Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Mia


__ADS_3

"Minggirlah!"


Mia memberanikan diri mendorong tubuh Riyan yang sepertinya dengan sengaja mengalah.


Lalu Mia dengan buru-buru segera meninggalkan Riyan di depan kamar Felicia.


"Ingat kamu masih punya hutang jawaban atas perranyaanku,kakak ipar."Ucap Riyan sembari melepaskan tangan Mia yang tadi sempat ditahan olehnya,lalu tersenyum kecut sambil berjalan menuju pintu kamar Felicia.


"Hai anak manis,bagaimana kabarmu hari ini?Om mau pamit berangkat ke kantor dulu ya."


Riyan mencium kening Felicia lalu pergi meninggalkannya sendiri.


Sepanjang hari ditoko,Mia masih saja memikirkan perkataan mertuanya ditambah lagi perlakuan Riyan tadi pagi yang hampir membuatnya gila.


Apa ini artinya papa ingin aku kembali dengan Deni?apa yang sidah Deni katakan pada papa kemarin sebenarnya,hingga membuat papa sampai bersikap seperti demikian?kasian papa,beliau benar-benar merasa sangat bersalah atas semua ini.


Sebenarnya saat aku harus menikah dengan mas Niko sebagai tumbal untuk hutang-hutang kakek,aku merasa sangat putus asa dan marah pada diriku sendiri.


Aku marah karena tak mampu menjaga amanah dari Deni untuk menjaga hatiku untuknya,tak mampu memegang janji kami yang akan saling menunggu sampai Deni menyelesaikan pendidikannya di luar negri.

__ADS_1


Aku merasa sangat kecewa dengan diriku sendiri,namun apalah dayaku saat itu hanya menikah dengan Mas Niko lah yang bisa aku lakukan saat itu.


Aku fikir karena saat itu mas Niko yang sedang dalam keadaan lumpuh aku pasti tak mungkin diapa-apakan olehnya,jangankan untuk menyentuh wanita menggerakkan tubuhnya saja susah.


Namun Tuhan berkehendak lain,selama menikah justru kesembuhannya malah berkembang dengan pesat dan Niko sembuh menjadi laki-laki normal yang kini memberinya seorang anak perempuan dari buah cinta mereka berdua.


Mia merasa sudah tak lagi pantas untuk Deni sekarang,jikalau mungkin Deni masih mencintainya untuk saat ini dan mungkin bisa menerima segala kekurangan Mia lalu bagaimana nanti dengan kelurganya?


Mungkin keluarga Deni tak akan setuju jika Mia kembali dekat dengannya lagi,jika dulu mereka sangat menyayangi Mia dan berharap Mia menjadi menantu mereka tapi itu dulu sebelum akhirnya Mia memutuskan untuk menikah dengan Niko.


Mia tak menyalahkan siapapun dalam hal ini,memang sudah menjadi kewajibannya membalas budi baik kakek serta nenek yang sudah merawatnya sejak kecil.Sejak kedua orang tuanya memilih untuk berpisah dan menitipkan Mia kecil kepada kakek serta neneknya di desa.


Setelah nenek meninggal rumah yang dulu semoat ditinggali Mia dan keluarganya kini dibiarkan kosong tak berpenghuni,hanya sesekali pak Suryo atau Mia menyuruh orang untuk membersihkan serta merapikan rumah dan pekarangan peninggalan neneknya tersebut.


Hari sudah semakin sore meski siran matahari masih sangat terik menuju kearah barat,Mia bergegas pulang sebelum matahari terbenam karena harus mengurus Felicia serta mertuanya.


Meski pak Suryo masih bisa berjalan sendiri dengan dibantu menggunakan tongkat namun Mia tak mengizinkan mertuanya banyak bergerak atau berjalan sendirian tanpa bantuan,Mia hanya takut mertuanya kenapa-kenapa melihat keadaannya yang kini sudah tak sehat dulu.


Mia segera berjalan manuju mobil yang sudah siap didepan pintu keluar toko beserta sopir membukaan pintu mobil untuknya.

__ADS_1


"Mia tunggu,ada yang perlu aku bicarakan denganmu."


Tiba-tiba suara Deni datang dari arah belakang mobil Mia.


Membuat si Mia menghentikan langkahnya yang henda memasuki pintu mobil.


"Ada apa?aku sudah mau pulang,aku tidak mungkin pulang terlambat karena harus mengurus anak serta mertuaku."


"Sebentar saja Mia,aku janji hanya lima menit."


Mia menghela nafas perlahan sambil memasuki mobil.


"Baiklah,kita bicara di mobil.pak tolong tunggu kami diluar mobil ya."


"Baik nyonya."


Jawab sisopir sambil menutupkan pintu mobil untuk majikannnya.


"Sialahkan tuan."

__ADS_1


Si sopir mempersilahkan Deni memasuki mobil Mia dari pintu yang lain.


__ADS_2