
Mendengar perkataan Riyan yang begitu menusuk hati,Mia hanya terdiam.
Ada air mata yang menggenang di ujung matanya,Niko hanya terdiam sambil menatap Mia dalam karena sadar memang tak ada yang dapat dilakukannya.
Mia merasa apa yang di katakan Riyan memang benar adanya,dia sadar betul posisinya saat ini bahwa raganya adalah tumbal hutang kakek nya semasa hidup dulu.
Semua ini memang salah kakeknya,tapi apa mau di kata semua adalah takdir yang tak mungkin bisa di hindari.
Meski dalam hati sering kali Mia mengutuki kakeknya yang sudah tiada,toh smua itu tak ada gunanya sama sekali.
Mia terkejut saat Riyan mendekati nya menyentuh kedua pipinya dan berusaha mendekatkan wajahnya ke wajah Mia,buru buru tangan Mia menepis tangan Riyan yang kembali memeluknya dan kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Mia.
"Kamu kenapa,apa karena kau istri kakakku?!"tanya Riyan sambil terbahak.
"Dia itu hanya pria manja yang tak bisa apa apa,kamu lebih baik sama aku saja yang bisa menghangatkanmu jika malam tiba dan bisa mengajakmu bersenang senang.
"hahahahaha...."
__ADS_1
Riyan kembali tertawa sambil menggoda Mia.
Sedangkan Mia hanya terdiam meremas tangannya sendiri karena perasaannya bercampur antara sedih,marah dan kesal namun tak ada apapun yang bisa ia lakukan.
"Tunggu aku nanti malam ya sayang!"
Goda Riyan sembari berjalan pergi meninggalkan Niko dan Mia di ruang tivi yang masih menyeka air matanya,bukan drama di tivi yang membuatnya terharu melainkan kisah nyata yang terjadi pada dirinya sendiri terasa jauh lebih tragis dari pada sekedar senetron atau drama yang ada di tivi.
Malam harinya saat Mia dan Niko hendak menuju gerbang mimpi tiba tiba Mia di kejutkan dengan ketukan pelan di pintu kamarnya.
"tok tok tok"
"tok tok tok,nona Mia.....apakah nona sudah tidur?ini saya Wita."
Mia segera bangun dan bergegas membukakan pintu setelah mendengar itu suara salah satu pelayan yang ada di rumah tersebut.
"Ada apa bu Wita?"tanya Mia mempersilahkan pelayan tersebut masuk.
__ADS_1
"Saya hanya di suruh tuan Surya untuk mengantarkan beberapa baju untuk Nona."kata pelayan sambil menyerahkan sebuah paper bag di tangannya."Maaf apa tidak bisa besok pagi saja?malam malam begini membangunkan tidur kami hanya untuk memberikan ini?"
"Maaf sudah mengganggu istirahat nona muda,tapi ini amanat langsung dari tuan besar yang tak bisa di bantah lagi pula besok pagi pagi sekali tuan sudah akan pergi ke luar negri nona,jadi kemungkinan tidah sempat memberikannya"
"Ya sudah kalau begitu,trimakasih dan sampaikan ucapan terimakasih saya untuk Pak Suryo."
"Baik nona,selamat malam dan selamat beristirahat kembali"Kata pelayan tersebut sambil berlalu menjauh dari kamar Mia dan Niko,sedangkan Mia kembali menutup pintu tanpa menguncinya kembali.
Tak selang lama setelah Mia kembali membaringkan tubuhnya ke tempat tidur,pintu kembali di ketuk.
"tok tok tok,tok tok tok"
Mia kembali terbangun dan membuka pintu."Ada ap" Sebelum Mia menyelesaikan kalimatnya ada sebuah tangan membekap mulutnya.
Riyan!ya...itu Riyan,dia benar benar datang kemari,berani beraninya dia masuk ke kamar tidur kami.Tidak sopan sekali dia,setelah tadi siang menggoda kakak iparnya sekarang dia berani masuk ke dalam kamar tidur kakak iparnya sedangkan kakak nya juga ada di sana.
Mia berusaha melepaskan tangan Riyan,tapi dengan cepat salah satu tangan Riyan sudah memegang erat kedua tangan Mia.
__ADS_1
Riyan mendorong tubuh Mia masuk ke dalam kamar,dengan cepat Riyan mendorong pintu kamar dengan tendangan kakinya.
Di dorongnya tubuh Mia hingga menempel ke dinding,tubuhnya sudah merapat dengan Tubuh Riyan karena tubuh bagian belakangnya sudah menempel ke diding sehingga saat Riyan mendekatkan tubuhnya secarabotomatis tubuh mereka menyatu.Mia meronta berusaha melepaskan tubuhnya dari Riyan,namun tubuhnya yang kecil tak sebanding dengan kekuatan Riyan.