuat Xennora menghela napas lalu bangkit kemudian menyambar tas nya dan pergi keluar. "Gue pulang duluan. Ayo Na." Pamit Xennora lalu mengajak Nazril.


"Eh iya. Gue duluan ya, permisi." pamit Nazril cepat lalu mengambil mapnya di meja kemudian menyusul Xennora yang sudah menuruni tangga.


"Xennora tau sesuatu, gue yakin. Selama gue hidup,  dia orang ter misterius yang gue kenal. Adik gue sendiri. Bahkan gue gak tahu siapa mama kandung Xennora." Ucap Edwin yang diangguki Leo. Ucapan Edwin tersebut kembali mengingatkan Julian pada hari minggu kemarin, dimana Xennora memberitahukan salah satu rahasia terbesarnya. Julian sedikit merasa wah pada dirinya karena mengetahui rahasia yang bahkan belum diketahui oleh Leo dan Edwin yang notabene nya kakak Xennora sendiri.


"Ya, Xennora bahkan punya pengetahuan lebih tentang hal-hal yang bisa dibilang gak terlalu penting, tapi juga dibutuhkan. Itu bikin sudut pandang gue ke dia berubah, jadi lebih... Wow, ternyata pemikiran Xennora itu sulit dipahami, tapi juga keren." Ucap Herina yang diangguki Vina mengingat kejadian kunci di aula belakang sekolah tadi.


Seluruh anggota keluarga Fachrunaldo memang tertutup. Itu wajib diketahui bagi mereka yang ingin berurusan dengan mereka. Namun ada seseorang yang lebih tertutup dan misterius lagi. Itu Xennora. Sifat bahkan cara berpikir gadis itu tak bisa dipahami bahkan oleh sahabat dan kakaknya sendiri. Dan mungkin Xennora memiliki banyak rahasia dalam kehidupannya. Sampai saat ini, dua rahasia sudah terbongkar. Pertama, Xennora pernah mengagumi Julian yang entah sejak kapan dan dibuktikan dengan gelang berinisial JK. Dan kedua, mama kandung Xennora adalah Carissa Putri, seorang penyanyi terkenal yang juga kini menjabat sebagai istri seorang direktur perusahaan televisi swasta.


Apa ada rahasia besar lain selain itu?

__ADS_1


__ADS_2