
Deni masih terus tiada henti meyakinkan Mia bahwa dia masih mencintainya dan akan selalu mencintainya meski sudah berkali-kali Mia menolaknya secara terang-terangan.
Hari ini adalah hari kepulangan Felicia,seluruh penghuni rumah sedang sibuk menyiapkan acara penyambutan kepulangan Felicia.
Sofia tak mau kalah sibuk,bahkan dia menghias kamar sang kakak dengan begitu banyak bunga.
Saking antusiasnya Sofia bahkan sampai melewatkan jam makan siangnya,karena saking sibuknya mempersiapkan kepulangan sang kakak.
Sofia merasa sangat senang karena sang kakak sudah diperbolehkan pulang,sekaligus merasa bersalah tiada henti karena secara tidak sengaja mencelakakan kakaknya.
Sofia berlari menuju pintu depan saat mendengar suara klakson di ikuti suara mobil memasuki gerbang.
"Itu pasti mama dan kak Felicia."
Ucapnya pelan sambil berlari tiada henti.
Mia mendorong kursi roda setelah Riyan mendudukkan Felicia diatas kursi rodanya.
Sofia hanya memandang sedih,karena keadaan kakaknya belum benar-benar pulih.
Bahkan untuk berjalan saja masih belum bisa dan harus menggunakan kursi roda.
"Selamat datang kak...."
Sofia memeluk sang kakak dengan gembira,namun Felicia hanya terdiam tanpa jawaban dan seolah hanya memandang cuek ke arah Sofia.
"Kak,aku minta maaf ya....tolong kakak jangan marah sama aku ya....aku mohon!"
Ucap Sofia sambil meneteskan air mata memohon dengan menggenggam tangan Felicia,masih sambil berjongkok di hadapan sang kakak yang terduduk di kursi roda masih tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Biar kak Felicia masuk kamar dulu ya,kak Felicia perlu istirahat."
Ucap sang mama sambil memeluk Sofia untuk membantunya bangkit dan berdiri.
__ADS_1
"Tapi ma.....Kak Felicia masih marah sama aku....!"
"Nanti mama jelaskan ya.....sekarang biarkan kami masuk dulu."
Mia membawa Felicia menuju kamarnya yang sudah dipindahkan ke lantai bawah,supaya lebih memudahkan Felicia tidak naik turun tangga dengan kursi rodanya.
Riyan membantu Mia memindahkan Felicia ke tempat tidurnya,tanpa sengaja mereka saling pandang dengan jarak kurang dari sepuluh centi meter.
Wajah mereka sebegitu dekat,tiba-tiba Sofia nyelonong masuk mengagetkan keduanya menbuat keduanya salah tingkah.
"Aku....aku keluar dulu ya."
Ucap Riyan berpamitan.
Mia merasa tatapan Riyan begitu berbeda saat mereka saling tatap mata begitu dekat tadi.
"Ma.....apa kak Felicia masih marah sama aku?"
Tanyanya sambil duduk di samping mamanya.
kakak nggak marah sama kamu,hanya saja keadaan kakakmu sekarang seperti ini."
Jawab Mia membelai pelan rambut Felicia.
"Maksudnya ma?"
Tanya Sofia penuh kebingungan.
"Kakakmu belum sepenuhnya pulih."
"Kalo kakak belum sembuh kenapa sudah di bawa pulang?"
Sofia bingung karena setaunya kakaknya sudah di perbolehkan pulang,tapi kenapa mamanya bilang belum sembuh.
__ADS_1
"Kakakmu belum bisa bicara atau merespon apapun."
"Jadi kakak......?!"
Sofia bangkit dan menutup mulutnya,mendekati sang kakak dan memeluknya.Meminta maaf tiada henti sambil menangisi serta menyesali segala perbuatannya.
"Maafkan aku kak,aku yang salah.Kakak jadi kayak gini karena aku."
"Sudah,jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti ini.Semuanya sudah terjadi,penyesalanmu tak akan memperbaiki keadaan."
Mia berusaha menenangkan Sofia yang masih histeris.
Tak lama setelah Sofia agak sedikit tenang,masuklah pak Suryo kedalam kamar Felicia.
"Bagaimana Felicia?"
Mia bangkit dari kursi tempatnya duduk,lalu mempersilahkan sang mertua untuk duduk.
"Masih belum ada respon apapun pa,dokter bilang beberapa syaraf belum bisa merespon dengan baik akibat benturan dikepala serta tulang belakangnya yang cidera."
Jawab Mia menjelaskan pada sang mertua yang memang selama Felicia dirumah sakit tidak diperbolehkan ikut menunggui,karena kondisi pak Suryo sendiri yang sudah renta serta sering tidak enak badan pengaruh usia.
Hanya Mia dan Riyan yang sering menunggui dirumah sakit terkadang ditemani oleh seorang asisten dari rumah karena memang Riyan juga harus pergi kekantor,sedangkan Mia benar-benar meninggalkan toko kuenya sementara waktu untuk dipercayakan di urus oleh kedua karyawannya karena ingin lebih fokus mengurus Felicia di rumah sakit.
"Maaf,permisi den Riyan ada tamunya non Mia."
Ucap Seorang pengurus rumah pada Riyan yang sedang menikmati acara tivi didepannya.
"Siapa bi?"
"Katanya pak Deni,permisi saya mau ke kamar non Felicia menemui non Mia."
Ucapnya sambil berlalu menuju kamar Felicia.
__ADS_1
Riyan melongokkan kepalanya melihat keruang tamu.