Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Deni


__ADS_3

Beberapa kali Deni menemui Mia dirumah sakit dengan alasan menjenguk Felicia,namun lama-lama Riyan merasa curiga karena ia merasa Deni ada maksud tertentu dengan Mia.


Namun bisa apa dia?dia hanyalah adik ipar yang tidak berhak mengatur hidup Mia.


"Pah,sepertinya ada seorang pri yang mulai mendekati Mia."


Riyan mengadu pada papanya,hanya sekedar ingin tau seperti apa tanggapan papanya soal ini.


"Lalu?"


Tanya Pak Suryo pada Riyan,seakan tau apa maksud Riyan.


"Mia kan....."


Riyan menghentikan perkataannya karena takut salah bicara,dan justru malah akan menjadi bunerang untuk dirinya sendiri.


"Kenapa emangnya? Mia kan janda,kalo dia mau dia boleh kok nikah lagi.Apa kamu cemburu dia di dekati pria lain?"


Pak Suryo hanya santai nenanggapi Riyan sambil dengan sibuk memegang buku ditangannya.


"Cemburu pah?!"


Riyan merasa canggung karena sepertinya sang papa mampu menebak apapun yang sedang ia pikirkan.


Sementara di kantin rumah sakit Deni masih tiada henti mendekati Mia dengan harapan hubungan mereka yang sempat tertunda bisa berlanjut kembali.

__ADS_1


"Den,tolong berhenti untuk mendekatiku lagi."


"Memangnya kenapa Mia?bukankah sekarang ini kamu dan aku sama-sama sendiri?"


Mata Mia memandang tajam kearah Deni.


"Aku bukanlah Mia yang dulu lagi Den,tolong mengerti aku."


Mia hanya bisa menahan air matanya agar tak tumpah dengan perasaan bimbang.


Meski kini statusnya adalah janda karena suaminya telah lama meninggal dunia,namun Mia sadar betul posisi dan statusnya saat ini.


Di awal pernikahannya dengan Niko,Mia hanyalah gadis yang dipertaruhkan oleh mendiang kakeknya untuk membayar sejumlah hutang sang kakek kepada pak Suryo.


Mia sudah tak lagi memiliki kebebasan seperti dulu lagi meski kini suaminya telah tiada,Mia merasa harus nenyerahkan sisa hidupnya untuk keluarga pak Suryo.


Deni berusaha menggenggam jemari Mia,namun mia melepaskannya.


"Menungguku?lalu anak laki-laki yang pernah kau bawa ke toko kueku saat itu,bukankah dia ankmu?"


Mia merasa inilah saat yang tepat untuk mempertanyakan hal ini ketika Deni berkata bahwa selama ini menunggunya,namun pada kenyataannya justru Deni memiliki anak dari wanita lain.


"Maksud kamu Dion?"


Mia menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Dion bukan anak kandungku,dia lahir dari seorang perempuan malang yang dihamili oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab dan kebetulan ditolong oleh mamaku saat itu.


Sebenarnya mama sempat berniat menikahkanku dengannya setelah bayinya lahir karena sepertinya dia wanita baik dan mama tak ingin aku berlarut-larut dalam kesendirian menantimu yang tak pasti,namun takdir berkata lain.Wanita itu meninggal dunia setelah melahirkan Dion,lalu aku mengurusnya hingga sekarang.Dan setau Dion,akulah papanya hingga sekarang."


"Jadi,selama ini kamu memang belum pernah menikah?"


Deni menggelangkan kepala pelan,lalu menghela nafas.


"Aku masih menunggumu Mia."


"Tapi aku bukan lagi Mia yang dulu,aku bukan lagi perempuan bebas."


"Maksud kamu apa?"


"Dulu aku menikah dengan suamiku karena untuk membayar hutang kakekku pada keluargany."


Deni tercengang mendengar pernyataan Mia,namun dia masih berusaha tenang dengan ekspresi datar.


"Tapi bukankah kamu sudah menelati janji menikah,bahkan sampai suamimu tiada kan?"


"Memang benar,tapi aku tidak bisa begitu saja lepas dari keluarga ini.Aku sudah menjadi bagian didalamnya,aku adalah milik keluarga ini."


Mia menundukkan kepalanya,ia merasa tak pantas jika harus meninggalkan keluarga Suryo demi kebahagiaannya sendiri.


Bukan perkara harta atau kenyamanan yang ia dapatkan dari keluarganya selama ini,tapi bagaimanapun selama ini keluarga pak Suryo begitu baik dan menyayanginya serta neneknya semasa masih ada,tidak pantas jika setelah Niko tiada dia dengan seenaknya sendiri pergi mencari kebahagiaannya sendiri.

__ADS_1


Apalagi sekarang sudah ada kedua anaknya yang tak mungkin ia bawa pergi dari keluarga ini apalagi dia tinggalkan di keluarga ini.


__ADS_2