Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Tamu Mia


__ADS_3

Mia segera menuju ruang tamu sedangkan seorang asisten rumah tangga yang lain berlalu dari ruang tamu dengan membawa baki kosong,yang artinya dia baru saja mengantarkan minuman untuk tamu yang sedang berada di ruangan khusus untuk menerima tamu.


Saat hampir sampai di ruang tamu,Mia melihat sosok Riyan yang ternyata berdiri di dekat ruang tengah sambil melihat kearah ruang tamu.


"Kamu ngapain disini Yan?"


Tanyanya pada adik iparnya tersebut dengan penasaran sambil ikut menengokkan kepalanya kearah ruang tamu.


"Sssssst,jangan kenceng-kenceng!"


Riyan menoleh kearah orang disebelahnya yang tanpa dia sadari ternyata adalah Mia,sang penerima tamu.Sontak Riyan terkejut hingga hampir saja tubuhnya terpental keudara karena kaget.


"Ya ampuuuuuun,kamu ngagetin aku Mia!"


"Ya ampuuuuun,kamu itu yang kepo!"


Mia berlalu meninggalkan Riyan,lalu berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Deni.


"Hai Mia,kamu....lagi sibuk nggak?"


"Nggak begitu sibuk sih,ada keperluan apa sampai kamu datang kesini?"


" Lho,memangnya kenapa? apa aku harus ada keperluan dulu baru boleh kesini?"


Tanya Deni dengan senyumnya yang khas,masih sama seperti dulu.


"Bukan begitu,aku kan nggak enak sama mertua saja karena memang selama ini aku tak biasa menerima tamu laki-laki dirumah ini."


"Apa selama ini kamu dilarang bergaul dengan orang luar?"

__ADS_1


"Nggak,bukan begitu.Hanya saja aku yang merasa nggak enak sendiri saja,bukan karena dilarang tapi kamu kan tau sendiri posisi aku disini hanya menantu perempuan."


"Iya,aku paham."


"Sebenarnya kedatanganku kemari untuk membesuk Felicia,anakmu dan juga....."


"Juga,apa?"


"Ingin sekaligus bertemu dengan mertuamu."


"Ada urusan apa kamu sama mertuaku?"


Mia mulai gusar,perasaannya mulai tidak nyaman mendengar perkataan Deni.


"Nggak ada apa-apa,hanya ada sedikit hal penting yang perlu aku bicarakan dengan beliau "


"Yaudah kalau begitu aku panggil papa mertuaku dulu ya."


Saat Mia melewati ruang tamu Riyan masih di ruang tengah nampaknya sedang sibuk dengan laptop di depannya.


Riyan melirik kearah Mia berjalan,sedangkan Mia tak begitu menggiraukan Riyan yang sedang memperhatikannya sedari tadi karena pikiran Mia sedang penuh dengan segudang pertanyaan tentang Deni yang ingin menemui mertuanyanya.


Saat seluet Mia sudah tak nampak lagi,segera Riyan bergegas menyusul Deni keruang tamu.


"Selamat sore pak Deni,ada keperluan apa ya?"


Riyan berbasa basi sambil menyalami Deni yang pernah menjadi rekan bisnisnya lalu duduk di sofa berhadapan dengan sofa tempat Deni duduk.


"Selamat sore juga pak Riyan,kedatangan saya kemari ada sedikit urusan dengan papa anda."

__ADS_1


Jawabnya dengan ramah.


"O......,memangnya ada perlu apa dengan papa saya?"


Tanyanya lagi menelisik lebih dalam karena nampaknya Riyan sangat ingin tahu urusan Deni datang dan ingin menemui papanya.


"E...begini pak Riyan...."


Belum sempat Deni menyelesaikan perkataannya untuk menjawab rasa penasaran Riyan,Pak Suryo dan Mia datang menghampiri mereka.


Deni berdiri dengan sopan lalu menyalami dang tuan rumah kemudian menyapanya dengan ramah.


"Selamat sore pak Surya."


"Iya selamat sore,silahkan duduk. Ada keperluan apa ya?"


"E....begini pak,maaf sebelumnya apakah bisa kita hanya bicara berdua saja?"


"Bisa,bisa."


Seketika Paksuryo memandang ke arah Mia dan Riyan secara bergantian berusaha memberi tanda bahwa mereka berdua harus segera pergi meninggalkan ruangan dimana saat ini mereka berada.


"Oh,iya baiklah......ayo Mia kita liat anak-anak dikamar."


Sontak Mia memandang tajam kearah Riyan.


"Kami permisi dulu."


Pamit Mia pada mertua serta tamunya.

__ADS_1


Riyan dengan mesra menggandeng lengan Mia,sesampainya di ruang tengah Mia segera menghempaskan lengannya dari gandengan Riyan.


"Lepasin? maksud kamu sebenarnya apa?"


__ADS_2