
Hari kelima Mia di rawat di rumah sakit,keadaan Mia sudah mulai membaik.
Dokters sudah melepas infus dan juga sudah memperbolehkan Mia pulang siang ini.
Ketika sampai dirumah semua penghuni rumah menyambut kedatangan Mia,sang nona muda yang baik hati dan tak pernah memberi jarak antara para pelayan dengan majikannya.
Karena selama ini Mia selalu memperlakukan para pelayan dengan baik,tidak seperti istri adik iparnya si Jesika.
Jesika selalu bertindak dan berkata kasar pada para palayan,terkadang seenak hatinya jika menyuruh pelayan melakukan kehendaknya.
Apa lagi selama tak ada Mia di rumah,Jesika berlaku seperti Ratu jika tak ada siapapun dirumah hanya ada dirinya dan para payan saja.
Bahkan pak Suryo sebagai mertua seperti tak pernah menganggap Jesika ada jika di bandingkan dengan Mia yang meski sama-sama menantu tapi jauh lebih di anak emaskan.
Membuat Jesika semakin iri dengan Mia.
Pagi itu tiba-tiba pak Suryo mengajak Mia dan Niko pergi ke suatu tempat yang terasa asing buat mereka,meski mereka sudah bertanya mau di bawa kemana oleh pak Suryo hanya akan dijawab
"Kalian akam tau jika sudah samapai."
Membuat keduanya salin penasaran.
Setelah menempuh jarak lumayan jauh mobil mereka memasuki sebuah desa,yang jalanannnya mulai berbatu dan semakin banyak pepohonan di kanan dan kiri jalan.
Mobil mereka berhenti di sebuah rumah Berdindingkan papan kayu,dan beratap genting tanah.
__ADS_1
Tampak jelas rumah tersebut,dihalaman terdapat beberapa pohon buah.Sedangkan di kiri dan kanan rumah juga masih begitu banyak pepohonan.
Saat mereka memasuki rumah dan mengucap salam,keluarlah seorang perempuan muda dari dalam rumah mempersilahkan mereka masuk.
"Apa Mak Ilahnya ada dek?"
Tanya pak Suryo pada perempuan tersebut.
"Ada pak,silahkan duduk dulu." Sambil tersenyum ramah dan berjalan masuk menuju sebuah pintu.
Tak lama setelah menunggu akhirnya keluarlah seorang perempuan muda dari dalam kamar.
Mia berfikir bahw perempuan muda itulah yang di panggil mak Ilah oleh mertuanya,ternyata Mia salah.
Tak lama setelah perempuan muda pergi dengan sepeda motornya keluarlah seorang nenek yang aebenarnya belum tarlalu tua,mengenakan kebaya dan kain jarit sebagai bawahan nya serta rambut yang di gulung rapi khas nenek-nenek jawa.
"Mak Ilah.....mak masih ingat saya?" tanya pak Suryo pada mak Ilah.
Nampak Mak Ilah terdiam mengamati pak Suryo tampak sedang berfikir,karena usia tua perlahan-lahan menggerogoti ingatannya.
"Saya yang sekitar 26 tahunan yang lalu dari kota kemari bersama Istri saya di temani Danang mak"
"Danang......?"
"O....iya...iya..iya."
__ADS_1
"Mak benar-benar ingat saya?" tanya pak suryo meyakinkan.
"Tentu saja,kamu Suryo kan, bagaimana kabar kedua anak laki-lakimu itu sekarang?"
"Ini adalah salah satu anak laki-laki saya mak,dan ini istrinya."
tunjuk pak Suryo pada Niko dan Mia.
Saat Mak Ilah menanyakan keperluan pak Suryo mengunjunginya yang tak lain adalah untuk kembali meminta bantuan dari mak Ilah.
Kali ini untuk Mia,pak Suryo merasa Mia harus ketemu mak Ilah agar segera mendapatkan momongan.
Tapi semua orang justru di buat kaget dengan perkataan mak Ilah saat menyentuh perut Mia.
"Bantuan apa lagi yang kalian inginkan dariku?Menantumu ini sudah membawa benih sebesar kecambah."
"Maksud mak Ilah Mia sudah hamil?" tanya pak Suryo terkejut.
"Ya,benar.Kalian pulanglah dan jangan lupa mampir ke rumah sakit untuk memeriksakannya jika ragu padaku."
"Baiklah mak terimakasih,tanpa bantuan dari mak Ilah kami tak tau kalau Mia sudah mengandung."
Merekapun berpamitan pulang,sebelum mereka memasuki mobil,mak Ilah kembali mengelus perut Mia.
"Berhati-hatilah nak,akan ada yang berniat jahat padamu dan anak laki-lakimu ini."
__ADS_1
"Iya mak terimakasih,kami pamit ya mak."
Mak Ilah hanya tersenyum dan melihat mereka semakin menjauh dan menghilang dari pandangan mata.