
Mia sudah bersiap tidur karena matanya yang sudah terasa berat,ditambah lagi pikirannya yang terasa penat tubuhnya kini butuh istirahat.
Mia sudah memejamkan mata dan mearik selimut,sampai terdengar suara ringtone dari hapenya yang berisik membuatnya kembalu terbangun.
Mia sepertinya lupa mematikan atau mengubah pengaturan hapenya ke mode silent seperti yang biasa dia lakukan sebelum tidur.
"Deni,ada apa dia malam-malam begini menelfonku?"
Mia mengabaikannya tapi lagi-lagi hapenya berdering dan nama Deni yang muncul lagi di layar hapenya.
"Halo,iya........baiklah saya kesana sekarang."
Mia bergegas mengganti bajunya,menyambar kunci mobil saat akan menuju garasi Mia berpapasan dengan Riyan yang sepertinya dia baru dari luar.
"Mau kemana kamu malam-malam begini?"
Tanyanya dengan curiga.
"Ada keperluan sebentar."
Sambil berlalu meninggalkan Riyan,segera masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya.
Riyan menutup pintu mobil dan kini sudah duduk disebelah kursi kemudi yang diduduki Mia.
"Kamu ngapain? keluar sana!"
"Kamu mau kemana?nggak baik malem- malem keluar sendirian."
"Bukan urusanmu,lagian aku lebih tidak aman lagi kalo ada kamu."
"Hmmmmmmm,benarkah?"
__ADS_1
Riyan mendekatkan wajahnya kearah Mia.
"Keluarlah! aku sedang buru-buru."
"Jalankan mobilnya sekarang! aku mau ikut,siapa yang bisa menjamin kamu akan aman sendirian diluar sana."
"Hufh! kenapa aku harus bertemu dan kenal dengan orang seperti ini?!"
Gerutu Mia.
Mia melajukan mobil dengan kecepatan sedang,menuju sebuah bar yang nampak cukup ramai.
"Kamu kesini?"
Tanya riyan tak percaya,seorang Mia malam-malam pergi ke bar seorang diri.
"Deni ada didalam,sekarang dia sedang mabuk berat.Seseorang menghubungiku dengan menggunakan nomor Deni memintaku untuk menjemputnya."
"O........"
"Kamu disini saja,biar aku yang menyusul Deni didalam."
"Baiklah,cepatlah kembali."
"Jadi.....kau ingin aku cepat kembali karena takut akan merindukanku?"
Riyan kembali menggoda Mia sebelum keluar dari mobil.
"Apakah kau kira aku tidak takut berlama-lama sendirian disini?"
"Lalu apa jadinya jika tadi kubiarkan kau pergi sendirian? dasar bodoh!"
__ADS_1
Riyan segera turun dan berpesan kepada Mia untuk mengunci semua pintu sampai Riyan kembali.Mia pun menurut.
Tak perlu waktu lama,Riyan keluar dari bar dengan memapah Deni yang sedang terkulai lemah takberdaya karena sedang dalam pengaruh alkohol.
Tok,tok,tok.
Riyan mengetuk kaca pintu mobil,segera Mia membuka pintu dan turun untuk membantu Riyan.
"Kamu tau rumahnya?"
Tanya Riyan pada Mia.
"Nggak tau."
Jawabnya dengan menggelengkan kepala tanda ketidak tahuannya.
Riyan merogoh hape di saku celana pendek yang dikenakannya,mengusap layar lalu menempelkan hape ke telinga.
"Halo,Putra bisa kesini sekarang? baik kami tunggu."
Riyan menjelaskan keadaan Denu saat ini,serta dimana Deni sekarang berada.
Mia dan Riyan menunggu kedatangan Putra asisten pribadi Deni datang,sedangkan Deni masih terkapar di dalam mobil Mia bersama Riyan.
"Mia.......Mia.....kembalilah padaku Mia....!"
Suara Deni mengigau membuat Riyan dan Mia saling pandang dan melihat kearah Deni di kursi belakang.
"Ya ampun...segitu cintanya dia padamu,aku jadi kasiahan padanya."
Mia hanya terdiam,masih memperhatikan Deni.
__ADS_1
Tak lama berselang datanglah Putra,segera Riyan keluar untuk menyapa Putra lalu membantunya memapah Deni untuk pindah kemobil Putra.
Putra melajukan mobilnya menuju kediaman Deni,selama dalam perjalanan Deni masih saja meracau tak karuan.Berteriak bahkan berbisik menyebut nama Mia,memohon untuk menerimanya kembali dan tidak lagi meninggalkannya.